Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Pengakuan.


__ADS_3

3 minggu berlalu, Nai kini berada di sebuah rumah kecil yang sangat asri. Halamannya yang ditumbuhi berbagai macam bunga membuat rumah ini semakin nyaman untuk ditempati. Nai sedang bersiap untuk Interview kerjanya. Dia harus terlihat sempurna. Dengan kemeja, blazer dan celana bahan dipadukan sepatu pentofel, Nai terlihat sangat manis.


"Neng sarapan dulu." Titah si pemilik rumah.


Nai kemudian segera keluar kamar, tak lupa dia memakai parfum, pemberian majikannya dulu. Meskipun mengingatkan pada pemilik sebelumnya, apa daya hanya itu parfum yang dia miliki saat ini.


"Iya bu.." Nai dengan segera merapikan pakaiannya dan keluar kamar.


"Kamu jadi interview?"


"Jadi bu, kemarin test psikotest nai masuk, alhamdulillah,, sekarang interview akhir, semoga keterima ya bu."


"Aamiiin neng."


"Kamu tidak mau balik lagi kerumah itu?" Tanya wanita paruh baya dihadapannya.


"Enggaklah bu, dan lagi, Nai sudah tidak punya muka buat kesana, Nai kan sudah diusir bu." Jawab nai sembari menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.


"Iya neng ibu faham, tapi alangkah baiknya kamu kesana, toh kamu terbukti tidak bersalah kan? Sekedar pamit apa salahnya."


"Nanti Nai coba fikir - fikir dulu yah bu. Yang penting ibu doakan Nai sekarang, masa sih ibu mau Nai jadi pembantu terus..."


"Bukan begitu anak cantik, mereka ibu yakin keluarga baik - baik." Mengakhiri perdebatan ibu itu tersenyum.


Ibu Marini adalah ibu angkat Nai. Pertama kali Nai bertemu ibu Marini di pasar, dompetnya raib saat belanja,, beruntungnya Nai yang bisa bela diri mengejar copet tersebut dan mengambil kembali dompet ibu Marini. Ibu Marini ini merupakan salah satu pengelola yayasan asisten rumah tangga yang juga menyalurkan Nai kerumah Benji.


"Bu Nai pergi dulu."


"Hati - hati neng. Semoga hari ini kamu bahagia."


"Aamiiin. "


Nai menunggu panggilan. Kakinya ia ketuk - ketukan di lantai tanda tak sabar. Dia beruntung, perusahaan besar ini menerima berkas administrasi yang nai berikan. Meskipun belum tentu diterima, tapi menjadi kandidat calon pegawai disana sudah kebanggaan tersendiri bagi semua orang.


1 jam menunggu panggilan akhirnya dia dipanggil.


"Mbak terakhir yah? Masuk. Interview yang terakhir ini langsung oleh pemiliknya, tidak oleh HRD, jadi fokus dan tunjukan bahwa mbak berpotensi yah." Ucap seorang karyawan disana yang sejak Nai datang matanya tak berhenti menatap Nai.


"Makasih ya mas."


******


"Permisi."


Naipun masuk ke ruangan itu setelah sebelumnya mengetuk pintu. Tercium aroma parfum menyengat yang sangat akrab di hidungnya beberapa bulan lalu. Kursi si pemilik perusahaan menghadap ke tembok, tidak mempersilahkan Nai duduk, Nai hanya berdiri didepan meja.


"Ok kandidat terakhir bagian legal staff di kantor ini, saya baca cv nya atas nama NAYANIKA EZRA JAMEEL.. " Belum selesai sang pemilik perusahaan menyebutkan nama, dia membalikan kursi dengan senyuman sangat manis. Berbanding terbalik dengan Nai yang matanya melotot seperti melihat hantu. Nai lalu melancarkan jurus seribu langkah namun sayangnya si pemilik perusahaan sudah berlari lebih cepat mengunci pintu dan mendorong tubuh Nai ke tembok.


"Tuan tolong lepaskan aku." Nai berusaha melepaskan cengkraman tangan Benji namun semua sia -sia.

__ADS_1


"Diamlah, aku tak akan melakukan perbuatan yang tidak - tidak. Kau boleh berteriak jika aku melakukannya." Jawab Benji menenangkan.


"Tuan tolong lepaskan, tanganku sakit." Benji kemudian melirik tangan Nai, banyak luka ditangannya. Dia kemudian menurunkan tangannya, kini lebih parah, kedua tangannya melingkar di pinggang Nai.


"Nai dengarkan aku, aku hanya ingin meminta maaf."


"Tuan aku sudah memaafkanmu tolong lepaskan aku."


"Nai papi ingin menemuimu.. tolong tenanglah sedikit Nai aku mohon." Tangan Benji kemudian berpindah menjadi memegang kedua bahu Nai.


"Aku menyadari aku salah. Apa kau tau kenapa aku mengirimu ke penjara? Karena kau tidak akan aman selama ada Almeera dirumah. Aku juga menghukummu karena kau teralu percaya pada orang lain. Kau bodoh. Aku tidak bisa selalu menjagamu Nai, kejadian itu saat aku tidak dirumah. Kau menangis kau ketakutan sedangkan aku tidak ada disisimu." Jelas Benji berharap Nai mengerti.


"Kau kelelahan, sepulang kerja dirumahku kau bernyanyi hingga larut malam dikelilingi pria hidung belang, aku tau kau menyadari itu aku meskipun kau berpura - pura tidak tau. Aku tertarik pada 1 gadis dengan 2 kondisi yang berbeda. Aku tau itu dirimu Nai. Berhenti menjadi pembual, tidak semua keadaan dapat kau tangani hanya dengan berbohong." Sambungnya.


"Nai maafkan aku." Benji kemudian menyibakkan rambut Nai, dia melihat ada memar lagi di dahi Nai.


"Berhenti menyakiti diri sendiri. Aku tau saat didalam penjara kau terus - menerus menyalahkan diri sendiri hingga kau melukai tangan, wajah dan kepalamu habis dibenturkan tembok. Aku tidak bisa kesana karena kondisi papi yang kritis, aku menitipkanmu pada om Kris, dia ada bersamamu malam itu kan?"


"Om Kris?" Nai pun memutar kembali memori dikepalanya, samar dia mengingat nama panggilan itu, seperti nama panggilan yang tidak asing..


"Kau mengenalnya ?" Tanya Benji keheranan.


"ASTAGAAAAAAAA. iya tuan aku mengenalnya, eh sebentar tapi ini tolong lepaskan dulu. Tuan kakiku lecet jika berdiri teralu lama. Maaf tuan.."


Benji pun menuruti permintaan Nai, Nai dipersilahkan duduk oleh Benji di sofa.


Duduklah.


Sontak Nai menarik kakinya kemudian ikut duduk dilantai.


"Sudahlah tuan. Duduklah, aku mau bercerita tentang om Kris.."


Benji tak bisa melawan, Nai yang dia kenal kini bukan Nai yang dulu, yang selalu menunduk dan hanya bisa tersenyum, Nai yang dia lihat didepannya kini adalah Jameela, wanita manis namun cerewet. Mata Nai yang berbinar menjadi daya tarik yang membuat Benji tak bisa berkutik.


Sesaat Benji tersadar kemudian kembali tersenyum.


"Ayo teruskan ceritamu."


"Aku baru ingat, om Kris itu teman ayahku, dia baik, dulu saat muda dan saat aku masih kecil, om Kris bekerja di rumah sakit, setiap aku daftar, pasti om Kris yang mendiagnosa di awal, hampir 2 hari sekali aku bertemu om Kris, dia sangat baik tuan, malah kata ibuku, saat aku lahir, om Kris adalah orang ke 3 yang menggendong dan menciumku, sejak kecil aku selalu di gendong om Kris. Sayangnya setelah aku SMA aku tidak pernah lagi bertemu dengannya." Nai menjelaskan dengan sangat cepat.


Naipun kaget, teringat ucapan om Kris : saya tau kamu sejak kamu sebesar ini..


Pantas saja, dia masih ingat..dan saat aku melihatnya aku tidak merasa asing. Kenapa aku bisa lupa?


"Eh tuan, tapi om Kris sekarang berubah yah? Dia terlihat lebih gagah. " Sambungnya.


"Dia pamanku. Tak lama bekerja dirumah sakit, Dia pindah kerja ke tempatnya saat ini.Tempatmu kemarin."


Naipun menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Tuan.." Nai kembali menunduk.


"Maafkan aku, aku tidak jadi melamar pekerjaan disini."


"Kenapa Nai ? Kau masih marah padaku?"


"Tidak tuan." Nai menunduk dan tersenyum


Teringat saat Benji menghina orang tuanya. Nai kemudian berdiri dan menggunakan lagi sepatunya.


"Saya permisi tuan.." Namun tangan Nai ditahan oleh Benji.


"1 pertanyaanku padamu dan ku mohon kau mau menjawabnya."


"Apa tuan?" Nai bertanya balik.


"Jadi Nai itu Jameela ?" Benji memberikan senyuman manis, persis saat dia melihat wajah Nai ketika memberikan parfum.


"Iya tuan. Saya NAYANIKA EZRA JAMEELA, pembantu sekaligus penyanyi malam yang saat itu marah dan menggebrak kaca jendela mobilmu."


Benji tersenyum kembali, dia seperti menemukan jiwanya yang hilang.


"Baiklah kau boleh pergi, oh ya, jangan lupa, penawaran menikah masih berlaku meskipun ini sudah lebih dari 1 bulan sejak aku menawarkan padamu." Benji pun membuka pintu dan mempersilahkan nai pergi.


"Silahkan tuan putri, ditunggu kehadirannya kembali dikantor ini."


Benar dugaanku, dia penyanyi cantik itu, nama yang indah. Sebentar, Nayanika? Bahasa sansekerta yang memiliki arti mata indah. Pantas saja, sesuai dengan tatap matanya. Kenapa kehidupan begitu adil padaku tapi seperti tidak adil padanya? Ah tuhaaaaaan, aku baru menyadari dia sarjana. Dia mengaku tamat smp saja aku susah menaklukannya, apalagi sarjana. Biarlah, akan kutanya Roni perihal ini.


Benji tersenyum sendiri mengingat bagaimana bawelnya Nai tadi, sambil memegang dompet. Dompet Nai yang sengaja dia ambil saat mengobrol. Besar harapannya Nai akan kembali karena merasa dompetnya tertinggal, kemudian Benji berpura - pura tidak mengetahui, kemudian dia memberikan uang pada Nai dan akhirnya Nai terikat kembali olehnya. Taktik receh orang yang sedang tertimpa eceng gondok.


30 menit terasa sangat lama menanti Nai kembali keruangannya, akhirnya Benji memutuskan mencari Nai karena takut terjadi apa - apa sedangkan Nai tidak membawa dompet.


Benar saja,, agak jauh dari gerbang megah perusahaan Benji, terlihat Nai yang sedang duduk dan membuka sepatu, dia seperti kesakitan. Tak lama Nai kembali berjalan dan memasuki sebuah mini market.


Aku butuh perban,, kakiku berdarah. Ah bolehkah aku beli air mineral? Perjalananku sangat jauh.


Benji yang mengikuti Nai diam - diam nampaknya tercium oleh si pemilik lelakon. Bagaimana tidak? Parfum yang dia gunakan sepertinya radius 2 kilometer pun sudah tercium. Namun Nai acuh.


Nai berhenti di kasir menyerahkan air mineral dan perban kecil untuk dibayar, namun naas, ketika dia membuka tas, dia tidak menemukan dompetnya. Nai yang panik tidak menggubris Benji yang sedang bersiul - siul tanda bahagia lengkap dengan 2 keranjang berisi makanan, minuman, camilan, susu, roti, sabun, alat mandi, sabun, shampo, dan pembalut.


Nai menengok Benji dan matanya tertuju pada dompet yang berada ditangan Benji, tak kehabisan akal, Nai yang merasa dicurangi bersikap santai kemudian menyuruh kasir membarcode perban dan air mineral..


"10 ribu 350 nona.."


"Ah baiklah, Dibayarnya dibelakang sekalian yah mbak. Masih banyak belanjaan saya. Hai supir, kalau sudah beres, bayar dan segera masukan semuanya ke mobil ya." Nai pun melirik Benji dengan sinis kemudian berlenggang keluar mini market.


Benji kaget dibuatnya, bisa - bisanya wanita yang dia kenal polos bercanda seperti ini.


Brengsek, dia bilang aku supir. Aku ingin menjadi pahlawan tapi kenapa malah seperti ini????

__ADS_1


Benjipun meminta kasir segera menyelesaikan tugasnya. Setelah selesai membayar, dia buru - buru masuk mobil mengejar Nai.


Sedangkan Nai? Sejak keluar mini market dia melepas sepatu dan berlari sekencang - kencangnya.


__ADS_2