Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Jameela


__ADS_3

Dengan sedikit berlari perempuan bertubuh sintal itu mempercepat langkah sambil melihat jam tangan.


"Masih lama, bisa bisa" Sambil terus melangkahkan kaki.


Setelah hampir satu setengah jam, perempuan itu sampai di kamar kostnya. Jauh dari kata bagus. Kamar ini berukuran 3x5 m dengan harga 400 ribu per bulannya.


"Ah mandi dulu lah.. 5 menit, buang keringat saja!" Ucap perempuan itu..


Drrrt...drrrrttt...


Hpnya bergetar tanda ada telepon masuk.


" Halo mil? Mila hari ini masuk?? Datang agak cepetan ya. Banyak tamu ini bos bos besar dari Belanda." Seru pemilik suara disebrang sana.


" Ini baru mau mandi. Aku usahain datang cepat ya." Jawabnya sambil buru - buru menuju kamar mandi.


Tuuut ...tuuuut..


Tepat jam 8 malam perempuan itu keluar dari kamar kostnya dengan sangat cantik. Rambut panjangnya disisir rapi tanpa hiasan. Dengan menggunakan kemeja ketat tangan pendek serta celana jeans yang robek robek di bagian lutut dipadukan dengan sepatu sandal berhak 3 cm membuat dia nampak sempurna. Namun sepatu tersebut segera dia masukan ke dalam tas.


"Als de orchideen bloeien


Kom dan toch terug bij mij


Nogmaals wil ik met je wezen


Zoveel leed is dan voorbij


Als de orchideen bloein


Ween ik haast van liefdes smart


Want ik kan niet bij je wezen


G'lijk weleer, mijn lieve schat.


Maar nu been je van een ander.


Voorbij is de romantiek.


Kom toch terug bij mij weder.


Jou wergeten kan ik niet.


Als de orchideen bloeien,


Dan denk ik terug aan jou.


Denk toen aan die zoete tijden,


Toen je zei

__ADS_1


Ik hou van jou.


Perempuan itu bernyanyi dengan ringan, namun sendu.. Nampak aksen belanda menempel di lidahnya sehingga dia terlihat tidak kesulitan menyanyikan beberapa lagu dari negeri kincir angin itu.


"Terimakasih,," ucapnya manis.


Semua tamu bertepuk tangan kagum.


Tak terkecuali si pemilik tempat. Mata Benji menatap tajam gadis itu. Entah suka, benci, atau marah. Sang gadis terus menabur senyum sepanjang penampilannya membuat semua mata terpukau.


Lain halnya dengan Roni, yang habis menenggak beberapa gelas alkohol terlihat sudah mulai layu dan nyaris terlelap.


"Baik tuan - tuan semua, 1 lagu terakhir akan saya tembangkan untuk menemani malam anda."


Sayang selamat malam


Sayang selamat tidur


Tentang kau dan aku


Panggil namaku sebelum tidur


Agar ku hadir dalam mimpimu


Kita kan terbang diatas awan


Berdua slalu berdua..


Sayang selamat malam


Sayang selamat tidur


Tentang kau dan aku


Penampilan Jameela berakhir di lagu Selamat Malam yang dia nyanyikan. Semua penonton menikmati lagu tersebut. Terlebih Roni yang sejak musik dimulai, sudah benar - benar mimpi indah.


"Ron.. ayo pulang, mau nginep disini?" Benji mengguncang - guncang Roni yang tertidur.


"Emhhhhh.. bentar .." Antara sadar atau tidak Roni berusaha membuka matanya. Benji kembali menyalakan sebatang rokok sembari menunggu temannya sadar.


Disudut lain.


Penyanyi itu turun panggung menuju mini bar yang ada tak jauh dari tempatnya.


" e..e...e...e...Jamilaaaahhhh"


Seru seorang bartender yang menyambut penyanyi itu.


Jameela, perempuan cantik, seorang Sarjana, lulus dengan sempurna. Namun dia memilih menjadi penyanyi di Lounge karena sekian banyak melamar pekerjaan, panggilan bekerja belum kunjung dia terima, segala usaha telah dicoba namun memang belum rezeki. Sangat sulit, bahkan diluar nalar, seseorang lulusan Universitas Negeri ternama, bisa sangat sulit mencari pekerjaan.


"Hai cakep, ini kenapa banyak kumpeni disini? " Sambil terbahak dia meminum air mineralnya.

__ADS_1


"Katanya sih lagi ada kerjasama sama perusahaan apalah gak tau, biasa aja malemnya seneng - seneng dulu"


Saat sedang asyik berbincang, seorang Waiter mendatangi Jameela kemudian memberikan secarik kertas dan satu gepok uang pecahan seratus ribu. "Permisi mbak Mila, Ini ada pemberian, dari meja sebelah sana." Waiter itu menunjuk ke arah meja Benji.


Jameela mengambil kertas itu. Didalamnya tertulis pesan, " Mata yang indah, suara yang unik, bisakah kita berbincang? anggap saja ini uang muka, selanjutnya, aku bisa memberimu apapun yang kau inginkan."


Jameela lalu mengambil bolpoint dan membalas surat tersebut dengan jawaban, "Tidak perlu, terimakasih." Dia memberikan surat itu dan menyuruh waiter mengembalikannya.


Jameela menatap ke Meja Benjamin, Terlihat Benjamin hanya menatapnya, itupun samar, karena gelap, dan masker yang digunakan membuat Jameela tidak tau apakah pemuda itu tersenyum atau tidak padanya. Jameela melanjutkan perbincangannya dengan bartender itu hingga tak sadar jam telah menunjukan pukul 2 malam.


"Bro, pulang dulu yah.. Besok kabarin aku ada jadwal atau enggak."


"Siap Mil."


Jameela keluar tempat itu lalu berjalan menuju rumahnya. Ya, tidak naik kendaraan. Menurutnya meskipun dia mendapatkan uang yang cukup, dia harus sangat berhemat karena keluarganya membutuhkan uang. Tak lupa dia mengganti sepatunya dengan sandal jepit karena perjalanan cukup jauh.


Sepanjang perjalanan mila melamun. Dia menepi dan duduk di trotoar sambil memandangi sebuah foto yang didalamnya ada seorang anak kecil, ibu, dan ayahnya.


"Pa, aku kangen,, ma,, Caca.."


Dalam lamunan tidak sadar air matanya pun tumpah mengingat luka hatinya yang masih dia pendam hingga sekarang. Genangan air matanya memaksa untuk keluar.


"Aah, cengeng sekali. Kerja kerja kerja cari uang yang banyak biar bisa pulang. Biar tak selalu berbohong pada papa dan mama, biar caca kuliah, biar papa tidak menangis, biar mama tidak stres." Ucap dalam hatinya sambil mengusap air matanya.


Tiiiiin...tiiiiin...


Bunyi klakson membuyarkan lamunan Jameela.


Seorang pria membuka jendela mobilnya. Dengan topi dan masker yang masih dia gunakan.


" Rumahnya jauh? Sudah malam. Mungkin butuh tumpangan. Ayo kuantarkan kau pulang. Jangan menangis dipinggir jalan."


Jameela berdiri dan tersenyum ramah meskipun dia kaget setengah mati mendengar suara itu. Mata sembabnya tak bisa dia sembunyikan.


" Terimakasih,, aku bisa pulang sendiri. Rumahku sudah dekat dari sini." Senyumnya tak hilang sedikitpun meski dia gugup. Benji yang menawari tumpangan terus menatap mata Jameela.


"Dan lagi, darimana kamu tahu aku menangis ? Eh tapi, bukankah lebih baik menangis dipinggir jalan daripada menangis ditengah jalan? Senyum cengengesan Jameela menghangatkan suasana.


" Aku duluan ya." Tandasnya.


Benji membiarkan Jameela berjalan jauh. Mobilnya dia berhentikan sementara. Jantungnya berdegup kencang mengingat ketika sang penyanyi itu menatap matanya.


" Mata yang bagus" ucapnya dalam hati.


Tak habis akal Benji kembali menyusul Jameela yang masih berjalan kaki. Sambil perlahan menjalankan mobilnya mengikuti langkah Jameela, Benji mengeluarkan kepala di jendela.


" Kau punya kakak atau adik?" Tanyanya.


"Ya, kakak satu orang. Kenapa ?" Jameela menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia tak habis fikir pemuda ini masih saja mengikutinya.


"Suatu hari aku harus bertemu kakakmu." Benji tersenyum sambil memacu mobilnya jauh meninggalkan Jameela.

__ADS_1


Jameela tersentak, dia menarik nafas panjang dan meneruskan langkahnya.


__ADS_2