
Flashback On!
"Naya?"
"Ya Tuhan." Pria paruh baya itu berjalan berlawanan arah dengan kerumunan, jarak yang terbilang cukup jauh dari tempat kejadian. Dia melihat wanita seumur anaknya hampir terjatuh dengan tubuh yang penuh luka terhalang batu besar, lebih tepatnya, batu itu yang menyangga tubuh Nai hingga dia tidak jatuh terperosok.
Dengan 2 orang temannya, yang berpakaian serupanya pula, dia berlari menghampiri "Ambil mobil kemari, kamu bantu aku mengangkatnya, setelah itu masukan ke mobil dan jangan banyak tanya." Perintahnya. 2 orang itu segera melakukan tugas yang diperintahkan.
Didalam mobil.
"Dia pingsan pak. Seluruh tubuhnya luka - luka." Ucap salah satu lelaki yang usianya lebih muda.
"Periksa sebisamu, apa ada patah tulang? Beri pertolongan segera."
"Sepertinya tidak ada, kemungkinan dia menggulungkan badannya saat menjatuhkan diri karena ada memar yang cukup besar diwajah, tangan, dan kaki disamping kanan."
"Obati lukanya."
*Aku tau kamu wanita pintar nak, kamu tau bagaimana caranya m*elindungi diri.
Flashback Off.
***********
Malam hari Nai sudah berpindah lokasi, kini dia ada dirumah lelaki yang menolongnya itu. "Ca... Caca..." Igau Nai. Nai membuka mata dan melihat sekitar, hanya sakit seluruh badan dan pusing yang tak tertahankan, sepertinya sudah diobati, Nai melirik tangannya, sudah di perban.
"Istirahatlah nak." Kata pria paruh baya itu yang sedang duduk sedari tadi, memperhatikan Nai.
"Dimana ini?"
"Di rumah temanku, kamu aman nak, tenanglah."
"Aku sudah sembuh, ini hanya luka biasa dan sepertinya sudah diobati." Nai mencoba bangun dan duduk ditempat tidur.
"Ya sudah jika memang sudah kuat untuk bangun." Pria itu mengambil nampan yang berisi makanan dan obat. "Makanlah dulu." Katanya.
Nai mengambil nampan itu, lalu dia senyum menatap dalam pria dihadapannya "Hai.. lama tak berjumpa. Terimakasih sudah menolongku."
"Sama - sama."
"Lagi - lagi dirimu yang menjadi saksi mata keselamatan hidupku."
"Anugrah yang mungkin hanya segelintir orang mendapatkannya." Pria itu duduk kembali, "Ada apa?"
"Entahlah, mobilku tidak bisa dikendalikan, ini mobil baru. Masa error."Sambil menyuapkan nasi yang diberikan, dia kelihatan ceria menceritakan.
"Ada yang menggunakannya?"
"Kuncinya ada padaku."
"Sempat ke bengkel?"
"Ini mobil masih bau toko om, masih baru. Tidak ke bengkel."
"Siapa yang terakhir menggunakannya?"
"Aku."
"Bagaimana kondisinya?"
__ADS_1
"Ih sudah ku bilang ini mobil aman, aku yang mencobanya dan tidak ada yang meminjam. Tapi...." Sejenak Nai memperlambat kunyahannya, dia mengingat sesuatu.
"Kenapa?" Lelaki itu tersenyum, dia peka." Siapa yang kamu curigai?"
"Salah satu paman Benjamin. Hanya kecurigaan." Ucap Nai sambil terus makan tanpa mau memikirkan.
"Mengapa?" Tanyanya lagi.
"Aku bertemunya di garasi, membawa kotak perkakas. Dia bilang sedang membetulkan mobilnya yang mogok."
"Jangan bicara jika tidak ada bukti!"
"Aku anak hukum om aku tau, tapi saat aku mengecek cctv, cctvnya blank saat jam itu. Aku saja sampai manyun pada tuan benji."
"Ya, mereka ada disana, aku tau itu. Kudengar kamu menikah dengan nya? Kenapa bisa?" Pria itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa om tidak datang?" Nai tidak mau menjawab, malah balik bertanya.
"Sedang bertugas."
"Kenapa tidak ikut tinggal dirumah?"
"Untuk apa? Menungguku emosi lalu menangkap mereka semua?"
"Aku bingung, tuan Benji berkata padaku om adalah pamannya, tapi ketika papi membawa semua adiknya, om tidak ada."
"Aku satu ayah dengan Wijaya, dia kakakku, tapi berbeda ibu. Aku punya kehidupan sendiri, dengan keluarga kecilku, dengan amanat yang terselip dalam seragamku. Aku tidak bisa menjadi penjilat."
"Kamu mau memperpanjang kasus ini? Aku bisa membantu." Tawarnya.
"Ah tidak usah, aku bisa menanganinya, walaupun aku bukan pihak berwenang."
"Cukup membaik, tapi aku masih suka makan seblak dan eskrim." Nai menyeringai.
"Hahahahaha. Dasar batu."
"Hey om Kris, berhenti bilang itu, dari kecil itu saja panggilanmu padaku."
"2 kali kamu diselamatkannya." Krisna mengambil sebatang rokok, dia mulai mengingat masa lalu, "Dulu saat berumur 2 hari, kamu, ibumu, ayahmu dan kakakmu naik becak ke rumah sakit, becaknya terguling.
Ayah, ibu dan kakakmu semua luka, hanya kamu yang selamat, itu karena kamu terhalang batu dipinggir selokan besar. Saat ditemukan, kamu yang masih bayi malah tersenyum ceria. Lalu kutemui kamu tadi sore. Lagi - lagi nyangkut di batu. Hahahahahahahaha" Mereka tertawa bersama.
"Apa Anton dan Erlyn masih suka diam dikamar sepanjang hari?"
"Kemungkinan ya. Entahlah, akupun diam dikamar seharian, karena hanya kamar yang aman bagiku."
"Mereka masih begitu. Belum jera padahal sudah pernah di penjara."
"Maksud om?"
"Dia bandar sekaligus pemakai. Aku kira sejak keluar dari penjara mereka akan taubat."
"Apa om bisa menangkap mereka? Kenapa tidak ditangkap saja. Om mengetahui tapi malah membiarkan." Gerutu Nai.
"Bisa saja, namun pasti dicurigai. Kasian mertuamu. Biar ku telusuri supaya bisa mendapatkan bukti kembali."
"Ah, gampang, suruh saja anak buah om menggrebek rumah istana itu. Beres."
"Mertuamu akan kaget dan jantungan."
__ADS_1
Nai berfikir sejenak. " Aku tau caranya."
"Bagaimana?"
"Rekaman cctv. Dirumah itu dipasang cctv setiap sudutnya, tanpa terkecuali, kamar. Aku bisa mengambil rekamannya dan memberikan pada pihak kepolisian,"
"Lalu?"
"Lalu bagaimanapun caranya, aku akan membuat mereka berdua keluar rumah, om bisa keluarkan surat penangkapan?" Tanya Nai, antusias.
"Akan ku usahakan. Tapi tidak bisa semudah itu, prosedurnya kita mendatangi alamat rumah. Dan rumah tetap harus digeledah untuk mendapatkan barang bukti." Terang Krisna.
"Ah begitu, maaf - maaf aku tidak tau.
Yasudah, papi saja aku ajak jalan - jalan. Setelah mereka ditangkap, baru papi pulang. Mungkin papi tidak akan teralu kaget."
"Kabari aku jika berhasil."
Ahaaaayyyyyy,, aku bisa menyingkirkan 2 musuhku sekaligus. Nai tersenyum.
"Itu tidak mudah tapi Aku tau kamu pasti berhasil." Tambahnya kagi.
"Apa kabar ayahmu?"
Nai lalu menceritakan semuanya.
"Sama. Temanmu juga gelap mata oleh harta." Kini Nai terlihat sangat kesal.
"Kamu mencintai suamimu?"
"Tidak."
"Kenapa mau menikah?"
"Ya karena aku dipukul papa, aku dikata -katai. Nasib."
"Dia mencintaimu!"
"Ahahahahahahahahahaha om selalu bercanda."
"Aku bertemu dengannya."
"Dimana ?"
"Ditempat mobilmu meledak."
"Om bilang aku disini?"
"Tidak."
"Bagus."
"Aku tau kamu anak yang selalu mempunyai ide menyelesaikan masalah. Dan selalu ingin jadi satu - satunya yang dipuja karena tindakanmu."
"Jika Tuan Benjamin tau, dia akan ngamuk seperti kuda lumping, logikanya hilang, tidak berfikir jernih. Dia pasti akan memaksa om mengusut semua ini."
"Itu karena dia sangat menyayangimu."
"Hey om Krisku yang gagah, yang tampan, tapi sudah tua dan tidak menarik lagi, dengarkan aku. Tuan Benji menukarku dengan memberikan uang pada temanmu, lalu karena sudah mendapatkan uang, papa menyuruh aku menerima pinangannya, itu bukan mencintai, itu jual beli.
__ADS_1
*********