
“Bunda tadi ngajar di kelas Rinda?” tanya Arinda. Mereka
tengah makan siang di sebuah resto.
“Ya, bunda hanya kasih kata motivasi saja. Bunda ingat kalau
siswi bernama Mikha itu siswi teladan dan baik. Semua pasti merasa kehilangan.”
Jelas Lira sambil menikmati makan siangnya.
“Ya, Mikha dia pintar. Dia sering dapat nilai bagus kalau
pelajaran hitungan. Dia jago matematika sama Fisika.” Puji Arinda, dia
memamerkan senyum tulus. Seolah dia ingat bagaimana Mikha selalu menuntaskan
soal-soal yang diberi guru di papan tulis.
“Ya, Bunda juga lihat nilai-nilainya.” Lira pun mengakuinya.
“Setidaknya saingan kamu berkurang satu orang disekolah.” Lanjut Lira yang
membuat Arinda menghentikan makan siangnya.
“Bunda ingin Rinda merasa beryukur gitu?” tanya Arinda.
“Hmm...!!” Arinda menarik nafas pelan.
“Tidak, bunda tau kamu sedih, tapi kamu harus tetap maju
kedepan. Jangan sampe di terpa kesedihan hanya karena kehilangan satu teman.”
Jelas Lira.
“Lalu berfikir dengan meninggalnya Mikha, berarti berkurangnya
satu saingan aku di sekolah gitu.” Arinda masih tersinggung dengan perkataan
ibunya.
“Arinda, kamu harus fokus untuk bisa masuk ke universitas
ternama, bunda mau itu.” Lira meluruskan topik.
“Ya kalau itu Arinda paham, pasti Rinda usahain.” Jelas
Arinda, “Cuma cara bunda bikin aku tuh ga nyaman aja. Aku merasa bersalah kalau
seandainya Mikha dengar.”
“Arinda, dengarin Bunda.” Lira menaikkan suaranya, membuat
putrinya menatapnya. “Orang meninggal tidak punya urusan lagi dengan kita yang
masih hidup, mereka sudah aman disana, mereka tidur hingga pada akhirnya
bangkit lagi, yaitu di akhir zaman alias kiamat. Jadi mereka tidak akan dengar
apapun.” Jelas Lira.
“Ya aku paham apa maksud bunda, hanya saja bunda terlalu
cepat. Mikha baru meninggal kemaren loh, trus hari ini Bunda menyuruh Arinda
untuk menjadi lebih baik dan memanfaatkan kesempatan, bukannya itu kelewatan.”
Arinda berhenti sesaat, dia kesal, tapi kali ini moodnya dalam keadaan tidak
stabil.
“Bunda hanya cemas, kamu saja hari ini ga masuk jam pertama
gara-gara sakit.”
Arinda ingat, Karin memberi alasan bolosnya pagi itu dengan
bilang kalau dia tidak enak badan dan beristirhat di ruang kesehatan. Padahal sebenarnya
dia berada di perpustakaan. Arinda tidak mau beragumen lebih lanjut. Dia
memilih menghabiskan jus jeruknya.
“kamu harus sukses seperti ayah dan Bunda.” Lanjut Lira.
“Ya sukses seperti keinginan aku.” Gumam Arinda.
“Sukses seperti bunda yang bunda mau, karena bunda lebih tau
apa yang terbaik untuk kamu. Kamu terlalu muda untuk memutuskannya.” Jelas
Lira.
“Kalau ternyata aku ga sanggup?” lanjut Arinda. “Kalau
misalnya aku ternyata tidak sepintar ayah dan Bunda bagaimana, ternyata aku
lebih berbakat dibidang lain bagaimana?”
“Seperti apa?”
“Fashion disainer?”
“Ga, itu tidak bagus. Bunda ga mau kamu jadi tukang jahit.”
“Hmmm...!!” Arinda hanya menghela nafas, “Setidaknya fashion
designer bisa keliling dunia sambil pamer baju rancangannya.” Gumam Arinda.
__ADS_1
“Kamu harus seperti Ayah atau Bunda, terlihat sempurna di
mata orang, karena kami seorang pendidik.”
“Tapi tiap hari debat mulu.” Lanjut Arinda dalam gumaman
kecilnya. “Belum lagi juga gagal gedein satu anak.” Yang satu itu hanya terucap
didalam hati.
“Bunda dengar Rinda.” Ucap Lira menatap ketus kearah Arinda.
Arinda terdiam, dia melanjutkan makan siangnya tampa
membicarakan apapun lagi. Apapun yang ingin ia sampaikan pasti akan di patahkan
oleh ibunya yang maha benar.
.
.
.
.
Di tempat lain, seorang ibu dan anak juga berada di meja
makan. Merri yang mencoba melahap makan siangnya begitu terlihat bersemangat.
Hari ini dia di sapa seorang teman. Dia diajak ngobrol, bahkan teman itu telah membantunya
dalam mengambil kebutuhannya selama di sekolah. Memang, awalnya dia memang
tidak membutuhkan sosialisasi dalam bentuk apapun di sekolah baru. Namun
kenyataanya, batinnya memang membutuhkan orang lain untuk di ajak
bersosialisasi. Setidaknya kesan itu membuat ia lupa sesaat dengan setan jahil
yang suka menampakkan dirinya didepannya itu.
“Kamu lahap sekali?” puji Kusuma.
Mendengar suara ibunya, Merri kembali pada wajah awal.
Senyum itu menciut, berubah jadi bibir manyun. Begitu juga dengan wajah
sumringah itu berubah menjadi kesal. Ia kesal dengan wanita yang telah
melahirkannya. Kejadian Mikha kemaren, dimana ibunya juga tidak dirumah
membuatnya semakin yakin jika kematian Mikha disebabkan oleh ibunya.
“Kok diam?” tanya Kusuma yang baru duduk dan bergabung di meja
makan.
gelas agar jauh dari wajahnya. “Bu!” Merri mulai membuka suara, mulai mengulik
ibunya akan rasa penasaran dan kesal yang terpendam sejak kemaren.
“Ya?”
“Tamu ibuk yang kemaren lusa itu, dia menumbalkan anaknya
ya?” tanya Mikha.
“Hmmm...!” Kusuma menaroh gelas dan piring yang masih kosong
di depannya. Tampaknya ia tau putrinya akan membahas tentang sesuatu yang
mungkin melukai perasannya.
“Ibu tau ga, kalau ritual ibu itu ternyata membunuh orang?”
tanya Merri.
“Ibu hanya menerima perintah, ibu tidak tau kemana energi itu
terbang.” Jelas Kusuma.
“Tapi ibu taukan, kalau kelakuan ibu bisa membunuh orang?”
tanya Merri.
“Itu resiko pekerjaan ibu, ibu tidak dapat menolaknya.”
Jelas Kusuma tenang.
“Tapi resiko pekerjaan ibu terlalu berbahaya?!” Kali ini
Merri membentak, suaranya meninggi. Tapi kedua mata gadis itu berkaca-kaca.
“Kamu nanti paham apa yang tengah ibu alami. Karena ini
turunan. Kamu pasti akan mengalaminya.”
“Aku ga mau, aku ga mau seperti ibu!” tolak Merri.
“Tapi ini takdirmu, Mer. Kamu tidak akan bisa menolaknya.”
“Aku akan akan cari tau bagaimana aku tidak menjadi seperti
ibu, membunuh orang.”
BRAG
__ADS_1
“Marri!!” Kusuma memukul meja makan hingga piring dan gelas
bergetar. Merri terkejut melihat amarahan ibunya, tapi ia masih bersikekeuh
kalau dia di posisi yang benar dan ibunya salah.
“Ibu tau gak? Siapa yang jadi korban ibu malam itu, anak
yang juga satu sekolahan dengan Merri.” Merri kembali buka suara. Dia benar-benar
terlihat kesal, “Ibu tau mimpi buruk apa yang aku alami waktu itu? Sesuatu yang
sangat mengerikan mengambil paksa jiwa anak itu, kemudian ia memasukkannya ke
dalam mulutnya yang besar dengan gigi taring yang tajam. Dengan kata lain, dia
belum saatnnya mati, tapi iblis itu menarik paksa dan memisahkan nyawa dan
raganya. Bukan hanya itu, iblis itu memakannya. Aku yakin itu adalah suruhan
ibu, peliharaan ibu. Kenapa aku bisa tau? Sebab, setiap ibu melakukan ritual
itu, aku akan selalu di perlihatkan akan mimpi buruk. Mimpi seseoran yang tidak
aku kenal mengalami sakaratul maut yang sangat mengerikan.” Jelas Merri dengan
nafas tersengal-sengal. Dia terlalu emosi sehingga berbicara dengan suara
menggebu-gebu. “Lalu, yang barusan kejadian ini adalah orang yang ternyata sekelas
denganku?”
“Tapi itu beda Merri.” Kusuma mencoba menjelaskan.
Merri tidak mendengarkan. Sesak di dadanya belum sepenuhnya
lepas, “Kemaren semua anak-anak dikelas aku berduka. Kami datang dan melihat
proses pemakamannya. Kemudian hari ini anak-anak dikelas mulai berdebat dan
bahkan beberapa diantara mereka curiga jika gadis itu mati karena di santet. Ibu
tau bagaimana perasaan aku yang mendengarnya? Aku takut bu! Aku takut jika
mereka tau kalau temannya itu ternyata mati karena ulah ibu. Aku takut dicap
sebagai anak pembunuh, sudah cukup aku dibulli sebagai anak seorang dukun.”
Kusuma kembali memukul meja, “Merri, itu bukan perbuatan
ibu.” Jelas Kusuma.
“Bukan apanya? Aku tau pria tua yang datang kerumah, dia
bapak dari anak itu. Merri melihat di pemakaman, Merri juga melihat iblis itu,
dia sama persis dengan apa yang aku lihat waktu dirumah sakit. Dia berlahan
mencabut nyawa gadis itu, dan nama gadis itu Mikha! Dia siswa yang satu kelas
dengan aku. Saat ini aku duduk di bangkunya, berteman dengan teman-temannya, belajar
dengan guru-gurunya. Bukankah aku seperti parasit, bu?” Merri menitikkan air
mata.
Setelah puas mengeluarkan semua unek-unek yang bersarang di
benaknya, Merri menunpahkan air mata. Ia segera menutup wajahnya dengan kedua
tangannya. Melihat kondisi Merri seperti itu ia meredakan amarahnya. Merri
persis dengan dirinya saat masih muda dulu. Tidak ikhlas dan takut pas tau jika
ia ditakdirkan menjadi paranormal ataupun dukun.
Hanya saja, rasa sedihnya itu hanya ia pendam. Ia tidak
berani mengutarakannya kepada ibu dan neneknya dulu. Tapi melihat Merri angkat
suara, dia paham akan satu hal, bahwa kemampuan Merri jauh berkembang pesat dari
yang ia kira.
Dulu ia hanya berfikir jika Merri hanya bisa merasakan tanpa
bisa melihat, tapi semenjak bertambahnya usia, ia bisa melihat bahkan
berinteraksi dengan makhluk-makhluk itu tanpa harus melakukan meditasi.
Jika Merri ingin lepas? Ia bisa saja. Tapi itu sungguh
sulit, jika Merri benar-benar berkenan ia siap berkoban demi kebahagiaan
anaknya meski di tebus dengan nyawa. Kusuma sudah siap. Sebab ia sendiri belum bisa menilai jika
kemampuan yang mereka miliki ini sebuah anugrah atau malapetaka yang diwariskan
secara turun temurun.
.
.
.
.
__ADS_1