Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
10 Dua Anugrah dan Malapetaka


__ADS_3

“Bunda tadi ngajar di kelas Rinda?” tanya Arinda. Mereka


tengah makan siang di sebuah resto.


“Ya, bunda hanya kasih kata motivasi saja. Bunda ingat kalau


siswi bernama Mikha itu siswi teladan dan baik. Semua pasti merasa kehilangan.”


Jelas Lira sambil menikmati makan siangnya.


“Ya, Mikha dia pintar. Dia sering dapat nilai bagus kalau


pelajaran hitungan. Dia jago matematika sama Fisika.” Puji Arinda, dia


memamerkan senyum tulus. Seolah dia ingat bagaimana Mikha selalu menuntaskan


soal-soal yang diberi guru di papan tulis.


“Ya, Bunda juga lihat nilai-nilainya.” Lira pun mengakuinya.


“Setidaknya saingan kamu berkurang satu orang disekolah.” Lanjut Lira yang


membuat Arinda menghentikan makan siangnya.


“Bunda ingin Rinda merasa beryukur gitu?” tanya Arinda.


“Hmm...!!” Arinda menarik nafas pelan.


“Tidak, bunda tau kamu sedih, tapi kamu harus tetap maju


kedepan. Jangan sampe di terpa kesedihan hanya karena kehilangan satu teman.”


Jelas Lira.


“Lalu berfikir dengan meninggalnya Mikha, berarti berkurangnya


satu saingan aku di sekolah gitu.” Arinda masih tersinggung dengan perkataan


ibunya.


“Arinda, kamu harus fokus untuk bisa masuk ke universitas


ternama, bunda mau itu.” Lira meluruskan topik.


“Ya kalau itu Arinda paham, pasti Rinda usahain.” Jelas


Arinda, “Cuma cara bunda bikin aku tuh ga nyaman aja. Aku merasa bersalah kalau


seandainya Mikha dengar.”


“Arinda, dengarin Bunda.” Lira menaikkan suaranya, membuat


putrinya menatapnya. “Orang meninggal tidak punya urusan lagi dengan kita yang


masih hidup, mereka sudah aman disana, mereka tidur hingga pada akhirnya


bangkit lagi, yaitu di akhir zaman alias kiamat. Jadi mereka tidak akan dengar


apapun.” Jelas Lira.


“Ya aku paham apa maksud bunda, hanya saja bunda terlalu


cepat. Mikha baru meninggal kemaren loh, trus hari ini Bunda menyuruh Arinda


untuk menjadi lebih baik dan memanfaatkan kesempatan, bukannya itu kelewatan.”


Arinda berhenti sesaat, dia kesal, tapi kali ini moodnya dalam keadaan tidak


stabil.


“Bunda hanya cemas, kamu saja hari ini ga masuk jam pertama


gara-gara sakit.”


Arinda ingat, Karin memberi alasan bolosnya pagi itu dengan


bilang kalau dia tidak enak badan dan beristirhat di ruang kesehatan. Padahal sebenarnya


dia berada di perpustakaan. Arinda tidak mau beragumen lebih lanjut. Dia


memilih menghabiskan jus jeruknya.


“kamu harus sukses seperti ayah dan Bunda.” Lanjut Lira.


“Ya sukses seperti keinginan aku.” Gumam Arinda.


“Sukses seperti bunda yang bunda mau, karena bunda lebih tau


apa yang terbaik untuk kamu. Kamu terlalu muda untuk memutuskannya.” Jelas


Lira.


“Kalau ternyata aku ga sanggup?” lanjut Arinda. “Kalau


misalnya aku ternyata tidak sepintar ayah dan Bunda bagaimana, ternyata aku


lebih berbakat dibidang lain bagaimana?”


“Seperti apa?”


“Fashion disainer?”


“Ga, itu tidak bagus. Bunda ga mau kamu jadi tukang jahit.”


“Hmmm...!!” Arinda hanya menghela nafas, “Setidaknya fashion


designer bisa keliling dunia sambil pamer baju rancangannya.” Gumam Arinda.

__ADS_1


“Kamu harus seperti Ayah atau Bunda, terlihat sempurna di


mata orang, karena kami seorang pendidik.”


“Tapi tiap hari debat mulu.” Lanjut Arinda dalam gumaman


kecilnya. “Belum lagi juga gagal gedein satu anak.” Yang satu itu hanya terucap


didalam hati.


“Bunda dengar Rinda.” Ucap Lira menatap ketus kearah Arinda.


Arinda terdiam, dia melanjutkan makan siangnya tampa


membicarakan apapun lagi. Apapun yang ingin ia sampaikan pasti akan di patahkan


oleh ibunya yang maha benar.


.


.


.


.


Di tempat lain, seorang ibu dan anak juga berada di meja


makan. Merri yang mencoba melahap makan siangnya begitu terlihat bersemangat.


Hari ini dia di sapa seorang teman. Dia diajak ngobrol, bahkan teman itu telah membantunya


dalam mengambil kebutuhannya selama di sekolah. Memang, awalnya dia memang


tidak membutuhkan sosialisasi dalam bentuk apapun di sekolah baru. Namun


kenyataanya, batinnya memang membutuhkan orang lain untuk di ajak


bersosialisasi. Setidaknya kesan itu membuat ia lupa sesaat dengan setan jahil


yang suka menampakkan dirinya didepannya itu.


“Kamu lahap sekali?” puji Kusuma.


Mendengar suara ibunya, Merri kembali pada wajah awal.


Senyum itu menciut, berubah jadi bibir manyun. Begitu juga dengan wajah


sumringah itu berubah menjadi kesal. Ia kesal dengan wanita yang telah


melahirkannya. Kejadian Mikha kemaren, dimana ibunya juga tidak dirumah


membuatnya semakin yakin jika kematian Mikha disebabkan oleh ibunya.


“Kok diam?” tanya Kusuma yang baru duduk dan bergabung di meja


makan.


gelas agar jauh dari wajahnya. “Bu!” Merri mulai membuka suara, mulai mengulik


ibunya akan rasa penasaran dan kesal yang terpendam sejak kemaren.


“Ya?”


“Tamu ibuk yang kemaren lusa itu, dia menumbalkan anaknya


ya?” tanya Mikha.


“Hmmm...!” Kusuma menaroh gelas dan piring yang masih kosong


di depannya. Tampaknya ia tau putrinya akan membahas tentang sesuatu yang


mungkin melukai perasannya.


“Ibu tau ga, kalau ritual ibu itu ternyata membunuh orang?”


tanya Merri.


“Ibu hanya menerima perintah, ibu tidak tau kemana energi itu


terbang.” Jelas Kusuma.


“Tapi ibu taukan, kalau kelakuan ibu bisa membunuh orang?”


tanya Merri.


“Itu resiko pekerjaan ibu, ibu tidak dapat menolaknya.”


Jelas Kusuma tenang.


“Tapi resiko pekerjaan ibu terlalu berbahaya?!” Kali ini


Merri membentak, suaranya meninggi. Tapi kedua mata gadis itu berkaca-kaca.


“Kamu nanti paham apa yang tengah ibu alami. Karena ini


turunan. Kamu pasti akan mengalaminya.”


“Aku ga mau, aku ga mau seperti ibu!” tolak Merri.


“Tapi ini takdirmu, Mer. Kamu tidak akan bisa menolaknya.”


“Aku akan akan cari tau bagaimana aku tidak menjadi seperti


ibu, membunuh orang.”


BRAG

__ADS_1


“Marri!!” Kusuma memukul meja makan hingga piring dan gelas


bergetar. Merri terkejut melihat amarahan ibunya, tapi ia masih bersikekeuh


kalau dia di posisi yang benar dan ibunya salah.


“Ibu tau gak? Siapa yang jadi korban ibu malam itu, anak


yang juga satu sekolahan dengan Merri.” Merri kembali buka suara. Dia benar-benar


terlihat kesal, “Ibu tau mimpi buruk apa yang aku alami waktu itu? Sesuatu yang


sangat mengerikan mengambil paksa jiwa anak itu, kemudian ia memasukkannya ke


dalam mulutnya yang besar dengan gigi taring yang tajam. Dengan kata lain, dia


belum saatnnya mati, tapi iblis itu menarik paksa dan memisahkan nyawa dan


raganya. Bukan hanya itu, iblis itu memakannya. Aku yakin itu adalah suruhan


ibu, peliharaan ibu. Kenapa aku bisa tau? Sebab, setiap ibu melakukan ritual


itu, aku akan selalu di perlihatkan akan mimpi buruk. Mimpi seseoran yang tidak


aku kenal mengalami sakaratul maut yang sangat mengerikan.” Jelas Merri dengan


nafas tersengal-sengal. Dia terlalu emosi sehingga berbicara dengan suara


menggebu-gebu. “Lalu, yang barusan kejadian ini adalah orang yang ternyata sekelas


denganku?”


“Tapi itu beda Merri.” Kusuma mencoba menjelaskan.


Merri tidak mendengarkan. Sesak di dadanya belum sepenuhnya


lepas, “Kemaren semua anak-anak dikelas aku berduka. Kami datang dan melihat


proses pemakamannya. Kemudian hari ini anak-anak dikelas mulai berdebat dan


bahkan beberapa diantara mereka curiga jika gadis itu mati karena di santet. Ibu


tau bagaimana perasaan aku yang mendengarnya? Aku takut bu! Aku takut jika


mereka tau kalau temannya itu ternyata mati karena ulah ibu. Aku takut dicap


sebagai anak pembunuh, sudah cukup aku dibulli sebagai anak seorang dukun.”


Kusuma kembali memukul meja, “Merri, itu bukan perbuatan


ibu.” Jelas Kusuma.


“Bukan apanya? Aku tau pria tua yang datang kerumah, dia


bapak dari anak itu. Merri melihat di pemakaman, Merri juga melihat iblis itu,


dia sama persis dengan apa yang aku lihat waktu dirumah sakit. Dia berlahan


mencabut nyawa gadis itu, dan nama gadis itu Mikha! Dia siswa yang satu kelas


dengan aku. Saat ini aku duduk di bangkunya, berteman dengan teman-temannya, belajar


dengan guru-gurunya. Bukankah aku seperti parasit, bu?” Merri menitikkan air


mata.


Setelah puas mengeluarkan semua unek-unek yang bersarang di


benaknya, Merri menunpahkan air mata. Ia segera menutup wajahnya dengan kedua


tangannya. Melihat kondisi Merri seperti itu ia meredakan amarahnya. Merri


persis dengan dirinya saat masih muda dulu. Tidak ikhlas dan takut pas tau jika


ia ditakdirkan menjadi paranormal ataupun dukun.


Hanya saja, rasa sedihnya itu hanya ia pendam. Ia tidak


berani mengutarakannya kepada ibu dan neneknya dulu. Tapi melihat Merri angkat


suara, dia paham akan satu hal, bahwa kemampuan Merri jauh berkembang pesat dari


yang ia kira.


Dulu ia hanya berfikir jika Merri hanya bisa merasakan tanpa


bisa melihat, tapi semenjak bertambahnya usia, ia bisa melihat bahkan


berinteraksi dengan makhluk-makhluk itu tanpa harus melakukan meditasi.


Jika Merri ingin lepas? Ia bisa saja. Tapi itu sungguh


sulit, jika Merri benar-benar berkenan ia siap berkoban demi kebahagiaan


anaknya meski di tebus dengan nyawa. Kusuma sudah siap.  Sebab ia sendiri belum bisa menilai jika


kemampuan yang mereka miliki ini sebuah anugrah atau malapetaka yang diwariskan


secara turun temurun.


.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2