
Diharapkan kebijaksaan saat membaca karena ada yang adu jotos.
Arinda bertekuk diatas meja. Ia memposisikan dirinya seperti hendak mengambil ancang-ancang untuk menyerang targetnya. Kulit putih pasi itu memamerkan urat biru dan hijau yang membuatnya semakin terlihat menakutkan. Matanya yang bak hewan buas itu mengunci targetnya yang tak lain adalah Merri.
HUP
Arinda melompat tinggi badannya menghantam tubuh Merri sehingga membuat Merri jatuh. Tangan pucat itu mencengkram leher Merri.
“WAAA!!!” teraik Merri. Cengkraman Arinda yang kuat membuat Merri sulit bernafas. “Hiks!!”
“GYAAAA Kau harusnya juga mati seperti ayahmu!!” teriak Arinda dengan suara serak parau.
“Beraninya kau!!!” teriak Kusuma. Ia merentangkan tasbih hitam itu. Ia melilitkan tasbih tersebut keleher Arinda dan menarik paksa agar menjauhi Merri.
“GYAAAA!!!!” Arinda meronta kepanasan saat diseret menjauh. “Panas!!!” teriaknya.
“Merri!!” panggil Kusuma yang sibuk menahan Arinda.
“Aku baik-baik saja, bu!” Merri segera berdiri.
“Tempelkan liontinmu ke dahi anak ini!” perintah Kusuma.
Merri segera menggulungkan kalung tersebut ketangan kanannya. Ia menggenggam buah liontin tersebut kemudian berjalan mendekati Arinda.
“Tidak ada Tuhan yang berhak di sembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya. Tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Kepunyaannya apa yang di langit dan dibumi. Tiada yang dapat
memberi syafaat disisi Allah tanpa izin-Nya. Ia mengetahui apa-apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa.” ucap Merri dan Kusuma bersamaan.
“GYAAA!!!” teriak Arinda tersiksa dengan ucapan ibu dan anak tersebut.
“Tidak ada Tuhan yang berhak di sembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya. Tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Kepunyaannya apa yang di langit dan dibumi. Tiada yang dapat
__ADS_1
memberi syafaat disisi Allah tanpa izin-Nya. Ia mengetahui apa-apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa.” Doa itu terus di lontarkan, hingga Merri yang sudah berada di hadapan Arinda. Tangannya siap menempelkan liontin tersebut ke dahi Arinda.
Arinda yang kesetanan terlihat panik. Badannya sulit digerakkankan. Lilitan tasbih di lehernya ternyata mengunci semua gerakannya. Kini mata liar Arinda sibuk mencari sesuatu. Ia melihat sebuah teflon. Dengan sisa tenaganya, ia gunakan kekuatan dari matanya untuk melayangkan benda tersebut.
PLAK!!
Wajah Kusuma di hantam keras dengan teflon tersebut. Membuat ikatan di lehernya longgar dan Arinda bebas saat itu. Ia menendang Merri hingga terdorong kebelakang.
Hantaman itu ternyata membuat Merri membentur dinding dengan keras. “Ha!!” Teraik Merri menahan sakit di bahu dan kepalanya.
Kusuma yang juga terjatuh lansung berdiri. Ia mengabaikan rasa nyeri di pipi dan kepalanya. Namun Arinda yang bebas, membalikkan keadaaan. Dia mengambil kesempatan tersebut dengan melompot kearah kusuma dan
menarik rambut wanita tersebut.
“GYAAAA!!!” teriak Kusuma yang merasa urat di ujung kepalanya meradang.
“Gyahahaha... enak bukan?!” ledek Arinda yang menyeret Kusuma tanpa ampun.
“GYAHAHAHA!!! Merri ini menyenangkan, wanita busuk ini memang pantas seperti ini. gara-gara dia kau tidak memiliki temankan?” kata Arinda.
“GYAAA Merri ja_ngan, jangan dengarkan dia!” teriak Kusuma.
“YA jangan dengarkan dia... Kau takut kalau kenyataan sebenarnya kau adalah ibu yang jahat. Kau ibu yang hendak menggugurkan bayimu, bukan?!” ledek Arinda dia melempar Kusuma yang menghantam dinding dapur tersebut.
“Shhh...!!” Kusuma meringis kesakitan. Sekujur tubuhnya merasa sakit dan hatinya pun begitu.
“Ibu... !!! Ibu!!” teriak Merri, bulir air mata jatuh di pipinya. Dia mendekati ibunya dan mengangkat tubuh sang ibu yang telah lemah.
“Ibu tidak apa-apa!” ucap Kusuma, tapi raut wajahnya berkata lain. Terutama saat ia merasakan ada cairan panas mengalir di bekang batang leher. Cairan itu bersumber dari rasa sakit di kepalanya.
“Ibu, darah.” Tunjuk Merri melihat cairan itu. Kusuma menyekanya dan rasa sakit itu semakin ngilu saat jarinya mengenai luka tersebut.
__ADS_1
“Gyaaahahahaha... rasakan. Kalian pantas mendapatkannya, hahahaa!!!” maki Arinda penuh kemenangan.
Sekujur tubuh Merri bergetar hebat melihat reaksi setan yang bersarang di tubuh Arinda. Dia membenci suara tawa, senyum lebar dan bahkan setiap dari gerak tubuhnya. Ujung-ujung kuku Merri memanas dan kemudian rasa panas hebat yang sagat dahsyat itu juga mulai menjalar kesekujur tubuhnya.
“Merri kau harus dengarkan sebuah rahasia yang selama ini di pendam wanita sialan itu. Kusuma, ibu yang melahirkanmu sebenarnya tidak sepenuh hati menerima kehadiranmu. Di hari pertama kau lahir dia berinisiatif untuk mencekekmu dan membiarkan kau mati. Jika tidak berkat nenekmu, mungkin kau sudah mati, mungkin kau berada di neraka seperti ayahmu yang sama sekali tidak peduli dengan kalian.”
“Hentikan kebohongan itu!” teriak Kusuma. “Kau pembohong besar!” erang Kusuma. “Atas nama Tuhan pemilik yang menguasai dunia dan alam semesta, enyahlahlah dari sini!!” Kusuma sekuat tenaga melempar tasbih itu. Namun Arinda menepisnya dan butir-butir bola hitam kecil itu hancur berderai di lantai.
“Kau manusia paling hina yang pernah aku temui. Kekuatan mu tidak ada gunanya. Asal kau tau, hidupmu tidak lah sebeharga kau impikan. Manusia hina yang tidak pantas menginjak bumi, bukankah sebaiknya kamu mati saja?” ujar Arinda meracau dengan mulut laknatnya.
Merri mematung mendengar kata-kata Arinda, atau lebih tepatnya kata-kata makhluk yang bersemayam di tubuh Arinda. Badan Merri mulai panas di bakar emosi. Aliran darah di urat nadinya berdenyut semakin cepat hingga seluruh urat nadi itu menegang.
“Merri, kau butuh bantuanku?” suara itu kembali menggema di kepalanya. “Hehehe dengan senang hati. Dia lawan yang sepadan untukku. Namun nanti ada upah yang harus kau bayar atas bantuan beharga ini.”
“Rohi... kau jangan ikut campur!”bentak Merri dalam hati.
“Dengan senang hati, aku akan melanggarnya.”
“Gyaaa!” Merri berteriak kencang. Dia mengepal dua tangannya agar semua energi negatif yang menjalar di tubuhnya segera lepas. Namun sayangnya, di sisi lain dia menikmati aliran energi jahat yang agresif itu. Walau dalam hati ia menolak, namun tubuh kecil itu dengan senang hati melangkah dan mengayunkan tangan, hingga Merri yang berbagai kesadaran dengan Rohi menindih tubuh Arinda.
Arinda terbelalak kaget. Dia terjatuh dengan posisi tubuh di himpit Merri. Saat dia membuka mata, dia mendapati mata Merri mulai berubah. Mata Kiri Merri bewarna kuning dengan garis hitam memanjang di tengahnya.
“Kau...?” Arinda kaget melihat penampakan tersebut.
“Kau hanya setan peliharaan, beraninya kau bertindak di luar batas utusan tuanmu.” Ucap Merri dengan suaranya dan suara berat Rohi bergabung jadi satu. Dia berdiri. Kemudian tangan kanannya mencengkram leher Arinda. “Siapa utusanmu? Apa tujuanmu? Jawab semua pertanyaanku atau kau lenyap dari dunia ini!” tangan kecil itu mengangkat leher Arinda, sehingga tubuh yang lebih tinggi saat ini berdiri menginjit.
“Merri?" Kusuma tercengang. Sejujurnya dari perjalanan hidup ghaib yang pernah ia alami, inilah yang paling ia khawatirkan.
“Kkau, kkurang ajjar! Beraninya kau me menyakiti tu tubuh manusia iini.” Ucap setan dalam tubuh Arinda terbata.
“Oya? Sayangnya aku tidak peduli!” senyum Merri dan Rohi bersamaan.
__ADS_1
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// BERSAMBUNG....