
Semua perbuatan baik ataupun jahat, bermanfaat atau tidak sama sekali. Semuanya pasti akan dipertanggung jawabkan kemudian akan ada yang di korbankan. Ini bukan sebuah hal yang di buat dengan aturan tertulis melainkan hukum alam. Hukum antara dua alam yang berbeda yang pasti tidak akan di elakkan jika telah menghadapinya. Dan Merri memahami hal itu.
Malam itu juga, permainan jailangkung diadakan. Pesertanya adalah mereka yang sejak awal memang harus bertanggung jawab. Karin sang pencetus ide, Arinda yang pernah mencobanya, Tito yang sekedar ikutan, Agus
yang secara suka rela melibatkan diri dan Merri yang harus mengakhiri semua masalah ini.
Mereka memasuki kelas dua IPA A. Kelas tempat biasa mereka menimba ilmu sekaligus kelas yang akhir-akhir ini menimbulkan masalah.
Saat masuk kedalam kelas, Arinda dengan sigap mencari saklar.
KLIK
Lampu telah menyala dan keadaan kelas terlihat dengan jelas. Bangku yang di susun rapi, kaca yang bersih dan juga papan yang terlihat hitam mengkilap. Pemandangan itu membuat Tito dan Karin sedikit merasa aneh.
“Apa teman-teman merapikan kelas kita sebelum pulang?” tanya Tito.
“Gua ga tau.” Geleng Karin.
“Gua ga yakin kalau teman-teman kita. Gua ingat kelas ini masih kacau. Meja di ujung sana patah, papan tulis kita sedikit mereng dan kaca jendela di ujung sana juga retak. Lalu ada bekas muntahan dari teman-teman yang
sempat kesurupan. Gua ingat jelas keadaan kelas ini. Lalu di dekat pintu ini ada noda warna merah.” Jelas Agus.
Merri menatap Agus. Arinda juga melakukan hal sama. “Darah?” tanya Arinda. “Siapa yang luka?”
Agus menggeleng. “Gua ga tau. Hanya itu yang gua ingat. Kalo bekas darah mungkin pak Asep segera membersihkannya, tapi kalau kelas mungkin tidak. Kita semua sudah panik duluan jadi gak ada yang mau berlama-lama dikelas ini.” Jelasnya lagi.
Karin menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah.
“Loe kenapa masih disini?” tanya Tito lagi.
“Ya, kenapa lo ga balik?” tanya Arinda.
“Gue... gue... balik soalnya harus bawa boneka itu.” Jelas Agus. Dia melihat kearah Karin yang semakin merasa bersalah. Kepala gadis itu tertunduk dalam. “Gue pikir, boneka itu harus kembali kepada pemiliknya.” Lanjut Agus.
Merri menggigit ibu jarinya. Dia merasa tertekan sendiri. Jawaban Agus membuatnya tidak bisa lagi menahan emosi yang sulit ia pendam.
“Habis itu apa yang terjadi?” tanya Tito lagi.
“Gue dapat bonekanya ada disini, di kelas kita. Gue memungutnya dan kemudian memutuskan untuk segera pulang. Tapi ternyata gue sama sekali ga pulang sampe akhirnya gue bertemu pak Asep dan kemudian kalian.”
Jelas Agus.
“Cerita yang lengkap Agus.” Ucap Merri yang mengusap air matanya yang jatuh. Merri menangis.
__ADS_1
“Maksudnya?” tanya Karin. “Trus kenapa lo nangis?” tanya Karin melihat wajah Merri yang tiba-tiba basah dengan air matanya.
“Lo kenapa Merri, apa lo sakit?” tanya Arinda yang juga panik. Dia mendekati Merri dan mencek keadaan Merri.
“Gak, gue gak kenapa-kenapa.” Jelas Merri berusaha tegar. “Lanjutkan ceritamu, Gus.” Ucap Merri kepada Agus.
“Cerita apa?” tanya Agus.
“Kenapa dengan pak Asep, kenapa dia memukulmu?” jelas Merri.
“Lo dipukul orang gila itu?” tanya Arinda yang kembali emosi.
“Ya, gue di pukul sama pak Asep secara tiba-tiba. Gue sempat ga sadarkan diri. Sialnya, dia hanya ambil tuh boneka dan tinggallin gue gitu aja.” Ucap Agus sedikit emosi.
“Nggak, dia gak ninggalin lo, Gus. Dia bawa badan lo. Ingat baik-baik sekali lagi.” Pinta Merri.
“Gue nggak ngerti maksud lo, Mer.” Ucap Karin. “Agus kenapa?” desak Karin.
Tito melihat ke lantai. Dia melihat kaki teman-temannya. Arinda dengan saptu olah raga, Merri dengan flat shoes warna hitam, Karin dengan sendal jepit yang di beli di pantai tadi sore dan kemudian Agus yang sama sekali tidak menapak. Tito lansung menutup mulut dan matanya. Ia melepaskan kaca matanya, mengucek keras matany dan kembali memperthatikan kaki Agus. Berapa kalipun ia coba, matanya selalu memperlihatkan hal sama.
“Gus?!” Tito hanya bingung. Dia berharap Agus yang ada didepannya adalah seorang Agus bukan sesosok atau sejenisnya.
Karin dan Arinda pun akhirnya menyadarinya. “GYA?!” Karin lansung memeluk Arinda.
Agus memperhatikan kakinya dan kemudian tersadar akan sesuatu. Dia terlihat pucat dan panik, “Apa gue udah mati, Mer?” tanya Agus ketakutan.
“SERIUS?” kali ini Karin, Arinda dan Tito yang tidak percaya.
“Kapan lo tau?”
“Dimana?”
“Kok bisa?”
“Apa gue masih hidup, atau gue sudah mati MER?”
“Gue ga tau."Merri menggeleng lemah.
“Trus apa tujuan lo bahas ini?” tanya Agus. “Kenapa lo kasih tau gue?” Agus terlihat marah dan kecewa.
“Biar lo nggak kaget, jika salah satu diantara kita akan tertinggal disini. Dan orang itu adalah lo.” Jelas Merri berusaha kuat. “Jadi, jika kami berempat berhasil keluar dari sini, itu saatnya buat lo harus bersembunyi untuk sementara waktu. Gue dan yang lainnya akan mengambil badan lo dan dari situ kita akan tau; apa lo masih hidup atau sudah mati di bunuh oleh pak Asep.”
“Jadi darah yang di pintu yang lo maksud itu jangan-jangan darah lo sendiri, Gus?” Tito mencoba menerka.
Agus memegangi bagian belakang kepalanya. Dia merasakan nyeri di puncak kepalanya dan ada noda merah kehitaman yang menempel di tangannya.Dia menyadari luka yang ada di dikepalanya. Tapi ia tidak tau kalau sudah di tempat yang berbeda, gerbang antara hidup dan mati.
“Sepertinya.” Angguk Agus lemah.
__ADS_1
“Ayo cepat!” bentak Karin. Gadis itu lansung mendorong beberapa meja kebelakang. “Ga ada waktu lagi, kita harus cepat biar bisa kembali. Agus harus di selamatin. Lo ga boleh mati begitu aja, Gus!” ucap Karin.
“Ya!!” Arinda, Tito dan Merri segera membantu. Agus yang masih syok hanya bisa diam.
“Gue ga akan buat lo disini selamanya. Jika lo mati, gue nggak akan maafin diri gue selama-lamanya. Gue nggak akan hidup dengan tenang. Semua ini salah gue!!!” teriak Karin. Semua bangku sudah di geser kebelakang.
Kelas itu menjadi luas. Belum sampau disitu, Karin yang menyukai hal-hal berbau mistis mengambil sebatang kapur. Dia mulai menggoreskan kapur itu di lantai.
“Jika lo mati, jika lo ga selamat, gue akan siap menukarkan jiwa gue demi lo. Karena ini salah gue.” Ucap Karin yang telah selesai membuat garis menyerupai pentagon. “Gue serius, demi iblis apapun. Gue akan bertanggung
jawab atas apa yang gue lakukan.” Ucap Karin yang berhasil membuat Agus terdiam sekaligus terkesima. Matanya berkaca-kaca. Untuk kesekian kali ia tersentuh dengan sikap Karin, tapi kali ini perasaan yang sangat nyata.
Merri mengusap air matanya. Kata-kata Karin memberi energi tersendiri baginya. Tidak sepatutnya dia menangis dengan keadaan sekarang. Walau terkesan diam dan tidak peduli, Merri juga merasa bersalah. Seharusnya
dia memberi tau teman-temannya dengan apa yang ia lihat pertama kali saat membuka pintu kamar tua Asep. Ia melihat sepasang sepatu dan juga kaki seorang anak laki-laki yang di sembunyikan di bawah dipan kasur. Ada bekas noda darah di lantai. Tapi ia belum menyadari jika itulah Agus.
Kelima remaja itu duduk melingkar. Mereka tidak membutuhkan kertas atau sejenisnya. Kapur putih itu di rekatkan di bawah penggaris. Lampu tidak mereka biarkan padam.
“Teman-teman, kali ini permainan jailangkung yang kita lakukan sedikit berbeda.” Merri membuka pembicaraan. Dia menatap wajah teman-temannya dengan serius. “Kita tidak membuka permainan ini. Kita tidak
mengundang mereka. Kita tidak akan menanyakan sesuatu kepada mereka. Kita pamit dan izin untuk kembali. Kita telah mengantar mereka pulang, saatnya kita untuk kembali. Pegang tangan kalian erat-erat dan jangan lepaskan apapun yang terjadi. Ingat, kita izin kembali ke dunia kita.” Jelas Merri.
“Bagaimana dengan gue?” tanya Agus.
Merri terdiam sesaat. “Berjaga-jaga di pintu. Jangan biarkan siapapun masuk. Termasuk Mikha.”
GLEK
“Setelah kita semua pergi, lu harus bersembunyi untuk sementara waktu. Jangan biarkan siapun menarik lu. Jika itu terjadi larilah sejauh mungkin dan sebisa mungkin.”
“Kalau ketangkap apa yang terjadi?” tanya Tito.
“Kepala lo akan di penggal dan tubuh lo akan di makan.” Jawab Arinda. Ia ingat akan tayangan tivi yang sempat menerornya waktu itu.
Karin dan Tito menahan nafas karena takut. Sedangkan Agus hanya termenung. Terlebih lagi saat Merri mengiyakan jawaban Arinda dengan anggukan pelan dan lemah.
GLEK
Agus mengepal tangannya. Dia sangat ketakutan. Hidup dan matinya sangat di pertaruhkan. Walau kemungkinan selamat sangat tipis, ia berusaha untuk melakukan yang terbaik. Setidaknya kesempatan terakhir ini tidak
akan ia sia-siakan. dengan tegar, Agus menutup pintu kelas. Mengunci ganda pintu tersebut. Menahannya dengannya pintu dan juga meja-meja.
“BURUAN jangan buat gue mati konyol disini!!!” teriak Agus.
Merri, Arinda, Karin dan Tito bergegas. Wajah mereka menegang. Mereka takut tapi tidak ada pilihan lain selain menghadapi rasa takut itu sendiri.
“Teman-teman mari kita mulai, siap ataupun tidak.” Ucap Merri memberi aba-aba.
__ADS_1
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...