Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
30 Kesurupan


__ADS_3

Arinda menatap nanar dengan apa yang ia lihat. Mata bulat itu semakin membelalak, mulutnya juga ia buka lebar-lebar. Sayang, suara itu tertahan di tenggorokan. Tidak ada keberanian baginya beralih atau kabur keluar dari toilet itu, kakinya terkunci oleh rasa takut yang menyerangnya. Terlebih sosok yang menyerupai Mikha itu kali ini benar-benar tampak jelas, nyata, dekat, berdarah dan bau amis.


“Arinda... kau tidak merindukanku?” sapanya dengan senyum yang sangat menakutkan itu.


“Khh...khh...!!” Arinda memegang tenggorokannya. Suara itu hanya bentuk angin tanpa warna.


“Aku kesini menjemputmu, aku kesepian... kita yang memulai permainan itu kita juga yang mengakhirinya, bukan aku sendiri.” Ucap Mikha yang semakin mendekatkan diri kepada Arinda.


“Mi...kha!” mulut itu kaku dan suara itu sangat sulit di keluarkan. Sebagian nyawa Arinda terasa terbang melayang. “Aku pasti mimpi, pasti!” pikirnya.


“Kau sedang tidak bermimpi, teman.” Ucap Mikha yang menyadarkan Arinda yang kembali kaget dan membelalakkan matanya. Rasa takut dan tidak percaya itu membuat tubuhnya kesakitan. Terlebih saat Mikha berusaha masuk menguasai pemilik tubuh ramping itu.


“GYAAAAaaaaAAAAAA!!” Pekik Arinda yang tubuhnya kesakitan seperti di tarik dari segala penjuru.


Jumlah Laron yang semakin banyak membuat ruangan menjadi gelap dan suram. Bak di beri instruksi dari tuannya, ribuan laron itu mengikuti Mikha dan mereka masuk kedalam rongga mulut Arinda dan bersemayam disana.


“UHUH UHUK!! Hehehe!” Arinda yang di kuasai oleh arwah Mikha memamerkan senyum licik.


Suasana toilet kembali seperti biasa. Arinda berjalan kaku menemui ayahnya yang sudah menunggu dengan membawa sekotak es krim yang telah di janjikan.


“Lama sekali?” tanya Ajar cemas. Ia melihat wajah Arinda agak berbeda, kaku dan lesu. “Kamu sakit?” Ajar memegangi kening Arinda yang terasa dingin. “Kamu ga apa-apa kan?”


“Aku mau pulang.” Jawab Arinda dengan suara kaku.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G


“Agus?” pikir Merri. Ingatannya kembali saat pelajaran di kelas siang ini. “Oo ya Agus, aku Merri.” Seru Merri. Dia hanya menunduk saat sadar jika orang di depannya itu adalah teman kelasnya.


“Lo mau pulang?” tanya Agus yang lansung duduk di samping Merri yang memang kosong.


Merri mengalihkan wajahnya. Ia memperhatikan pemandangan yang ada di luar. Hal itu membuat Agus hanya tersenyum, sepertinya dia bisa memaklumi sifat Merri yang tertutup.


“Sorry gue ganggu lu, tapi gua hanya pengen cerita ke elu kalau tadi gue, Tito, Karin dan Fitri di ganggu Mikha. Dia narik Tito sampe masuk ke kolam.”


Merri lansung menoleh ke arah Agus. Dalam waktu sehari dua makhluk dari dunia yang berbeda membahas satu objek yang sama. “Kenapa kalian bisa di ganggu Mikha?” tanya Merri.


“Gue juga kurang tau, apa menurut loe Mikha kembali gara-gara permainan Jailangkung?” tanya Agus.


“Ga tau.” Jawab Merri singkat. Dia berfikir sejenak, kemudian ia ingat pernyataan hantu Alisya yang menyatakan jika Arinda bermain Jailangkung. “Apa semua siswa ikut main Jailangkung?” tanyanya. Merri mulai curiga jika hanya dia yang tidak ikut di hari itu.


Agus berfikir sejenak, “Hampir semua, kecuali lo, lima anggota gank yang ga guna itu, lalu Arinda.” Jawab Agus.


Merri kembali berfikir kembali. “Jika Arinda ga main jailangkung, kenapa dia ikutan di teror?” gumam Merri.


“Apa Arinda juga di hantui Mikha?” tanya Agus. Merri tidak mau menjawab, “Apa lo juga akhir-akhir ini di ganggu hantu Mikha juga?” Agus terlihat penasaran. “Apa lo bisa melihat Mikha?” tanya Agus yang membuat Merri semakin


tidak nyaman.

__ADS_1


Merri enggan menjawab semua pertanyaan Agus begitu saja. Tiba-tiba ia berdiri dan mendekati knek bus agar bus yang ia tumpangi berhenti. Agus hanya menatap kepergian Merri begitu saja. Tapi pria itu menyunggingkan senyum. Saat Merri menoleh kearahnya sebelum turun dari bis tersebut.


“Misterius tapi menarik.” Puji Agus dalam hati. “Tapi gue yakin loe bisa lihat mereka, Merri.” Gumam Agus dalam hati.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G


Arinda dan Ajar memarkirkan mobil di garasi rumah mereka. Wajah kaku tanpa ekspresi itu turun, kemudian masuk ke dalam kediaman tersebut. Di sana Lira menunggu dengan pakaian yang terlihat santai. Ia menikmati secangkir teh hangat sambil membaca majalah.


Ajar memperhatikan raut wajah Lira yang terkesan tidak melihat kehadiran mereka. Ia juga tidak menyapa sang istri. Ia lebih memilih menuntun Arinda kekamar agar segera beristirahat.


Setelah itu ia turun dan membuat segelas kopi untuk ia minum sendiri dan secangki teh hangat untuk putrinya.


“Arinda kenapa?” tanya Lira. Hanya sebuah pertanyaan tanpa menunjukkan raut wajah cemas atau khawatir.


Ajar menoleh, mata tuanya melihat judul majalah yang di baca Lira. Sebuah majalah mengenai parenting, tapi yang membaca seperti tidak memiliki ilmu dan pengalaman akan hal itu.


“Apa kau cemas?” tanya Ajar.


“Apa dia melihat seorang mahasiswi yang bimbingan di kafe lagi, dengan pakaian minim dan dandanan yang mencolok?” tanya Lira.


“Itu tidak ada kaitannya. Dia tiba-tiba tidak sehat.” Jelas Ajar. “Apa kau tidak lihat wajahnya agak pucat?” tanya Ajar.


Lira menutup majalah yang ia baca. Ajar memalingkan wajahnya dan ia sibuk dalam menuangkan air panas ke cangkir tersebut. “Kau tidak akan pernah tau. Bagi kami semua kau hanya kepala sekolah, bukan seorang ibu atau


istri.” ucap Ajar.


Lira meletakkan majalah itu diatas meja. Lalu dia mengambil cangkir teh hangat yang telah di buat Ajar. “Bukankah putriku sakit? Biar aku yang merawatnya.” Jelas Lira. “Mengenai Alisya, dari dulu sudah kubilang untuk tidak mau mengambil pusing mengenai jalan hidup yang dia pilih. Lagian dia anakmu dengan wanita itu, bukan anakku. Permisi.”


Kelas Lira memang tinggi, gaya bicara dan caranya menghadapi suatu masalah sangat menunjukkan jika dia wanita yang memiliki power. Ajar hanya menatap cangkir kopi miliknya.


BRUUK!


PRANG!


Sementara itu Lira menaiki anak tangga menuju kamar Arinda. Dari bawah  ia mendengar suara benda jatuh. Walau


agak bingung dari mana asal suara itu. Namun, suara itu semakin jelas saat ia sudah berada di anak tangga terakhir. Suara kebisingan itu jeas berada di rumah ini, tepatnya di kamar Arinda.


PRANG!!


“GYAAAA!!!!”


“Arinda?!” mendengar teriakan putrinya Lira segera membuka pintu. Sayangnya pintu itu terkunci dari dalam.


“ARINDA?!” panggil Lira dengan suara keras.


Namun suara kebisingan di dalam tidak kalah lebih keras. Lira tidak dapat membayangkan dengan apa yang terjadi di dalam sana. Ia hanya khawatir jika disana ada perampok ada hewan liar yang mengganggu putri kesayangannya.

__ADS_1


“ARINDA buka pintunyaa!!!” pekik Lira semakin keras.


“Ada apa?!” tanya Ajar yang menyusul.


“Arinda...?!” Lira masih memukul pintu kamar itu. Sementara di dalam suara semakin bising. Begitupun teriakan Arinda.


“GYAAAAA!!!! HAAAAAAAAAAhahahahaha!!!”


“Minggir!” Perintah Ajar. Lira pun segera beralih kebelakang Ajar dan pintu itu di dobrak. Dalam tiga kali percobaan  pintu kayu itu akhirnya terbuka. Dan di didapat kondisi kamar yang berantakan. Dimana lemari beserta isinya sudah porak-poranda. Meja belajar bahkan tanaman hias yang biasa ia rawat juga bereserakan dimana-mana. Sedangkan si pemilik kamar duduk jongkok diatas kasur.


Wajah yang tampak manis itu sekarang terlihat kusut dengan rambut panjang yang tidak rapi. Mata yang menatap tajam, dan senyum mengerikan. ditambah dengan lampu kamar yang padam membuat suasana semakin mencekam.


“Arinda, kamu habis ngapain?” tanya Lira yang tidak suka melihat situasi di kamar itu. Terlebih Arinda bersikap anak liar.


Ajar hanya bingung melihat kondisi kamar itu.


“GYAAAAhahahahaa!!!” tawa itu pecah dan melengking. Suara tawa aneh dan menyeramkan, Ajar dan Lira kaget.


“Kamu kenapa, Rinda. Sini nak mari kita bicarakan.” Ajak Ajar.


“Ya, bukan seperti ini caranya. “ perintah Lira.


“Lan tas se per ti ap pa, manusia jahanam?!! GYAAAAAHAHAHAHAHA!!!” kata Arinda dengan suara serak. Ia melompat-lompat di atas kasurnya.


“ARINDA jangan omonganmu!!” perintah Lira.


“GYAAAHA?!” Arinda menoleh ke arah Lira. “Ini bukan Arinda, Arinda kalian akan mati, GYAAAAHAHAHAHAHA!!!”


“ARINDA bunda tidak suka cara kamu ya!”


“GYAAAAHAHAHAHA!!!”


Arinda yang sulit di kendalikan mengambil sebuah spidol merah dan mencoret-coret dinding kamarnya tidak karuan.


“ARINDA!!” Lira semakin kesal. Dia segera mendekati Arinda agar bisa menghentikan sikap konyol. “ARINDA, dengarin Bunda!”


PLAK!


Lira kaget, ia terhuyung kebelakang. Wajah wanita yang penuh wibawa itu lansung pucat. Baru kali ini ia mendapa perlakukan hina. Yang lebih menakutkan adalah ia di tampar oleh putrinya sendiri.


“ARINDA!” kali ini Ajar yang mengeluarkan suara nyaring dan tegas. “KAU KENAPA?” bentak ajar.


“A ku?! Ma ti!” Arinda melepaskan spidol yang ia pegang dan kemudian tubuh itu lansung berlari ke arah jendela kamar yang terbuka. Ia berinisiatif untuk terjun dari kamarnya yang berada di lantai dua.


“Yah!” Lira menyuruh Ajar untuk segera bertindak.


Sekuat tenaga Ajar mengejar tubuh kecil putrinya agar tidak terjun. “ARINDA JANGAN....!!!!”

__ADS_1


**P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// BERSAMBUNG... **


__ADS_2