Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
40. Persiapan Boneka Jailangkung


__ADS_3

“Arindaaa... kau disini?!”


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


Mata Arinda nanar melihat lingkungan yang asing dimatanya ini. Ia seperti di tarik kedemensi lain. Dimana didepannya terhempas pemadangan bak ladang pasir tandus. Saat kakinya melangkah, tanpa sengaja ia menendang sebuah batu nisan. Ia lihat kearah nisan  dengan ukiran yang membentuk nama “MIKHA”. Arinda mundur beberapa langkah. Kali ini pinggangnya juga menyentuh sebuah batu nisan yang lebih tinggi. Padahal sebelumnya tidak ada apa-apa disekitarnya. Saat ia berbalik, nisan yang becat hitam itu memiliki ukuran yang dicat dengan tinta bewarna merah. Tinta itu masih tampak basah dan mengeluarkan aroma anyir. Arinda mundur beberapa langkah agar bisa menghindari aroma busuk dari batu tersebut.


“Tempat berbaringnya dengan damai... A rin da?!” bacanya lantang dan gugup ketika tau jika nisan itu untuknya.


“POH GOPOH GOPOH!” dari arah kejauhan Arinda mendengar suara aneh. Suara itu persis seperti suara iring-iringan yang diseru oleh banyak orang.


Takut dengan apa kemungkinan ia hadapi, Arinda bersembunyi di balik batu Nisan yang bertuliskan atas namanya itu. Dari arah kejauhan, ia melihat segerombol orang dengan pakaian hitam lusuh. Mereka tengah mengangkat sebuah benda yang sangat besar dengan tangan kosong. Mereka mungkin ada sepuluh atau lebih. Arinda tidak yakin dengan jumlahnya. Namun satu dari semua orang asing tersebut, ia melihat satu yang sangat ia kenali.


“MIKHA?!” Arinda menutup mulutnya. Dia menahan rasa takut dan juga sedih. Kenapa demikian? Sebab Mikha terlihat sangat tersiksa. Ia melihat kondisi Mikha yang sebenarnya. Dia  sangat kurus. Darah mengalir di kedua kakinya yang diikat dengan rantai besi ukuran besar. Rantai milikinya dan orang-orang itu terhubung ke arah benda yang ia angkat. Disana Mikha juga menangis kesakitan.


“Jangan berhenti, budak!” pecut seseorang mengenakan jubah hitam ke arah Mikha.


“GYAA!!” Teriak Mikha. Dia hanya bisa menangis sambil melakukan pekerjaan itu.


Arinda menitikkan air mata, “Apa yang harus aku lakukan?” pikir Arinda.


“Arinda?!” tiba-tiba namanya diteriaki. Saat itu juga Arinda kaget, bahwa semua orang itu menatapnya. Ternyata yang meneriakinya adalah Mikha.


“Arindaaa... kau disini?!”


Arinda seolah tertangkap basah. Manusia berjubah hitam itu mengejarnya. Arinda


berusaha melarikan diri. Namun ia tersandung dan akhirnya jatuh. Saat itu juga ia lansung tertangkap. Tanpa ampun kakinya diseret.


“GYAAA... jangan bawa saya!!!” teriak Arinda. Namun permohonannya tidak di tanggapi sama sekali.


Ia di tarik paksa hingga mendekati rombongan Mikha. Arinda dapat melihat dengan jelas, jika orang-orang itu sama sekali tidak memliki mata. Anehnya dari mata kosong itu air mata terus


berjatuhan.


“Arinda, apa yang kau lakukan disini, kabur?!” perintah Mikha.”GYAAA!!!” Mikha kembali di cambuk, darah mengalir di lengan tangannya.


“GYAAAA apa yang kalian lakukan?!!” teriak Arinda. “Lepaskan sayaaa!!!!”


Kaki Arinda di borgol seperti Mikha dan yang lainnya. Lalu si salah satu berjubah hitam itu mendekatinya. Di balik jubah hitam yang sama sekali tak dapat di lihat itu, ia merasa ancaman yang maha dahsyat. Di balik jubah itu sepasang tangan berkuku panjang keluar. Yang lebih gilanya, tangan itu keluardari rongga mulut bergigi panjang dengan anak lidah yang menggantungkan berjuta pasang mata.


“GYAAAAA!!!!!!” Arinda teriak sejadi-jadinya.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


“Arinda Bangun!!” Lira mengguncang tubuh anaknya yang teriak dengan mata masih terpejam di atas kasur.


“Arindaaaa!!!” teriak Lira lagi.


Arinda membuka mata, dia semakin tidak terkendali. “GYAAAA jangan tangkap saya... jangan makan sayaa! Jangan ambil mata sayaaa!!” teriak Arinda.


“Arinda, ini bunda, ini bunda nak. Kamu aman di rumah, kamu aman!” tekan Lira menatap mata kedua anaknya. Arinda melihat mata ibunya. Dia meyakinkan dirinya jika ternyata yang ia alami sebuah mimpi.


“Kamu pasti mimpi buruk.” Ucap Lira mengusap kening Arinda. Lalu memeluk sang buah hati erat. “Kamu sudah aman, nak. Kita di rumah, sama bunda. Kamu aman!” tenang Lira.


“Hiks.. hiks!” Arinda membalas pelukan ibunya sangat erat. Tangannya bergetar hebat. “Rinda mimpiin Mikha lagi, Bunda! Rinda takuut...!!” isak Arinda.


“Kamu tenang, ya. Kamu hanya mimpi buruk, disini kamu aman, ada bunda, kok!” Bunda mengusap kepala Arinda lembut. Melihat sang putri terlihat tidak karuan, Lira kembali memeluknya. Ia juga cemas, hanya saja ia masih mempertahankan jika yang Arinda dan mereka alami semalam bukanlah suatu hal ghaib atau semacamnya.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//

__ADS_1


Ajar Lubis baru saja kembali dari kampus, tempat ia mengajar. Ada ujian pertengahan semester yang tidak bisa ia lewatkan. Selebihnya, jadwal bimbingan dan juga pertemuan dengan mahasiswa ataupun dosen lainnya ia tiadakan untuk hari ini. Ajar masuk membawa sekotak puding coklat kesukaan Arinda.


Ia sengaja membelinya agar putri kesayangannya bisa kembali ceria seperti biasa. Sama hal dengan Lira, ia juga begitu mencemaskan keadaan Arinda. Perasaan itu semakin menjadi saat Lira menelfon dan menjelaskan mimpi buruk yang dialami oleh sang anak.


Baru saja mobil di parkir di halaman rumah, Ajar mendengar keributan.


“Arinda dengarin bunda, kamu ga boleh kemana-mana.” Itu suara istrinya.


“Bunda, aku harus kesekolah!” jelas Arinda.


“Tapi kamu harus dengarin bunda dulu!” Perintah Lira.


“Percuma, kalian Cuma anggap aku ini gila. Aku tuh ga gila!” bentak Arinda.


Ajar segera keluar dari mobil. Ia menyusul sumber keributan yang mungkin sudah ada di ruang tamu. Sesuai dugaan, Ajar melihat Arinda sudah mengenakan seragam sekolah. Padahal kondisinya belum begitu sehat, bahkan lingkar hitam di sekitar bola matanya masih terlihat jelas.


“Arinda, mau kemana?” tanya Ajar.


“Ayah, aku mau sekolah aja.”


“Sudah pukul sepuluh siang, kamu mau sekolah juga nanggung. Dirumah aja.” Bujuk Ajar.


“Arinda mau bertemu Merri. Arinda mau cerita sama Merri. Dia pasti percaya sama apa yang Arinda alami.” Jelas Arinda. Bola matanya berkaca-kaca, menunjukkan jika ia sangat prustasi sekaligus takut dengan apa yang ia alami.


“Percaya soal apa?” tanya Ajar.


“Yang Arinda alami itu bukan mimpi buruk, ini bukan mimpi buruk. Bisa saja Arinda sedang kena karma atau kutukan dari Mikha.” Ucap Arinda.


Lira menekan keningnya. Dia merasa pusing dan lelah mendengar hal yang tidak ia sukai. Begitupun dengan Ajar yang berusaha memahami keadaan Arinda.


“Kalian pasti menganggap aku stres, tertekan dengan keadaan. Kalau masalah itu, aku sudah lama mengalaminya. Sejak kakak meninggal aku sudah tertekan dengan kondisi kalian. Tapi yang ini beda. Aku ga gila...!” jelas Arinda sedikit marah.


“Lalu menurut kalian apa?” tanya Arinda sedikit memaksa.


“Kamu hanya mimpi buruk, itu saja.” Jawab Lira sedikit hati-hati. Ajar sama sekali tidak menjawab.


Mendengar jawaban Lira dan sikap Ajar, Arinda menjadi jengah. “Ayah dan bunda memang orang yang hebat, orang yang cerdas, orang berpendidikan. Tapi masalah yang aku hadapi ini, aku yakin kalian tidak akan paham. Jadi biarin aku yang cari solusinya.” Tekan Arinda.


Ajar menangkap pergelangan tangan Arinda saat gadis itu dengan sikap keras kepalanya beralu. Arinda melihat sang ayah tajam.


“Ya, kamu akan mencari jalan keluarnya. Tapi hari ini istirahat dulu. Terlalu terburu-buru dan gegabah juga tidak baik untuk tubuhmu. Sekarang, makan dan kita bicarakan di meja makan semuanya. Semuaaanya yang kamu alami... ayah akan dengar. Walau ayah dan bunda tidak tau bagaimana menyelesaikannya, yang penting kita tau apa-apa saja yang kamu hadapi yang kami selama ini tidak tau.” Ajak Ajar. "Ayah agak lelah, bunda juga, kamu pun begitu. Jadi jika kamu terlalu emosi, itu membuat ayah dan bunda jadi sedih. Maaf jika kami selama ini buat kamu tidak nyaman." lanjut Ajar.


Arinda melunak. Perasaan itu timbul bukan karena mendengar ajakan ayahnya. Namun ia melihat wajah lesu dan kurang tidur dari sang ayah. Begitu juga dengan ibunya Lira. Di balik diamnya Arinda, ia baru menyadari jika kedua orang tuanya ada dirumah di saat jam kerjai. Terutama ibunya, kepala sekolah bertangan besi berhati dingin,


ternyata mengalah. Wanita superior itu meninggalkan singgahsananya di SMA Kasanova dan menemaninya disini.


Untuk itu Arinda mengangguk. Ajar dan Lira memeluknya penuh suka cita dan dalam hati terdalam Arinda merindukan sentuhan hangat ini.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


Kediaman Tuan Randi


Kusuma meletakkan cangkir yang berisi teh aroma melati di atas meja tamu. Di rumah besar nan mewah ini, ia merasa jika sedari tadi ada yang memperhatikannya. Terlebih saat ia mencoba menjelaskan kepada Randi perihal yang terjadi sebenarnya dirumah ini. Randi nyaris tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia melihat benda yang ditutup kain hitam itu. Boneka beruang yang dibuat sedemiakian rupa seperti boneka jailangkung, yang tak lain adalan sebuah media penghubung yang di gunakan Mikha saat itu.


“Jadi menurutmu, keluarga kami sedang di teror?” tanya Randi.


“Bisa jadi, persaingan dalam dunia bisnis itu hal biasa, terlebih di bidang kuliner. Jika ada yang tidak suka mereka mau saja mengirim bala bencana agar usahamu hancur. Hanya saja, saya tidak habis pikir jika kehadirannya semakin berbahaya dengan Jailangkung.” Jelas Kusuma lagi.


“Kenapa harus jailangkung?” pikir Randi lagi.

__ADS_1


“Permainan itu tengah marak di lakukan anak-anak remaja saat ini. Hanya saja, anak anda melakukannya dengan sedikit berlebihan. Memberi apa yang mereka suka. Potongan kuku, rambut dan darah itu adalah benda-benda yang mereka sukai. Seperti anak kecil yang tidak akan menolak jika di kasih permen atau coklat.” Kusuma menjelaskan sambil menoleh kebelakang. Dia kembali merasa di perhatikan.


“Dimana istrimu?” tanya Kusuma ingat akan sesuatu.


“Hmm ada di halaman belakang, dia harus mendapat cahaya matahari pagi.” Jawab Randi.


“Boleh saya menengoknya?” tanya Kusuma sopan.


“Ya, silahkan.” Randi mengajak Kusuma ke halaman belakang rumahnya. Ia membiarkan tas dan juga boneka jailangkung yang ia bawa terletak di meja ruang tamu.


Saat mereka pergi itulah, seseorang yang bersembunyi disana mengambil kesempatan untuk mencuri benda yang ia nantikan dari tadi.


Sementara itu Kusuma berdiri dan menghadap istri Randi yang duduk diatas kursi roda. Ia terlihat tidak sehat. Hal itu terlihat dari wajahnya yang tidak secantik biasanya. Bahkan wanita itu terlihat lebih tua dari usianya.


Kusuma mendekatinya dan berbisik, “Mikha tidak akan kesakitan lagi, saya usahakan itu.”


Wanita itu tidak bergeming, tapi hatinya kalut. Hal itu terlihat dari kedua matanya yang berkaca-kaca yang seketika menumpahkan bulir-bulir air mata.


“Kau pasti sering mimpi buruk karenanya?” bisik Kusuma.


Wanita itu mengangguk. Kusuma menggenggam tangan dinginnya. Dia mencoba menguatkan hati seorang ibu yang dua kali berturut-turut  kehilangan buah hatinya. Lalu Kusuma membisikkan sebuah mantra yang membuat wanita tersebut terlelap. Perawat yang melihat hanya kebingungan.


"Dia hanya tertidur." ucap Kusuma membuat perawat tersebut kembali kembali tenang.


Tak berapa lama, Kusuma memutuskan untuk pamit. Randi mengantarkan hingga ke depan rumah.


“Saya akan bersikap hati-hati kedepannya, tapi usahakan agar istri saya kembali seperti semula.” Pinta Randi kepada Kusuma.


“Itu tergantung dokter yang merawatnya.”


“Tapi dia minta agar anaknya kembali.”


“Saya tidak bisa melakukannya. Sebenarnya saya tidak punya kemampuan untuk hal itu. Seperti yang anda tau, saya hanya membantu dalam memberi penglaris. Di luar dari hal itu bukan tanggung jawab saya.”


“Apa yang membuat anda kesini kalau bukan membantu saya?” tanya Randi sedikit emosi.


“Pak Randi, seorang anak baru saja selamat semalam dari tragedi yang sama dengan Mikha. Dari pengalaman kerasukan yang ia alami, ia mendapat gambaran keadaan Mikha saat itu. Asal anda tau, Mikha menjadi budak disana. bukan hanya putri anda mantan asisten rumah tangga anda juga ada disana. Apa anda paham apa yang saya maksud?”


“A Apa?” tanya Randi gugup.


“Menghentikan permainan setan itu agar tidak ada lagi korban berjatuhan. Jika feeling saya benar, sepertinya setan yang di panggil oleh putri anda termasuk setan serakah yang tidak akan berhenti begitu saja. Jadi disini saya ingin bertanya sekali lagi, selain meminta bantuan dari saya, anda meminta bantuan kepada siapa lagi?” tekan Kusuma. "Perjanjian jenis apa yang anda lakukan?" tanya Kusuma lagi.


Randi tidak menjawab. Wajahnya terlalu tegang. Dia terlihat takut berhadapan dengan Kusuma yang biasa diam tanpa ekspresi kini terlihat garang. Kusuma membaca sebuah rahasia yang disembunyikan oleh pria berkumis tebal tersebut. Dengan sikap dingin Kusuma mengambil tasnya. Kemudian ia memperhatikan kondsi meja yang sedikit aneh. Ia tidak melihat bingkisan hitam yang berisi boneka jailangkung milik Mikha.


“Pak Randi, seorang pencuri sepertinya masuk kerumah anda.” Ucap Kusuma yang membuat Randi tersentak kaget.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


“Udah ketemu barangnya, Teh?” tanya seorang Asisten rumah tangga kepada tamu muda yang mengenakan seragam sekolah.


“Ya, maaf ya. Udah ganggu. Oh ya, ini kunci kamar Mikha.” Karin memberi kunci kamar Mikha ketangan pembantu tersebut. “Kamar itu membuat saya hampir nangis, dulu kita sering main disana.” Lanjut Karin dengan wajah dibuat sendu.


Ia segera meninggalkan rumah besar dan megah milik keluarga Mikha. Dengan ransel hitam yang sedikit lebih menggembung dari biasanya, Karin masuk kedalam mobil jip milik Agus.


“Udah ketemu?” tanya Agus.


“Jalan!” perintah Karin dingin.


Agus melihat Karin sedikit heran. Tidak biasannya dia seperti ini. Kalau sikap ngebos sih memang salah satu karakter Karin, tapi dingin dan tanpa ekspresi seperti ini, jelas bukan Karin yang biasa. Ada apa?

__ADS_1


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// Bersambung...


__ADS_2