Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
29. Alisya (2)


__ADS_3

Hati-hati, cerita memiliki mantra


Jangan di baca keras-keras...


Takutnya gangguin tetangga yang lagi sakit gigi 😌


“Hmm... maaf ya Mer, gue belum bisa cerita. Nanti kalau sudah siap akan gue ceritain.” Jawab Arinda sendu.


“Maafkan aku, Rinda. Kamu pasti masih merindukannya.” Merri mencoba menghibur Arinda.


“Tak apa-apa kok. Mungkin memang ini yang terbaik buat kakak aku. Semoga dia tenang di alam sana.” Ucap Arinda menunduk sedih. Merri hanya terdiam mendengar harapan Arinda. Sebab kakaknya masih ada disini, tersiksa dengan tali yang melilit di leher itu.


“Tapi kakak aku pernah masuk tiga besar gadis sampul tau!” ucap Arinda tiba-tiba. “Lihat deh!” Arinda menarik majalah dari rak buku. Jemari lentik itu dengan sigap membuka lembaran tengah dan melihat paras-paras rupawan disana. “Ini  dia yang paling muda dan dia paling cantik!” seru Arinda terlihat bangga.


Merri melihat halaman yang ditunjuk Arinda. Wajah itu terlihat hidup dan menawan, sangat berbeda dengan


apa yang ia lihat barusan.


“Lu tau ga sih, gua pengen banget jadi desainer. Desain baju, trus jahit baju yang cantik, trus di peragain kakak gue.


Itu mimpi kita...” Arinda menjelaskan impian masa depannya. Merri hanya mendengarkan. Mereka sampai lupa tujuan awal dari pertemuan ini. Hingga sore menjelang, Merri dan Arinda sama sekali tidak belajar matematika seperti rencana awal.


“Udah jam lima, aku balik dulu. Nanti di cari ibu.” ingat Merri.


“Wah, ternyata udah sore aja, gue keasyikan cerita. Sorry, Mer.” Arinda terlihat menyesal.


“Hahaha gapapa kok.”


“Gue anterin pulang, ya?” tawar Arinda.


“Ga usah, aku pulang sendiri aja.” Elak Merri.


“Lo anaknya sungkanan banget sih. Tapi jangan kapok dengar cerita gue ya?”


Merri mengangguk mendengar permintaan Arinda. Dia juga senang dapat teman saling berbagi.


“Gue anterin ke depan, ya!”


Merri dan Arinda segera bersiap-siap. Mereka meninggalkan kamar yang sangat nyaman itu. Saat pintu


kamar di buka, aura aneh itu kembali menyerang Merri. Ibarat seperti dari daerah tropis lansung menginjak ladang tandus dan gersang, seperti itulah yang tengah di rasakan Merri.


Bersamaan dengan itu, suara hiruk pikuk juga ia dengar di lantai bawah.


“Kamu pulang selalu sore, emang itu tugas seorang kepala sekolah?” itu seperti suara laki-laki dewasa.


“Aku ada keperluan dengan kepala yayasan, kami mau melakukan sebuah projek.” Lira membela diri “Lagian


ini memang sebuah projek, bukan hal lain seperti mengobrol dengan mahasiswa di kafe.”


“Lira, jangan mulai. Kamu jangan mengada-ngada.”


“Huft!” Arinda menghela nafas. “Bisa rahasiain dari yang lain?” minta Arinda ke Merri yang di anggukkan Merri. “Oya, tunggu sebentar ya.” Arinda kembali ke kamar.


Merri hanya berdiri dan menatap bawah tangga. Suara perdebatan antara suami istri itu terus berlanjut, hingga


salah satu dari mereka keluar. Hal itu Merri tangkap dari suara deru mobil yang keluar dari halaman rumah.


“Ssstt!”

__ADS_1


Seseorang memanggil dengan mendesis. Otomatis Merri membalikkan badan dan melihat pintu kamar


Alisya yang sedikit terbuka. Seorang gadis berdiri disana. Dari seluet tali yang mengikat di lehernya, Merri dapat menduga kalau dia adalah Alisya.


DEG


“Sini.” Ajak Alisya yang mengulurkan tangannya. Dia memberi intruksi agar Merri segere mendekat. “Abaikan orang tua sialan itu, dan dengarkan saya.” Perintahnya dengan suara seperti berbisik itu.


Jantung Merri berdebar, sosok yang di bilang cantik oleh Arinda sekarang terlihat menakutkan. Tapi sisi lain,


Merri tidak membaca tanda bahaya. Ia memberanikan diri mendekati pintu kamar tersebut. Saat langkah itu mendekat, jari-jari kurus dan pucat itu menarik seragam Merri sehingga wajah gadis itu benar-benar dekat dengan wajah pucat Alisya. Aura dingin menyerang seluruh tubuh Merri.


“Lindungi Arinda, adikku. Setiap malam ada makhluk mengerikan yang mengintainya.” Pintanya.


“Siapa?” tanya Merri. “Siapa yang mengintai Arinda?” tanya Merri setelah keberaniannya terkumpul.


“Entahlah, tapi dia sangat mengerikan. Dia sungguh mengerikan dan dia benar-benar membututi Arinda. Dia pernah mengganggu Arinda dan saya tidak bisa membantunya, mungkin kau bisa membantuku, karena ini masih berkaitan di dunia manusia.” Jelas Alisya.


“Lalu bagaimana caranya agar aku bisa membantu Arinda?” Tanya Merri.


“Minta Arinda agar menyelesaikan permainan itu, jika tidak dia akan berakhir sama dengan Mikha.”


“Permainan apa?” tanya Merri penasaran.


“Jailangkung!”


DEG


Merri membulatkan matanya. Jantungnya lansung bergetar dahsyat saat mendengar permainan yang di maksud.


“Merri?” panggil Arinda. Merri menoleh kearah Arinda yang sudah mengenakan pakaian santai. Ternyata dia


Merri sadar, ternyata ia masih berdiri didepan pintu kamar yang tertutup rapat. “Hmm aku hanya suka dekorasi ini.”


tunjuk Merri ke gantungan depan pintu yang bertuliskan “my zone”.


“Hahaha... boleh juga humor lo.” Tawa Arinda yang terkesan di buat. “Oke, di bawah sudah aman, gue antar lo pulang.” Ajak Arinda.


“Jangan, nanti...!”


“Tenang, bukan gue yang setir mobil, gue minta tolong sama Ayah. Gue ingat sore ini bokap mau ke toko buku. Kalo gue ikut siapa tau bisa di traktir es krim. Atau lo mau gabung juga ga?” ajak Arinda lagi.


“Ga usah, aku mau pulang aja. Paling nanti turunin aku di halte bis aja ya. Aku ga mau ganggu acara kalian.” Jelas Merri, dia jelas tidak mau terlibat lebih jauh lagi dengan keluarga yang sungguh penuh dengan masalah dan drama ini.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G


Merri dan Arinda berpisah di halte bis. Dia berpamitan dengan Ayah Arinda yang ternyata juga seorang bapak


yang suka bercerita. Mungkin karena seorang dosen dengan pengalaman pendidikan tinggi, Ajar suka memberi nasehat yang berguna buat Merri dan Arinda. Sangat berbeda dengan istrinya yang terkenal dengan kepala sekolah berdarah dingin itu.


Selama diatas bis menuju arah rumah Merri kembali memikirkan permintaan Alisya. Lalu membandingkan dengan


kejadian-kejadian aneh di sekolah.


“Arinda tidak ikut permainan jailangkung di sekolah, dia bahkan menolak keras ajakan anak-anak kelas.


Lantas, dia main Jailangkung dengan siapa dan dimana?” pikir Merri.


Disisi lain, seseorang tengah memperhatikan Merri. Matanya tidak pernah lepas sejak gadis itu menaiki bis ini dan duduk kursi bagian depan. Saat kondisi bis mulai lengang, ia akhirnya memutuskan untuk mendekati Merri.

__ADS_1


“Merri, kan?”


Merri menoleh dan seorang pria dengan seragam sekolah yang sama berdiri di samping tempat ia duduk.


“Gue Agus, teman kelas lo.” Kenalnya.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G


Arinda dan Ajar berhasil memilih banyak buku. Sebagai upah telah menemani ayahnya, dia mengambil satu set pensil warna dan buku skets book.


“Yang ini rahasiakan dari, Bunda!” pinta Arinda.


“Traktir ayah eskrim!”


“Hahaha, tapi pake duit ayah dulu sampe Arinda punya butik sendiri.”


“Ide bagus!”


Kedua ayah dan anak itu tertawa. “Yah, Arinda mau toliet dulu!” izin Arinda.


“Silahkan, ayah mau bayar semua ini dulu. Nanti ayah tunggu d depan toko ini ya.”


Arinda mengangguk paham, ia lalu segera menyelesaikan masalah darurat ini. Beruntung, toilet sedang sepi. Hanya ada petugas yang sedang mengepel lantai. Arinda pun mengambil satu kamar closed. Suasana


sepi membuatnya sedikit takut. Di tambah lampu toilet yang berkelap kelip karena dua atau tiga laron bermain disana membuat suasana semakin mencekam.


Arinda keluar dari bilik tersebut. Ia segera mencuci tangannya di westafel. Keadaan sangat sunyi, petugas kebersihan tadi juga sudah tidak ada. Hal itu membuatnya ingat akan kejadian di kamar mandi sekolah waktu itu. Di tambah lagi laron-laron itu jumlahnya semakin banyak. Mereka mengkerubungi lampu penerang toilet dan membuat suasana menjadi remang-remang lalu kembali terang. Seperti itu berulang kali.


Satu laron menempeli rambut Arinda. “Gyaa, menjijikkan!” pekik Arinda yang mengusir laron dari kepalanya.


Tapi laron tersebut balik menempeli badan dan kepalanya. Bukan hanya satu, sekarang ada tiga ekor. “Hush!!”


Usir Arinda. Semakin ia agresif mengusir laron tersebut, ia semakin di serang oleh serangga tersebut.


“HUSHHH!! Kenapa gangguin sih, HUSh!!” Tubuh Arinda di penuhi laron tersebut. Bunyi kepakan sayap dan


dengungan laron membuatnya semakin ketakutan.


“Hong ilaheng, heh jagad alusan roh gentayangan. Jailangkung jailangsat siro, ning kene ono, siro


angslupo, yen siro teko hyo ndang angslupo.”


“Hong ilaheng, heh jagad alusan roh gentayangan. Jailangkung jailangsat siro, ning kene ono, siro


angslupo, yen siro teko hyo ndang angslupo.”


Dengungan itu semakin lama seolah terdegar seperti alunan Jawa.


“HAH?!” Arinda membelalakkan mata. Dia kenal betul nyanyian ini. Nafasnya terengah-engah seolah sulit


dikendalikan karena degupan jantungnya. Serangan panik itu semakin menjadi-jadi tak ayal para laron seketika menjadi sangat banyak dan bertebangan disekitarnya. Ruangan yang tadi bersih dan serba putih itu lama-lama terlihat seperti rumah para laron.


Diantara pasukan laron yang bertebangan tak menentu, Arinda melihat satu sosok yang berdiri. Samar-sama sosok itu mendekat dan menampakkan dirinya.


“ARINDAAA...!!! Aku belum mati...!!”


“MIKHA!!”


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// BERSAMBUNG...

__ADS_1



__ADS_2