Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
47 Kilas Balik Pesta Jailangkung jilid 1


__ADS_3

Arinda Putri Lubis adalah sebuah keberuntungan. Dia lahir membawa berkah dan keberuntungan  yang membuat siapa saja iri. Wajah cantik, kulit kuning langsat bersih, mata yang bulat da cemerlang, tinggi ramping, jika berbicara ia memiliki suara yang enak di dengar, tawa yang renyah dan terlebih senyum yang manis. 


Arinda Putri Lubis, memiliki orang tua yang hebat. Baik Akademis dan juga sosial. Ayahnya  seorang dosen yang bergelar doktor. Sedangkan sang ibu seorang kepala sekolah yang sukses. SMA Kassanova bukti nyata keberhasilan sang ibu. Banyak yang iri menjadi dirinya. Anak tunggal dari keluarga berada dan berpendidikan. 


Tapi sebenarnya yang terjadi dalam istana itu, tidak seindah yang di lihat oleh mereka. Ibarat sebuah kastil yang di luar terlihat megah dan kokoh, Namun jika di lihat lansung ke halamannya, maka yang terlihat adalah tanah gersang dengan tumbuhan yang mati. Kemudian di dalam adalah ruangan koson yang penuh debu. Jika di luar terlihat menawan, maka di dalam terlihat mencekam. Maka itulah Arinda Putri Lubis sebenarnya.


Sore ini, ia kembali berdebat dengan sang ibu. Seorang guru matematika memberikan hasil kerja Arinda selama tiga bulan ini. semua nilanya hanya bertahan di angka enam puluh dan tujuh puluh. Walau tidak terlalu buruk, namun di mata Lira nilai ini tetap memalukan. 


"Ada apa dengan angka-angka ini, Arinda?" tanya Lira membentak. Lira dan Arinda berada di ruang makan. di meja makan bundar itu, Lira melihat Arinda denga ketus.


"Tapi, itu hasil kerja keras Arinda. Yang penting ga dapat nol kan?" bela Arinda. 


"Bagi saya nilai itu adalah sembilan puluh dan seratus, selebihnya adalah sebuah kesalahan." jelas Arinda dengan nada semakin meninggi.


"Tapi aku ngerjainnya jujur tau. Aku ga nyontek!" jelas Arinda dengan menyamai nadanya. 


"Berarti kamu tidak belajar."


"Aku belajar!"


"Kalau begitu kamu kurang giat!"


"Aku sudah giat, aku belajar bersama teman-temanku juga."


"Lantas kenapa kamu hasilnya masih begini, kenapa mereka bisa sembilan puluh bahkan seratus. Kenapa kamu tidak bisa."


"Karena... karena... aku tidak tau. Aku juga bingung kenapa aku tidak cerdas seperti Bunda dan Ayah? Apa jangan-jangan aku anak angkat kalian, ya?!"


"ARINDA!!"


Ajar yang baru tiba melihat keributan di ruang makan. dia menengok sebentar. Tatapan pria itu ketus kepada Lira. 


"Masih memaksakan kehendak kepada anakku?" tanya Ajar.


"Dia mendapat nilai terburuk di kelasnya."


 "Terburuk bukan berarti dia anak gagal. Pasti ada nilai yang membuatnya bangga menjadi dirinya sendiri."


"Ya, kesenian dan olahraga. Dua bidang yang tidak akan membuatnya berhasil. Mau jadi apa dia jika hanya mengeluarkan keringan selama dua jam pelajaran dan melukis tidak jelas." 


"Nilaiku juga bagus dalam pelajaran bahasa indonesia. Aku juga ketua kelas." Arinda berusaha membela dirinya.


 "Tapi itu belum cukup. Nilaimu ini tidak akan bisa masuk ke universias kedokteran manapun!"


"Aku ga pernah mau jadi dokter, INGAT!!"


 "Sudah sudah, kenapa rumah ini tidak pernah tenang?!" kali Ajar yang protes.


 "Ya karena kau tidak pernah peduli dengan masa depan anakmu sendiri. Semuanya aku yang urus." Lira mulai drama.


 "Bukan itu, saya seorang dosen, saya lebih paham dengan pola pikir anak-anak muda mengenai masa depan."


 "Oo ya, karena anda memang gaulnya dengan mahasiswa atau mahasiswi?" Lira menaikan alisnya.


 "Sudahlah, aku juga tidak tahan dengar kalian bertengkar." pikir Arinda. Dia meninggalkan kedua orang tuanya yang kali berdebat hal tidak masuk akal. 


Arinda menaiki anak tangga, masuk ke kamarnya dan menghempas pintu kamar dengan keras. 


BLAM!!!


"Arinda!! Bunda belum selesai...!!" teriak Lira dari lantai satu. 


Gadis itu tidak peduli. Dia memakai earphone dan menyalakan musik dari walkman tersebut. "Siapa peduli? Banyak orang yang ga mati karena waktu sekolahnya ga bisa mate-matika." gumam Arinda. Dia mengambil sweater, dompet dan kembai turun ke bawah.


"Kamu mau kemana?" tanya Lira melihat Arinda yang terlihat rapi.


"Keluarlah, besokkan libur." jawabnya ketus.


"Kamu ngapain keluar? Ini sudah malam." ingat Lira dengan nada kesal.


"Biarin dia keluar, malam minggu juga." bela Ajar.


"Ya dengan gitu kamu pasti juga akan keluar semaumu. Ayah dan anak sama saja!" 


"Ngapain saya di rumah kalau hanya mendengar kamu marah-marah."

__ADS_1


"HUFT...!" Arinda mendengus kesal. Dia tau kalau ayahnya lebih sering nonngkrong di luar atau bermain dengan teman sesasam dosen yang megajar di kampus. Tidak ada yang betah dirumah dengan ibu ditaktor semacam Lira. 


Ia hendak kerumah Tito. Disana lebih seru dan lebih rame. Sejak kecil sudah mengenal Tito, Arinda jadi mengenal baik semua saudara cewek Tito dan ia cukup dekat dengan mereka. Tapi baru saja beberapa langkah keluar rumah, sebuah panggilan masuk menggetarkan ponselnya. Arinda melihat nama yang tertera di sana, Mikha's Home.


"Ya Hallo?" sapa Arinda yang lansung menerima panggilan tersebut.


"Arinda kamu kerumahku ya." ajak Mikha.


"Oke, kebetulan aku juga bete di rumah."


"Ya, sini aja.. Aku lagi sama bi Santi. Tadi juga ada Karin. Tapi anaknya udah pergi duluan soalnya ada perlu." jelas Mikha.


"Oo gitu, sayang sekali. Aku mau beli cemilan. Jadi buat tiga orang doang dong." ucap Arinda sedikit lesu. "Tunggu aku ya." panggilan itupun berakhir.


Arinda melihat sepintas sebuah mobil sedan kuning berjalan santai melewati perumahan tersebut. Seorang wanita tua dengan pakaian nyentrik menjadi perhatian Arinda. Entah kenapa dia tidak suka melihat nenek-nenek itu. Di sampingnya ada seorang pria yang cukup berumur dengan pakaian jawa kuno. Pria itu duduk di bangku kemudi dan menjalankan mobil dengan santai. Walau ada begitu banyak jarak di antara mereka berdua. Mata bulat Arinda dan wanita tua yang nyentrik itu saling menatap. Wajah itu seketika tersenyum ke arah Arinda dan melambaikan tangannya. Arinda sedikit risih dengan perlakukan nenek-nenek tersebut. Dia segera memalingkan wajah dan pura-pura tidak sadar sedang di sapa. 


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


.


.


Arinda akhirnya sampai di kediaman Mikha yang cukup besar dan mewah. Dulu rumahnya tidak sebesar ini. Sejak ibunya menikah lagi, kehidupan Mikha yang sederhana berubah drastis. Rumah Mikha yang dulu yang hanya di batasi pagar dari tanaman hijau sekarang sudah berganti besi bercat hitam yang tinggi. Jika dulu ada warung sederhana milik ibunya, sekarang rumah itu ada bagasi dengan dua jenis mobil dengan merek yang sangat mahal.


Arinda cukup senang dengan kehidupan baru yang di jalani Mikha. Setidaknya dia tidak akan kesulitan dan kebanjiran lagi. Tapi ternyata Mikha sendiri tidak menyukai kehidupan baru yang ia miliki. Ia sering bermimpi aneh sejak tinggal di rumah itu. Itulah yang sering di ceritakan Mikha kepada dirinya. 


Setelah memencet bel dan menunggul sekitar satu menitan lebih, akhirnya gadis itu masuk juga. Dia dan Mikha lansung duduk santai di kamar Mikha. Mereka bertukar cerita. Arinda dengan jujur membahas apa yang ia debatkan dengan ibunya hari ini.


"Jadi lu emang ga mudah. Bukan hanya di sekolah, bahkan di rumah lu bakal ketemu bu Lira." ucap Mikha.


"Ya, kalau ada yang mau ganti posisi dengan gue, gue siap." Seru Arinda.


"Gue juga ga mau walau pengen." kata Mikha tertawa kecil. 


"Gimana tidur u, udah bisa nyenyak?" tanya Arinda. 


"Masih gitu-gitu aja. Gue akan tertidur jam sembilan dan pasti bangun pukul tiga lewat lima belas menit. Walau udah gue snegajain tidur jam dua belas atau jam satu, mata gue secara otomatis akan bangun pukul tiga lewat lima belas menit." jelas MIkha.


"Trus, apa yang lo lakuin setiap bangun?" tanya Arinda lagi. 


"Walau apa?" tanya Arinda.


"Gue ga yakin, tapi malam kemaren, di diari gue ada tulisan ini." Mikha segera mengambil bukunya dan lansung membuka halaman terakhir. Arinda melihat. Tidak ada yang aneh; hanya sebuah tulisan dengan tinta hitam "hi Mikha, ini papa :)"


"Gila, pasti ada yang ngerjain." pikir Arinda.


*"Lalu ini." Mikha melihat halaman selanjutnya. ****Jangan sedih\, papa baik-baik saja. Maaf selalu mengintip kamu menulis diari ya. Papa merasakan kesedihanmu." ***


*Mikha melihatkan halaman selanjutnya\, dan Arinda membaca; ****Jika kamu bahagia\, papa pasti ikut bahagia. Jaga mamamu baik-baik. Bagaimanapun papa juga tidak suka Pak Randi. Dia brengsek dan suka bermain curang. Papa mati karenanya. ***


"Ga mungkin, ini pasti mustahil. Ga ada orang mati yang bisa nulis. Ngintip kamu saat nulis diari? Jangan aneh deh, Mikha. Ada yang ngerjain kamu." ingat MIkha. 


"Makanya aku mau buktiin!" ucap Mikha yang terlihat pucat. 


"Buktiin apaan?"


"Panggil arwah papa aku."


"Caranya?"


"Lewat Jailangkung."


"Lewat apa?" tanya Arinda tidak salah dengar, "Jailangkung? Maksud kamu Boneka Jailangkung gitu?"


"Iya!  Karin udah sediain bonekanya. Tapi dianya keburu pergi. Lagian kalau ada Karin juga ga enak. AGue belum kasih tau ke dia alasannya. Gue cerita masalah gue ke elo doang." jelas Mikha. 


"Kenapa begitu?" tanya Arinda.


"Soalnya lo juga bagi rahasia ke gue mengenai kakaklu yang mati bunuh diri karena narkoba dan hamil tiga bulan. Biar sama-sama jaga rahasia, gue juga kasih tau rahasia gue." jelas Mikha. "Gue juga mau ajak lu, siapa tau lu bisa panggil kakak lu dan bicara dengannya." 


"Ga akan dan g mungkin. Ga ada orang mati bisa di ajak ngobrol." jelas Arinda kesal.


"Gue juga ga mau percaya sampe ada tulisan seperti ini di diari gue."


"Itu pasti orang iseng."

__ADS_1


"Ga tau! Makanya gue mau buktiin malam ini juga."


"Berdua?"


"Bertiga dengan Bi Santi."


Asisten rumah tangga yang tergolong masih muda itu masuk. Ia membawa boneka beruang yang sudah di ikat dengan dua penggaris berukuran tiga puluh senti. kemudian selembar kertas ukuran A3. Dikertas itu di gambarkan dua kotak dengan jawaban Ya dan Tidak. Lalu huruf abjad A hingga Z dan angka 0 hingga sembilan. 


"Serius?" tanya Arinda.


"Boneka ini ada noda darahnya Karin, trus aku udah nyumbangin potongan kuku milikku." ucap Mikha.


"Aku udah masukin anu... bekas pemba lut." ucap mba Santi.


"EUHHH!!!" pekik Arinda.


"Itu lebih mancing kata si mbok aku lo mbak." ucap ART tersebut.


"Arinda, kamu mau kasih satu atau dua helai rambut kamu ga?" tanya Mikha. Dia menyerahkan gunting ke Arinda.


"Ya, biar gue yang potong sendiri. ucap Arinda. Ia hanya mengguting seujung rambutnya. Mungkin hanya dua atau tiga senti meter dari rambutnya yang panjang. Dan bisa di katakan jika rambut yang ia serahkan rambut yang sakit alias yang bercabang.


Mbak Santi melihat Arinda kesal karena tidak mau di ajak bekerja sama. "Rambut gue emang lagi bermasalah. Gue lagi banyak beban pikiran. Atau mau rambut gue yang lain aja, yang kasar juga ada." ucap Arinda membela dirinya. 


"AUW!!!" Arinda teriak kesakitan. Ternyata Mikha mencabut satu helai rambutnya. "Kenapa lo paksa gitu sih?"


"Maafin gue, Nda."


"Terserah lo. Tapi menurut gue ini tetap ga akan berhasil. Setau gue orang mati dan orang yang masih hidup ga akan bisa bertemu lagi." Ingat Arinda.


"Ya udah, kalo misalnya berhasil mba Arinda mesti bantu saya nyuci ngepel ya?" tawar mba santi sambil bercada.


"Ya, kalau berhasil Mba Santi bakal di bunuh sama dia duluan." ingat Arinda tidak mau bercanda. "Seharusnya gue tetap main kerumah Tito aja." pikir Arinda dalam hati. 


"Oke, kita main saja. Kita coba dalam tiga kali percobaan." usul Mikha.


"Satu kali aja!" bentak Arinda.


"Takut nih si mba Arindanya... takut yaaaa?" mbak Santi malah menggoda Arinda.


Arinda tersulut emosi. Menurutnya Asisten Rumah tangga satu ini cukup keterlaluan. Pikir Arinda, dia lupa dengan posisinya dan dengan siapa ia sedang bicara. "Ga, gue ga takut sama sekali. Lakukan sesuka kalian." Ucap Arinda Kesal. 


Lampu kamar Mikha di matikan. Pencahayaan hanya ada dari sebatang lilin yang di taroh di dekat mereka. Hal itu membuat suasana semakin mencekam. Arinda melihat boneka jailangkung tersebut. Sepintas sepertinya ia mengenal boneka tersebut. 


"Mirip yang Tito dapat waktu main lempar gelang waktu pasar malam itu deh." pikir Arinda dalam hati. 


"Arinda tangannya, tolong sama-sama pegang boneka ini." ajak Mikha.


**Arinda yang tak semangat, mengikuti kemauan Mikha. Dia memegang badan boneka tersebut yang sudah kempes. Walau di lampisi kain, Arinda merasa ada tekstur plastik yang ia rasakan dalam perut boneka tersebut. Ia lansung membayangkan sampah pembalut habis pakai. Perutnya terasa kacau. Tapi tangannya lansung di tahan dengan tangan Mikha dan tangan asisten Mikha.** 


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// Bersambung...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2