Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
Pasien Sebelah Itu


__ADS_3

Tito bangun dari tidurnya. Ia seperti bermimpi akan suatu hal yang sangat menyenangkan. Tapi ketika matanya terbuka dan badannya bangun semua mimpi itu lansung hilang.


"Gue mimpi apa ya?" pikir Tito.


"Meong!" sapa kucingnya Toto yang juga sudah sibuk menjilat badannya. Kucing itu kemudian menatap Tito.


"Gue mimpi, tapi lupa. Tapi mimpi gue bagus. Tapi kenapa bisa lupa ya?"


"Meong...!" Toto kembali menggali sibuk dengan mandi jilat bulunya.


"Bang Tito ada telfon nih, dari kak Karin!" sahut adik Tito bernama Tuti.


"Ya!" Tito segera bangun dengan kepala masih linglung. Kepalanya masih di penuhi dengan rasa penasaran. sedikit malas Tito meraih ganggang telfon. "Ya Karin ada apa?"


"To, gue masih takut kesekolah." ucap Karin.


"Kenapa masih takut, loe udah tiga hari nggak masuk loh, Karin."


"Ya, gue takut di hajar anak-anak sekelas."


"Lo harus datang, percaya deh sama gue. Lagian hari ini Arinda juga udah mau masuk sekolah juga kok. Nggak ada kalian gue jadi kesusahan jagain Fitri. Dia ngitil gue terus kemana gue pergi. Padahal gue mau coba gabung klub renang, tau."


"Ya, maaf. Kalau Arinda, tadi kita gue udah telfon dia semalam."


"Trus masalahnya apa lagi?"


"Gue mau minta tolong sama lo, plisss!!"


"Apa?"


"Janji, lo nggak marah?"


"Hmm... memangnya apa?"


"Tapi janji dulu."


"Ya janji."


"Jadi...!"


.


.


.


 


Arinda datang kesekolah lebih pagi. Ia berjalan memasuki gerbang sekolah, terus melangkah melewati kelas


dengan tulisan kelas dua IPA A. Pintu kelas itu di kunci dan para siswa tidak boleh masuk kesana untuk sementara waktu. Kelas dua mereka yang baru berada dekat dengan ruangan kepala sekolah. Ya, sejak kejadian itu banyak laporan dari para wali murid agar para siswa tidak melakukan aktivitas belajar mengajar di sana lagi. Terlebih lagi kelas mereka memang mengalami kerusakan.


Untuk itu, Arinda dan anak kelas lainnya harus menaiki banyak anak tangga agar bisa sampai di kelasr beru mereka. Tepatnya ruang musik penyimpanan alat musik yang berada di samping ruangan kepala sekolah.


SREEk SREEEK


Arinda menoleh kebawah. Seporang pria tua sedang menyapu daun-daun kering di halaman sekolah. Sepintas orang tersebut menyerupai pak Asep. Namun saat ia mencoba memperhatikan sekali lagi, pria itu terlihat berbeda.


“Petugas kebersihan yang baru, ya?” gumam Arinda.


Seperti biasa, sesampai di kelas, suasana masih sunyi. Arinda memang menyukai kesendirian paginya. Sambil


mendengarkan musik dari mp3 player baru yang di berikan Ayahnya, ia mencoba menikmati hari ini sambil menulis di sebuah buku jurnalnya.


“Seorang Teman Bernama MERRI,” itulah judul jurnal yang ia beri. “Dia gadis pendiam dan sedikit misterius. Tubuhnya kecil dan senyumnya kaku. Sepintasnya dia sangat pemalu namun di balik sikap malu dan suka melamun itu, ia sedang menyembunyikan sebuah rahasia. Dibalik tubuh kecil itu Merri adalah gadis yang istimewa.” Arinda membaca tulisannya lagi. Dia melamun dan wajah gadis cantik itu seketika sedih. Ia tau dari ibunya, Lira bahwa sehari setelah kejadian itu Merri telah pindah sekolah lagi. Kemana? Sayangnya tidak ada yang tau. Ia sendiri yang mengirim surat kemundurannya melalui pos.


“Apa perlu aku tulis dia gadis egois. Egoisnya lebih parah dari Karin?” pikir Arinda. “Ya, dia sangat egois. Dia


juga sangat rakus. Lebih rakus dari Fitri. Dia juga pintar, lebih pintar dari Mikha, dia juga ceroboh persis Tito dan ia juga sangat cantik. Huft!!” Arinda menghembuskan nafas dengan kesal. “Aku merindukan anak itu.” Arinda membenamkan badannya diatas tas ransel yang ia taroh di atas meja.


Beberapa teman kelas satu-persatu datang. Mereka menyapa Arinda dan menanyakan keadaan gadis itu. Arinda menjawab sekenanya. Saat mereka membicarakan Merri Arinda hanya bisa diam. Sama halnya dengan mereka, ia sendiri juga tidak tau keberadaan Merri.


“Arinda!!!!” panggil Karin yang datang dengan wajah berbinar. “Hosh Hosh!! Kelas kita terlalu tinggi!” Ucap Karin yang tampak kelelahan.


Arinda hanya tertawa, pasti dia berlari menaiki anak tangga.


“Siapa yang usul kelas kita di lantai tiga? Gue cape naik tangga!!!” teriak Fitri yang sudah banjir dengan keringat.


“Itu bagus buat lu, mbul.” Ucap Tito yang berjalan santai.


“Lo kok gak capek sedikitpun?” protes Fitri.


“Gua udah rajin olahraga tau. Biar gue bisa lindungin kalian semua.” jawab Tito.


“Boong!!”


Dia membawa dua kantong plastik berukuran besar. Ada aroma wangi yang sangat menyelera datang dari dalam sana. "Cape juga. Dia nelpon gue pagi-pagi buat bawa ginian. Tapi nggak apa-apa yang penting ada otot." Tito mengangkat bahunya untuk melihat otot tangannya yang masih loyo."Nda, Fitri coba otot gue!"


“Hei kalian diam dulu!” perintah Karin.


"Ya bu boss!"


“Rinda, Rinda! Ada kabar bagus!!” seru Karin lagi. "Semuanya dengarin gue, walau gue bukan ketua kelas, tapi kalian harus dengarin gue!" perintah Karin. Semua siswa meirik Karin. Beberapa duantara mereka menunjukkan raut wajah tidak senang. Mereka masih ingat kejadian kesurupan masal yang disebabkan Karin.


"Pertama-tama, gue sebagai bagian siswa di kelas ini meminta maaf. KArena gue kalian sempat mengalami ketakutan." ucap KArin. dia menundukkan kepala dengan tulus.

__ADS_1


"Ya, nyokap gue nuduh gue epilepsi tau!" teriak anak-anak biang onar di kelas.


"Makanya, gue minta maaf. Sebagai tanda maaf pagi ini nyokap gue bikin nasi uduk buat sarapan kalian sekelas. Dijamin enak, plus ada telor rebus, semur tahu. Kalau ada yang doyan jengkol kalian boleh merapat, soalnya jengkol disediakan pada wadah terpisah." jelas Karin.


"Serius?!" Fitri yang pertama kali terlihat semangat.


"Gitu dong Karin."


"Mana nasi uduknya? jangan-jangan lu bohongin kita lagi."


"Eits, tapi tunggu dulu. Sebelum nasi uduk ini gue bagi-bagi kekalian. Kalian harus dengarin ada hal lebih penting lagi?" lanjut Karin.


“Apa?” tanya Arinda.


"Lo mau nyuruh kita main jailangkung lagi. Gue nggak akan mau!" seru siswa lainnya.


"Ha ha ha... nggak kok." Karin lansung menyanggah. “Agus udah siuman. Gue dapat kabar dari kakaknya Agus kalau dia udah sadarkan diri.” Seru Karin dengan wajah berseri-seri.


“WAH!!!” Arinda dan Tito terlihat sumringah. “Syukurlah, gue udah takut anak itu kenapa-kenapa.” Ucap Tito menepuk dadanya.


“Teman-teman pulang sekolah nanti kita lihat Agus di rumah sakit. Oke!!!” seru Karin terhadap anak kelas.


“Ya!!!” seru yang lain.


.


.


.


Pesta Jailangkung//


Karin tidak memperdulikan tiga puluh pasang mata. Yang ada di ruangan tersebut. Sesampai di ruangan Agus dirawat, tepatnya kelas tiga. Dimana pada runagn tersebut terdapat tiga kasur bagi pasien rawat inap, Karin dengan sangat erat memeluk cowok tersebut. Wajah Agus memerah dan panas. Begitu juga dengan mereka yang melihat.


“Karin, malu-maluin?!” gumam Fitri.


“Hush!!” kode Tito.


“O ya... gue terbawa suasana, soalnya gue takut Agus mati.” Ucap Karin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Gus, lu benar-benar di hajar habis-habisan sama pak Asep?” tanya seorang teman kelas. Arinda, Tito dan Karin


saling pandang.


Agus yang ditanya hanya diam, dia sedikit bingung dengan pertanyaan yang menyerangnya.


“Ah sudahlah.. jangan tanya hal yang berat-berat. Kasihan Agus, dia barus sadarloh. Perjalanannya menuju siuman


itu sangat berat tau.” Jelas Karin.


“Kok Karin jadi sotoy gini ya?” bisik Fitri kepada Arinda dan Tito.


“Hehehe!!” Arinda dan Tito hanya tertawa.


“Mungkin Karin sedang kasmaran.” Bisik Arinda membalas pertanyaan Fitri.


“Efek dari kesurupan juga bisa jadi. Jadi dia sangat paham dengan dunia perkomaan.” Lanjut Tito.


“Ish! Kok gue ga percaya sama lu ya, To.” Balas Fitri ke Tito.


“Ya terserah!”


Semua siswa telah membubarkan diri, kecuali Arinda, Karin, Tito dan Fitri. Agus sengaja menahan mereka agar tidak tetap disini untuk beberapa hal.


“Kenapa, Gus?” tanya Arinda.


“Selama gue koma, gue mengalami mimpi buruk. Lalu ada Mikha yang menolong gue.” Agus memulai ceritanya.


“Mikha?” tanya Tito.


"Dia ngapain?" tanya Arinda juga penasaran.


“Ya, dia minta maaf buat kalian semua kalau ada salah selama hidup.”


“Dia nggak ada salah apa-apakok.” Ucap Tito.


“Terutama sama lo juga, To. Dia juga mengucapkan terimakasih karena mau berteman dengannya.” Lanjut Agus.


“Tapi gue... kenapa dia masuk dalam mimpi lo bukan gue.” Ucap Tito. "Tapi gue semalam mimpi apa ya?" pikir Tito lagi.


“Mungkin karena ini kamar yang sama yang pernah di tempati Mikha waktu dirawat dirumah sakit.” Ucap Arinda.


“Mikha berbaring disini.” Tunjuk Arinda kepada satu kamar yang berada di seberang Agus.


“Bisa jadi sih.” Ucap Karin. “Hmm.. gue yang banyak salah sama Mikha. Gue terlalu egois dan juga cemburuan. Gue bingung kenapa bisa cemburu dan suka pria yang sama. Padahal cowok itu kalau gue bandingkan dengan orang lain sangat payah. Dia hanya menang wajah imut sama otak encer doang. Nggak lebih.” Jelas Karin.


“Maksudnya, lo juga suka sama gue gitu?” tanya Tito.


“Huaaa... kok gue ngantuk dengar manusia ke ge-er-ran ngomong. Emang situ oke?!” ledek Karin kepada Tito.


"Awas lo minta bantuan gue lagi."


"Kalian jangan berisik, kasihan sama pasien yang ada di samping sana." ingat Arinda. ia menunjuk satu kasur yang ada di dekat pintu.


Ketika Karin dan Tito melihat arah yang di maksud, mereka tidak menemukan siapa-siapa selain kasur kosong.

__ADS_1


“Hmmm... bagaimana dengan wajah Mikha?” tanya Fitri penasaran. “Apa dia menyeramkan?”


“Nggak, dia cantik seperti biasanya. Dia juga mengenakan gaun putih yang indah. Dia seperti bidadari.” Lanjut Agus. “Gue baru sadar kalau dia secantik itu.”


“Dia memang cantik.” Gumam Tito.


“Ya. Kadang gue mikir Mikha dan Merri itu hampir mirip.” Ucap Arinda tiba-tiba.


“Oh ya, lu harus tau, Gus. Merri mengundurkan diri dari sekolah kita. Dia pergi tanpa pamit.” Ingat Arinda.


“Iya, sayang banget. Kalau mau pisah setidaknya kita harus foto dan adain pesta perpisahan kecil-kecilan.”


Kata Karin dengan wajah sendu.


“Ya, gue mau lomba makan bakso lagi sama dia. Kecil-kecil gitu makannya banyak.” Tambah Tito.


“Dia juga baik walau kadang agak aneh. Tapi kenapa dia ga pamit sih? Kalau di pikir-pikir lagi gue jadi kesel


ya. Padahal baru akrab beberapa hari doang.” Tambah Fitri.


“Merri?” tanya Agus. “Merri siapa?” tanya Agus tampak ragu.


Hening. Keempat remaja itu hanya bisa diam. Terlebih Arinda, Tito dan Karin yang tau betul sebagian petualang


besar di dunia entah berantah itu, Merri telah banyak membantu Agus.


“Apa ini efek dari geger otak ringan?” tanya Tito.


“Gue nggak tau.” Geleng Arinda.


“Apa ini karena efek pelukan Karin yang dadanya datar?” tanya Fitri.


PLAK! Karin lansung memukul pundak Fitri yang empuk.


“Hati-hati anda kalau ngomong.”


“Sorry, Karin. Heheh becanda doang.”


Sore menjelang dan langit jingga mengingatkan mereka untu kembali pulang. Terlebih lagi, kakak nya Agus juga sudah datang dari tempat ia bekerja.


“Terimkasih telah menemani Tito ya.” Ucap Kakaknya Agus ramah.


“Ya kak jangan sungkan.” Sahut Karin. Mereka pun segera keluar dari ruangan tersebut.


“Teman-teman gue mau ketoilet dulu ya.” Ucap Arinda tiba-tiba.


“Kok mendadak sih, Nda?” protes Tito.


“Namanya juga kebelet, mana gue hafal kapan datangnya.” Dumel Arinda.


“Perlu gue temani?” tanya Fitri.


“Ga usah, kalian duluan aja.” Ucap Arinda yang baru-buru mencari toilet perempuan. “Tunggu gue di parkiran!”


Tak lama kemudian, ritual wajib itu akhirnya selesai. Arinda mencuci tangannya di westafel. Ia tidak menatap


kaca besar di hadapannya. Kejadian masa lalu masih memberinya trauma. Arinda memutuskan untuk segera keluar dari kamar mandi segera mungkin. Saat ia menyusul teman-temannya, ia melihat seorang gadis bertubuh mungil sedang mendorong kursi roda. Di depannya ada wanita yang juga ia kenali baik.


“Merri?” pikir Arinda.


“Merri!!” Arinda mencoba memanggil gadis tersebut. “Tante Kusuma!”


Dua orang itu tidak mendengarkan sama sekali. Arinda mencoba mengikuti mereka. Namun ia kehilangan jejak saat segerombolan perawat membawa seorang pasien.


.


.


.


PESTA JAILANGKUNG//


.


.


Arinda hanya memperlihatkan wajah sendu. Dia tidak menjawab saat teman-temannya menanyainya. Begitupun saat sampai dirumah. Dia hanya duduk dan berdiam diri di kamar. Melihat keadaannya Lira dan Lubis menjadi prihatin. Mereka cemas jika hal buruk kembali menimpa putrinya.


“Apa yang kamu pikirkan, nak?” tanya Lira memasuki kamar Arinda. Lubis pun menyusul dan berdiri tepat di


belakang Lira.


“Aku hanya merasa kesepian saja.” Ucap Arinda.


“Ada Bunda dan Ayah disini, kenapa kesepian?”


“Entahlah.” Geleng Arinda.


“Oh ya, ayah lupa memberi tau-mu. Ada kiriman paket untukmu. Disini tertulis dari Merri.” Lubis memberikan sebuah kotak kardus yang masih di bungkus rapi. Arinda segera menerima bingkisan kecil tersebut.


Pesta Jailangkung// masih bersambung yeeeee


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2