Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
Persimpangan Mbah Uti dan Merri


__ADS_3

“Kusuma sangat naif. Dia juga lemah dan disisi lain sangat baik. Dia tidak menuruni ilmuku seutuhnya. Dia hanya mendapati sebagian kecil dari yang aku kuasai. Itu bukan kerana di malas. Hanya saja sejak lahir Kusuma


memang terlahir lemah. Tapi aku iri dengannya. Setidaknya ia bisa menolak semua permintaan manusia serakah yang kadang sangat di luar akal sehat.  Sedangkan aku tidak bisa.” Gumam Mbah Uti.


Pria yang mengenakan belangkon alias Tejo  yang telah mengenakan jubah dan tudung hitam hanya diam dan mendengarkan. Dia bukan manusia yang suka bicara, atau mungkin dia tidak bisa bicara. Mbah Uti dan Tejo memperhatikan raut wajah Kusuma yang tengah khusuk melakukan semedi. Sepertinya perjalanan Kusuma cukup jauh dan melelahkan. Hal itu terlihat dari keringat yang mengucur dari dahinya.


“Lihat Tejo, dia saja tidak mampu melakukan perjalanan cukup jauh. Dimensi apa yang tengah ia lewati saat ini? Ruang dan waktu kah? Atau perjalanan menuju masa lalu? Dia tidak pernah melakukan ini. Ketika ia mencari tau kematian suaminya pun, yang ada dia menderita setelah bersemedi selama tiga jam lamanya.”


Mbah Uti mengelilingi Kusuma. Ia memperhatikan terus anak bungsu dari suami ketiganya itu. “Saya sangat menyayanginya.” Ucap Mbah Uti lagi.


Kusuma menarik nafas dalam-dalam. Ia meneteskan air mata. Kemudian mata itu membuka secara berlahan-lahan. Bayangan yang kabur itu membuatnya melihat dua bayangan berdiri didepannya. Kusuma segera menyeka air mata itu agar pemandangannya kembali jelas.


“Mbah Uti?” tanya Kusuma tidak percaya dengan apa yang ia lihat. “Bukankah, bukankah kalian dalam perjalanan?” tanya Kusuma heran.


“Ya, tapi aku lupa dengan membawa satu barangku. Tapi sudah ada di tangan sih. Merri yang memberikannya kepadaku.” Jelas Mbah Uti memperlihatkan batu permata bewarna hitam itu.


“Kau kenapa menangis?” tanya Mbah Uti. “Apa yang membuatmu memangis?”


Kusuma tidak menjawab. Dia mengatur nafasnya dan membuang wajahnya. Hal itu membuat Mbah Uti semakin tertarik. Seperti biasa, tebakannya tidak pernah meleset.


“Apa kau berhasil menempuh ruang dan waktu atau kau tersesat dan perjalanannya membuat terlempar lebih jauh. Seperti enam belas tahun yang lalu atau tujuh belas tahun yang lalu, tepat kematian suamimu, Surya?” tanya Mbah Uti.


Kusuma membulatkan matanya. Dia berusaha menahan emosi. Dia tidak mau terlibat perdebatan apalagi pertarungan dengan ibunya ini. Bukan untuk saat ini. Tapi rasa sakit hati dan dikhianati dengan wanita yang sangat ia hormati membuatnya sulit menahan amarah yang tersimpan.


“Jadi benar, Ibu lah yang membunuh Mas Surya?” tanya Kusuma.


“Maafkan saya Kusuma. Surya menghalangi langkahku.” Ucap Mbah Uti santai. Matanya kemudian melirik ke arah Tejo dan memberi sebuah isyarat. Tejo berjalan dengan tenang. Ia mengelilingi ruangan tempat Kusuma biasa


memperdalam ilmu hitamnya.


“Kenapa?”


“Surya terlalu banyak tau dan dia membenci rencanaku yang ingin hidup kekal. Walau bagaimanapun saya tidak mau mati dengan mudah, Kusuma. Tapi suamimu membencinya. Sesuai janjiku, siapapun yang menghalangiku akan aku singkirkan. Termasuk anggota keluargaku.”


BUK

__ADS_1


“GYA!” Kusuma dipukul di bagian pundak sehingga tubuhnya lansung jatuh dan tidak sadarkan diri.


“Seperti hari ini, maafkan ibumu ini.” Ucap Mbah Uti dengan wajah datar. “Tejo bawa dia. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”


Tejo mengangguk. Kemudian ia mengangkat tubuh Kusuma yang ternyata sangat ringat baginya. Tubuh ramping Kusuma di letakkan di atas bahu sebelah kanannya. Mereka meninggalkan ruangan itu.


Tejo berjalan terlebih dahulu disusul Mbah Uti di belakangnya. Saat menaiki anak tangga terbuat dari batu itu mata mbah Uti lansung melirik kesisi semak-semak. Kaki tua yang kokoh itu berjalan melewati tanaman rumput yang meninggi itu kemudian tangannya lansung menyentuh sesuatu yang bersembunyi di balik sana. Ia tersenyum saat menarik kepala seseorang yang bersembunyi disana.


“Merri?” sapa Mbah Uti ramah.


Merri membelalakan matanya. Dia yang menguping pembicaraan antara ibu dan Mbah Uti hanya bisa panik dan tidak tau harus berbuat apa.


“Merri, kenapa bersembunyi dari mbah mu ini. Bukankan itu tidak sopan?” tanya mbah Uti dengan raut wajah datar.


“Hiks...hiks... bukankah membunuh anggota keluarga sendiri juga tidak sopan, mbah?” tanya Merri terbata-bata.


“Anak manis. Sudah berani melawan rupanya?!”


PLAK


“Kau... kau...hiks... kau menamparku?” tanya Merri berusaha bangkit. Kakinya gemetar ketakutan dan mbah Uti menyadari itu.


“Marahlah kepadaku dan bencilah kepadaku, Merri. Ayahmu pasti bangga jika tau kau memiliki bakat emosional sepertinya. Di sisi lain aku juga tertantang dengan sikap pemberontakanmu.” Ucap Mbah Uti.


“Kenapa kau tega membunuh ayahku?!” tanya Merri dengan suara keras dan lantang.


Mbah Uti terdiam lalu menjawab, “Karena dia bisa menghalangi jalanku.” Jawab mbah Uti.


“Jalan yang mana? Jalan yang seperti apa?” tanya Merri.


“Itu rahasia.”


“Lalu bagaimana dengan Ibuk. Aku ga mau ibu kenapa-kenapa!” bentak Merri. “KAU!!! TURUNKAN IBUKU SEKARANG JUGA!!”  bentak Merri kearah Tejo. Tejo menatap kearah mbah Uti.


“Dia akan ikut denganku. Begitu juga kau!” jelas mbah Uti kepada Merri.

__ADS_1


“Tidak. Aku tidak mau dan ibu juga tidak mau. Kalian pasti ingin membunuh kami. Terlebih aku!!” jawab Merri.


“Kenapa kau berfikiran seperti itu?” tanya Mbah Uti.


“Karena sejak awal kaulah yang merancakan kematian Mikha dan kau juga mengincar Karin dan Arinda. Aku tau semuanya!!!” jelas Merri emosional. “Dan aku tau kau akan membunuhku juga seperti kau membunuh Mikha.”


“Tidak Merri itu tidak akan. Kau tidak akan seperti Mikha. Mungkin lebih cepat dari yang kau duga! Hahaha... maaf tapi itu hanya bercanda. Ooo hahaha aku ternyata serius! Kau memang akan ku bunuh dengan tanganku sendiri.” Jelas mbah Uti dengan gelak tawanya.


“TIDAK AKAN!!!” teriak Merri yang ingin melewati mbah Uti. Tujuannya adalah merampas ibunya dari Tejo. Namun usahanya lansung di hentikan mbah Uti. Mbah Uti menarik batang leher kecil Merri dengan satu cengkaraman saja.


“GHH!!” Merri merintih.


“Kau sudah berani melawanku padahal kau belum jadi apa-apa, Merri!” ucap Mbah Uti. Ia melempar Merri dan tubuh itu melayang beberapa meter kebelakang.


“GYA?!” Merri merintih kesakitan. “Kenapa kekuatannya sebesar itu?” pikir Merri. Dia berusaha untuk bangkit dan memperhatikan mbah Uti lebih teliti. Saat itu baru ia sadar ada sosok bayangan hitam yang melindungi wanita tua itu. Merri meyakini dengan sangat, jika kekuatan yang sangat dahsyat itu berasal dari makhluk tersebut, Maerta.


“Merri apa kau berani melawanku?” tanya Mbah Uti yang berjalan mendekatinya.


Merri yang terduduk berusaha untuk menjauh. Ia tidak ingin disentuh mbah Uti yang telah menyatu dengan iblis.


“Rohi...!!” rintih Merri.  “Rohi bantu aku.... ROHIIII!!!!” teriak Merri.


Pesta jailangkung// Bersambung...


.


.


.


Dalam dunia kegelapan, tempat makhluk itu bersembunyi, Rohi mendengar gema suara yang membuatnya terbangun.


“BADASSStt!! Apakah ini saatnya aku harus kembali menghadapinya?” pikir Rohi. “Apakah dendam Merri bisa membantuku?”


“Rohiiiiiiii....!!”

__ADS_1


“Hmm baiklah. Bukankah ini yang aku inginkan, bekerja sama dengan Merri cucu Adam... khu khu khu... Badasssttt!!”


__ADS_2