Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
53 Akhir Hidup Pria Tua Malang


__ADS_3

 


 


“ARINDAAAA!!!”  teriak Tito, Karin, Agus dan Merri. Mereka tidak menduga jika Arinda nekat melakukan


tindakan kekerasan. Di tangan kanan gadis itu telah tergenggam sebuah asbak kaca cukup besar dan tebal. Jika di ukura dari berat dan ukuran persetiap sisinya, setidaknya dalam gaya gravitasi bumi sebuah kepala yang menjadi pendaratan penuh emosi tersebut akan bisa saja mengalami geger otak ringan.


“Ma maaf!!” ucap pak Asep yang terbata-bata. Wajah tua itu semakin terlihat tak berdaya. Ia menyelesali kesalahannya. Ia merasa malu sekaligus terhina. Tapi kata maaf itu sungguh suatu kata yang sangat memuakkan


di telinga Arinda.


“KAU BUNTUTI IBU SAYA, KAU PUJI DIA, KAU BERSIKAP SEOLAH KAU ANJING SETIANYA DI SEKOLAH. TAPI TERNYATA ANJING LEBIH TEHORMAT DI BANDINGKAN DIRIMU SENDIRI. WAJAHMU TIDAK PANTAS ADA DI BUMI INI. MATI SAJAAAAAAA!!!!”


"ARINDA JANGAN...!!!!” teriak Karind dan Merri.


“GYAAAAA!!!!” Arinda terlalu emosi. Manusia mana yang bisa diam melihat orang yang sangat ia hormati di hina seperti itu. Terlebih dia adalah seorang ibu yang melahirkannya. Walau ia sendiri sering bertentangan


dengan Lira, namun ia selalu sadar, darah yang ada di dalam tubuhnya adalah darah sang ibu. Jika ada yang membenci ibunya bahkan melukainya seperti ini maka, ia pantas untuk mati.


PRANK....


“ARINDA!!!!” Merri, Karin, Tito dan Agus mendekati Arinda.


Gadis itu telah mengayunkan dengan sangat kuat Asbak kaca dan tebal itu telah ia buang dan benda berat itu mengenai televisi tua pak Asep.


Pak Asep membuka matanya berlahan. Ia merasakan degub jantungnya sendiri. Rasa takut terus memompa darahnya hingga nafasnya tersengal-sengal. Namun saat ia sadar tidak ada rasa nyeri yang menyerang


kepalanya. Ia sadar jika Arinda tidak mengenainya.


“Gue ga bisa memukulnya.. hiks hiks...” isak Arinda. Dia melihat kedua tangannya yang gemetar. Karin memegang kedua tangan Arinda agar gadis itu berasa lebih aman. Merri mengusap bahu Arinda agar lebih tenang.


"Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini." ajak Tito.


Merri mengangguk. Dia giring bahu Arinda agar segera meninggalkan rumah pak Asep. Merri dan Karin terus menenangkan Arinda yang tampak lelah sekaligus emosi.


“HAHAHAHA!!!” tawa itu pecah. Asep yang sepersekian detik lalu memohon ampunan kini kembali bertingkah congkak. “BODOH... KALIAN ANAK-ANAK BODOH! Asal kalian tau, tidak ada yang suka dengan cara pikir Lira yang sangat dingin.Tapi asal kalian tau, melihat sifat dingin dan arogannya terkadang membuatku berimajinasi ingin memilikinya, walau satu malam. HahahaHAHAHA!!!”


“Ba**s*t\, MATI SAJA KAUUUU!!!!” Tito menedang tepat mengenai perut pak Asep.


“HUAKKKSSS!!!” Asep tersedak oleh tawanya. “HUAKKKS HUAKSSS!!!” bukan hanya sekali. Tito menghajar pria tua itu bertubi-tubi.


Agus segera menahan Tito. “Sudah bro, sabar!! Jangan terpancing omongan orang tidak berguna ini!” ucap Agus.


“GUE GA SUKA GAYA BICARANYA... DIA MEMANG HARUS MATI SAJA!!!”


“TAPI GA HARUS memBUATNYA MATI!!!”


“Ya sudahlah, To. Biar hukum yang akan menyelesaikan semuanya. Dia tidak tau dengan siapa dia berhadapan. Atau dia lupa, siapa saja koneksi Lira Lubis, kepala sekola yang sangat sempurna itu. Di jamin hidupnya akan membusuk di penjara.” Jelas Arinda.

__ADS_1


“Ya... kita ga boleh buang-buang waktu!” ingat Merri. “Kita harus keluar dari sekolah ini terlebih dahulu.”


“YA!!” seru Agus, “Gue setuju!” ucapnya dengan lantang.


Kelima remaja itu pun pergi meninggalkan rumah pak Asep. Semantara itu, Asep masih tak henti-hentinya tertawa. Entah apa di benak pria tak tau malu itu.


“HAHAHA... HAHAHA... Pergi sanaaa... pergi... adukan kepada orang tua kalian... saya tidak takut... tidak takut sama sekaliii!!!” ucapnya dengan lantang. Saat semua telah pergi dan kondisi kembali sepi. Asep kembali diam. Dia harus melepaskan dirinya dari ikatan yang melilit tangan dan kakinya.


“Sial, anak-anak itu lupa melepas ini.” gumamnya. “Padahal tadi sedikit lagi pasti berhasil, sungguh anak-anak pengganggu.” Pikirnya lagi. “Jika tidak ada mereka, saya pasti akan berjumpa dengan Sri... Hmm anak-anak kepar*t.”


TRRRRRR


Pak asep terdiam. Ia mendengar suara derik kayu dan hembusan angin menyentuh lembut kulit wajahnya. Dia mempertajamkan pedengarannya. Posisi tubuh yang tersungkur diatas lantai membuatnya dapat mendengar bunyi yang bergerak di lantai ubin rumahnya.


TAP TAP TAP


TRRRRRRR


Sebuah langkah kaki dan juga pintu yang kemudian di buka. Awalnya pak Asep mengira anak-anak itu akan kembali untuk melepas ikatan di tangannya. Namun ia salah. Bunyi itu berasal dari kamarnya. Ia melihat langkah


kaki dan sepasang kaki tanpa alas. Kaki itu memiliki telapak dan jari-jari yang panjang. Setiap jarinya ada kuku hitam yang tidak terawat. Mata Asep terus memperhatikan bentuk kaki yang aneh, mirip kaki reptil. Kemudian tungkai kaki yang bewarna kemerahan. Badannya di umbuhi bulu tebal seperti babon. Namun warnanya kemerahan dengan sisik kulit yang terlihat kasar pada bagian dada hingga batang leher yang teramat panjang.


Deg


Jantung pak Asep berdegup kencang. Ia ketakutan, namun matanya masih penasaran dengan bentuk rupa makhluk itu. Ya, dia memiliki kepala yang aneh, dengan seringai senyum yang sanagt lebar bahkan hampir memenuhi wajah. Sepasang mata yang berorot tajam dan tak berkedip. Kemudian ada lidah yang menjulur panjang hingga menyentuh lantai.


“Ap apa ini? siapa kau?” tanya Asep terbata-bata.


“Hai Pak Asep...!!” itu suara mikha. Wajahnya muncul di batang mulut makhluk itu.  Wajah itu yang sangat basah dan lengket. Lalu kepala itu kembali di masukkan kedalam perutnya.


Pak Asep membelalakkan matanya. Perutnya mual. Tapi jantungnya terus berdegup kencang. Kemudian ia mengambil kepala yang lain yang kali ini sosok ia kenal...


“Mas... kenapa kau membiarkanku mati!!!” itu suara yang ia rindukan. Itu suara Sri, wanita yang ia cintai.


“Bapak!” itu suara anak kecil mungkin anaknya.


“HAH!!” Asep tidak bisa berkata-kata.


Semua kepala itu kembali di tanam dalam perutnya. Kali ini makhluk mengerikan itu menatap pak Asep dengan wajah dan senyum mengerikan itu. “Mau main jailangkung?” tawarnya.


“HAH?!” pak Asep tak tau harus berkata apa-apa. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ibarat takdir kematian, sepertinya malam itu menjadi malam terakhir dalam hidupnya yang sangat malang.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


“GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”


“Itu suara pak Asep?” tanya Agus.


“Mungkin dia sudah mati.” Pikir Merri.

__ADS_1


 “Kenapa lo berfikiran seperti itu?” tanya Karin.


“Dia sempat memainkannya. Mungkin dia ingin bertemu dengan istrinya. Tapi masalahnya boneka jailangkung ini bukan lah boneka sembarangan.” Jelas Merri.


“Bagus kalau gitu, gue suka!” ucap Arinda masih emosi.


“Maksud lo?” tanya Karin.


Kelima remaja itu telah berada di lapangan sekolah mereka.  Mereka terus berjalan dengan buru-buru.


‘Dari awal Mikha sudah di incar. Awalnya hanya Mikha saja yang menjadi tumbal, namun karena sebuah kesalahan yang kalian lakukan, makanya setan yang hanya bertugas di rumah pak Randi jadi lepas kendali. Dia menjadi


kuat karena permainan konyol dan jailangkung itu. Jadi oleh pemilik aslinya dia di biarkan bermain-main sesukanya hingga si makhluk dan si pemilik aslinya merasa puas.” Jelas Merri.


Arinda dan Karin terdiam. Tito pun begitu. Mereka seketika merasa bersalah. “Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, ini semua kesalahan Mikha. Dia yang mengusulkan ada seserahan dalam permainan jailangkung. Caranya itu membuat makhluk itu merasa kuat dan di butuhkan. Karena ia telah di berikan makanan kesukaannya. Tapi sayangnya, dia sangat serakah dan tidak mengenal rasa puas.” Jelas Merri. “Hanya itu yang gue tau.” Ucap Merri.


“Tapi dia punya siapa?” tanya Agus.


“Entahlah. Semoga bukan dari orang yang ibu atau gue kenal.” Ucap Merri dengan mimik wajah khawatir.


Karin, Tito dan Agus merasa tidak enakan. Mereka memegang pundak Merri.


“Kami janji, kami akan bantuin lo sampe tuntas.” Ucap Arinda. Ia terlihat masih syok dengan kelakuan bejat pak Asep.


“Ya, bagaimanapun kesalahan dari gue dan teman-teman.” Lanjut Karin.


“Ya... gue bakal bantu kok!”


“Makasih ya.” Merri mengangguk pelan dan tersenyum kecil. Mereka pun segera bergegas meninggalkan sekolah, dimana di setiap jendela bangunan ini; mereka telah di perhatikan oleh sejumlah pasukan berjubah hitam.


“Oo ya, gue suka lo ngomong santai kayak gini!” ucap Agus. “Ya, ngomong santai aja lah Mer, biar akrab.” lanjutnya.


“Mau Lo!” sembur Tito.


Merri hanya tersenyum kecil. Kemudian ia memperhatikan Arinda yang banyak melamun. "Setelah ini selesai, kita bereskan masalah orang itu." ucap Merri menenangkan Arinda. Arinda menoleh dan menyunggingkan senyum lemah.


"Thanks Mer!" ucap Arinda tulus. Ia segera menghapus air matanya. Ini bukan saatnnya menjadi sentimentil. Dia harus menyelesaikan masalah ini satu persatu.


"Setelah ini, kita mau kemana?" tanya Tito.


"Rumah gue, kita harus serahkan boneka ini nyokap gue."


"Oke, kalau gitu kita kerumah lo. Gue antar dan lo Gus, lo harus ikut." ucap Tito.


"Oi bung, asal lo tau, gue belum pulang seharian ini. Lo anterin gue pulang lah." protes Agus.


"Gak, lo harus ikut gue dan yang lain sampai masalah ini tuntas!" kali ini Karin yang ngomong dengan tegas.


Agus tidak ada pilihan. "Ya oke deh." angguknya pasrah.

__ADS_1


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung....


__ADS_2