
“Kembalikan batu itu, anak kurang ajar!!!” teriak mbah Uti.
Merri menggeleng. Dia segera melompatkan badannya kebawah. Tejo lansung bergerak cepat. Dia menangkap batang leher Merri.
“GHEH!!” Merri lansung tersedak. Nafasnya juga tertahan. Perlakuan tejo sangat kasar. Sebelum ia kehilangan tenaga dan kesadaran, Merri menumpukan pijakan pada tembok rumahnya. Ia gunakan energi yang tersisa untuk
mendorong badannya agar lepas dari genggaman Tejo. Tehnik ini biasa di gunakan saat pelajaran berenang dasar. Walau bukan perenang ulung, Merri berhasil melakukannya.
HUP
Genggaman Tangan Tejo yang bewarna hitam itu lepas. Namun masalah lainnya adalah, ia akan jatuh kedarat dengan dengan badan atau kepala terlebih dahulu.
“Apa aku benar-benar mati?” pikir Merri. “Jika itu benar, maka bagaimana dengan nasib ibu?” pikirnya lagi.
Dari arah jauh, Merri melihat sebuah bintang jatuh. Bintang dengan warna hijau. Bintang itu jatuh tepat kearahnya. “Belum mati saja aku sudah mengalami halusinasi.” Pikir Merri.
“Sadarlah wanita lemah. Aku bukan bagian dari halusinasi putus asamu, aku adalah Rohi iblis setiamu.”
Mata Merri membuka lebar. Benda yang ia kira bintang jatuh adalah Rohi yang datang menolongnya. Bukannya melambaikan tangan untuk bisa di tarik, Merri malah melemparkan batu permata bewarna hitam itu.
“Tangkaplah!”
Rohi seketika membuka mulutnya yang lebar dan batu itu ia telan begitu saja. Kemudian tangannya berusaha meraih tangan Merri dan membantunya terjun dengan selamat.
HUP
Tubuh kecil Merri terselamatkan. Merri mendarat dengan bantuan Rohi, Tidak ada cidera yang ia alami.
GLEK
Sedangkan batu hitam itu ia tekan dengan sempurna.
“Kenapa di telan?” tanya Merri sedikit kaget. Dia tidak suka dengan ide absurd Rohi. “Bukannya harus di hancurkan?”
“Jangan anggap remeh perut reptil agung sepertiku. Benda apapun akan lansung hancur didalam sini.” Ucap Rohi dengan percaya diri.
Di dalam rumah, tepatnya di kamar Merri. Mbah Uti yang melihat juga agak bingung dan marah. Ia tau efek selnajutnya yang terjadi. Batu miliknya yang telah ia jaga selama ini akan hancur. Begitu juga Maerta.
“GYAAAAAAAA!!!!” teriak mbah Uti.
“GYAAAAAAAAAAAAAA!!!” tak kalah panik, iblis yang di agungkankannya juga mengalami kesakitan yang sama. Gigi-gigi berduri seperti taring hiu itu seketika rontok. Begitu juga dengan rambut panjang berduri bagikan landak itu. Tak ketinggalan kuku panjang bewarna hitam itu. Dia menggeliat diatas langit. Erang kesakitannya tenggelam dalam petir yang menyahut dan berdur dengan angin kencang.
“Apa sudah berakhir?” tanya Merri.
“Entahlah!” jawab Rohi yang juga melihat kearah langit.
.
.
Tejo yang tidak tega melihat mbah Uti hendak melakukan sebuah tindakan.
“Jangan!” cegah mbah Uti. “Bawa saja aku pergi dari sini. Kita harus pergi.”
Tejo mengangguk paham. Dia membabntu mbah Uti yang kesakitan dan rapuh berjalan menuruti anak tangga.
.
.
.
Merri ingat hal lain. “Ibu!” ia segera mendekati mobil mbah Uti. Beruntung, pintu itu belum di kunci. Merri segera membuka pintu dan mengeluarkan ibunya dari sana.
“Ibuk!!” panggil Merri. Kusuma belum sadar. Tapi berusaha mengeluarkan ibunya dari sana.
“Merri..!” ringis Kusuma.
“Ibu bertahanlah ibu, Merri mau bantu ibu keluar dari mobil mbah Uti.”
__ADS_1
“Shh ya Merri. Dimana mbahmu?” tanya Kusuma.
Merri memapah Kusuma. “Dia ada disana!” tunjuk Merri yang seketika membeku.
Kusuma yang mendapati dirinya sadar seutuhnya juga menatap dengan nanar. Ia lansung was-was dengan tamu-tamu tak diundang ini.
“BADASSSTT!!!” Rohi mendekati Merri. Dia murka dengan makhluk-makhluk misterius ini.
Di hadapan mereka semua, telah berdiri sekelompok pasukan berjubah hitam. Dimana tiap-tiap mereka berdiri mengelilingi pagar dan rumah kediaman mereka.
“Mereka ini utusan mbah Uti?! Aku tidak pernah menyangka jika semua ini memang ulah mbah Uti.” Gumam Merri.
“Ibu juga tidak pernah tau. Mbah mu itu penuh dengan rahasia.” Balas Kusuma.
“Lalu kita harus apa?” tanya Merri.
“Diam saja, semoga mereka tidak menyakita kita.” Harap Kusuma.
“Badassstt... jika mereka bergerak maka akan kuhancurkan kepala mereka satu persatu.” Ucap Rohi.
Sementara itu, mbah Uti yang dibantuTejo berjalan keluar dari rumah. Semua pasukan berjubah itu menghampiri mbah Uti. Kusuma dan Merri hanya diam dan menatap mereka.
“Merri, mbah mu ini adalah wanita pendendam. Tapi mengingat kau adalah cucumu. Apa kau mau meminta sebuah permohonan?” tanya mbah Uti.
“Jangan ganggu hidup kami dan jangan datang lagi!” jawab Merri tanpa pikir panjang.
“Permintaan yang bodoh, cih!” cemooh mbah Uti.
“Aku akan lebih kuat dari mbah Uti, itu bukan permohonan melainkan takdir hidupku.” Jawab Merri dengan lantang.
“Cih!” Mbah Uti meludah sembarangan. “He he he, kita lihat saja nanti!” tanggap mbah Uti. Kemudian ia di kelilingi oleh pasukan berjubah. Mereka berjalan menuju kegelapan dan kemudian tenggelam dalam kabut malam. Semua pasukan berjubah yang tersisa hilang satu-persatu.
Namun di saat bersamaan. Rumah kediaman Kusuma dan Merri terbakar. Sepertinya Tejo sengaja menyalakan gas di dapur sehingga rumah ukuran besar nan suram itu menyala cukup terang. Semua material lansung habis di jilat api.
Malam suram dan panjang itu berakhir dengan sebuah kegaduhan yang sangat mengagetkan semua orang. Sirene mobil kebarakan pun segera menuju kediaman mereka. Begitu juga dengan mobil ambulan, Namun Merri dan Kusuma tau ini jalan terbaik bagi rumah yang penuh kenangan ini.
“Sepertinya mbah Uti sangat marah kepadaku.” Ucap Merri.
“Benarkah? Dari mana ibu tau?”
“Dia memang begitu.” Jawab Kusuma.
“Ibu...?”
“Apa?”
“Ibu apa benar berhasil menuju masa lalu?”
Kusuma hanya tersenyum tipis. “Ya, ibu terlempar cukup jauh dan ibu tau semuanya. Ibu senang kau dan Rohi bertemu lagi. Kalian ternyata teman yang unik.”
Rohi dan Merri saling pandang. Kemudian mereka melihat kobaran api itu yang semakin tinggi dan membesar. Terlebih api itu bergoyang cukup keras karena pengaruh cuaca yang sepertinya juga masih murka.
Pesta jailangkung
.
.
.
Agus bersembunyi di bawah kolong jembatan. Dia menutup mata dan telinganya dengan erat. Kakinya ia lipat. Jika bisa tubuh kekarnya di susutkan maka akan ia lakukan demi terselamat dari kejaran pasukan yang mengerikan.
“Agus..!”
Seorang wanita memanggilnya. Agus masih belum berani membuka kedua matanya. Ia takut jika semua ini tipuan.
“Agus, ini aku Mikha yang sebenarnya.”
Agus lansung membuka mata. Ia melihat gadis cantik yang mengenakan gaun bewarna putih. “Semua telah berakhir.” Ucap Mikha.
“Mikha, itu benaran elu?” tanya Agus.
Mikha mengangguk. “Pulanglah!”
__ADS_1
“Tapi pasukan itu masih mengincar gue. Terus lu gimana?”
Mikha menggenggam tangan Agus. Tangan itu sehalus kapas namun juga sedingin es. Mikha mengajak Agus berjalan keluar dari persembunyiannya. Awalnya ia takut dan juga ragu.
“Tidak apa-apa. Mereka sudah pergi.” Bujuk Mikha. Mikha terus menggandeng tangan Agus. Dia menarik Agus dan mereka terus berjalan menyusuri malam. Agus memperhatikan sekitar. Suasana sangat sepi dan juga lengang. Kemudian dia terus memperhatikan Mikha yang ada di depannya.
“Kita kemana?” tanya Agus.
“Ketempat kamu berada sekarang.” Jawab Mikha datar. “Gus... gue mau cerita, boleh?” tanya Mikha.
“Ya boleh.” Angguk Agus canggung.
“Selama gue hidup, gue sangat naif dan juga ahli dalam berbohong. Gue bilang sama Karin dan Arinda kalau gue suka sama kakak kelas. Padahal gue sedang menyimpan rasa kepada seseorang.”
“Apa perlu gue sampein salam buat Tito?” tawar Agus. Mikha tidak menjawab. “Lu suka sama Tito bukan?” tanyanya lagi.
“Ada orang lain. Tapi orang itu lebih sibuk memperhatikan wanita lain.”
“Siapa?”
“Itu rahasia gue. Tapi yang terpenting gue senang sempat bertemu dengannya.”
Agus hanya terdiam. Dia tidak bisa menerka siapa pria yang dimaksud Mikha. Bisa jadi anak kelas lain. Selama ini dia hanya sibuk bermain basket, nongkrong dengan anak-anak cowok dan juga memperhatikan sikap egois Karin di kelas.
“Kalau gitu sampaikan maaf gue kepada mereka atas semua kesalahan yang aku buat. Lalu ucapan terimakasih kepada mereka karena selama ini mereka teman-teman gue yang sangat baik.”
“Baik akan gue sampaikan.”
“Untuk Merri juga. Walau belum sempat saling kenal secara lansung, setidaknya dia banyak membantu Arinda dan lain-lainnya. Ucapakan terimakasih untuknya.”
“Baik!” angguk Agus.
“Nah, lu udah sampai!” ucap Mikha berhenti didepan sebuah gedung rumah sakit.
“Rumah sakit?”
“Ya, lu ada disana!” Mikha menunjuk sebuah jendela yang berada di lantai tiga. “Segera kesana.”
“Bagaimana dengan lu?”
“Gue akan disini. Kalau ingin bertemu, gue harap kalian jangan pernah main jailangkung. Cukup temui mama dan ajak dia mengobrol. Karena kalian yang merupakan teman-temanku sudah dianggap anak sendiri.”
“Baik!” angguk Agus.
“Pergilah! Cepat!” ucap Mikha. Agus di dorong dan tubuh kekar itu segera masuk kerumah sakit. Dia melihat banyak aktivitas disana. Antara manusia dan juga penghuni rumah sakit; baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Agus merasakan atsmosphere yang agak aneh.Tubuhnya terasa berat dan Agus juga merasa pening. Telinganya terus berdengung membuat setiap langkahnya menjadi semakin berat dan sulit. Tapi ia terus mencari dirinya.
“Dimanakah kau?” tanyanya kepada dirinya sendiri. “Gue harus kuat...gue harus kuat...!!”
Tit tit tit tit tit tit tit
“Bunyi suara si*lan apa ini?”
Tit tit tit tit tit tit tit tit tit
Agus melihat satu ruangan yang lebih terang dari yang lain. Ia memilih menuju rungan tersebut. Semakin dekat, matanya semakin merasa silau. Tapi ia harus terus menempuhnya dan tubuhnya berhasil menerobos terangnya cahaya tersebut.
Tit tit tit tit tit tit..
“Hah...!” Agus mencoba membuka matanya yang sangat berat. Nafasnya juga terasa berat. Setiap tarikan nafas yang ia lakukan membuat dadanya sakit dan sempit. Pandangannya juga kabur. Diatasnya ada bayangan putih. Ia mencoba mengedip matanya secara berlahan.
Tit tit tit tit tit tit tit
“Hah...!” Agus mencoba bersuara. Tapi tenggorokannya terasa kering begitu juga dengan bibirnya. Ia merasakan otot bibirnya terasa kaku. Tapi matanya sudah bisa melihat dengan cukup jelas. Ia Melihat langit-langit rumah bewarna putih dan juga bayangan seorang wanita yang familiar. Wanita itu terus menatapnya.
“Agus?!”
“Ka kak!”
“Ya, Gus!” wanita itu menggenggam erat tangan Agus. Tangan yang lain mengusap kepalanya. Dia membalikkan badannya, “Dokter, adik saya sudah siuman!!!” panggilnya. Seorang perawat masuk dan segera mengecek keadaan Agus.
“Gue dimana? Apa yang terjadi?” pikir Agus dalam hati.
Pesta Jailangkung/ Bersambung...
__ADS_1