Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
33 Lengkingan


__ADS_3

Kediaman keluarga Lubis, Ajar selaku kepala keluarga tampak kewalahan. Putrinya semakin memburuk. Wajah cantik yang manis itu seketika berubah kaku pucat dan raut wajah yang sulit di prediksikan. Pada saat bersamaan, ia akan tertawa nyaring, kemudian ia akan melengking dan mengumpat. Setelah itu gadis itu terkulai lemah dan tidak sadarkan diri.


Bukan hanya Ajar ataupun Lira, Dokter Pho, sahabat sekaligus dokter ahli kejiwaan pun juga sulit memprediksikan apa yang tengah di alami Arinda. Sejauh ini, keputusan dokter Pho adalah dengan mengikat kedua tangan dan kaki Arinda di dipan tempat ia tidur, agar saat bangun ia tidak melakukan hal lebih mengerikan seperti menyerang atau melukai dirinya sendiri.


“Apa putri saya terpengaruh narkoba atau alkhohol?” tanya Lira tidak sabar. Dia terlihat kacau dan panik. wajah angkuh dan elegan itu seketika hilang.


“Lira, kamu harus tenang. Jangan berfikiran aneh.” Ingat Ajar.


“Alisya dulu juga terlibat narkoba dan pergaulan bebas, bahkan saat dia mati kita baru sadar jika ada janin di perutnya. Aku tidak mau itu terjadi kepada Arinda juga.” Bentak Lira. Dia tidak peduli lagi dengan orang asing di depannya.


“Ehem!” Dokter Pho segera menengahi, “Maaf Ibu Lira. Sejauh ini putri anda tidak menunjukkan ciri-ciri orang sakau. Kemungkinan dia terlibat narkoba dan alkhohol itu ada tapi saya tidak bisa membuat keputusan terlibat atau tidaknya. Semua itu harus ada di tes lab dulu. Tapi menurut saya, dia lebih seperti orang depresi akut. Apa dia baik-baik saja sebelumnya?”


“Maksud anda anak saya gila?” tanya Lira naik pitam.


“Lira!” bentak Ajar. “Coba kamu cek Arinda. Urusan Arinda biar saya yang bicara dengan dokter Pho.”


Ajar mengajak dokter pho keluar ruagan. Raut wajah Ajar yang tadi terlihat tegar sekarang kusut. Dokter yang tidak lain teman seangkatan masa menimba ilmu di universitas yang sama menepuk pundaknya dengan lembut.


“Dia putri keduaku, kehilangan putri pertama saja aku sampai sekarang tidak siap.” Isak Ajar tiba-tiba. “Tapi dia tidak gila atau stress kan?” tanya Ajar.


Dokter Pho hanya terlihat prihatin, “Jar, saya akan berusaha membantu sebisa mungkin. Untuk kedepannya kalian jangan sampai bertengkar di depan anak kalian lagi.” Jelas Pho.


“Yah saya tau saya salah. Pertikaian itu sudah ada sejak Alisya datang kerumah. Waktu itu ia berusia delapan tahun. Seorang wanita tua mengantarnya kesini, dia bilang dia anakku dengan mantan saya terdahulu. Awalnya aku tidak percaya, tapi hasil tes DNA itu menunjukkan jika dia memang buah cinta kami dengannya. Dan wanita itu telah meninggal. Aku dan Arinda menerima kehadiran Alisya sedangkan istriku sampai saat ini masih menganggap jika Alisya sebuah kesalahanku. Kami sering memperdebatkannya. Tanpa sadar hal itu kami lakukan di depan mereka. Sampai Alisya yang merasa bersalah lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah yang membuatnya terlibat dengan hal-hal aneh.”


“Kenapa kalian tidak bercerai?” tanya dokter Pho.


“Entahlah, aku tidak tau.” Jawab Ajar. “Han Pho, menurutmu apa aku sedang di kutuk mantan kekasihku yang telah mati? Apa ini karma?” tanya Ajar yang terlihat putus asa.


“Kejadian itu sudah sangat lama. Aku tau kisah cinta kau dengan wanita itu. Dia yang memutuskan untuk pergi.Kau tidak tau dia juga sedang hamil saat itu. Lalu kau menikah dengan Lira. Setelah itu tidak ada kabar darinya hingga anak itu hadir dan kemudian ikut mati juga, mengikuti ibunya.  Aku rasa itu bukan karma. Anggap saja cobaan.” Jawab dokter Pho.


“GYAAAAAHAHAHAA!!!”


TAP TAP TAP TAP


Lira menuruni anak tangga secepat mungkin. Langkah kakinya membuat Ajar dan dokter Pho lansung memperhatikannya.


“Ayah... Arinda kembali bangun.” Wajah Lira begitu tegang dan pucat.

__ADS_1


“GYAHAHAA LEPASSSSS!!” mereka bertiga dapat mendengar suara lengkingan itu.


Secepat mungkin dokter Pho, Ajar dan Lira kembali menaiki anak tangga menuju kekamar Arinda. Di dalam sana, mereka disambut sebuah pemandangan yang lebih mengerikan. Laron-laron yang tadi telah di usir kembali masuk. Mereka menempel di dinding kamar, diatas kasur, di meja belajar. Bahkan di jendela mereka tersusun sehingga membentuk sebuah wajah yang mengerikan dengan seringai yang jahat.


“Gila.. apa-apaan ini?” dokter Pho merasa merinding karena ketakutan.


“Grrr... Beraninya kalian mengikatku?!!!” bentak Arinda dengan suara parau. “Manusia bodoh, lemah dan tidak punya otak. Kalian pikir dengan mengikatku kalian merasa menang. Kalian tidak tau berhadapan dengan siapa?”


“Arinda jaga omonganmu!!” bentak Lira.


Mata bulat Arinda yang membesar itu melirik kearah Lira. Kemudian senyum jahat itu kembali terlukis di wajahnya. Arinda menarik tangannya yang sedang diikat. Dalam sekali hentak tali itu putus, begitu juga dengan dua tali yang mengikat pergelangan kakinya.


Baik Ajar, Lira dan dokter pho yang melihat yang melihat kejadian aneh di depan mereka hanya melongo dan membelalakkan mata mereka. Ini suatu hal yang langka dan di luar nalar mereka.


Sedangkan Arinda yang berdiri diatas kasurnya hanya tersenyum jahat dan kemudian mengeluarka suara lengkingan tawa yang memekakkan telinga, “GYAAAHAHAHAHA... MATI LAH KALIAN MANUSIA BUSUK!!!”


Jutaan laron berterbangan di segala penjuru ruangan kamar hingga menyebar ke ruangan lainnya. Dalam pandanngan yang terhalang oleh serangga terbang itu, Lira tidak dapat melihat kebaradaan putrinya. Yang jelas anaknya kini tidak berada di atas kasurnya. Namun ia melihat sebuah bayangan putih yang bergerak cepat.


Bayagngan itu berhenti tepat di depannya dan kemudian tersenyum mengerikan. “Hai Bunda!” sapa Arinda dengan wajah menakutkan. Senyum itu semakin lebar dengan bibir bewarna ungu dan bola mata sepenuhnya putih. Dia mengangkat kedua tangannya dan siap mencekik Lira.


Terlambat, dua tangan berjari lentik itu sudah berada di lehernya. Ajar berusaha mendekat dan menyelamatkan Lira dari perlakuan kasar Arinda. “Arinda jangan, ini ibumu... sadarlah nak!!” Ajar terus mengingatkan sembari melepas tangannya dari leher  sang istri.


“Uhuk.. !!”


“GYAAAA....!!” Arinda teriak histeris. Dia menepis tangan Ajar dan kemudian mendorong pria berukuran besar darinya itu. Ajar terpelanting kebelakang. Kekuatan besar yang dimiliki Arinda membuatnya kaget. Tapi ia tidak


pantang menyerah. Kali ini Ajar dan Pho sama-sama memegangi Arinda.


“Arinda... ini ayah.. kamu harus sadar...!!” teriak Ajar. “Di depan ini adalah bundamu, wanita yang melahirkanmu. Sadarlah nak!!”


“GYAAAAAA!!!!”


Disisi lain Pho mengeluarkan sebuah jarum suntik yang sudah diisi obat penenang. Walau agak kewalahan ia berhasil menyuntikkan cairan itu ke tangan Arinda. Pegangan di leher Lira itu terlepas. Tiga orang dewasa sama-sama terpelanting jauh. Bahkan Lira terbentur dengan tembok dekat pintu masuk rumah. Dia mengalami sakit dan nyeri di sekutur tubuhnya.


“Uhuk uhuk....!!” meski begitu ia berusaha bangkit.


Di sisi ruangan lain, Ajar dan Pho kembali berdiri dan menghadapi gadis liar di depan mereka. Arinda menatap mereka satu persatu, mulai Ajar, Lira dan dokter asing ini.

__ADS_1


“Arinda, nak, sadarlah!” bujuk Ajar.


“Uhuk.. ini bundamu... Arinda sadarlah... kita bicarakan baik-baik!” isak Lira.


Arinda menatap mereka bertiga. Lalu diantara tiga orang dewasa itu ia juga melihat satu makhluk lain berdiri dianntara mereka. Hantu Alisya yang bersembunyi di balik sofa rumah. Arinda hanya tersenyum jahat melihat semua wajah ketakutan dan panik itu.Ia puas dengan apa yang ia lihat.


“Kalian mencemaskan aku? TAPI SAYANGNYA AKU BUKAN ARINDA KALIAN LAGI GYAAAAAAAAAAAHAHAHAHAA!!!!”


Ribuan laron terbang berhamburan dari mulut Arinda, menyerang tiga orang dewasa itu.


“AYAH?!” pekik Lira.


“Ayo kita keluar!!” perintah Aja.


Mereka bertiga berusaha keluar dari rumah. Pintu rumah itu terbuka. Ajar, Lira dan Pho selamat untuk semantara. Tapi pemandangan tadi sungguh menakutkan. Manusia jenis apa yang bisa mengeluarkan serangga sebanyak itu di mulutnya.


“Yang tadi itu apa? Apa dia masih anak kita?” tanya Lira yang tampak bingung.


“Entahlah!”


Pho yang tampak panik membuka pintu mobilnya dan menyalakan mesin mobil tersebut. Ajar lansung mendekatinya. “Apa-apaan ini?” tanya Ajar tidak percaya.


“Ini bukan bidang saya. Anak itu tidak gila, dia kesetanan!!” pekik dokter pho yang lansung menancap gas mobil. Sedan hitam itu berderu kencang tanpa kendali.


“Tapi...!!”


Terlambat, dokter yang di harapkan itu terlanjur ketakutan dengan apa yang ia saksikan malam ini. begitu juga Ajar dan Lira.


“Sekarang kita harus bagaimana?” tanya Lira lagi.


BRRRMMMM!!!


Sebuah sedan tua datang dan berhenti didepan mereka. Dari dalam mobil itu seorang remaja turun.


“Om Ajar, ibu kepala sekolah maaf saya datang malam-malam!” seru Merri yang datang bersama ibunya, Kusuma.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...

__ADS_1


__ADS_2