
Sebelumnya, di hari Minggu penuh teror, dimana Arinda, Karin dan Tito tengah di ganggu oleh makhluk
yang suka meniru Mikha. Di sebuah kediaman yang sedikit jaduh dari pusat kota, Merri sedari tadi tengah sibuk mencari air dan meneguknya. Bahkan ia juga mengambil beberapa botol minuman rasa buah karena saking hasunya. Setelah mengalami mimpi panjang selama dua malam itu, Merri selalu kehausan. Air mineral tidak mampu mengobati rasa hausnya. Bahkan ia telah mencoba mencampurkannya dengan es batu, tapi ia malah semakin haus.
Melihat hal tersebut Kusuma (Pisle said: Nah ini baru emaknya Merri) menjadi penasaran. Ia berinisiatif membuat putrinya segelas kopi. Biasanya, manusia normal tidak akan sanggup meminumnya, karena rasanya yang sangat pahit. Kecuali jika dia sedang di tempeli bangsa Jin atau setan, sebab kopi itu memang di khususkan untuk mereka.
“Coba kamu minum ini.” ucap Kusuma.
“Tapi aku ga suka kopi, Bu.” Ucap Merri, “Tapi itu kan kopi yang ada di ruang bawah tanah itukan, tempat ibu ritual?”
“Makanya ibu penasaran, coba saja dulu.”
“Aku pernah coba waktu masih kecil, rasanya pait banget, lebih pait dari buah empedu, hueeks.. aku ga sanggup.” Merri menolak gelas berisi kopi itu.
“****Tapii aku mauuuu...!!***” sebuah suara bergema. Merri segera menoleh kebelakang.*
“Kamu kenapa?” tanya Kusuma melihat tingkah Merri yang tiba-tiba.
“Ibu ga dengar suara barusan?” tanya Merri.
“Hmmm...!” kusuma menghela nafas, dia bisa menduga apa yang tengah di alami anaknya. “Pasti di lidahmu kopi ini rasanya manis.” Tebak Kusuma.
“Ma maksud ibu?”
“Pegang gelas ini dulu, Ibu mau menelfon mbahmu.” Jelas Kusuma, dia memberikan gelas berisi kopi itu lalu pergi menuju telfon rumah mereka yang berada di ruang tengah.
Merri memperhatikan tindak tanduk sang ibu. dia terlihat cemas, tapi tentang apa? Pikir Merri. Disana Kusuma mulai menelfon mbah, sapaan yang ia berikan kepada neneknya.
“Hallo, mbah... ini saya Kusuma, iya... Mbah tidak di rumah? ... ooo paham, terimakasih ya Pak
Tejo.”
Merri hanya diam dan memperhatikan,"****Mbah kemana lagi***?" pikir Merri. Tiba-tiba Merri merasa tenggorokannya kembali kering. Tanpa sadar ia menyeruput kopi tersebut dan menenggakkannya sampai habis.*
“Manis juga.” Pikir Merri. Ia menghampiri ibunya. “Apa kata Mbah?”
Kusuma akhirnya selesai menelfon orang tuanya. Ia memperhatikan wajah putrinya, lalu tersenyum.
“Dia akan sedang berangkat kesini.” Jawab Kusuma.
“Mbah emang ada dimana?” tanya Merri penasaran.
“Mbah sudah ada feelingke kamu nak.” Jawab Kusuma, lalu matanya beralih ke gelas yang ada di atas meja. Gelas itu kosong, “Merri, Nak..?!” panggil Kusuma.
“Ya bu, aku masih disini kok...!” Merri membalikkan badan, ruangan itu kosong. Ibunya tidak ada
lagi berdiri di belakangnya.
.
.
__ADS_1
“HHAAIII...!!!” seseorang menyapanya. Dia sedang duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tengah itu.
“Kkau lagi, mau apa kau?!” tanya Merri.
Ia tidak percaya jika Iblis tengik bernama Rohi, berwajah aneh dengan tubuh seperti ular itu menghampirinya hingga kerumah. Atau mungkin dia lagi-lagi membawa Merri kedimensinya.
“Kopi yang manis, sudah lama saya tidak menikmatinya. Khu khu khu...” tawa Rohi dengan senyum licik itu.
*“K kau? Sejak kapan kau meminum kopi itu, bukannya...?” Merri terdiam. “Apa jangan-jangan...?” Merri memegang batang lehernya. *
“Benar khu khu!!” Rohi tertawa puas, “Bekas goresan di leher itu adalah bukti jika saya adalah pemilik sah atas ragamu. Mungkin saat ini belum sempurna, namun lambat laun, kau perwakilan cucu adam dan saya keturunan dari Yang Agung Tibbir akan bersatu.”
“Cih, itu tidak akan terjadi, aku tidak akan membiarkan itu terjadi!”
“Tapi saya benar-benar ingin hal itu terjadi, kau tidak ada pilihan. Biar saya yang urus wahai bangsa tanah!”
“Aku tidak sudi berkerja sama dengan makhluk hina dan sombong sepertimu!” Merri tersulut emosi, dia tidak terima dengan sikap angkuh dan gaya bicara iblis ini. Benar-benar angkuh. “Kenapa tidak mendekam saja di neraka, karena itu memang tempat yang pas untukmu, Iblis laknat!!!”
Bukannya sakit hati, Rohi terlihat puas, “HAHAHAHA... tidakkah kau sadar, jika gaya bicara kita sudah mirip?” ucap Rohi.
Merri lansung mendekap mulutnya sendiri, dia baru sadar jika berani berbicara lancang di depan iblis
yang dulu sempat ia takuti. Bahkan gaya omongannya itu sungguh di luar kemampuannya selama ini.
Rohi yang terlihat puas mendekatkan wajahnya dengan dengan wajah Merri. Bak kecepatan kilat kini
dua wajah berbeda rupa itu mungkin hanya berjarak beberapa senti saja. Merri menatap mata gelap Rohi.
“Kau ikuti saja aturan mainku.”
“Sejak kau masih janin, kau masih bayi, apa kau tidak ingat kita teman sepermainan?”
“Jangan berbohong, bangsamu adalah pembohong ulung?!”
“Bukankah nenekmu akan datang, tanyakan kepadanya.” Rohi menjauhkan wajahnya, “Titip salamku kepadanya, tanyakan kepada wanita tua sombong dan peot itu, kenapa kau bisa melupakanku?”
Merri menelan ludahnya, kali ini tenggorokannya terasa kering lagi. Lalu di hadapannya Rohi juga memegang tenggorokannya, “Sepertinya aku haus, bisa bikinkan kopi tadi, rasanya enak dan manis.” Ucap Rohi yang kemudian hilang dan menyisakan gelak tawa penuh kebahagiaan.
Merri mengepal tangannya, dia sungguh membenci iblis itu.
“Merri??” Kusuma menghampiri Merri yang berdiri menghadap kepergian Rohi. “Ada apa? Apa kau di
ganggu lagi nak?” tanyanya sangat cemas.
“Aku membenci iblis itu ibu, sungguh sangat membencinya!” ucap Merri sangat kesal.
Kusuma memperhatikan raut wajah putrinya, “****Sepertinya kau sudah siap, nak? Tapi aku yang tidak siap melihatmu. Bisakah di undur kembali? Aku tidak mau Merri menderita, dia masih remaja. Dia masih terlalu muda.”**
.
.
.
__ADS_1
.
“Jadi kau telah di tandainya?” Mbah Uti, wanita usia tujuh puluh tahunan itu memperhatikan wajah Merri. Dia melihat bekas cakaran di leher Merri.
“Apa bisa hilang, buk?” tanya Kusuma yang memberikan satu cawan berisi kopi hitam dan dua cangkir teh manis kepada orang tuanya ini.
*“Hilang sih bisa, hanya saja tidak memberikan perubahan apa-apa.” Jelas wanita tua dengan setelan galamor. Dia memang tua, dan disapa Mbah, cucunya ada banyak, sebab dia juga di karuniai banyak anak. Maklum, semasa mudanya Mbah Uti pernah menikah tiga kali. Pernikahan pertama dan kedua gagal, karena sang suami tidak tahan alias ketakutan. Sebab di masa muda Mbah Uti sering mengalami kesurupan dan berbicara sendiri di tengah malam. Dia sendiri baru bisa mengendalikan kemampuannya saat berusia tiga puluh tahun, saat menikah dengan suami ketiganya, kakek kandung dari Merri. Walau berprofesi seorang dukun, jangan salah, untuk masalah pakaian Mbah Uti tidak mau kalah dengan selebriti kenamaan. Pakaiannya sungguh penuh mitif dan bordir. di tambah lagi dengan perhiasan yang menempel di batang leher tua dan jari-jari manisnya. *
*Dilihat dari beberapa anak-anaknya, memang Kusuma yang menuruni bakatnya secara alami. Bahkan anak pertama dari suami pertamanya gagal mengikuti Mbah Uti, yang berujung membuatnya menjadi tidak waras hingga mati. Namun kemampuan Kusuma tentu tidak sekuat dirinya. Tapi mbah Uti bisa memaklumi itu. Semu abakat ini yang diterima ini adalah pilihan dari leluhur mereka. *
Namun saat Merri lahir, Mbah Uti mendapat sebuah gambaran, jika cucu perempuannya akan mewarisi
bakat yang bisa menyeimbanginya. Setidaknya kelak, saat waktunya tiba dia bisa pensiun dan mati dengan
damai. Tapi kabar gembira itu membawa satu pesan yang membuat jantungnya berdegup. Merri yang sudah yatim sejak janin ini, ternyata telah diintai Rohi.
“Seharunya saya buang dia lebih jauh lagi... hmmm setan sialan.” Dumel mbah uti.
“Ha?!” Merri terkejut bukan main, “Berarti dia memang ada sejak dulu?” tanya Merri.
Kusuma hanya diam, dia biarkan masalah satu ini dijelaskan oleh ibunya sendiri.
“Ya, dia memang menginginkanmu sejak dulu. Dia sering mengajakmu berbicara saat bayi dan setiap
dia datang kau selalu tertawa, tapi efek samping setelah itu kau pasti dibuat panas dan tak jarang kau juga kejang-kejang. Itu semua perbuatan dia. Di satu sisi dia menyayangimu di sisi lain dia membencimu karena tidak ada iblis yang benar-benar menyukai manusia. Itu sudah jalan takdir kita.” Jelas Mbah Uti.
“lalu aku harus melakukan apa?”
“Ini permainan, dia kembali mengajak kau bermain, tapi tujuannya sudah beda. Dia ingin memperbudakmu.”
“Ga mau, aku ga mau jadi budaknya.” Merri mengelak, saking bencinya dengan omongan si mbah, Merri
bahkan melengkingkan suara.
“Jika kau tidak mau, buat keadaanny terbalik. Buat dia jadi budakmu.” Jelas Mbah Uti. “Hanya itu satu-satunya jalan.”
GLEK, Merri menelan ludahnya yang kering.
“Mbah akan membantumu. Tapi yang pertama-tama minumlah ramuan ini dulu, agar kau dan dia tidak berbagi makanan maupun minuman. Karena itu membantunya untuk jadi kuat.” Mbah uti memberikan sebuah cawan yang berisi air bewarna gelap.
“Ini apa?”
“Kopi.”
“Tapi aku sudah minum kopi racikan ibu.”
“Yang ini beda! Minumlah.”
.
.
.
__ADS_1
.