
Karin duduk di kamarnya, dia melihat telfon rumah yang sengaja ia bawa kekamar. Dia berniat menelfon Arinda. Pertemuan sore itu, bersama Tito dan Fitri, Karin yang tampak ragu akhirnya membicarakan apa yang dia lihat di kamar mandi.
“Arinda tau?” tanya Tito.
“Dia ga akan percaya.” Jawab Karin.
“Coba lu telfon malam ini.” suruh Tito. “Gue malah berpendapat jika kedatangan Mikha sebuah tanda, mungkin dia mau meninggalkan pesan.”
“Trus kenapa harus dengan cara kekerasan gitu? Kenapa harus mukul Arinda dan bilang ingin membalas dendam?” tanya Fitri.
“Itu dia yang perlu kita cari tau.” Jelas Tito.
“Lo yakin?” tanya Karin.
“Kita coba aja dulu.”
Meski kesal, saran Tito tetap ia ikuti. Maka Karin memperhatikan telfon rumahnya dan menimbang-nimbang, kaliamat apa yang ia ucapkan pertama kali agar suasana kembali cair.
“Kok susah amat ya? Cuma nelfon si Arinda doang.” Pikir Karin.
“Atau gue ngomong lansung aja ya? Kek... ehem!!” Karin berdiri di depan cermin, kemudian dia membatalkan niatnya. Dia takut melihat mikha lagi di cermin. Dia membalikkan cermin kamarnya.
“Lama-lama gue bisa lupa sama wajah gue!” pikir Karin.
Kring.. Kring..
“Sial!!” Karin kaget mendengar telfon berdering.
“Halo?” sapanya lansung mengangkat ganggang telfon tersebut.
“Karin, lu udah nelfon Arinda?” tanya suara Fitri di sebrang sana.
“Mbul, lu nelfon gua Cuma nanya gini doang?” tanya Karin dengan nada kesal.
“Buat memastikan aja, Mpeng!”
“Tutup telfon lu, gua mau nelfon Arinda nih!!” bentak Karin.
“Iya, tapi lu harus minta maaf dulu, jangan pakai emosi, suara harus lembut dan sopan, sesuai gua ajarin tadi sore, paham?!”
“Iya paham, bawel amat!!”
“Oke, bye!!!” seru Fitri dengan sok imut.
“Ya dah!” balas Karin ketus.
Fitri menekan ganggang telfon dan kemudian dia menariknya. Jari-jarinya dengan cekatan menekan nomor telfon rumah Arinda. Lalu jari itu tertahan saat hendak memencet nomor terakhir. Ada perasaan berat dan tidak siap
untuk terus melanjutkan ide untuk menelfon anak sang Ratu SMA Kasanovva ini. Karin meletakkan ganggang telfon itu kembali.
“Lupakan saja!” bentaknya. “Lebih bagus besok, obrolan face to face selalu lebih manjur dari pada via suara doang!!” serunya kemudian.
Kring kring...
“Pasti si Fitri lagi!!” Karin mengehela nafas kesel. Dia mengangkat telfon itu setengah hati.
“Oii mbul, besok aja gue bilang lansung ke Arinda kesayangan lu ya. Gua lagi sibuk malam ini, paham ga lu....”
Tidak ada jawaban, suara di sana hening.
“Halo?” sapa Karin. “Fitri...?” tanya Karin.
Lagi-lagi tidak ada suara. Hanya hening.
“Mungkin bukan Fitri?” pikir Karin dalam hati. “Halo selamat malam, keluarga Haji Merin, ada yang bisa saya bantu?” tanya Karin dengan suara lebih sopan.
Lagi-lagi tidak ada suara.
“Telfon isengkah?” fikir Karin lagi. “Maaf saya tutup saja ya? Selamat malam.” Sahutnya.
“Srrrkkk srkkk!!!” suara disana terdengar berisik. Karin menempelkan kembali ganggang telfon itu kedaun telinganya. Dia penasaran dengan sumber suara di sebrang.
“Halo?” sapa Karin.
***“Hhhaaaaa!!!”***suara nafas berat terdengar disebrang. “Kenapa tidak kau lakukan apa yang aku minta, Karin!” suara disebrang terdengar sangat kesepian dan menyeramkan.
__ADS_1
“Hha llo, ini si siapa?!” sapa Karin dia ketakutan tapi dia masih penasaran dengan siapa ia saat ini bicara.
“Kariin... kan sudah aku bilang untuk membalaskan dendamku...!!”
“Maaf sepertinya anda salah nomor!” seru Karin yang menutup ganggang telfon itu denga cepat.
“BALASKAN DENDAMKU KEPADA ARINDA!!!”
Karin mendapatkan sebuah penampakan saat ia membalikkan badannya. Sebuah wajah yang pucat dan terlihat mengerikan.
“GYAAA!!!” Karin berteriak. Saat ia membuka lagi matanya, tidak ada siapa-siapa selain ibu dan ayahnya yang menyusul mereka ke kamar.
“Lu kenape?” tanya sang Bapak.
“Nyak, babe!!!.” Jawab Karin dengan wajah panik, dia lansung memeluk orang tuanya.
"Kenape lu, kesambet apaan lu sampe teriak-teriak?" tanya bapaknya.
Karin berusaha mengatur nafas. Dia masih mencerna apa yang telah ia lihat beberapa detik lalu.
Belum mendapat jawaban dari sang anak, fokus ibu Karin malah teralihkand engan telfon rumah mereka yang berada di lantai kamar anaknya.
“Lu apain telfon sampe bawa ke kamar, pantes tarifnya makin gede!!” omel sang ibu yang kemudian membawa telfon itu kembali ketempat semula, yaitu ruang tengah.
“Tadi Karin nelfon teman doang, tapi udahan kok.” Jawab Karin dengan tampang masih bingung.
Sang ibu melihat raut wajah putri yang tidak biasanya. “Lu kenape?”tanya sang ibu.
“Kebanyakan makan semur jengkol kayaknya? pas kentut kaget kecium aroma kentut dia sendiri yang kayak neraka.” ledek si babenya. Bukannya tertawa Karin masih terlihat bingung. Dia melihat sekitar kamarnya.
“Karin, lu kenape, jangan bikin mak khawatir?!” ucap sang ibu yang mulai cemas.
“Nyak, Be, Karin malam ini boleh tidur bareng kalian ga?” tanya Karin dengan wajah super ketakutan.
Si babe melihat sang istri yang juga terlihat bingung. Sejak kapan jagoan mereka menjadi cengeng seperti ini.
Sayangnya permintaan Karin tidak di kabulkan oleh kedua orang tuanya. Malam itu Karin takut memejam mata. Penampakan di kamar mandi dan suara di telfon terus menghantuinya. Tidak biasanya dia seperti ini. Tapi malam
ini sungguh malam terpanjang yang ia lewati. Walau ia tidak bisa melihat dan merasakan, ia merasa sedikit sesak dan panas dengan kamarnya. Sungguh malam yang sangat tidak nyaman baginya. Bahkan kipas angin yang terus menyala tidak memberikan efek apapun.
“Kok malam ini gue katakutan ya?” pikir Karin. Dia menutup semua tubuhnya dengan selimutnya. Berusaha untuk memejamkan mata walau sebenarnya dia sendiri merasa gerah.
“Hhhh..!!!” Karin merinding, Malam ini dia tidak mau mati ketakutan seperti ini, akirnya dia mengeluarkan jurus rahasiannya agar selamat. Dengan cekatan, Karin membalut badannya dengan selimut dan kemudian kabur
menuju kamar kedua orang tuanya.
“NYAAAAAAKKKKKK BABEEEEEE!!!!”
.
.
Sedangkan di kamar yang dipenuhi koleksi komik dan video games, Tito juga di herankan dengan sikap kucingnya yang enggan beranjak dari jendela kamarnya. Seusai makanpun kucing berbulu hitam legam itu kembali kekamar Tito dan menatap di titik yang sama. Sesekali dia mengeong dan mendesis marah.
“Lo kenapa Toto?” tanya Tito. Kucing itu tidak merubris, menolehpun juga tidak mau. Tito melihat kearah jendela, dia tidak melihat apa-apa di batang pohon jambu itu.
“Gue tidur duluan ya?” Tito mengelus si kucing dan kemudian meninggakannya di sana. Ia membuka kacamatanya, mematikan lampu kamar dan tidur.
Kucing itu melirik ke Tito sebentar dan kembali melihat ke jendela. Lalu seketika mata kucing yang bewarna hijau zambrud itu membulat. Objek yang di tatap menghilang. Dia mendongak dan melihat kesetiap sisi dari kaca jendela itu. Namun objek yang ia perhatikan itu tetap tidak terlihat.
“Gyaa uhk uhk.. uhkkk!!!”
Suara itu membuat si kucing tersadar. Ia melihat tuannya tengah tertidur dengan wajah yang sangat memprihatinkan. Tito terlihat sesak nafas, namun matanya masih terpejam. Yang lebih aneh lagi, objek yang di perhatikan si kucing sedari siang itu telah duduk di atas badan Tuannya.
Toto si kucing hitam melompati kasur sang majikan.
“Uhk..uhk!!” Tito sendiri sulit bergerak, dia ingin membuka matany namun tidak bisa, begitupun badannya. “Ohh tuhan, apa ini?” Batinnya.
“Mmeeooonggg sraaaakkk!!!” si Toto mendesis marah.
“Toto, kenapa dengan Toto?” Pikir Tito, dia mendengar kucingnya mengeong marah. “Kucing liarkah?”
“Emmmeeeoooong!!!”
“Emmmeeeooong!!!!!”
“Meeeeeeooongggg ooonggg!!!!!”
__ADS_1
Tito berusaha mungikin membuka matanya. Dia membaca doa yang ia hafal dalam hati. Lambat laun, kedua matanya bisa ia buka. Dengan usaha yang cukup keras ia melihat kegelapan di kamarnya. Di antara kegelapan itu dia melihat dua bayangan, satu bayangan dengan sorot mata hijau zambrud yang dia yakini milik kucingnya, Toto. Satu lagi, sebuah bayangan dengan sorot mata bewarna merah.
“Ya Tuhan, itu apa?” Pikir Tito. “HHHHggghh!!” Tito ingin memanggil orang dirumahnya, tapi suaranya
tertahan di tenggorokan. “Sial, suara gue kenapa?”
“Meooongggg!!!!” pertengkaran kucingnya dengan makhluk itu berlansung. Ia melihat beberapa koleksinya terjatuh karena pertarungan sengit itu. Bayangan itu bermata merah itu menembus jendela.
“SIAAAAL!!!” Erang Tito dalam hatinya. “Ghhhgg!!” dia ingin segera lepas.
“Meoong!!!” si Kucing hitam Toto juga menghampiri jendela dan memukul kaca jendela.
“HUAAAHHH!!!!” Tito terduduk di atas kasur. Dia merasa nyeri di sekitar badannya. “Itu tadi apa? Gue kenapa?” pikir Tito.
“Meong!”
Tito menoleh karah sang kucing yang menatapnya dengan wajah polos khas kuicng rumahan. Seolah dia menanyai keadaan sang majikan.
“Gue benar-benar bingung To? Apa lo butuh minum?” tanya Tito ke sang kucing yang kemudian si kucing melompat kepelukannya dan mengelus sang majikan manja.
.
.
.
.
Pagi menjelang, Tito bangun sedikit kesiangan. Dia memperhatikan Toto tertidur pulas di kasurnya seperti biasa. Ia meninggalkan si kesayangan dan segera bersiap-siap kesekolah. Saat bergabung dengan anggota keluarganya di meja makan, ibunya menyambutnya dengan wajah sedikit kesal.
“Kucing kamu semalam kenapa?” tanya ibunya.
“Hahaha kalian kawin ya semalam?” ledek Teti.
“Mana bisa sih, kan Toto cowok?!” seru Teta si adik kecil.
Tito tidak menjawab. Dia juga bingung dengan apa yang dia alami semalam.
“Ma, ketindihan itu karena apa ya?” tanya Tito ke sang ibu.
“Hmm... mama ga tau tuh sayang.” Jawab mamanya, “Setau mama kalo kamu lupa baca doa sebelum tidur, kamu pasti di gangguin setan.” Jawab mamanya.
“Ga semuanya salah setan tau, Ma.” Sela Tuti yang juga baru keluar dari kamar. Dia masih mengenakan kaos tidurnya. “Itu karena beban pikiran, ketindihan itu terjadi karena otak dan badan sedang tidak singkron. Disatu
sisi badan kita lelah dan butuh istirahat di sisi lain otak masih terus bekerja karena faktor pikiran, makanya terjadi kekacauan dalam tubuh saat kita tidur. Makanya kita sering dengar sesuatu tapi mata kita ga mau di buka. Karena otak kita masih bangun sedangkan tubuh kita sudah sangat kecapean.” Jelas Tuti.
“Wuiiihhh!! Calon sarjana jawabannya selalu beda, ya!” seru Teti.
“Ya lah, hasil begadang ngurus skripsi kek gini!!” balas Tuti, “Semalam kamar lo kok berisik?” tanya Tuti ke Tito. “Gue dengar Toto berantem, apa ada hewan liar yang masuk?” tanyanya.
“Mungkin!!” jawab Tito tidak yakin. “Kak, lu tau ga hewan nocturnal yang bisa nembus jendela, trus matanya merah?” tanya Tito tiba-tiba.
Suasana di meja makan jadi hening. Semua aktifitas terhenti sesaat. Bahkan mamanya jadi batal menyuapkan roti tawar kemulutnya.
“Kunang-kunang.” Jawab Teta dengan wajah polos.
“Bisa jadi, kunang-kunang yang lagi stres, makanya dia mengeluarkan cahaya warna merah.” Jawab Tuti.
“Ck!!” Tito berdecak kesal. Dia tidak menemukan jawaban yang dia inginkan. Lagian pertanyaan yang dia utarakan juga aneh.
“Ya udah, sekarang waktunya berangkat sekolah!!” seru sang mama.
Tito segar pamit ke sang ibu dan meninggalkan meja makan. Begitu juga dengan Teta yang setiap paginya memang berangkat dengan Tito.
“Sepertinya gua salah minjamin video game ke dia deh kak?” pikir teti saat kedua adikknya telah pergi.
“Tapi semalam gue mendengar suara cewek tertawa, dia terdengar dekat d kuping gue. Apa itu elo yang ngerjain dia lagi?” tanya Tuti.
Teti menggeleng, "Gua ga suka prank kek gitu, Sis!"
.~~~~
.
.
.
__ADS_1