
Fitri tampak bingung dengan pemandangan yang terjadi didepannya. Dia seolah melihat dua anak banteng sedang makan lahap. Ia mungkin terbiasa dengan banteng pertama bernama Tito. Mungkin karena ia sudah lama mengenal Tito, terlebih lagi di dalam benak gadis berpipi tembem ini; hal wajar jika seorang laki-laki makan banyak dan rakus. Masalahnya, dia tidak terbiasa dengan jenis banteng kedua, banteng badan kurus, kecil, polos dan terlihat lemah. Siapa lagi kalau bukan Merri yang tengah menghabiskan satu kotak bekalnya dan sekarang tengah berjuang menghabiskan mangkok bakso ketiganya dan dua gelas jus alpukat.
“Gila, kalian lagi persiapan lomba buat tujuh belasan, ya?” gumam Fitri. Dia menyodorkan mangkok bakso yang belum habis.
“Lu udahan?”tanya Tito.
“Lihat kalian makan gua tiba-tiba jadi kenyang.” Jawab Fitri sedikit ketus.
Tito tidak mengubris Fitri. Ia menarik mangkok bakso Fitri “Buat gue aja ya?” tanyanya yang lansung menuangkan bakso kedalam mangkok miliknya. "Gua dari semalam ga makan. Trus tadi pagi juga ga sarapan. Udah malam-malamnya gua begadang lagi. Lapar banget rasanya!"
Fitri hanya melototkan matanya, heran. “Sumpah demi apa? Lu kenapa sampe ga tidur? Emang lu di teror hantu M lagi?” tanya Fitri yang membisikkan suaranya. Dia tidak mau teror setan Mikha didengar Merri.
“Hwaaaa!!!” Merri sendawa besar. Hal itu membuat Fitri melotot kaget. “Ups, maaf!” Merri menutup mulutnya. Dia merasa bersalah membuat Fitri tidak nyaman.
“Hari ini kok gue apes banget ketemu kalian? Lagian Karin kenapa ga masuk sih?” gerutu Fitri.
“Hwaaa!!” kali ini sendawa dari Tito.
“Tito!” bentak Fitri. “Jijik tau!”
“Namanya juga habis makan.” Jawab Tito. Fitri hanya cemberut. Dia menatap kesal Tito dan Merri secara bergantian.
“Maaf gembul!” ucap Tito tulus melihat wajah Fitri.
“Huft!” Fitri menghembuskan nafas kesal, “Karin kemana, ya?” tanya Fitri lagi. "Apa dia di teror hantu Mikha itu?" pikirnya dalam hati.
“Nah itu gua mau tanya ke elu, Karin kenapa ga masuk? Agus juga ga masuk, mereka bolos ya?” tanya Tito penasaran.
"Mana gue tau!" jawab Fitri, “Trus Arinda izin kemana?”tanyanya balik.
“Arinda sakit, dia ga enak badan!” jawab Tito. “Kalo gue perhatiin bu kepsek juga ga datang, mungkin mereka pergi berobat.” Jelas Tito lagi.
“Arinda sakit apa? Parah ga? Terus dia ga apa-apakan? Gue takut dia kayak Mikha. Tapi-tapi, dia ga dikerjai hantu M kan?” tanya Fitri yang bertubi-tubi. Yang terakhir dia kembali membisikkan suaranya.
Pertanyaan terakhir Fitri membuat Merri bergeming. Dia ingat akan suatuhal.
“Hmm ga, ga tau juga sih.” Jawab Tito ragu.
“Iya!” jawab Merri tegas. Tito lansung menatap Merri dengan tatapan kaget. Dia tidak percaya kalau Merri akan mengakuinya. Begitu juga dengan Fitri yang tidak menyangka jika Merri mendengar semua hal yang ia bisikkan.
“Maksudnya iya, iya apa?” tanya Fitri antara yakin dan tidak yakin.
“Aku ingin tanya sama kamu, apa kamu pernah main permainan aneh dengan Mikha sewaktu dia masih hidup?” tanya Merri.
“Permainan apa?” tanya Fitri.
“Permainan pemanggil arwah atau jailangkung.” Jelas Merri.
Fitri berfikir sesaat, dia mencoba mengingat hal-hal menarik saat bermain dengan Mikha. “Sepertinya nggak tuh. Lagian mereka tau kalau gue gak suka hantu.”ingat Fitri. “Tapi...!”
“Tapi apa?” tanya Merri dan Tito hampir bersamaan. Tito menatap Merri. Gadis itu tidak menoleh, dia lebih fokus dengan jawaban Fitri.
“Karin pernah cerita kalau dia dan Mikha mau main permainan menantang.” Jawab Fitri.
“Permainan apa?” tanya Merri lagi.
“Ya, permainan apa? Soalnya Arinda bilang dia main Jailangkung bareng Mikha.” Jelas Tito.
“Serius? Arinda main Jailangkung sama Mikha?” Fitri histeris. Suaranya terlalu keras sehingga orang-orang di kantin memperhatikannya.
“SSstt! Jaga suara lu, jangan sampe anak-anak tau. Bisa ****** gue di gantung maknya!” ingat Tito.
Fitri segera berseru, "OOO JADI EPISODE SINETRON JIN DAN JUN SEMALAM TENTANG HANTU MBAH KAKUNG HUA HA HA GUE GA NONTON HA HA HA ...!” Fitri mencoba mengelabui orang-orang dengan kembali berbicara keras.
“Huft gue kira ada yang kesurupan lagi?”
__ADS_1
“Iya berisik amat tuh anak kelas angker!”
Para siswa kembali fokus dengan aktifitasnya masing-masing. Kelas angker, sejak kejadian ada anak kelas yang kesurupan, Karin yang menghajar cermin kamar mandi cewek dan pingsannya Merri di taman saat hukuman,
kelas mereka lansung di cap sebagai kelas angker. Tapi Tito dan yang lain tidak begitu peduli, kecuali beberapa anak kelas yang merasa tersinggung jika di kelasnya ada setannya.
Tito kembali menatap Merri dan Fitri dengan tatapan serius. “Sepertinya kita bahas di kelas aja, disini ga aman.” Bisik Tito.
“Gue setuju!” seru Fitri yang juga di angguki oleh Merri. “Kalian buruan bayar makanan kalian.” Perintah Fitri.
“Lu?” tanya Tito.
“Gua baru makan dua biji bakso, selebihnya dimakan sama anak godzila. Jadi lu yang bayar lah!” perintah Fitri semaunya.
“Dasar!” Tito jadi menyesal telah menyabotase makanan sigembul ini, “Medit, nyesal juga gua ambil makanan lu. Medit medit medit!” gumam Tito.
“Cepatan, keburu jam istirahat habis?!” perintah Fitri lagi.
“Iya bawel!” seru Tito.
Merri hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Dua orang ini sangat menyenangkan dan buat nyaman. Biasanya dia akan melihat warna dan aura dari orang-orang yang biasanya menyimpan masalah atau dendam. Tapi beda dengan Fitri dan Tito. Dari awal mereka tidak menunjukkan warna apapun, dan itu membuatnya nyaman.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
Kusuma bergegas keruang prakteknya yang berada di bawah tanah. Ia menyediakan beberapa wadah yang berisi berbagai jenis benda yang aneh. Ada beberapa lembar daun dan semak-semak, buah apel merah, ada mahkota bunga, kaki katak dan juga sebuah daging yang masih segar.
Ia taruh wadah itu diatas meja yang dialasi kain bewarna hijau. Kemudian ia juga membentuk sebuah garis melingkar dari tinta bewarna merah. Tinta itu ia toreh dengan menggunakan kuas cukup besar. Ukuran lingkaran
yang ia juga lukis cukup besar di lantai. Kemudian ia menyalan api diatas lilin. Lampu di padamkan. Dalam keadaan gelap, yang hanya di terangi cahaya dari lilin, Kusuma duduk bersila di depan meja berisi sajen itu. Dia memejamkan mata, mengatur nafas dan membiarkan dirinya larut dalam keheningan dan kebisuan.
“Dalam kegelapan dunia yang tidak tersentuh oleh manusia manapun... izinkan aku masuk. Wahai penjaga pintu gerbang antara kehidupan dan kematian, biarkan manusia ini masuk. Atas izinmu dan juga lindunganmu.” Bisik Kusuma. Ucapan itu ia ulangin hingga tiga kali.
Angin bertiup lembut menyentuh pipi Kusuma. Kobaran api diatas lilin juga bergoyang pelan. Kemudian dalam waktu sepersekian detik, lilin itu lansung padam. Ruangan seketika gelap, menandakan jika Kusuma telah berhasil memasuki gerbang antara kehidupan dan kematian yang bisa saja memakan nyawanya.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
DEG
DEG
“Perasaan apa ini?” pikir Merri.
“Merri hayoo buruan!” ajak Tito memanggil Merri.
“Lu sejak kapan akrab dengan Merri?” pikir Fitri.
“Ntar, gue jelasin di kelas!” jawab Tito.
Merri mempercepat langkah. Mereka kembali berjalan bertiga dengan santai kekelas. Tapi jauh dalam hati Merri terdalam, dia masih penasaran dengan perasaan aneh itu.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
DEG
Arinda menekan dadanya. Barusan jantungnya berdetak sangat cepat. Dia merasakan ada yang aneh yang ia rasakan. Di kamar yang terlihat nyaman itu, mata bulat gadis itu meneliti kesegala arah. Dia memperhatikan jika
ada sesuatu bersembunyi di kamarnya. Tapi mata bewarna coklat cerah itu tidak menangkap bayangan apapun.
“Siapa?” tanya Arinda. Tidak ada jawaban.
BRUK
Klonteng... teng... teng...
Gelas terbuat dari aluminium yang berisi lusinan pensil warna itu jatuh dari meja belajar Arinda. Isinya jatuh berserakan. Padahal tidak ada angin ataupun tupai yang masuk. Gelas itu jatuh sendirinya.
__ADS_1
Arinda seketika merasa dirinya kembali terancam. Kejadian yang menimpanya semalam membuatnya trauma. Dengan cepat ia menuruni anak tangga menyusul kedua orang tuanya yang berada di ruang tengah.
“Bunda... ayah!!” panggil Arinda.
Suaranya tidak terdengar. Sebab suara kehadirannya lansung di sambut dengan suara musik klasik.
“Ayah!” panggil Arinda sekali lagi. Ia melihat ayahnya berdiri di ruang tengah. Menggandeng tangan ibunya dan mereka berdua berdansa. Arinda melihat mereka sedikit aneh.
“Tidak biasanya mereka seperti ini? lagian sejak kapan ayah menyukai musik klasik?” pikir Arinda.
Arinda mendekati kedua orang tuanya yang tengah berdansa. Saat ia menarik tangan ayah dan ibunya, ia baru menyadari jika orang tuanya sama sekali tidak memiliki wajah.
“GYAAA!!” teriak Arinda mundur beberapa langkah dan jatuh dalam keadaan terduduk.
“Kau kenapa, nak?” tanya Ajar cemas dengan wajah datar.
“Sini biar ibu bantu!” Lira yang tanpa wajah mengulurkan tangannya.
“Minggirr!” Arinda menepiskan tangan Lira dengan kasar. “Kalian bukan orang tuaku!!” teriak Arinda. Ia berlari keluar rumah sekuat tenaga. Sayangnya, tubuhnya lansung terbentur dengan sepasang makhluk yang menggunakan jubah hitam.
“Gyaaa... jangan bawa saya, pergi kalian pergi!!!” bentak Arinda.
Makhluk itu menurunkan jubahnya dan memperlihatkan wajah mereka yang sangat mirip dengan wajah kedua orang tuanya.
“Apa-apaan ini?” pikir Arinda yang kaget setengah ******.
“Arinda!” tubuhnya yang menggigil di rangkul Lira. Bukannya tenang, badan Arinda semakin menggigil ketakutan. “Dia kesini ingin bermaksud baik.” Lanjut Lira.
“Bermaksud baik untuk apa?” tanya Arinda menggigil.
“Berikan wajahmu kepada mereka, maka kau akan bebas.” Jelas Ajar.
“APA?!” Arinda melepas rangkulan Lira dan juga Ajar. “Aku tidak mau!! Aku tidak mau!”
“Berikan! Berikan!” ucap Lira dan Ajar serempak.
“Tidak!” bentak Arinda. Pergelangan tangannya di tahan oleh kedua orang tuanya dan makhluk berjubah hitam itu.
Di tengah usaha Arinda, satu makhluk berjubah pun masuk. Tubuhnya tidak setinggi dua makhluk yang mencuri wajah ibunya. Ia berjalan dan mendekati Arinda.
Kling..sreeeeettt kling...
Suara langkah kakinya yang berjalan pelan membuat Arinda melihatnya. Matanya semakin terbelalak saat melihat dua pergelangan kaki itu di pasangi gelang besi yang diikat dengan rantai ukuran besar.
“Ka kau siapa?” tanya Arinda.
Makhluk itu menurunkan jubahnya. Aroma menyengat lansung tercium dari kulit wajahnya yang rusak. Hampir dari semua wajah itu rusak. Bernanah dan berdarah.
“Arinda, bantu aku... berikan wajahmu!” ucapnya lirih.
“Mikha!”
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
Arinda terduduk, dia berada di kamarnya. Semua orang yang ia lihat dan mengelilinginya hilang. Tidak ada siapa-siapa. Lansung saja ia memegangi wajahnya. Kemudian dia pergi kecermin melihat wajahnya. Semua posisi di wajahnya benar, seratus persen tidak ada yang berubah.
“HAH!” desah Arinda sedikit lega. “Itu mimpi!” serunya. Dia menekan dadanya yang berdebar sangat cepat. Ia merasakan jika jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya.
“Mimpi sangat mengerikan?!” pikirnya dalam hati memeluk bantal dengan erat. Nafasnya terengah-engah. Dia berusaha mengontrol kondisi tubuhnya agar jantung ini memompa dengan nomal.
“Perasaan aneh apa ini?” pikir Arinda.
Semilir angin berhembus dengan lembut mengusap pipinya. Arinda bergidik. Perasaan ini sama persis seperti apa yang ia rasakan saat dimimpi tadi. Matanya lansung menoleh kepada gelas aluminium yang berisi
lusinan pensil warna. Benar saja, gelas itu jatuh di posisi yang sama dengan apa yang ia mimpikan.
__ADS_1
“Tidak!” geleng Arinda. “Gue harus pergi dari rumah ini!” pikirnya lagi yang lansung bergegas. Ia mengambil jaket yang menggantung di balik pintu. Memakai sepatu kets dan meraih tas sandang. Demi apapun ia harus bicarakan hal ini dengan orang yang tepat, yakni Merri dan ibunya.
**P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// Bersambung... **