
Pria tua itu bernama Asep. Usianya lebih dari setengah abad. Ia terlahir dari keluarga sederhana di sebuah desa nun jauh disana. Mimpinya yang ingin menjadi sukses membuatnya ingin ke kota. Namun dengan latar pendidikan rendah, usaha kerasnya hanya mampu mengantarkannya menjadi penjaga sekolah. Dulu ia pria yang lembut dan
ramah. Ia pun jatuh cinnta dan menikah namun hal itu tidak berlansung lama. Namun sungguh malang, sang wanita dan bayi yang baru di lahirkan itu juga meninggalkannya. Sejak saat itu Asep menjadi keras.
Ia mengubah hidupnya hanya untuk uang dan kesenangan sesaat. Main wanita dan berjudi adalah hiburannya saat ini. Selain uang tidak ada hal lain yang membuatnya senang. Posisinya sebagai penjaga sekolah tidak mampu
mencukupi kesenangannya. Maka itu, ia nekad menjual barang-barang yang seharusnya tidak dibeli siswa. Ya, secara diam-diam menjual rokok, majalah dewasa dan minuman beralkohol.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
Merri melihat hal tak terduga. Peti-peti minuman beraroma menyengat. Beberapa slot rokok, vcd por*o, majalah dewasa dan poster-poster wanita dengan pakaian setengah telanjang. Agus membalalakkan matanya. Selama ini
ia tidak tau apa-apa. Ia hanya tau rokok dan juga minuman alkhohol.
“JANGAN DI BUKA!” teriak PakAsep. Dia berlari kearah Merri dan mendorong gadis itu agar menjauhi kamarnya.
“Gya!” Merri terjatuh dan terduduk di lantai yang berdebu itu.
“Pak Asep, jangan kasar sama cewek!” peringat Agus.
“Saya tidak peduli!” jawab pak Asep dengan wajah merah padam.
“Saya tidak peduli dengan kebusukan anda, saya hanya ingin benda yang anda ambil kembali kesaya!” peringat Merri.
“Benda apa yang kalian maksud?!”
“Boneka beruang itu pak.” Ingat Agus.
“Ooo boneka pembawa bencana itu. Tidak akan saya berikan. Benda itu akan saya serahkan kepada Bu Lira biar kalian semua di hukum!!” ancam Pak Asep.
“Pak, gak bisa gitu dong! Saya bisa adukan juga kelakuan bapak ke bu Lira juga. Kalau bapak juga memiliki bisnis terlarang seperti ini.” Ancam Agus balik.
“Beraninya kalian!!” geram Pak Asep. Dia mengambil sebuah balok kayu dan mengancam Agus dan Merri agar keluar dari rumah mereka. “Keluar kalian dari rumah ini. Cepat Keluar!!!” usir pak Asep sambil mengayunkan balok
kayu ke sembarangan arah.
Merri segera bangkit dan berusaha menghindar dari amukan pria tua malang itu. Agus pun juga bertindak sama. Bahkan di banding Merri, ia selalu menjadi target utama penyerangan.
“Merri, lo harus ambil... buruan...!!!” teriak Agus menahan serangan pak Asep.
Merri lansung bergegas masuk ke kamar pak Asep. Saat itu juga pria tua itu lansung mengubah target serangannya. “KAU!!! TUKUS KECIL!!!” teriaknya hendak mengejar Merri.
“PAK LAWAN GUA AJA!” teriak Agus yang menahan pak Asep dengan merangkul bahu pria tersebut.
Namun Agus lupa bahwa di balik usia yang cukup tua, pak Asep memiliki seribu satu akal bulus. Ia lansung menginjak kaki Agus dengan keras dan mengahantam dagu pemuda itu dengan satu kali ayunan kepalanya.
“OUGH!” hantam dagus itu membuat kepalanya pening. Agus terhunyung kebelakang. Untung di saat tepat, badan kekar pemuda itu di tahan Tito, Karin dan Arinda yang baru saja datang.
“AGUS?! Kenapa lo?!” tanya Tito.
“Merri... selamatin Merri dulu!” tunjuk Agus.
Mata ketiga pasang remaja yang baru datang itu lansung menangkap amukan pak Asep yang siap menghajar Merri dengan balok kayu.
“Ngapain si Asep? Kesurupan?” tanya Tito. Arinda dan Karin menatap ngeri. Mereka agak takut melihat kelakuan liar pak Asep.
“BURUAAAAN Kesana!!!” teriak Agus.
Sementara itu Merri segera masuk ke kamar pak Asep. Dia mengunci pria tua itu di luar. Menahan pintu agar tidak bisa di buka dengan badannya.
“KELUAR DARI KAMARKU BOCAH TIDAK TAU DIRI!” teriak pak Asep.
Merri melihat sekitar ruangan. Matanya harus jeli mencari di sekitar kamar yang pengap dan juga berantakan ini. “Masih ada manusia yang bisa tidur di kamar seperti ini?” pikir Merri dalam hati.
__ADS_1
“PAK ASEP JANGAN GANGGU DIAAA!!!” di luar Merri mendengar suara Tito.
“MUNDUR TUA BANGKA!!!” itu suara Karin.
“GYAAAA!!!” dan teriakan Arinda.
“MERRI CEPAT!!!” teriak Agus di luar sana.
“Mereka menyusulku?” pikir Merri yang menyunggingkan senyum.
“GYAAAA!!!” Pak Asep meronta. Tapi badannya sudah di tahan empat remaja yang jauh lebih kuat darinya.
Sekarang giiran Merri. Dia segera bergerak keseluruh kamar pak Asep. Mencari boneka jailangkung yang di maksud. Semua laci dan lemari telah ia geledah. Bahkan jari-jari Merri juga membuang isi laci kamar pak asep.
Menjatuhkan tumpukan karung berisi botol minuman bekas pakai.
“Dimana boneka sialan itu dia sembunyikan?” pikir Merri.
“MERRI CEPPAAAAT!!” teriak Tito.
Merri kebali melihat sekitar. Diatas lemari, di bawah kasur. Di balik cermin? Kamar yang sumpek dan pengap. Di huni pria paruh baya yang tidak peduli dengan penampilan seperti Asep. Agak aneh jika ia memiliki sebuah lemari
kayu yang memiliki cermin seukuran pintu lemari tersebut.
Merri curiga jika boneka itu di simpan disana. Merri membuka lemari tersebut, namun ternyata
terkunci. Hal ini membuatnya semakin yakin jika boneka yang dia cari ada
disana. Sekaran Merri harus mencari kunci lemari yang berukuran kecil. Tapi
dimana?
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
“AKAN KUBUNUH KALIAN SEMUAAAA!!!” teriak pak Asep.
“KALIAN ANAK-ANAK KURANG AJAR!!!! PERGI DARI RUMAH INI... PERGI....!!!”
Keempat remaja itu mengabaikan erangan pria tua malang itu. Mereka menyusul Merri menuju kamar dan mencari benda tersebut.
“Busyet!!” teriak Tito pertama kali. Ia lansung memincingkan mata dan mengintip di sela-sela jarinya.
“Gila? Benar-benar gila.” Pikir Karin.
“Dari awal gue emang ga suka sama si aki-aki.” Tambah Arinda.
“Kalian, sepertinya boneka itu ada di sini!” tunjuk Merri.
Agus menarik Tito agar membantunya membuka lemari. Pintu itu sama sekali tidak bisa di buka.
“Kuncinya, cari kuncinya.” Teriak Agus.
“Ga ada waktu buat cari kunci.” Pikir Tito.
“Trus gimana?” tanya Karin.
“Terpaksa pake kekerasan.” Usul Tito mantap. “Gus, kita coba dobrak!” Agus menyetujui ide gila Tito.
“Coba pake ini!” teriak Arinda. Ia menunjukkan sebuah kunci yang ia temukan di terselip diatas lemari
tersebut.
“Itu kuncinya?” tanya Merri.
__ADS_1
“Gue juga ga tau. Kita coba aja.” Ucap Arinda. Ia segera memasukkan kunci tersebut dan dalam dua kali putaran, pintu lemari itu terbuka.
Mata kelima remaja itu berbinar. “Hebat lu, Nda.”
“Gue kadang suka nyimpan kunci kamar diatas ventilasi, siapa tau si Asep juga melakukan hal sama.” Pikir Arinda.
“GYAAAAAA TIDAAAKKKKK!!!!” Asep berteriak di luar dengan badan masih terikat.
“Pak Asep kok berisik takut banget kalo ada aib besar di simpan dalam le ma..!” Tito lansung menutup mulut Karin.
DEG
Karin bingung, kenapa disaat tidak tepat sentuhan Tito membuatnya merasa deg degan sekaligus malu. Tapi dalam hitungan detik pikiran Karin lansung berubah. Saat ekor matanya menangkap hal ganjil yang ada di balik pintu lemari kayu itu.
Merri mungkin bisa menerima dan bersikap biasa dengan kondisi kamar pria tua kesepian ini.Dinding kamar yang di tempeli poster tidak senonoh, botol minum, rokok, puntung rokok dan juga majalah dewasa. Jelas jika dia memang pria yang sangat kesepian sekaligus serakah. Namun untuk kali ini ia tidak bisa habis pikir. Mata Merri lansung tertuju kepada Arinda yang berubah merah padam. Gadis itu mengepal tinjunya.
“TIDAAAAKKKKK!!!!” teriak pak Asep yang sudah serak. Teriakan itu terdengar putus asa.
Namun bagi telinga Arinda, teriakan itu adalah suara sampah yang ingin ia buang jauh-jauh. Dia menahan nafasnya agar air matanya tidak jatuh. Ini bukan air mata kesedihan lagi. Lebih tepatnya air mata penuh dendam
dan amarah. Ia tidak peduli dengan boneka Jailangkung yang terletak disana, tapi ia ingin meluapkan emosinya kepada pria tua itu.
.
.
.
Pria tua yang tak ubahnya seekor srigala berhati domba. Di depan Bu Lira dia bertingkah setia, bertingkah jika dia satu-satunya orang yang membantu sang kepala sekolah dalam menegakkan kedisiplinan. Namun di belakang itu semua, Asep mencemooh orang ia segani. Ia melecehkannya di dalam hati dan imajinasi liarnya. Karena tidak
memiliki kekuasaan di depan orang yang di maksud, Asep pria tua yang sangat pengecut itu menempelkan foto wajah sang kepala sekolah dan disatukan dengan sebuah poster pakaian berpakaian seksi. Dua mata Lira di bolongkan dengan pisau dan ada kata-kata kasar yang di tulis di wajah wanita tersebut.
“Dia harus mati malam ini juga!!” bengis Arinda yang berjalan dengan angkuh menuju keluar kamar.
Agus hanya menatap dan diam. “Asep gila!” pikirnya. “Gue juga ga suka bu kepsek, tapi tindakannya sama sekali menjijikan. Dia penjilat sadis, psikopat dengan otak mesum.” Ujar Agus.
“Hal ini nanti kita selesaikan nanti.” Ucap Tito.
Merri mengambil boneka jailangkung yang memang di simpan disana. Kemudian ia melihat sebuah kertas ukuran besar yang di gulung sembarangan. Foto sang istri dan juga ada satu foto bu Lira ukuran kecil.
“Untung kita datang lebih cepat. Dia berencana untuk mencobanya.” Ujar Merri.
“Buat apa? Mau santet bu Lira?” tanya Karin.
“Dia pasti ingin bertemu istrinya.” Lenjut Merri memperlihatkan foto masa pak Asep yang duduk bersanding dengan wanita muda bersahaja.
“Ya udah kita keluar! Gue ga tahan disini lama-lama!” teriak Karin.
“Ya!!”
Mereka keluar dari kamar yang sangat pengap dan bau itu. Ingat akan Arinda? Ia saat ini memegang sebuah asbak kaca dan berdiri di depan pak Asep yang terlihat tidak berdaya.
“Maaf... bukan itu maksud saya...” mohon pak Asep.
Arinda sudah di penuhi emosi. Suhu badannya sudah tidak menentu karena dorongan darah muda yang penuh dengan amarah. Ujung-ujung jarinya terasa gatal. Ingin rasanya merobek mulut pria ini.
“Maaf... jangan adukan kepada bu Lira...” pinta pak Asep lagi.
“TIDAK AKAN PERNAH!!! TUA BANGKA MATILAH KAU!!!!” teriak Arinda yang mengangkat asbak itu keudara. Ia siap mengayunkan dan mendarat keras ke kepala pria di hadapannya. Asep memejamkan matanya.
“Arinda....!!!” teriak Karin.
“ARINDAAAA!!!!!”
__ADS_1
PRANK......
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung....