
“Kenapa pula gue harus bohong?” Arinda yang tengah duduk di ruang kerja sang ibu tengah mengalami perang batin.
Dia tidak tau kenapa dia begitu gengsi mengakui semuanya di depan Karin. Jelas dia melihat makhluk aneh itu, dia juga di ganggu saat siang bolong kemaren, kemudian mimpi buruk dan semalam dia juga tidak bisa tidur nyenyak.
“Apa yang mengganggu hidup gue, kenapa gue egois sih?” pikirnya lagi. Arinda mengacak-acak surai hitam panjang itu.
“Kamu ga ke kantin sama teman-temanmu?” tanya Lira melihat putrinya yang tumben sekali main keruangannya.
“Bunda, setelah kita mati arwah kita ikutan mati atau gentayangan?” tanya Arinda tiba-tiba.
Lira menyeringitkan dahinya, “kenapa kamu bisa tanyain hal seperti itu?”
“Bun, kak Alisya arwahnya tidur di kuburannya atau gentayangan kayak di film horor ga sih?” tanya Arinda.
Lira diam sejenak, sudah lama mereka tidak membahas Alisya Putri Lubis, putri pertamanya. “Dia tidak akan gentayangan, karena semua yang hidup itu pasti mati dan tidak akan kembali lagi ke dunia. Mereka sudah di tanam
di tanah dan pastinya semakin lama jasadnya akan hancur di makan cacing dan kemudian menjadi bagian dari tanah itu sendiri. Pastinya tidak ada yang bangkit, film horor itu hanya mengada-ngada.” Jelas Lira.
Arinda mengangguk paham. Semua penjelasan ibunya sangat masuk akal. Jika orang mati bisa hidup kembali pastinya dia akan bertemu dengan kakaknya bukan dengan Mikha. Tapi, “Bun, kalau mimpi buruk itu karena apa?”
tanya Arinda lagi.
“Karena kamu sedang stress, makanya semua pikiran tidak sehat itu menghantui kamu dalam mimpi.” Jelas Lira, “Kamu memangnya kenapa, tumben menanyakan hal-hal seperti itu, apa anak-anak di kelas kembali membahas
hantu dan kesurupan?”Lira mulai jengkel.
“Gak kok!” Jawab Arinda segera, “Aku kemaren melihat acara TV yang sangat seram dan aneh. Disana masa ada wajah yang sama persis dengan aku dan teman-temanku. kepala mereka di penggal.” Jelas Arinda.
“Kamu kenapa bahas omong kosong seperti itu sih? Makanya kalau Bunda suruh belajar ya belajar, jangan kebanyakan nonton.” Ujung-ujungnya Arinda malah di omelin.
Tok tok
“Bu Lira, kepala yayasan sudah datang.” seorang guru datang dan mengingatkan jadwal pertemuan bu Lira
“Baik, suruh mereka keruangan saya.”
“Baik bu Liraa.”
“Arinda, Bunda sibuk, bisa kamu keluar, lagian sebentar lagi kamu ada kelas.” Pinta Lira yang sangat profesional dan terhormat ini.
“Baik Bu Kepala Sekolah.” Jawab Arinda.
Saat ia meninggalkan ruangan Lira kembali mengingatkan Arinda, “Ingat baik-baik, jadikan kematian Alisya sebagai pelajaran hidup kamu. Rajin belajar dan berhati-hati dalam bergaul. Jangan pikirkan hal yang mustahil
__ADS_1
di luar sana.” Ucap Lira, “Dan aku tidak mau kamu bergaul dengan anak berandalan seperti Karin lagi, ingat! Jika dia kembali berbuat kasar saya tidak akan segan-segan mengeluarkannya dari sekolah ini.” ucap Lira lagi.
Arinda menghela nafas lelah, lalu mengangguk lemah.
Dia sadar, membicarakan suatu hal dengan ibunya pasti tidaklah mudah. Ibunya sangat mencintai pekerjaannya. Dia memang wanita tangguh hebat dan kharismatik, tapi untuk urusan lain ibunya hanyalah wanita kaku yang
kolot. Tidak bisa diajak diskusi dan bicara santai. Sesaat Arinda mengingat wanita keibuan lainnya. Dia ibunya Merri. Entah kenapa pesona ibunya Merri membuatnya takjub sekaligus iri di waktu bersamaan. Saat itu timbul di benaknya:
“Seandainya itu aku, apa kepala sekolah ini akan melakukan tindakan yang sama atau hanya menyalahkan aku seperti apa yang dilakukan kak Alisya?”
“Entahlah?” kembali lagi Arinda hanya menghela nafas lelah. “Sepi banget!” keluhnya.
Dari arah jauh, dia melihat Merri yang tengah duduk di dekat lapangan basket. Siang itu kondisi lapangan basket masih sepi. Terik matahari membuat anak-anak cowok yang biasa main menjadi males berhadapan lansung dengan si raja siang.
Melihat Merri yang fokus membaca buku membuat Arinda ingin mendekatinya.
“DUAR!!” Arinda mengagetkan Merri.
Merri tidak bergeming sedikitpun, tubuh kecil itu hanya membalikkan badannya dan melihat sosok Arinda dengan wajah datar.
“Ooo Arinda?!” ucapnya tidak percaya. Telat sekali kagetnya, pliss deh
“Lo ngapain disini, sendirian?” tanya Arinda. “Lu ga takut, konon katanya disini banyak hantunya loh?” goda Arinda.
“Kan hantu itu tidak ada, hehehe!” Merri mengalihkan pembicaraan, dia malah tertawa kaku.
“Hahaha, itu gue yang ngomong, ingat aja.” Ucap Arinda yang ikutan tertawa. “Tapi kenapa lo disini sendiri, trus lu baca buku apa?” tanya Arinda yang melihat buku kuno Merri.
Merri tidak bisa menjawab apa-apa, dia tidak tau harus menyembunyikan buku ini kemana. Situasi ini membuatnya sulit.
“Coba gue lihat?” Arinda mengambil buku itu, lalu dia melihat sampulnya yang kuno dan halaman yang rapuh.
“Ini buku apa?” tanya Arinda. Dia melihat huruf-huruf yang tidak seperti biasanya.
“Itu buku dari nenek aku. Dia suruh aku baca buku ini.” jelas Merri sedikit takut.
“Dari nenek kamu?” Arinda membelalakkan matanya, “Nenek kamu orang mana, trus kenapa harus huruf ini? apa ini tulisan Tagalog atau rusia?” Arinda sungguh penasaran.
“Sansekerta kuno. Aku tidak tau se kuno apa, tapi aku disuruh baca buku ini, katanya penting.” Jelas Merri.
“Merri, nenek kamu orang jawa ya?” tanya Arinda. “Aku juga keturunan jawa tapi ga ada tuh di suruh belajar bahasa dan tulisan sansekerta.”
“Nenekku agak unik.” Jelas Merri sungkan. Dia hanya tersenyum kaku.
__ADS_1
“Lalu isinya tentang apa?” tanya Arinda, dia haus akan rasa ingin tau.
“Sejauh ini aku baru bisa terjemahkan bab satu aja, isinya masih berkaitan akan norma dan tingkah laku manusia. Disini kita di jelaskan untuk selalu bersikap rendah hati, legowo, sabar, tidak berlebihan, tidak serakah dan menghormati sesama manusia dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Lalu di bawah gambar padi ini ada sebuah pepatah menyatakan, untuk mengikuti cara hidup tumbuhan padi, yang semakin berisi dia menundukkan kepalanya.” Jelas Merri.
“Coba saja Lira seperti padi.” Gumam Arinda.
“Eh, siapa?” tanya Merri.
“Hahaha ga ada apa-apa kok.” Seru Arinda tiba-tiba. “Tapi Merri, lu percaya ga kalau orang mati arwahnya masih berkeliaran?”
“Kenapa kamu tiba-tiba nanyain hal gituan?”
“Tiba-tiba saja gue sering mengalami hal aneh.”
“Kamu mengalami hal apa?”
“Tapi bisa gak lo simpan rahasia ini, gue ga mau Karin atau yang lain tau. Gue sendiri juga ga yakin apa yang gue lihat ini nyata atau faktor gue udah ga betah dirumah aja.” Arinda terlihat sangat serius.
Merri mengangguk.
“Gue seperti di hantui Mikha. Tapi gue ga tau alasannya apa, kadang dia seperti minta bantuan, kadang dia juga mengancam gue. Gue udah cerita ke nyokap, tapi nyokap gue ga percaya hal seperti itu, bokap sama saja. Tapi menurut lo itu apa?”
Merri tidak menjawab apa-apa. Dia tidak berani menyimpulkan apa yang baru ia dengar.
“Apa permainan jailangkung yang di lakukan anak-anak kelas itu berhasil?” pikir Arinda. “Menurut lo?”
“Aku juga ga tau.” Jawab Merri lesu. “Apa gara-gara kejadian ini kamu jadi percaya setan dan sejenisnya?” tanya Merri.
Arinda mengangkat bahu, “Kalau gue percaya yang seharusnya gue lihat bukan Mikha tapi kakak gue, kakak gue yang meninggal dua tahun yang lalu. Dia meninggal tepat di depan mata gue sendiri.” Jelas Arinda, “Itu rahasia terbesar hidup gue yang sebenarnya. Keluarga kami membuat kehadirannya tidak diketahui orang banyak. Begitu juga kematiannya. Aku tidak tau kenapa.” Jelas Arinda.
Merri hanya terdiam. Itu rahasia yang sangat penting. Kenapa Arinda mau menceritakannya? Apa dia percaya dengan Merri, padahal mereka baru saling mengenal.
.
**btw ini bukan Toto, ini Pisle, kucing aku yang kata ponakan dan sodara, "Matanya serem banget. Bikin takut!"
padahal Pisle itu imoet tau... apalagi kalo angkat kakinnya, bikin gemess soalnga kakinya pendek, percis sama yang punya hahahaa... 😸😹**
.
.
__ADS_1
.