
Merri menutup buku yang sudah dua hari dua malam ia baca. Ada banyak pembahasan yang ia baca, semua rata-rata mengenai pengenalan awal mengenai dunia nyata dan dunia ghaib. Dari pemahaman itu akhirnya Merri menyadari satu hal atas dirinya.
"Aku Iternyata indigo?" pikir Merri. "Dari kecil sering sakit-sakitan dan bisa melihat mereka bahkan sekarang aku berinteraksi dengan mereka dan pergi kedunia mereka, aku ga nyangka kalau semua kesialan itu adalah Indigo." keluh Merri melihat kedua tangannya yang kecil dan kurus.
"Ini buku lain yang perlu kau baca juga!" Mbah Uti memberikan satu tumpuk tua lagi. mungkin ada tujuh atau sepuluh buku.
"Banyak banget?" keluh Merri dengan nada yang lemah.
"Gapapa, biar pintaran dikit." jelas Mbah Uti. "Karena mbah gak mungkin membantu kamu setiap hari disini." jelas mbah Uti.
"Mbah mau pulang?" tanya Merri membulatkan matanya tidak percaya. "Cepat banget?!"
.
.
.
Akhirnya pagi menjelang. Mbah Uti berpamitan, Merri dan Kusuma mengantarkan wanita tua tangguh itu ke bandara.
“Mbah ga bisa nginap sehari lagi, aku masih ingin banyak ngobrol sama mbah.” Merri memeluk mbah Uti saat mereka telah tiba di badara jalur International. Merri menunjukkan wajah sedih, sejak semalam dia tidak mau berpisah dengan mbah Uti. Bahkan ia meminta agar mbah Uti nginap satu malam lagi.
“Hmmm sudah berapa kali mbah bilang, ini keberangkatan darurat. Mbah harus berangkat. Pak Tejo nelfon mbah, ada pasien VIP yang harus mbah tangani” Jelas Mbah Uti.
“Mbah ga pulang ke Jawa?” tanya Merri.
“Huft, diantara semua cucu yang aku punya kenapa dia yang paling lamban?” pikir Mbah. “Kusuma coba kau jelaskan saja, aku mau nyirih dulu sebentar.” Ucap Mbah agak ketus.
“Merri mbah ga pulang kok, Mbah mau ke Hongkong.” Jelas Kusuma singkat.
“Ha?!”
“Kamu ga liat ya kalo sekitar kamu banyak orang asing, ha?!” bentak mbah Uti lagi.
Merri melihat sekitarnya. Ia baru sadar jika rata-rata yang lalu lalang adalah para turis mancanegara dan juga beberawa warga lokal yang berstelan rapi dengan pakaian sangat nyaman seolah memang melakukan penerbangan yang sangat jauh, bukan sekedar satu atau dua jam semata lagi.
“Ooo kita di bandara Internasional ya?” tanya Merri.
“Lamban sekali, bagaimana dia menjadi penerusku, ya Gusti?!” Mbah Uti tepok Jidat. Kusuma menepuk punggung ibunya pelan. “Sabar ya Bu.. hehehe!!”
“Merri, kau harus mengenal dirimu terlebih dahulu, jangan gampang tersulut emosi dan jangan ikut campur masalah orang lain jika...”
“Dia yang meminta bantuan.” Ingat Merri.
“Tepat. Hal sedikit itu harus kau ingat. Gali kemampuanmu dan tetap waspada baik kepada manusia maupun setan, karena hakikatnya sama saja. Menyebalkan.” Ucap neneknya.
“Huft...Baik Mbah.” Mendengar penjelasan itu saja membuat punggung Merri terasa berat. Dia seolah memikul tanggung awab yang besar. “Apa aku bisa menjalani kehidupan seperti kalian? Apakah aku harus seperti kalian?”
pikir Merri dalam hati kecilnya.
__ADS_1
Mata Merri melihat sekitar, dia melihat beberapa orang dengan aura yang pekat. Mereka mengenakan pakaian kaos dan kemeja yang kusam, jalan terseok-seok karena kakinya yang di timbun dengan semen yang mengering. Di balik helem proyek itu Merri melihat ada darah yang agak menghitam menetes hingga tetesan itu jatuh ke semen yang ada di kaki. Mata sayu itu hanya menatap lemah kedepan, berjalan melintasi mereka bertiga.
"Abaikan?" pikir Merri memerintahkan dirinya. Sedikitpun dia tidak merasa ketakutan. Bahkan ia merasa kasihan dengan apa yang ia lihat kal ini. "Abaikan jangan ikut campur." pikir Merri lagi.
Mbah Uti dan Kusuma saling pandang. Mereka hanya tersenyum simpul melihat perkembangan Merri.
“Tejo sudah datang.” Ucap Mbah Uti. Tejo saudara Mbah Uti yang sekaligus merangkap sebagai asisten yang selalu membantu mbah Uti dalam memenuhi kebutuhan ritual dan juga penjembatan antara dengan orang asing. Berbeda dengan mbah Uti yang suka penampilan glamour dan berani dengan perhiasa, Pak Tejo berpenampilans angat tradisional. Dia setia dengan blankon dan kemeja berwarna coklan berlengan panjang dan selop yang menutupi kaki tuanya.
Mereka berpisah disana, Kusuma memeluk ibunya. “Jangan lupa kirim kabar kalau sudah sampai.”
“Iya, kalau sempat. Disana saya sangat sibuk pastinya.”
“Jaga ibuk yak Pak le.” Ucap Kusuma kepada Tejo. Pria itu mengangguk ramah.
“Kau harus banyak belajar, nanti saya belikan komputer kalau dapat rengking di kelas, walau itu mustahil.”
“Terakhir aku dapat rengking dua, nilaiku Cuma jelek di pelajaran olehraga aja.” Ucap Merri yang memeluk neneknya.
“Pintar juga ternyata.” Mbah Uti kaget mendengar pengakuan Merri.
Dua orang tua dengan stelan bagaikan langit dan bumi itu akhirnya masuk untuk mengurusi registrasi keberangkatan. Kusuma dan Merri segera meninggalkan Bandara.
.
.
.
Diatas sedan yang mereka kendarai sebuah Pesawat melintas tidak jauh dari atas mereka. Merri menurunkan kaca mobil dan melihat ke langit biru pagi itu.
“Mbah berani banget ya Bu?” tanya Merri sekaligus kagum.
“Dia memang suka jalan-jalan. Dia awalnya juga penakut sama sepertimu. Takut bertemu orang, takut di ikuti gendoruwo, di ikutin wewegombel dan kuntilanak, bahkan dia akan teriak saat melihat tuyul berlari ke belakang
dapur.” Jelas Kusuma.
“Sejak Kapan mbah jadi berani?” tanya Merri antusias.
“Saat dia akhirnya bisa menerima dirinya sepenuhnya, dia berdamai dengan badan yang ia miliki, dengan matanya yang bisa melihat mereka yang seharusnya tidak ingin ia lihat. Dengan hidung yang mencium aroma mereka dan telinga yang bisa mendengar mereka dan dengan takdir yang dia jalani.” Ucap Kusuma.
“Tapi aku sampai sekarang masih tidak ingin menjadi seperti kalian. Aku tidak mau jadi dukun. Aku tidak tau mau jadi apa asal jangan dukun saja.”
“Hahaha!” Kusuma tertawa mendengar ucapan Merri, “Tidak dari kami yang ingin menjadi seperti itu, baik aku ataupun mbah Uti. Tapi saat orang butuh bantuan maka tidak ada alasan untuk di tolak Merri hanya itu takdir yang
tidak bisa kau tinggali.Lagian Mbah juga bukan hanya seorang dukun dia juga Indigo sama sepertimu.”
“Apa yang terjadi jika kita menolak bantuan mereka?” tanya Merri.
“Iblis yang akan mengambil alih dirimu, dia mengambil kesempatan untuk menguasai manusia yang menguasai dirinya.”
__ADS_1
“Apa Rohi?” Merri memegangi lehernya. “Jika Rohi menginginkanku, lalu bagaimana dengan Ibu dan Mbah, seperti apa makhluk yang mengikuti kalian?”
“Ibu tidak di intai siapa-siapa, paling ia hanya seorang teman. Dia hanya Setan yang menjaga hutan. kami bertemu saat pesta topeng di sebuah pesta rakyat tempo lalu. ibu mengenakan topeng bagong, Dia memakai topeng seperti reok. Setiap bertemu selalu mengenakan topeng itu. Kami belum melihatkan wajah satu sama lain. Tapi itu dulu, dia akhirnya hilang begitu saja. itu berakhir saat ibu berusia tujuh belas tahun." Jelas Kusuma, " Saat ini ibu hanya menjaga peliharaan nenekmu, dia yang membantu ibu dalam urusan dunia ghaib. Ibu disarankan untuk tidak melihatnya. Sebab hanya nenek yang boleh melihatnya.” Jelas Kusuma.
Merri hanya terdiam. Dia baru tau kalau kedua wanita hebat itu ternyata memiliki ceritanya sendiri. Bahkan ia baru tau kalau mbah Uti pernah di masa ia membenci dirinya, seperti yang pernah ia alami.
“Apa yang kau lihat di bandara tadi?” tanya Kusuma. “Aku seperti mencium aroma busuk.” Lanjut kusuma.
“Hmm... seorang pria yang kakinya mengeras karena di semen dan wajahnya berdarah. Sepertinya korban saat membangun bandara.” Lanjut Merri. “Hah?!” Merri menutup mulutnya, “Buk, kok aku ga merinding dan ga kaget melihat mereka, padahal mereka ada banyak?!” Merri membulatkan matanya. Dia bahkan meninggikan suaranya seperti seorang bocah yang baru dapat hadiah berupa mainan.
Kusuma hanya tersenyum, “Selamat ya, kau jadi sedikit lebih berani.” Ucapnya tulus. “Ternyata segala sesuatu memang butuh proses, termasuk keberanian.”pikir Merri.
“Oke nona muda, kamu sudap sampai di sekolah. Cepat turun dan berikan surat ini, ibu telah menelpon pihak sekolah dan bilang kau agak terlambat.”
“Isinya kok aga tebal?” tanya Merri meraba isi amplop itu.
“Hanya voucher makanan untuk tiga puluh orang, semoga pas dengan jumlah gurumu.” Jelas Kusuma. “Ibu segera berangkat, sepertinya ibu harus menemui Pak Randi, dia meninggalkan pesan singkat di ponsel ibu. Dahh!!”
Merri melambaikan tangannya. Ia memasuki gerbang sekolah tanpa mengalami kesulitan sedikitpun. Selain mantra dan ilmu guna-guna, voucher makanan ternyata lebih ampuh untuk meluluhkan hati guru BP.
Merri menyusuri lorong sekolah, yang sepi. Para siswa memang di dalam kelas, jam istirahat akan berbunyi setelah dua jam pelajaran kemudian. Namun Merri mendengar gaung dan gema yang tidak karuan. Ada suara wanita yang
tertawa dan berteriak di waktu bersamaan. Suara pria yang membentak dan memukul meja. Suara itu berada disekitarnya, namun di pastikan tidak ada siapa-siapa disana.
“GHAHAHAHA.... HYIIAAAAAAAAA...!!!”
“GYAAAAA!!!!!”
“HAHAHAHA!!!”
“GRUUUUUUU...!!!”
“Aku tidak takut lagi dengan kalian, diamlah!” lirih Merri.
“GYAAAAAhahaha!!!”
“UMPA UMPA UMPA!!”
“Sebelum aku panggang kalian, menjauhlah dariku, se ka rang JUGA!!” bentak Merri. Dia sungguh mengeluarkan taringnya dan tersenyum licik. Namun cara itu berhasil, lorong kelas menjadi hening. Yang ada gema suara guru yang mengajar di kelas dan gelak tawa dan sahutan siswa.
“Merri!!”
Merri menoleh kebelakang dan ia melihat siswa yang ia kenal. “Lo tadi bicara dengan siapa?” tanya siswa itu yang tidak lain adalah Arinda.
“Gawat?” pikir Merri.
.
__ADS_1
.
.