
“Arinda jangan!”
"Itu suara ayah, itu suara ayah. Aku mendengarnya. Tapi kenapa aku tidak bisa melihatnya. Kenapa keadaan disekitar sini gelap? Ugh.. kepalaku sungguh pusing. Aku kenapa? Kenapa keadaan disekitar sini gelap dan berputar?"
Arinda jelas tidak sadar, jika ia terperangkap dalam tubuhnya sendiri. Semua dikendalikan oleh makhluk asing yang berhasil masuk kedalam tubuhnya.
“Mataku... tolong bukalah...!!” pintanya.
Pemandangan disekitarnya begitu kabur. Lalu dalam pemandangan masih buram itu ia melihat beberapa baris tulisan bertinta merah.
"Apa itu? Kenapa aku tidak bisa melihatnya. Kenapa aku tidak bisa membacanya? Kenapa mata ini sulit untuk di buka, mimpi macam apa yang aku alami?"
Batin Arinda terus perang, semantara ia tidak sadar telah berbuat aneh dan di luar kemampuannya sendiri. Namun, ia tetap berusaha untuk membuka matanya. Lama-kelamaan ia melihat satu garis cahaya. Pemandangan itu
samar-samar memperlihatkan sebuah bayang jendela d kamarnya yang selalu menghadap rembulan. Ia mencoba mendekati sumber cahaya itu. Tapi langkah kakinya juga terasa berat, dia bingung. Tubuhnya tidak bisa ia kendalikan. Anehnya ia mendengar suara bising di sekitarnya.
“AARINNDAA!!!”
Suara ayah?
“ARINDA, sadarlah!”
Dalam keadaan setengah sadar dengan mata yang belum ia kuasa untuk melihat sepenuhnya. Arinda meihat satu bayangan berdiri di depan jendela kamarnya. Wanita yang mengenakan piyama bewarna biru laut dan motif bunga
tulip. Gadis itu menggantungkan lehernya di fentilasi kamar jendelanya. Dengan leher yang sudah patah dan wajah sudah pucat pasi, ia bersuara:
“Arinda, sadarlah!”
“Kakak!!”
Saat itu mata Arinda sepenuhnya sadar dan ia pun telah berdiri di ambang pintu jendela yang terbuka lebar. Karena pijakan kaki yang tipis, tubuh ramping itu kehilangan keseimbangan dan siap terjun bebas ke bawah.
“Ayah!” lirihnya bingung. "Kenapa aku melompat dari jendela kamar? Apa aku ingin mati?" pikir Arinda yang tampak siap mati hari itu. Arinda memejamkan matanya dan membiarkan tubuhnya terjun bebas kebawah.
“ARINDAAAAA?!!” ia mendengar teriakan ibunya.
HAP
Tubuh Arinda menggantung lemas di jendela, tapi tangan itu berhasil di raih Ajar. Sekuat tenaga Ajar menarik tubuh putrinya. “Lira, bantu saya!!”
Lira pun segera menghampiri Ajar, dia meraih satu tangan Arinda dan bersama Ajar menarik tubuh putri mereka yang tidak sadarkan diri.
Saat semuanya beres, tubuh lelah tak sadarkan diri itu kembali direbahkan di atas kasur. Lira dan Ajar merapikan kamar yang berantakan.
“Apa yang terjadi dengan Arinda, apa dia mengkonsumsi narkoba?” pikir Lira.
“Ntahlah, selama ini dia baik-baik saja.” Jawab Ajar.
__ADS_1
“Aku harus mencari tau, aku tidak mau tertipu kedua kalinya. Aku tidak mau Arinda seperti Alisya.” Lira menyalakan lampu kamar dan pemandangan di dinding membuat Lira tertegun ketakutan.
“Ayah, coba lihat.” Unjuk Lira melihat hasil coretan Arinda dengan spidol Merah.
Hong ilaheng, heh jagad alusan roh gentayangan. Jailangkung jailangsat siro, ning kene ono, siro angslupo, yen siro teko hyo ndang angslupo.
“Ini bahasa Jawa, yang mengandung arti untuk memanggil setan dalam ritual jailangkung.” Jelas Ajar setelah membaca tulisan tersebut. Seekor laron masuk dari jendela dan kemudian menempel di dinding kamar tersebut.
“Kenapa bisa Arinda menulis hal seperti ini? sepertinya dia memang menggunakan narkoba.” Pikir Lira.
“Lira, jangan gegabah. Biarkan dia istirahat malam ini, besok kita akan periksa ke dokter kenalanku.” Jelas Ajar.
Lira memperhatikan wajah Arinda yang tidak sadarkan diri. Ia mengusap wajah putrinya dan memperhatikan lekat-lekat wajah itu. “Dia terlihat pucat.” Komentar Lira.
Detik itu juga mata Arinda kembali terbuka. “GYAA!!” Lira teriak kaget. Dia melihat dua bola mata yang melotot, memamerkan urat merah tipis di mata itu, terlebih lagi didepan Lira itu, pupil mata yang berwarna hitam itu seketika memutih.
“GYAAHAHAHAHAHA!!” iringan gelak tawa semakin mencekam suasana.
Lira terkejut dan terjatuh duduk. “GYAA... Arinda... kamu kenapa, Nak?!”
“Lira, cepat bangun!” Ajar membantu Lira untuk berdiri.
“Arinda kenapa, Yah?” tanya Lira.
“GYAHAHAHA!!!” yang di tanya malah kembali bangkit dan duduk bersila di atas tempat tidurnya.
“Arinda jangan bercanda, ini tidak lucu. Ayah dan Bunda tidak suka kamu seperti ini.” ingat Ajar.
“GYAHAHAHA... manusia-manusia bodoh. Kalian terlalu terlena dengan dunia sehingga lupa dengan kami.” Lanjut Arinda.
Ajar dan Lira hanya saling pandang. Mereka mulai merasa ada yang beda dari putri mereka. Suara itu, bukan warna suara putrinya, suara itu agak lebih besar dan melengking, di tambah dengan warna mata, lengkung senyum
jahat dan juga caranya melihat Ajar dan Lira, sungguh lain dari Arinda yang biasa.
“K kau si siapa?” tanya Ajar tidak yakin.
“GYAHAHAHAA!!!” tawa itu pecah saat ia mengendus aroma ketakutan dari dua manusia di hadapannya. “Kematian, ingat saja nama itu! GYAAAHAHAHAHA!!!”
Keadaan kamar kembali bergerak dan terguncang. Beberapa barang seperti foto dan lukisan yang di gantung terjatuh ke lantai. Segerombolang serangga bernama Laron juga berhamburan dan saling berterbangan tidak beraturan. Entah dari mana munculnya mereka.
“GYAA..!” Lira yang tidak kuasa menahan keseimbangan badannya lansung menghantam tubuh Ajar. Mereka berdua sama-sama terlempar keluar dari kamar itu.
BLAM!!
Pintu kamar itu terbanting, terutup dan terkunci dari dalam. Ajar berusaha bangkit dan mendorong pintu kamar itu.
“ARINDA... BUKA PINTUNYA!!” teriak Ajar. Tidak ada jawaban.
__ADS_1
BUK BUK!!!
"ARINDAAA!!!" teriak Ajar sekali lagi.
Lira yang di landa rasa takut hanya bisa menangis. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Lira panik.
“Panggil dokter.” Usul Ajar.
“Dokter apa? Dia tidak sakit dia hanya terlihat aneh?” jelas Lira setengah panik.
Ajar berfikir sejenak, “Apa jangan-jangan...”
Lira menatap wajah Ajar dan kemudian hanya terdiam. “Tidak mungkin!” isak Lira yang menutup kepalanya, “Anak kita tidak gila, jangan kau telfon adikmu yang dokter kejiwaan itu.”
“Kita coba saja dulu!” Ajar bergegas untuk mengambil buku telfon dan mencari nomor telfon adiknya. Lira antara yakin ataupun tidak hanya berharap putri tidak mengalami masalah seperti apa yang di duga oleh suaminya ini.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G
Merri akhirnya sampai di rumahnya yang sangat besar, luas namun juga gersang dan mencekam. Ya, ini memang rumah peninggalan almarhum ayahnya yang sudah meninggal saat ia masih dalam kandungan sang ibu.
Walau terlihat menakutkan, rumah itu terkadang sering di datangi oleh orang-orang. Mulai dari orang biasa hingga mereka dengan mobil mewahpun pernah bertamu kerumah ini. Biasanya mereka meminta jimat atau sejenis
penglaris kepada ibunya agar semua usaha atau keinginan mereka dapat tercapai. Seperti malam ini, Merri melihat satu mobil kijang terpakir di halaman rumahnya. Seorang supir sedang merokok di sana sambil mendengar radio.
“Ibu ada tamu ternyata.” Gumam Merri yang kemudian berlalu saja.
Dari jendela rumahnya, ia melihat ibunya terlihat cemas. Tamu itu juga terlihat serius membahas suatu masalah.
“Aku pulang.” Sahut Merri saat memasuki rumahnya.
“Kamu sudah pulang? Kenapa hari ini pulangnya telat?” tanya Kusuma kepada Merri.
“Habis dari rumah teman.” Jelas Merri. Dia menatap sang tamu yang sepertinya pernah ia lihat.
“Ehem, kamu masuk dulu dan istirahat di dalam, ya.” Perintah Kusuma.
Merri mengangguk dan ia segera meninggalkan ruang tamu.
“Kusuma, saya menemukan ini di kamar anak saya.” Ucap tamu tersebut mengeluarkan sesuatu yang di bungkus dengan kain hitam.
Mendengar hal itu, Merri berinisiatif untuk mencuri dengar. Terlebih ingatan saat di pemakaman Mikha membuatnya kembali teringat wajah salah satu pria disana, tidak lain kalau dia adalah ayah gadis yang telah meninggal itu.
“Pak Randi, tidak baik kita bahas hal itu disini.” Jelas Kusuma. “Ikuti saya!” ajaknya kemudian.
Merri yang berdiri di bawah anak tangga memperhatikan arah pergi sang ibu dan juga pria bernama Randi tersebut.
“Mereka pasti keruangan itu.” Gumam Merri yang kemudian dengan diam-diam mengikuti dari belakang.
__ADS_1
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...