Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
49 Empat Serangkai


__ADS_3

Malam pukul sembilan malam waktu setempat. Mobil jip hitam dengan roda penuh pasir berheti di depan pagar SMA Kassanova. Si pengendara mobil yang tak lain seorang pria berkaca mata itu turun. Menginjakkan kakinya


di tanah bangunan pendidikan ternama. Di belakangnya ada seorang gadis berambut panjang. Gadis itu tampak yakin. Dia berdiri si samping pria itu. Sedangkan di sisi kanannya, gadis berbadan lebih kecil dan kurus. Wajahnya tampak datar tanpa ekspresi.


“Yakin nih?” tanya si cowok itu.


“Oiii gua ga masuk ya...!!!” seru salah satu temannya yang berbadan gendut. Dia masih duduk di dalam mobil. disampingnya juga duduk temannya yang memiliki badan lebih kecil darinya.


“KALIAN?!”


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


Tito menanarik tangan Fitri agar turun dari mobil. Gadis itu menahan dengan mengerahkan seluruh tubuhnya, agar cowok itu tidak bisa membuatnya berpisah dengan kursi mobil.


“Lu harus ikut!? Buruan Turun!” ajak Tito.


“Gak akan pernah, demi apapun gue ga mau kembali ke kelas ini. Ga buat malam ini!” bentak Fitri. “Jangan paksa gue, jangan...!!!” teriak Fitri.


“Karin, SOS, Help!!” pinta Tito.


“Sorry, To. Kali ini gua akan bertindak sama dengan Fitri. Gue udah ga mau lagi terlibat sama setan-setanan. Lagian kenapa harus malam ini sih?” tanya Karin. Tangan Karin menahan baju Fitri dari belakang.


“Iya, gue juga ga mau. Ogah. Di sogok sama apapun gua tetap nolak!” tambah Fitri.


“Es krim duren?”


“Hmm... ga... ga... gue ga mau!” tegas Fitri yang sebenarnya hampir mengubah jawabannya.


Sementara itu, Merri mengintip ke dalam pagar sekolah. Malam itu sekolah tampak gelap. Tidak ada aktivitas apapun disana. Jangankan guru, pak Asep yang jagain sekolah juga tidak kelihatan. Arinda juga mengintip. Bulu kuduknya merinding. Di malam hari, sekolah terlihat sangat menakutkan baginya.


“Apa kita yakin ambil boneka ini malam ini?” tanya Arinda


“Aku mau bawa boneka itu secepatnya. Gak apa-apa kok kalau kalian gau mu ikut. Aku juga gak mintak kalian untuk masuk kedalam.” Kata Merri.


“Noh dengarin Merri!!” ucap Karin dan Fitri. Tito akhirnya berhenti menarik Fitri. Lagian semua usahanya sia-sia. Dia kalah kekuatan dengan Fitri.

__ADS_1


“Kenapa?”  tanya Tito.


“Kalian pulang aja. Biar aku yang masuk dan ambil boneka jalilangkung di kelas.” Ucap Merri lagi.


“Jangan gitu dong.” Arinda merasa ga enakan. Dia kembali melirik ke dalam pagar sekolah. “Apa lo berani masuk ke sekolah jam segini?” tanya Arinda lagi.


“Hmm... gimana lagi. Soalnya boneka itu harus aku kasih ke ibu, biar bisa di amanin sama ibu. kalau di tunggu besok, aku takut  ada korban lagi.” Jelas Merri.


“Ibu kamu bisa jaga boneka itu?” tanya Fitri.


“Emang ibu lo apa?” tanya Karin penasaran. Fitri dan Karin belum tau siapa orang tua Merri sebenarnya.


Merri menggigit bibir bawahnya. “Apakah membicarakan pekerjaan ibu ga akan jadi masalah?” pikir Merri.


“Ibunya orang baik dan hebat.” Jawab Tito.


Arinda mengangguk cepat. “Ibunya juga selamatin gua waktu kerasukan kemaren.”


“Dukun maksud lo?” tanya Karin. “AUCH!” Karin mendapat cubitan dari Fitri.


“Mulut lo masih kek setan aja.” Bisik Fitri ke Karin.


“Serius?” tanya Karin lagi.


“Karin...?!” kode Tito agar dia bersikap biasa. Arinda dan Fitri juga menatap Karin. Suasana menjadi hening dan Merri merasa terhakimi atas diamnya mereka dalam beberapa detik.


“Kenapa lo, To? Dukun atau paranormal di mata gue keren.” Seru Karin. “Gue jujur dari hati gue. Serius, gue ga ngarang.” Ucap Karin tulus ke Merri.


Tito, Arinda dan Fitri merasa lega. Sedangkan Merri tersenyum kecil. Dia tidak menyangka kalau Karin memberi respon yang sangat di luar dugaannya.


“Pantes aja lo bersikap agak aneh.” Lanjut Karin yang membuat tiga sahabatnya kembali was-was.


“Karin...!” Kali ini Fitri berbisik cukup keras agar Karin bersikap lebih sopan. “Nih anak ga belajar dari pengalaman.” Pikir Fitri.


Merri tidak merespon apa-apa. Sebab gadis yang suka ngomong semaunya itu masih melanjutkan semua isi hatinya.

__ADS_1


“Gue kira lu selama ini bersikap aneh karena autis. Tapi ternyata lu bisa berinteraksi dengan makhluk halus. Bagi gue itu keren!” ungkap Karin penuh berbinar. “Gue pengen punya keahlian sepert itu. Waktu kecil gue pernah berharap punya teman yang bukan dari manusia. Kayaknya seru, bisa kemana-mana pake permadani ajaib. Mau eskrim tinggal minta, mau jalan-jalan kemana aja bisa. Cuma bilang abrakedabra wushh yang diminta lansung di kabulkan. Bahkan Aladin jadi seorang sultan karena bantuan Jin. Gue iri sama tuh cowok." Lanjutnya.


“Kan udah.” Potong Fitri, “Udah liat lansung sampe ketempelan dan kesurupan. Satu sekolah heboh lagi.”


“Jangan lu bahas sampe sekolah heboh. Gue masih takut masuk sekolah tau. Rencananya, gue mau absen seminggu soalnya malu ketemu guru sama anak-anak sekolah.” Terang Karin.


“Tau malu juga dia?” sahut Fitri.


“Gue kira urat malunya udah di buang bareng ari-ari dia pas lahir.” Tambah Tito.


“Enak aja!”


Arinda tertawa melihat tingkah teman-temannya. Dia menikmati perdebatan yang konyol ini. Kalau sudah berdebat seperti ini Arinda selalu menjadi pengamat dan kadang tertawa melihat mereka. Di akhir debat selalu di tutup dengan:


“Ketawa aja terus. Dari pada ketawain gua, lu belain gue kek, Nda!” ucap Karin ke Arinda.


“Hahaha... gue ga ikutan.” Ucap Arinda.


Merri tersenyum melihat keempat teman yang kembali akur itu. Diam-diam ia mengambil kesempatan itu untuk masuk kedalam sekolah. Gerbang sekolah yang tidak di kunci memudahkan Merri agar bisa masuk tanpa harus melibatkan mereka lagi. Apalagi ini adalah tugas berbahaya.


Setan yang menarik paksa jiwa Mikha, makhluk yang menyerupai wujud Mikha dan cerita Arinda yang di intai dengan sekumpulan makhluk yang mengenakan jubah besar. Semua itu pasti memiliki kaitan dan sebab-musababnya. Merri dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka terlibatkan mereka lagi. Mungkin mereka akan di ganggu dengan setan yang meniru Mikha lagi atau salah satu dari mereka kembali kesurupan dan menganiaya diri sendiri seperti yang di alami Arinda dan Karin.


Kenapa Merri bisa berfikiran seperti itu? Sebab makhluk yang di maksud sudah berdiri di gerbang kedua SMA Kassanova. Dia dengan pasukan juta laron yang bertebangan di sekitarnya kini melihat Merri dengan seringai senyum yang mengerikan.


“Qorin?” Pikir Merri. Ia melihat makhluk yang menyerupai Mikha telah menunggunya dengan berdiri di gerbang kedua. “Aku harus tenang dan bertindak seolah-olah dia tidak ada.” Pikir Merri. Dengan sikap tenang ia melewati gerbang tersebut.


Makhluk yang menyerupai Mikha itu melirik kearahnya. Laron-laron yang menemaninya juga mengerubug Merri.


“Bersikap biasa dan jangan panik.” pikir Merri lagi.


Mikha dengan wajah setengah hancur, satu matanya yang sudah meleleh karena luka basah. Aroma yang keluar juga amis dan anyir menusuk indra penciuman Merri. Di tambah lagi, makhluk itu sekarang tidak diam dan berdiri lagi. Ia mengikuti Merri. Berdiri di belakang gadis itu. Jarak mereka cukup dekat, mungkin hanya berjarak satu langkah di belakang Merri. Hal itu di rasakan Merri lansung. Kuduknya merasakan hawa yang amat teramat dingin. Ditambah aroma busuk semakin menusuk dan membuatnya menahan nafas. Ia tau Mikha sengaja melakukannya. Ia ingin Merri takut dan menjadi panik seperti yang ia lakukan kepada Arinda waktu itu.


“HMM!!” Merri mencubit hidugnya sendiri. Bau yang di timbulkan makhluk tersebut sangat mengganggunya. Di dalam hatinya, Merri berharap ada ibunya disini. Membantunya untuk mengusir mereka. Tapi hal itu tidak akan mungkin. Dia harus belajar untuk menghadapi semuanya sendirian. Dia tidak boleh diam dan kaburdari masalah ini. Keempat remaja itu telah mempercaiyainya. Arinda, Karin, Tito dan Fitri tidak masalah dengan kehadirannya.


"Sebelum aku meninggalkan sekolah ini, aku harus membereskan masalah ini dulu." pikir Merri. "Aku harus kuat!"

__ADS_1


"Cobaaa Sajaaaa....!!!" bisik makhluk tersebut.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung... 


__ADS_2