
Karin tengah duduk di mobilnnya. Dia menunggu ayahnya yang sedang membeli rokok di sebuah minimarket dekat area pom bensin. Entah kenapa kejadian hari ini menjadi beban pikirannya. Terutama saat di dalam kamar mandi.
Di matanya, ada bayangan menyerupai Mikha dengan sosok yang sangat menakutkan. Antara yakin atau tidak, Karin sungguh ketakutan melihat sosok itu.
.
.
BACK......
“Hancurkan kepala Arinda untukku, biar aku damai, Karin!!!” pinta Mikha di dalam cermin. Ia
berdiri tepat di belakangnya.Sosok itu terlihat pucat dan menakutkan. Selain itu wajah Mikha juga terlihat setengah hancur dengan seragam yang lusuh dan kotor akan noda darah. Begitulah yang ia lihat di cermin. Namun saat ia menoleh kebelakang, tidak ada siapa-siapa.
*Semilir angin menghembus di pundak dan batang lehernya. Karin merinding dan ia ketakutan. Amarahnya kepada Arinda teralihkan akan rasa takut itu.
Tangan kanan yang sudah mengepal menggenggam tangkai pel itu bergerak sendiri. Ia tangannya di luar kendalinya. Tangan ini seketika ingin menghantam kepala kecil Arinda walau sebenarnya ia tidak ingin melakukan itu*.
Karin sontak terkejut kenapa tubuhnya bergerak di luar kendalinya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan tangannya agar menghindari kepala kecil Arinda. Alhasil tangan kirinya yang masih dalam kuasanya mendorong Arinda, yang kemudian ia biarkan kakinya terus melangkah hingga tubuhnya menghantam cermin. saat itulah tangan kanannya dengan barbar meninju cermin dengan kekuatan di luar dugaannya.
Hancur berderai hingga berkeping-keping. Bahkan tanpa ia sadari tangan kirinya tergores cukup panjang sehingga meneteskan darah merah yang segar.
“*KARIIINNNNNN!!!!” Fitri teriak. Dia ketakutan.
Sedangkan Arinda gemetar hebat, nyaris di pukul sahabatnya sendiri. Sepasang mata bulat cerah cantiknya terbelalak melihat tetesan darah yang membasahi ubin kamar mandi*.
.
.
“Sahabat?” pikir Karin. “Cih!!” Karin menghapus bulir-bulir air matanya yang hendak menetes. Dia tidak akan menangisi orang itu. Terlebih sikap Arinda yang diam di ruang kepala sekolah, membuatnya semakin muak.
“Arinda hanya menyelamatkan dirinya sendiri. Tau gitu gua juga ga mau lindungin dia pas bolos sekolah waktu itu.” Gerutunya.
Disampingnya, pintu kemudi mobil terbuka. Ayahnya masuk. “Kalau lu di marahin mak lu, gua ga bisa apa-apa ya?” ucap pria berkumis tebal itu tiba-tiba. Ayahnya tampak khawatir, tapi dari raut wajahnya dia lebih takut berhadapan dengan istrinya. Mungkin istrinya galak.
Karin hanya mengangguk. “Mak seenggaknya bisa diajak ngomong lah, beda sama ratu es kutup itu.” Gerutu Karin. Yang dia maksud adalah kepala sekolahnya.
“Tuh tangan masih sakit ga?” tanya sang Bapak.
“Sakitlah, masa ga sakit. Ntar kalo Karin mau cebok gimana?” tanya Karin emosi. Dia mulai menghawatirkan rutinitas wajib di pagi hari.
“Pakai yang kanan.” Seru bapaknya menunjuk mengangangkat tangan kanan Karin.
“Masa pakai yang kanan, ntar kalo makan gimana?” tanya Karin lagi.
“Pake mulut, kunyah, telen!” seru bapaknya dengan nyolot khas betawi.
“Iiiihh si bapak, dikira Karin kucing apa, makan lansung pake mlut.”
“Kan sendok ada oneng! Kalo susah babe suapin pake sendok semen!!!”
“Idih ogah!!!! Punya bapak gini amat.”
“Lu sih belagu, pake curi mobil babe segala. Jadi kualatkan!” Ucap ayahnya yang sudah membawa mobil kijang itu kejalan. Mata tua pria itu sibuk memperhatikan jalanan yang mulai rame dan macet.
“Kan babe jadi tau, kalau Karin udah bisa setir mobil.” Seru Karin. Ada rasa bangga atas pencapaian yang ia lakukan.
__ADS_1
“Hmm aman dah, oplet gua ada yang narik!” seru si babe lagi sambil ngeledek. Kali ini Karin ga mau jawab. Dia cemberut di ledekin terus sama bapak-bapak nyablak yang di takdirkan secara hukum dan biologis sebagai bapaknya.
“Karin, itu yang lu liat bener hantu?” tanya bapaknya tiba-tiba. Sebenarnya dalam hati kecil si bapak berbadan besar, ia masih menghawatirkan putri bungsunya ini.
“Au pak, Karin juga bingung.” Karin terdiam kembali. Kejadian hari ini masih menjadi teka teki di benaknya. “Tapi Karin besok mau sekolah, mau nanya sama teman.” Ucap Karin tiba-tiba.
“Lukan di skors, oneng! Mendingan di rumah aja dulu.”
“Kan kalo nunggu teman pas jam pulang boleh kan?” tanya Karin.
“Lu mau labrak teman lu? Masya Allah Karin, babe ajarin lu yang bener sekolah, masuk tapak suci juga buat bekal diri bukan jadi preman. Lu mau bikin babe sama mak lu sakit jantung?!”
“Ih Babe, jangan prasangka buruk. Siapa lagi yang berantem.”
“Trus ngapain sekolah? Tidur aja di rumah, bantu mak lo bikin semur jengkol buat babe.”
“Ya terserah Karin lah. Mau cari informasi. Karin mau tuntasin misteri ini dulu.”
“Mending masak dirumah, Nak. Biar jadi cewe bener.”
“Cewe yang bener juga harus punya inteligent yang tinggi, emasipasi Kartini ga harus tiga pur, Dapur sumur Kasur. Tapi juga harus pintar dan berdedikasi.”
“Matematika jangan merah dong!”
“Itu pengecualian. Ga ada manusia yang sempurna.”
“Pintar amat lu ngejawab?”
“Ya dong, itu guna babe nyekolahin Karin. Bukan buat jadi ahli matematika, tapi berfikir cepat, tepat guna kalau ditanya hal-hal yang kritik.” Jawab Karin mantap.
"Apaansih beh?!"
Begitulah Karin. Dia akan terus menyerocos jika di imbuhi pertanyaan-pertanyaan oleh sang bapak yang di sapa babe.
Sampai detik ini, jangan horor dulu. Kalo keseringan, bisa basi. Tapi siapakah yang akan di dicari Karin besok? Dan untuk apa? Semoga saja gadis penyuka tantangan ini tidak bertindak di luar batas.
Horornya Karin ntar..kita kasih jatah buat si Merri dulu.
.
.
.
.
“Nak sudah bangun?” tanya Kusuma.
Merri membuka matanya. Dia memperhatikan sekitar. Ia masih tertidur diruang kesehatan sekolah. Siswi yang kesurupan itu juga sudah tidak ada. Mungkin sudah dijemput pihak keluarga agar bisa diobati lebih lanjut.
Setelah sadar, siswi tersebut ternyata kumat lagi Pihak keluarga yang menjemput lansung membawa pulang. Jeritannya dan sikapnya yang tidak biasa menjadi tontonan semua siswa.
“Aku kok disini?” tanya Merri. Dia hanya ingat sedang memungut sampah di taman dekat lapangan parkir siswa.
Saat berusaha bangkit, kepala Merri serasa pening. Dia meringis kesakitan. Kusuma segera menghampiri dan memegangi tubuh kecil putrinya.
“Kata teman-teman kamu ga sadarkan diri, jadi seharian ini kamu tertidur disini.” Jelas Kusuma. “Kamu ga apa-apakan?” tanya Kusuma cemas. Dia merapikan rambut Merri.
__ADS_1
“Buk, berapa lamu aku tertidur?” tanya Merri.
“Lima jam mungkin lebih.” Ucap Kusuma. “Ibu juga baru datang sekitar jam dua, karena harus melihat pasien yang ada di daerah bekasi. Makanya ibu telat kesini.” Jelasnya. “Kalau ibu tau temanmu di gangguin, mungkin Ibu akan kesini, supaya bisa bantuin kalian.”
“Jangan Buk, jangan!” Merri melarang ibunya.
Wajah Kusuma terlihat heran. Sesaat dia paham. Ini masalah temannya yang tewas dan pendapat Merri mengenai pekerjaannya. “Ya ibu paham.”
“Ibu Lira, kepala sekolah, ga suka kalau tau kita bisa melihat mereka. Dia ga percaya dengan hal-hal semacam itu.” Jelas Merri.
Kusuma hanya tersenyum. Dugaannya ternyata salah.
“Kenapa kamu tau?”
“Soalnya anaknya juga berfikir hal semacam itu. Lagian aku seperti mendengar dia membahas seperti itu. Aku ga tau kapan, tapi aku merasa barusan ia membahas tentang pendapatnya soal mistis. Hmm... sepertinya aku bermimpi hal itu selama pingsan.” Merri terlihat ragu. Dia merasa dejavu dengan omongannya. Seolah dia ada disekitar lingkungan ini tapi dia lupa kapan.
“Kamu kenapa bisa tidak sadarkan diri?” tanya Kusuma lebih penasaran dengan kondisi anaknya.
“Aku di dekati Rohi.” Jelas Merri mengingat satu nama.
“Rohi siapa?” tanya Kusuma.
Merri mencoba mengingatkan apa yang disebut pasukan lalat itu. “Rohi... cucu...!”
Saat bersamaan...
Tap Tap Tap Tap Tap
Suara langkah kaki masuk keruang kesehatan. Merri terhenti, begitu juga perhatian Kusuma. Sebab dalam derap langkah kaki dari sepatu flat shoes itu, juga membawa debaran angin yang menusuk bulu kuduk Kusuma. Kusuma
merasakan hawa panas dalam dinginnya angin itu. Hawa amarah, rasa benci dan juga kesepian yang sangat teramat dalam.
Saat itu juga Kusuma melihat jelas dia siapa. Seorang gadis berwajah pucat dengan name tag MIKHA.
“Jadi dia yang sering mengaggu mu?” tanya Kusuma dengan wajah kaku khasnya. Dia benci jika ada yang mengganggu anaknya, baik itu manusia apalagi berwujud menakutkan seperti ini.
Dihadapannya hanya berdiri kaku dan kemudian lambat laut memamerkan senyum, “Hahahaha!!” tawa khas yang sangat menakutkan. Bulu kuduk siapapun akan siap berdiri jika mendengarnya, begitu juga Merri.
“Jangan bersembunyi dengan wujud yang sudah mati, kau bukan pemilik raga ini! Pergi atau saya musnahkan!!” ucap Kusuma dengan tegas.
“Usir kalau kau bisa!!!” lansung saja makhluk itu melesat. Dalam kecepatan angin yang tak terprediksi. Dia sudah berdiri di belakang Merri. Dengan senyum jahat itu, makhluk itu menutup kedua mata Merri sehingga Kusuma setidaknya harus mengeluarkan tenaga dalam agar bisa menjemput anaknya.
Ya, dengan kata lain, Merri di culik ke dunia yang dia sendiri belum pernah lihat.
.
.
.
selamat hari raya qurban bago sodaraku yang merayakannya... nyate yuuk nyateeee... Rohi jangan di ajak yaaaaa
__ADS_1