
Kusuma menginjak gas dan melaju dengan cepat di atas aspal bersama sedan kuningnya. Merri yang duduk di sampingnya memegang sabuk pengaman dengan erat. Baru kali ini ibunya membawa mengendarai mobil segila ini. disisi lain, tindakan ini memang sangat di perlukan, sebab ada satu nyawa dalam bahaya. Boneka beruang yang di modif seperti boneka Jailangkung juga di taroh di belakang.
Arinda harus segera di selamatkan, begitulah seru Kusuma pas mendengar cerita Merri. Sesuai dugaan, ketika mobil itu sampai di depan rumah yang maksud, kedua orang tua Arinda sudah terlihat panik di luar rumah. Mereka
juga memperhatikan keadaan rumah yang terlihat semakin mencekam. Dengan awan hitam pekat diatasnya, kemudian ribuan atau mungkin jutaan laron bertebangan mengelilingi rumah teresebut, seolah ada yang mereka lindungi di dalamnya.
Merri segera melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. “Om Ajar, Ibu kepala sekolah maaf datang malam-malam!” seru Merri yang menghampiri dua orang tua yang sangat panik.
“Kamu, Merri? Kenapa ada apa?” tanya Ajar berusaha bersikap wajar, padahal wajah tua itu terlihat pucat dan kusut.
“Tidak ada waktu lagi, Arinda harus di selematkan!” jelas Merri panik.
“Kenapa dengan Arinda? Apa yang terjadi dengan Arinda?” desak Lira.
“Maaf bu kepala sekolah, sepertinya Arinda melakukan kesalahan.” Jelas Merri sedikit gugup.
“Kesalahan apa yang telah di lakukan Arinda. Selama ini dia baik-baik saja, dia tidak pernah bertindak aneh sampai bertemu dan bermain dengan kau!” tuduh Lira naik pitam. Pesona kepala sekolahnya hilang seketika, dia terlihat seperti induk ayam yang marah karena anaknya yang tengah terancam.
“Justru karena Merri-lah kami bisa mengetahui jika putrimu terancam!” jelas Kusuma dingin. “Tidak ada waktu untuk mencari siapa yang salah, sedikit terlambat maka nasib putri anda akan seperti temannya yang sudah mati.”
Walau tidak begitu paham apa yang telah terjadi, Ajar lansung bertindak. Ia abaikan rasa penasaran dan cemasnya. “Ikuti saya!” ucap Ajar mempersilahkan Kusuma dan Merri masuk kedalam rumah yang terlihat mencekam.
Lira tidak suka dengan tindakan Ajar yang lansung percaya begitu saja dengan Kusuma yang dimatanya jelas sangat aneh. Dia terlihat lebih mencurigakan dan tidak berpendidikan. “Siapa dia? Apa maunya?” pikir Lira. Ia mengikuti Ajar dari belakang dan terus mengawasi gerak-gerik Kusuma dan Merri. “Awas saja kalau dua orang ini adalah penipu, saya akan lapor polisi.” Pikirnya lagi.
Di belakang mereka, Tito memperhatikan secara diam-diam. Dia merasa penasaran sekaligus takut. Diantara kebimbangan untuk masuk dan mencari tau atau lansung pulang, Tito memperhatikan rumah Arinda perhatiannya tertuju kepada jendela kamar Arinda. Lampu kamar disana terus berkedip. Laron-laron terus beterbangan seolah tidak ada habisnya.
“Kok kamar Arinda jadi menakutkan, ya?” pikir Tito. “Kenapa dengan Arinda, Tuhan?” pikir Tito. Dia terus memperhatikan jendela kamar tersebut, dan melihat satu bayangan wanita yang juga berdiri disana, memperhatikannya dengan senyum mengembang dan mata melotot tanpa berkedip.
“ARINDA?!” pekik Tito. Kaget sekaligus tidak percaya, wajah sahabat kecilnya terlihat sangat menakutkan. Tito segera turun dari mobil dan menyusul Merri masuk kedalam rumah Arinda.
P.E.S.T.A..J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
“Kapan kejadiannya?” tanya Kusuma.
“Dia terlihat tidak enak badan saat kita balik dari pusat perbelanjaan. Setelah istirahat, dia seketika menjadi marah dan tidak terkendali.” Jelas Ajar.
“Apa dia menemukan hal aneh atau pergi tanpa pengawasan anda saat kalian pergi?” tanya Kusuma lagi.
“Dia kekamar mandi dan disana dia mulai agak berbeda.” Jelas Ajar. “Tapi boleh tau, anda ini siapa ya, seorang pskiater?” tanya Ajar agak ragu.
Merri dan Kusuma tidak menjawab, hal itu membuat Ajar jadi tidak enakan. Sedangkan Lira semakin menaruh rasa curiga. “Dimana dia sekarang?” tanya Kusuma lagi.
“Dia di kamar.” Jawab Ajar.
__ADS_1
Ajar lansung menuntun Kusuma dan Merri kekamar Arinda. Namun saat hendak menaiki anak tangga. Sebuah suara bising lansung terdengar dari dapur. Beberapa benda seperti sendok dan piring berjatuhan disana. Mereka berempat terdiam sesaat.
Ajar dan Lira saling pandang. “Bukannya pembantu kita sedang izin sakit?” tanya Ajar. Lira hanya diam, namun matanya terlihat tidak tenang.
Kusuma lansung menuju dapur dan melihat pintu kulkas terbuka lebar, dimana seseorang duduk menghadap lemari pendingin itu. Beberapa bahan makanan disana berjatuhan dan berserakan di lantai marmer. Aroma amis telur, darah ikan dan daging menusuk hidung mereka.
“Bau apa ini?” kesel Lira menutup hidungnya.
Mendegar langkah kaki yang menghampirinya, makhluk tersebut lansung bertindak siaga dan was-was. Dia melompat dan berjongkok diatas meja makan kayu.
“HAA?!!!” Lira, Ajar dan Merri spontan teriak. Makhluk itu tak lain adalah Arinda yang terlihat menyeramkan, bola mata yang putih, kulit yang pucat, dan mulut berlumuran darah membuatnya menjadi satu-kesatuan siapapun yang melihat akan takut sekaligus jijik.
“Haa?!” Lutut Lira seketika menggigil hebat, detak jantungnya memompa begitu cepat. Dia tidak kuasa dengan pemandangan yang ada didepannya. Terlebih kondisi Arinda ternyata lebih menakutkan dari apa yang ia pikirkan. Arinda tidak sakau, tapi dia terlihat seperti hewan liar kelaparan.
Ajar menangkap tubuh sang Istri agar tidak terjatuh. Dia juga syok, namun sekarang bukan saatnya ia menjadi lemah dan lari dari kenyataan. Logikanya masih bermain, “Dia putriku, apapun kondisinya dia putriku!” pikirnya menguatkan dirinya.
“Hai Bunda, ayah, kalian lapar?” sapa Arinda dengan senyum jahat dan tatapan yang dalam itu.
“Aku baru tau, daging sapi tanpa dimasak itu lebih nikmat, dan salmon dengan darah lebih segar dari sushi. Mau coba?” tawar Arinda masih memamerkan senyum jahat.
“Hiks..hiks.. Arinda...! Ayah, Arinda kenapa?” pecah, air mata Lira akhirnya pecah. Begitupun dengan Ajar.
"Ayah setelah aku makan dan kenyang, mau kah kau tidur denganku?" ajak Arinda dengan senyum jahat.
"Bukannya kau suka wanita muda, akukan masih muda?"
"HAAAA?!!!" Lira histeris, dia menutup kedua telinganya. Ia merasa jijik dengan apa yang dibicarakan putrinya. Namun kondisinya sangat lemah untuk memarahi Arinda.
"ARINDAAA!!!" bentak Ajar yang ingin menampar Arinda.
"Tahan, saat ini yang berbicara bukan anak anda lagi. Dia pengacau yang bersarang di tubuhnya. Jangan sampai kau terpengaruh!" ingat Kusuma.
"Ap apa?" Ajar kaget bukan main. Dia bingung namun juga marah. Dia tidak tau masalah apa yang sedang ia alami. "Ka kau sebenarnya siapa?" tanya Aja.
"Dukun, paranormal, pengusir setan, atau indigo. terserah kau mau panggil apa." jawab Kusuma datar.
Ajar terdiam. Baru kali ini ia berhadapan dengan orang yang memiliki profesi di luar akal sehatnya. Dia tidak tau harus percaya atau tidak.
"GYAHAHAHA... Kau ternyata lebih suka wanita yang seumuran dengan Bunda, kasihan, padahal aku masih perawan, itu membuatku kecewa." jawab Arinda dengan nada dan wajah mencemooh.
Merri bersembunyi di balik tubuh ibunya. Dia tidak kuasa melihat kondisi Arinda. "Seperti inikah iblis itu? Kenapa auranya begitu kuat?" pikir Merri.
“Kalian untuk apa kemari?” tanya Arinda dengan suara geram.
__ADS_1
“Mengusirmu!” jawab Kusuma dingin. “Kau tidak pantas di dalam tubuh anak itu.” Kusuma mengeluarkan tasbih dari dalam kantung bajunya. Di ujung tasbih bewarna hitam terdapat sebuah liontin yang sama dengan milik Merri dengan warna emas dan ada ukiran dengan tulisan sansekerta.
Melihat ada ancaman dengan benda yang di bawa Kusuma, Arinda lansung geram. Warna suaranya seketika berat. Penghuni tubuh itu menunjukkan siapa jati dirinya yang sesungguhnya.
“GRrr... coba saja jika kau berani!” tantangnya.
“Kalian carilah tempat aman!” perintah Kusuma kepada Ajar dan Lira. Meski agak ragu, Ajar tetap melakukan perintah Kusuma. Dia membawa Lira ketempat aman.
“Om, kesini!” ajak Tito tiba-tiba. Ajar semakin kaget, sejak kapan bocah ini datang. Tapi tidak ada waktu untuk berdebat, ia mengikuti saran Tito.
Sementara di hadapan Arinda yang semakin murka, Kusuma tengah mempersiapkan diri. “Nak, kau harus bantu ibu. genggam erat liontinmu. Ingat apa yang ada di buku itu?” tanya Kusuma serius.
“Ingat!” angguk Merri.
“Anggap saja ini ujian pertamamu sebagai paranormal!” perintah Kusuma yang dianggukkan Merri. Walau masih gugup dan takut, Merri berusaha tegar.
“Kunci pertama dari buku tersebut, jangan lemah di hadapan setan.” Ucap Merri. “Lebih berani, lebih kuat!”
“Dan jangan dengarkan semua kata-kata mereka, karena mereka pembohong, berbohong dengan menggunakan sebuah kebenaran, agar kita lemah!!” ingat Kusuma.
“Gyaaahahaha... dan sayangnya kalian berdua tak ubahnya dari lalat kotor!!” tawa Arinda dengan suara berat.
“Semua omong kosongmu hanya sampah! Dalam dunia yang terbagi atas nyata dan ghaib, kau tidak layak berada disini. Atas nama Tuhan pemilik yang menguasai dunia dan alam semesta, enyahlahlah dari sini!!” usir Kusuma.
“Gyaaa!!” Arinda menggeliat badannya tidak senang mendengar kata-kata Kusuma. Wajah itu semakin menegang dan marah. “Beraninya kau mengusirku. Kau hanya manusia hina yang tidak ada daya dan upaya. Kau pengecut yang tidak bisa menerima takdirmu! Kau hanya pengecut dengan tasbih hitam!!!” erang Arinda.
“Ibu!!” Merri mengalihkan perhatian kepada Kusuma. Dia kaget mendegar Arinda yang membicarakan ibunya.
Angin kencang berhembus, padahal semua jendela tertutup dengan rapat. Begitupun dengan laron-laron yang bertebangan tidak karuan. Mereka mengahantam piring dan gelas hingga beberapa benda berjatuhan dan mengeluarkan suara bising.
“Dia semakin kuat.” Pikir Merri. ia kembali menghawatirkan ibunya. “Pasti ibu kewalahan. Apa yang harus aku lakukan?”
wajah cemas Merri menjadi hiburan tersendiri bagi Arinda. “Ya... wanita hina yang kau panggil ibu tak ubahnya seorang *******, yang menghabiskan hidupnya dengan hal-hal sia-sia. Dia juga yang membuat kau yatim sejak janin...! Bukankah hidup tidak adil, Nak?!”
“DIAM!!!” teriak Kusuma, “Merri jangan biarkan dirimu terpengaruh dengan kata-katanya!” ingat Kusuma.
“BAIK!!” teriak Merri. Dia menarik nafas dalam-dalam.
“HAHAHA... kau sangat hebat nak, tapi kau malang terlahir sebagai anak dari wanita tak berguna ini!” lanjut Arinda yang berdiri diatas meja makan. Dia tengah dalam posisi menyerang, targetnya jelas adalah Merri.
“Fokus...” Gumam Merri memejamkan matanya.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// BERSAMBUNG....
__ADS_1