Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
Hukuman dan Ancaman serta Malapetaka #2


__ADS_3

Arinda berdiri bertolak pinggang, ia melihat kearah Fitri dengan tatapan penuh selidik. Fitri yang merasa diintrogasi hanya bisa memalingkan wajah. Dia tidak mau berbohong kepada Arinda dan juga menghianati Karin dalam kasus ini. Justru, hal inilah yang paling ditakuti Fitri, dia tidak bisa berbohong sepatah katapun didepan semua orang apalagi Arinda.


“Jadi ini ulah siapa?” tanya Arinda sekali lagi.


“Huuuu anuuu hmmm... Ka...rrin.” jawab Fitri takut ragu dan merasa serba salah.


“Apa? Kenapa?” tanya Karin yang baru datang.


“Udah jangan belaga ga tau.” Jawab Arinda ketus.


Merri yang sedang menurunkan bangku di belakang memperhatikan Karin, mata mereka bertemu dalm satu frekwensi. Karin memandang Merri dengan tatapan tidak senang. Merri mengalihkannya, dia lebih memilih sibuk mencari bangku miliknya.


“Karin, lo ga dengarin gue?” tanya Arinda.


“Ya gue dengar.” Sahut Karin.


“Lu sama Fitri ngapain kemaren?” tanya Arinda.


Kali ini Karin menoleh ke arah Fitri. Fitri hanya menunduk kebawah dan ia menggoyangkan tangannya seolah memberi isyarat kalau dia belum bicara apa-apa.


Karin kembali menloleh ke arah Arinda yang terlihat tidak sabar menunggu jawabannya, “Hahaha, ooo itu iseng. Gue sama si gembul lagi iseng aja, ya kan Fit?” tanya Karin menepuk bahu Fitri.


“I iya, Rinda.” Jawab Fitri. Tawa mereka pecah tapi terdengar aneh. Arinda bisa menebak, masih ada yang mereka sembunyikan.


“Bangku, astaga gara-gara si Asep kita lupa rapiin kelas lagi.” Seru Tito yang juga menepuk jidatnya saat melihat pemandangan kelas pertama kali.


“Rin, lu kok berdiri aja?” tanya Tito yang kemudian tiba-tiba kaku melihat Arinda, “Astaga, Rinda udah sampe???” seru Tito kaget. “Oo ya kan lu biasanya memang datang paling pagi...!!” gumam Tito yang menepuk jidatnya.


Seketika kelas lansung rame, bahkan Agus juga sudah datang. “Sorry agak telat, gue ketiduran.” Sahut Agus yang lansung menurunkan meja dan bangku-bangku tersebut.


Siswa-siswa lain pun juga lansung bergumam hal sama. Hal ini justru menguatkan sebuah kecurigaan yang tajam dari Arinda. “Kalian ga berdua aja_kan? Semua siswa disini juga terlibat?” tanya Arinda. lebih tepatnya menuding. Dia benar-benar menatap tajam Karin.


Karin kali ini ia tidak bisa bergeming, terlebih geng anak cowok yang terkenal cuek dan pemalas masuk dan berseru, “Oi Gus, Karin, Kalian jadi main jailangkungnya?” tanya mereka. Ya, anak-anak cuek dan pemalas ini


memang tidak datang. Pesta jailangkung mayoritas di ikuti para siswi dan beberapa anak cowok yang penasaran, selebihnya lebih memilih untuk tidak ikut campur seperti lima anak ini.


“Pesta jailangkung?” tanya Arinda. Dia semakin terlihat kesal. Ternyata ini semua ada kaitannya dengan ide gila itu. sungguh tidak waras.


“Buat apa?” tanya Arinda kepada Karin.


“Buat ... gue Cuma mau bertemu Mikha.” Jawab Karin.


“Kalian main jailangkung buat bertemu Mikha?” tanya Arinda,


“Kalian benar-benar lakuinnya di kelas ini?” tanya Arinda.


“Kan Cuma penasaran, apa salahnya sih?” Karin meninggikan suaranya. “Lu ga usah berlagak kayak Bu Lira deh.” Karin terpancing emosi.


Arinda membelalakkan matanya, “Gue ketua kelasnya disini, kalau terjadi apa-apa gue juga yang kena.”


“Tapi lagaknya ga usah kaya kepala sekolah, gue tau lo anak kepala sekolah, lo ketua kelas, tapi lo ga usah berlagak seolah sekolah ini beserta isinya milik lo juga.” Lancang Karin, membuat wajah Arinda memerah.


Sssrrtt....!!!!


Satu meja terdorong kedepan. “WAAAA!!!!” diiringi teriakan seorang siswi.


Semua mata yang terfokus kepada perdebatan Arinda dan Karin yang memanas lansung menoleh kearah siswi tersebut.


“Mejanya gerak sendiri.” Ucapnya dengan suara gemetar. Beberapa pelajar yang ada didekatnya spontan ketakutan.


“Tuh, karena ulah lu ngajak anak kelas main hal gituan, meraka paranoid. Lansung kasih lebel kalo kelas ini angker.” Keluh Arinda.


“Tapi benar, gue lihat mejanya geser, gue bukan paranoid.” Siswi itu membela dirinya.

__ADS_1


“Udah jangan di bahas lagi.” Tito angkat suara. “Kita gagal main kok semalam, soalnya ketauan sama pak Asep. Jadi bakal ga terjadi apa-apa.” Tito yang merasa serba salah dan bingung menghadapi cewek yang lagi adu mulut didepannya, mencoba membuka suara.


“Tapi yang tadi mejanya geser sendiri.” Siswi itu bersikeras dengan wajah semakin pucat pasi dan raut wajah ketakutan.


“Pailing karena udah tua kali, trus ada bagian kaki mejanya yang udah koyak atau gimana. Biasa itu.” Sahut Tito mencoba menangkan siswi itu. Yang lain juga mencoba membantu menenangkannya.


“Iya, lu nya aja yang belum makan, jadi halu, uuu!!” tambah Agus.


"Tapi bisa jadi hehehe, waaa ada hantu... tatuuttttt!!!" seru kelima anak brandalan di kelas ini. Sedari tadi, memang mereka yang paling menikmati kekacauan yang ada dikelas ini.


Merri hanya diam dan memperhatikan. Tidak ada siapa-siapa di kelas. Meja itu juga tidak bergerak. Hanya saja wajah siswi itu terlihat kacau. Pucat pasi, matanya mulai membelalak ketakutan dan panik. Bisa jadi karena takut atau gerah karna kepanasan.


“Tapi meja ini memang geser, kenapa ga ada yang percaya sama gua?” tanyanya dengan suara semakin Tinggi.


“Udah Yuk, lu susun meja aja lagi, dari pada berisik.” Ucap Karin. Dia menatap Arinda dengan tatapan yang kesal. Kemudian dengan sikap cuek dan angkuh Karin meninggalkan Arinda, bergabung dengan anak-anak lainnya menyusun bangku kelas seperti semua.


Masalahnya, siswi itu masih saja meributkan masalah meja yang bergesar. Semua siswa termasuk Arinda dan Merri jadi terganggu. Kenapa dia terus mempermasalahkan meja itu. Saat Merri menoleh ia baru sadar jika di balik


rambut berponi itu ada lima jari tirus pucat dengan kuku hitam panjang tengah turun dan hendak menutup wajahnya.


“Hah, jangan lagi!!” Merri spontan duduk meringkuk di lantai, ia lansung menutup mata dan telingan. “Jangan ganggu aku...” lirihnya dalam hati.


“GUE LIHAT MEJA INI GGGGGEEEEEEEEEEEEERRRRRRRAAAAAA AK AK AK AK AK AK AK AK!!!!”


BRUK


Arinda juga menoleh, semua siswa juga melihat reaksi siswi tersebut. Dia seketika ambruk. Tubuhnya kaku dan mengejang seperti orang terkena epilepsi. Matanya membelalak dan tidak berkedip. Jari-jarinya juga melakuka pergerakan yang aneh. Sisiwi itu juga bergumam tidak jelas. Seolah mau membicarakan sesuatu tapi dengan bahasa yang tidak mereka pahami.


“Grrrr... Grrr... Grrr..!!”


“Gyaaa...!!!”


“Panggil guru, atau siapapun!!!” pinta Arinda yang juga panik. Dia mendekati teman kelasnya yang ambruk dilantai itu. Saat Arinda mencoba membalikkan badannya, ia melihat wajah yang menakutkan.


Raut wajahnya benar-benar putih bagaikan susu, begitu juga dengan bola matanya. Bibirnya membiru. Tangannya yang menegang dan menonjolkan garis urat nadi. Tangan itu juga dengan cepat menarik kerah baju Arinda.


"KOOOOOOOPPPPIIIIIIIIII!!!!" teriak siswi itu dengan suara serak berat tepat di depan Arinda.


"GYAAAAAA....!!!!" melihat ekpresi yang menakutkan itu, bulu kuduk Arinda lansung bergetar hebat yang membuatnya lansung di selimuti rasa takut. Fitri yang ketakutan menarik tangan Arinda agar menjauhi siswi tersebut.


Para siswi lainnya juga ikut kabur. Merri semakin merapatkan dirinya didalam dengkul kecilnya di bawah meja.


.


.


.


Tak lama setelah itu siswi itu dibawa keruang kesehatan, namun kondisinya semakin memburuk. Siswi itu tidak mengalami epilepsi atau gejala penyakit aneh lainnya. Tapi semua siswa di dalam kelas itu menyimpulkan jika dia mengalami Kesurupan.


Bu Lira yang sudah mendengar berita itu semalam dari pak Asep lansung mengambil tindakan.


“Semua yang ada di kelas ini saya hukum!!!” ucap kepala sekolah berhati dingin itu. "Kalian mengacaukan kelas, bertengkar dan membuat teman kalian dalam bahaya!! Tidak ada ampunan bagi siswa yang tidak bisa menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan sekolah ini."


Arinda menoleh kearah Karin dengan tatapan tajam. Di dalam benaknya, Karinlah yang harus bertanggung jawab.


Merri yang tidak tahan dengan situasi dan athmosphir aneh ini hanya bisa memeluk dirinya sendiri agar raganya tidak ikutan dirasuki makhluk lainnya.


.


.


.

__ADS_1


Semua siswa tanpa terkecuali di hukum membersihkan lingkungan sekolah. Mulai lapangan, hingga toilet, setelah itu Bu Lira tak segan menambahkan hukuman mereka dengan mengecat tiang bendera. Memang sadis, karena kepala sekolahnya seorang Lira Lubis. Semua orang tau tred record hidupnya di dunia pendidikan. Lira Lubis seorang guru yang berdedikasi dalam dunia pendidikan. Pernah menjadi pengajar di daerah terpencil, pelatih terbaik dalam mementori siswa dalam olimpiade Fisika. Terakhir, Kepala sekola wanita yang membuat SMA KAsanova masuk dalam sepuluh besar SMA terbaik tingkat Nasional. Oleh sebab itu, demi mempertahan prestasi itu, dia sangat hati-hati dalam bertindak, yang kehati-hatian itu dinilai dingin dan sedikit ditaktor oleh beberapa guru dan seluruh siswanya.


Arinda dan Karin kebetulan mendapat tugas membersihkan toilet perempuan. Disana juga ada Fitri dan dua siswi lainnya. Mata Arinda masih mengekori Karin. Karin sadar jika sejak tadi pandangan sadis itu selalu melekat. Dia bersikap acuh.


“Coba aja kita ga jadi main, pasti ga bakal kek gini.” Dumel Fitri yang pertama kali memecahkan keheningan.


“Udah beresin aja, ga usah ngedumel!” ucap Karin dengan ketus.


“Mending gue juga ga ikutan, semalam gue di marahin sama babe gue ketauan pulang malem.” Seru siswi lainnya.


Karin melempar sapu pel kelantai, “Siapa yang suruh kalian kabur, udah jelas itu Asep, kaki tangan bu Kepsek, pasti si Asep bangkotan itu udah ngadu sama bu Lira. Gue tau betul si muka tembok itu.” Jelas Karin ketus.


“Ga usah salahin orang lain, ya jelas salah lah, ada siswa masih disekolah saat sekolah udah tutup.” Sindir Arinda yang sedang melap cermin kamar mandi. “Dari kejadian itu, seorang satu teman kita tiba-tiba dapat penyakit aneh.” Lanjut Arinda yang terus menyindir Karin.


“Kesurupan... dia kesurupan tau.” Seru Fitri.


“Dua siswa jadi paranoid, ulah siapa ya?” Arinda tidak mengindahkan pendapat Fitri, ia menjadikannya sebagai bumerang untuk menyindir Karin.


“Lu bisa diam ga sih, Nda?!” bentak Karin. Kali ini karin menendang salah satu pintu kamar mandi. Semua siswi terkecuali Arinda merasa kaget.


“Lo tersinggung?” tanya Arinda membalikkan badannya, ia menatap Karin dengan tatapan tidak suka.


“Lo pikir karena lo anak kepala sekolah, lo bisa bertindak seperti pemilik sekolah juga?” karin balas sindir, “Arinda sadar, lo Cuma boneka ibu lo yang paranoid dengan kehidupan luar, makanya lo dididik persis sama


kayak dia. Untuk hal ini gue merasa kasihan sama hidup lo.” Balas Karin yang lansung menohok ke dalam hati Arinda.


“Gue tau, lo Cuma mau teman sama gue karena hanya gue yang bisa ajak lo kehiudan remaja milenial, kalo bukan karena gue, lo hanya anak dari kepala sekolah yang sekolah, pulang kerumah, kursus buat tugas sekolah. Hambar


sekali.”


“Ooo  Justru gue berfikir lo hanya mau temanan dengan gue, biar dapat akses mudah untuk bikin pr dan ujian.


Selain itu dengan berteman dengan gue, lu bisa masuk dalam garis anak-anak SMA Kasanova populer.” Balas Arinda. “Emang lu pikir selama ini gua ga tau? Gue tau betul siapa lo, pas kelas satu SMA lo hanya dinilai


sebagai anak baru yang sok asyik dan suka caper sama kakak-kakak kelas. Tapi masalahnya, sekeras apapun usaha lo, tidak ada satu orangpun yang lirik dan mengenal lo. Gue tau, alasan lo mau berteman dengan gue, karena gue orang paling gampang untuk mendapat tiket sebagai siswa  terkenal, karena semua orang tau siapa gue, gue_ anak_dari_kepala_sekolah SMA ini.” Suara Arinda cukup tinggi untuk membuat seorang Karin jadi tersudutkan, “Betulkan apa yang gue bilang Karin?”


Karin tersindir, dia merasa tersinggung. Benteng persahabatan yang dibangun dua tahun ini luntur seketika tak hayal karena ego mereka berdua. Karin yang dikuasai amarah mengepalkan tangannya. Ingin sekali tangan ini mendarat keras dipipi indah Arinda. AKAN TETAPI, saat hendak melayangkan tangan itu Karin terhenti sejenak.


CERMIN yang berada di balik badan Arinda membuatnya lansung lengah dan tangan yang hendak melayang itu hanya mematung di udara, begitu juga dengan badan dan pikiran Karin. Tubuhnya lansung gemetaran. Kenapa? Karin melihat sebuah bayangan gadis lain selain mereka berlima. Seorang pelajar dengan wajah pucat dan sangat mirip dengan wajah Mikha.


“Mi.. Mikha?” Karin gemetaran hebat.


“Pukul Arinda, aku membencinya.” Ucap bayangan berbetuk Mikha itu tersenyum seram kepada Karin.


“Lo kenapa? Kalo mau pukul ya pukul aja?” ledek Arinda. Sesungguhnya di dalam hati, Arinda sama sekali tidak ingin ada masalah dengan karin.


“Mikha...” lirih Karin dengan suara setengah berbisik. Bola matanya semakin membesar.


“Pukul Arinda, Karin. Aku sangat membencinya, sama seperti kau membencinya. Pukul Karin, demi aku!” bujuk Bayangan itu, kali ini bukan hanya tersenyum, tapi juga melototkan mata. Kemudian sebuah cairan bewarna hita menetes di matanya. Karin ingin berteriak, tapi sialnya, suaranya hanya tertahan di tenggorokan.


Karin melirik Arinda dengan tatapan lebih tajam, kejam dan juga menakutkan. Fitri dan dua siswi lainnyapun juga terlihat ketakutan.


“Kita harus ngapain?” tanya Fitri.


“Gue panggil guru!!” seru salah saeorang siswi.


“Ikuut!!!!”


Tinggalah Fitri diantara dua sahabatnya yang berada di ambang kekacauan.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2