Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
Pesan-Pesan


__ADS_3

Arinda menerima kado. Didalamnya terdapat sebuah bola salju dan juga sepucuk surat. Dia segera membuka lembaran kertas itu. Wajah cantik gadis itu berseri-seri. Jantungnya juga berdebar. Padahal ini sebuah surat dari seorang teman baik, namun jantungnya berdebar begitu sangat cepat. Rasa penasaran membuatnya tidak sabar ingin tau apa yang akan di sampaikan sahabat barunya itu.


“Yah, ayok turun!” ajak Lira kepada suaminya. Dua manusia ini pun turun sambil merangkul pinggang. Sejak kejadian kesurupannya Arinda, pasangan bak api dan air ini sama-sama memutuskan untuk menjadi satu kesatuan yang utuh. Tidak ada lagi salah paham dan perdebatan yang tidak penting. Mereka memutuskan untuk menjadi pohon agar Arinda bisa bersandar dan bermain di bawahnya.


Kembali kepada masalah Arinda. Ia menerima sepucuk surat yang isinya sangat singkat.


“Untuk teman pertamaku di sekolah SMA Kassanova, Arinda


Terimakasih atas waktu yang singkat dan sederhana selama aku bersekolah di sana. Maaf jika aku ada


salah. Maaf jika aku agak kaku dan juga membuatmu sedikit takut. Tapi terimakasih karena pada akhirnya Arinda dan teman-teman mau menerima aku dan segala keanehanku. Ini kado sebagai tanda terimakasih dan juga pertemanan kita. Jika ada waktu aku akan kembali ke Jakarta. Oh ya, ada satu rahasia lagi, ada seorang kakak kelas yang suka sama kamu. Tapi jangan pedulikan ia, karena dia playboy. Hehe.. itu saja dari aku.


Gadis yang datang tak di jemput pulang tak di antar


Merri.”


Arinda segera mengusap pipinya yang basah karena air mata. “Dasar bodoh, masa nulis surat kayak gini sih.” Ucap Arinda yang kemudian tanpa ia sadari menyunggingkan senyum. "Dasar Jailangkung hiks hiks...HUWAAA...!!" Arinda membenamkan badannya ke bantal. Membiarkan Emosi antara bahagia dan senang bercampur aduk menjadi satu. kemudian semua perasaan itu terapresiasi dalam tangis antara sedih maupun senang.


.


.


PESTA JAILANGKUNG//


.


.


Dua hari kemudian


Agus sudah mengenakan pakaian dengan rapi. Pakaian pasien itu ia lipat dan di taroh diatas bantal. Lima hari berada di rumah sakit membuatnya sangat jenuh. Waktu juga berputar sangat lama. Sepanjang hari ia mencoba untuk memikirkan nama Merri. Meski begitu, ia masih tidak mengingat seorang teman bernama Merri, tapi dibenaknya nama itu tidak begitu asing. Bahkan dalam beberapa mimpi ia sering menyebut nama itu. Tapi tetap yang ia ingat hanya wajah Mikha.


Hal lain yang turut membuatnya semakin tidak betah adalah kasur kosong yang ada di sebrang ruangannya. Terlebih lagi, semenjak ia tau jika kasur tersebut pernah di tempati Mikha, ia tiba-tiba selalu merasa diperhatikan. Oleh sebab itu, saat ia mendengar kabar sudah diizinkan pulang, Agus sangat bersemangat.


“Agus, kamu tunggu disini dulu, kakak mau lunasi administrasi, ya.” Ingat kakaknya.


“Baik kak!” ucap Agus. Dia mengenakan sepatunya sebelah kanan dan mengencangkan ikatan. Kemudian ia mencoba meraih sepatu sebelah kiri yang di taroh dilantai dirumah sakit. Saat ia mencoba meraih sepatu tersebut mata Agus menangkap sepasang kaki yang berada di balik tirai tempat ia tidur.


Agus hanya diam dan terus melihat sepasan kaki beurukuran kecil dan bewarna putih. Kaki itu berjalan selayaknya orang normal pada umumnya. Tidak terlalu cepat dan tidak pula lamban. Dia berjalan menuju kasur kosong yang pernah di tempati Mikha. Sebelum menaiki kasur tersbut, kaki itu membelok dan arah jari-jari kaki itu menghadap kearahnya. Agus bergidik. Walau penasaran, tapi ia tidak memiliki nyali untuk menyikap tirai dan melihat lansung siapa yang ada di sana.


“Sudah mau pulang, ya?” tanya sosok tersebut. “Ingat, jangan lupa mampir dan bertemu mamaku. Ajak Arinda, Tito, Fitri dan Karin, ya!”


Mata Agus lansung membulat. Dengan keberanian yang tak seberapa ini, Agus menarik tirai. Tidak ada siapa-siapa disana. Kasur itu kosong dan ia hanya sendirian disana. Agus merasakan jantungnya berdebar saangat kencang. Cuping hidungnya juga kembang kempis.


“Apa gue nggak salah dengar?” pikirnya dalam hati.


“Gus, ayuk!” kakaknya Agus masuk dan menyandang tas yang berisi kebutuhan Agus selama di rawat.


Sementara itu Agus masih mematung dan melihat kasur kosong tersebut.


“Agus buruan!”


“Ya kak!” sahut Agus.


“Kamu lihat apa?”


“Nggak ada.” Geleng Agus. Merekapun segera meninggalkan ruangan rumah sakit tersebut.


.


.


.


“Kamu duduk disini, aku mau panggil taksi dulu oke.” Pinta kakaknya Agus.

__ADS_1


“Kenapa harus repot-repot sih, kak. Kita naik angkot biar bisa hemat.” Ucap Agus..


“Nggak perlu, kamu harus jaga kesahatan kamu. Nanti kalau kamu sudah kaya baru kakak minta imbalan kejadian hari ini.” Jelas kakaknya Agus.


“Dasar matre.” Cemooh Agus.


Kakaknya hanya tertawa. Ia tidak peduli dengan omongan adiknya. Agus kembali ditinggalkan di lobi rumah sakit. Saat sendiri itu, Agus melihat seorang wanita yang seumuran dengannya dan juga seorang ibu-ibu yang di dorong dengan menggunakan kursi roda.


Mereka saling tukar pandang satu sama lain, yang satu dengan tatapan heran dan yang lainnya melihat dengan tatapan datar. Tentu saja itu Merri dan ibunya, Kusuma.


“Kamu hebat juga bisa bertahan. Selamat ya!” Ucap gadis itu. Ia menyunggingkan senyum sedikit. Kemudian tanpa banyak bicara lagi, gadis itu kembali mendorong kursi roda yang di duduki kusuma. Ia membiarkan Agus dengan tampang kebingungan.


Sebelum langkahnya semakin jauh Merri kembali menoleh kearah Agus, "Oya, sekedar nasehat aja. Kamu harus terbiasa dengan dirimu yang saat ini. Jika melihat mereka kamu harus diam. Jangan direspon. Sebab kalau di respon malah kamu yang repot. Ini pesan terakhirku." Merri menyunggingkan senyum. Dia mendorong kursi roda tersebut dan pergi meninggalkan Agus yang semakin penasaran.


“Merri.” Pikir Agus. “Merri, apa jangan-jangan dia Merri. Suara itu sangat familiar. Merri!” Agus memanggil gadis tersebut. "Merri!!" Dia mencoba menyusul gadis tersebut. Namun terlambat. Merri sudah menaiki sedan kuning. Gadis itu duduk di bangku kemudi sedangkan Kusuma berada di sampingnya.


Agus hendak mendekati sedan tersebut. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti. Samar-samar Agus melihat sosok lain duduk di belakang. Semakin lama terlihat jelas. Sosok itu tidak terlihat seperti manusia tapi sedikit aneh. Matanya kuning terang dengan leher yang lebih panjang dengan kulit sisik kasar bewarna hijau kemilau. Hidung yang kecil dan runcing dan daun telinga yang juga terlihat aneh. Makhuk itu juga menoleh kearah Agus dan mengacungkan telunjuk yang ramping dan panjang didepan mulutnya. Mata Agus lansung membulat karena kaget, sebab kuku manusia aneh itu sangat panjang dan bewarna hitam.


“Ssstt...!!”


“Apa, apa itu? Makhluk apa itu?” pikir Agus.


“Agus, kakak udah dapat taksi dan udah nego, harganya pas, ayo cepat. Keburu bapaknya naikkin harga lagi.”


Agus hanya menunjukkan tampang yang melongo.


“Apa benar otaknya baik-baik saja?” gumam kakaknya Agus yang sangat mencemaskan kesahatan Agus.


.


.


PESTA JAILANGKUNG//


.


.


.


“Jangan heran buk, saat ibuk kerja tanpa membawa mobil. Aku diam-diam latihan nyetir di halaman rumah. Itu aku lakuin sejak kelas satu SMP.” Jelas Merri.


“Pantas, bensinnya cepat habis. Ibuk kira mobil kita boros. Ternyata kamu toh.”


“Hahaha habisnya aku suntuk di rumah sendirian. Terus, nggak ada yang berani ngajak aku mainkan. Makanya aku belajar nyetir kalau ada mobil.”


“Kalau nggak ada mobil kamu ngapain?”


“Aku baca novel atau komik sesekali usir tuyul yang mampir kerumah. Tapi akhir-akhir ini ada novel baru penulisnya bernama JK Rowling. Aku suka karakter utamanya. Aku marasa ada kesamaan dengan karakter utamanya.” Ucap Merri.


“Apa itu?”


“Kalau aku bukan anak yang aneh dan menakutkan, hanya saja aku memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Itu saja.” Jelas Merri, “Oya, kita mau kamana?” tanyanya kemudian.


“Kampung halaman ayahmu.” Jawab Kusuma.


“Ibu tau jalannya?”


“Ikuti saja arah Gunung Lawu.”


“Siap bos, laksanakan.” Ucap Merri.


“Kamu ini bisa aja.”


“Gunung Lawu, itu kampung halamanku juga.” Sela Rohi di belakang.

__ADS_1


“Hmm..!” Merri hanya tersenyum.


“Kenapa?” tanya Kusuma penasaran.


“Nggak ada apa-apa kok Buk!” balas Merri.


“Kapan kau kenalkan aku dengan Kusuma, hah!” dumel Rohi yang mengenakan kacamata Hitam. “Bangunkan aku kalau sudah sampai, okay!”


“Ibu mau istirahat dulu, bangunkan ibu kalau kita sudah sampai di rest area.”


“Baik!”


Mobil sedan kuning itu terus melaju memecahkan jalanan ibu kota menuju suatu tempat. Dimana disana, kehadirannya tengah di nantikan  sejak dahulu kala. Masih ada satu masalah yang harus ia selesaikan. Masalah keluarga. Yang bisa menyelesaikannya juga hanya bisa oleh keluarga.


.


.


.


PESTA JAILANGKUNG... Bersambung?


20 tahun setelah pesta Jailangkung


“Hi guys, Bertemu lagi dengan gue DIMAS, selamat datang di chanel Youtube gue. Seperti biasa sekali seminggu gue akan menelusuri tempat-tempat angker agar kita bisa Merinding disko bersama-sama...! Sekarang gue berada disebuah bangunan rumah yang dimana dua puluh tahun lalu mengalami kebakaran. Penghuninya pergi begitu saja dan tidak pernah kembali. Kemudian menurut cerita beredar, tanah dan rumah ini di penuhi misteri. Sebab


siapapun yang membeli rumah ini dan di buka untuk usaha ataupun dihuni layaknya rumah pasti mengelami kesialan. Benarkah itu? Makanya gue Dimas bersama Tim merinding disko akan membuktikan hal itu di sini! Di rumah ini!”


“DIM!!!!” seorang cowok bertubuh tambun dengan kaca mata bulat mendekati cowok tampan bak model bernama Dimas.


“Apaan? Lo kebiasaan kalo gue shooting suka nyela mendadak. Ada apa sih?” cowok di sapa Dimas itu terlihat kesal. Ia melepaskan kaca mata hitam yang membuat kagantengannya bertambah.


“Ini, gue nemuin ini di ruang bawah tanah, gue kesana sama Kuncoro. Ya kan Kun!”


Cowok berambut ikal gondorong dan cungkring itu mengangguk. “Ya, disana lebih seram lagi tau. Gue marasa hawa mistis disana.”


Dimasmelihat boneka beruang yang lusuh dan kedua sisinya sepertinya diikat sejenis penggaris anak sekolahan. “Boneka doang, apa seramnya sih?” Dimas malah tersenyum cengengesan.


“Lu coba dekatin tuh boneka di kuping lu. Pasti lu dengar sesuatu deh.” Suruh temannya.


Dimas mengikuti perkataan temannya. “Gue nggak dengar apa-apa.”


“Dengar dulu yang benar!!!”


“Gini aja deh, biar gue suruh subcriber gue yang dengar.” Dimas lansung mengenakan kacamata hitam. Kamera di tangannya juga ia nyalakan. “ACTION!”


"Anjim... janganlah! Gue takut kenapa-kenapa!!"


“Guys, dua teman gue yang unfaedah ini baru aja nemuin benda aneh. Ini menurut mereka sangat menakutkan. Sebuah boneka beruang yang sudah lusuh dan jorok. Tapi bagi mereka menakutkan. Gue heran dimana sisi paling seremnya sih? Ntar kalo dicuci trus diisi kapas lagi bisa jadi kado buet cewek gue. Gue bilang, Beb kado gue dari anak-anak merinding disko buatmu seorang. Hahahaha seru nggak tu!! ”


“Lu dengar aja suaranya. Kayak ada bunyi yang ngomong disana.” Perintah Kuncoro.


“Tuh dengarkan guys, si Kuncoro nyuruh gue buat dengarin suara boneka. Mungkin sebelum shooting tuh orang nonton film caki kali ya, atau nggak anabel. Hahaha, ya udah gua kasih dengar kepada kalian. Menurut kalian bunyi apakah itu, apakah itu suara perut Kuncoro dan Frans tulis di kolom komentar.”


Dimas mendekatkan boneka tersebut ke mic. Berlahan tapi pasti, suara itu seketika terdengar lebih jelas. Suara itu seperti diserukan sekelompok orang dengan suara rendah dan bernada cepat.


"Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar,"


"Mana ada coba?!"


Saat bersamaan sepasang mata bewarna merah berkedip di antara kegelapan. Dengan jubah hitam yang menutupi seleruh tubuhnya, ia berlahan mendekati ketiga remaja tersebut.


"GYAAAAAAAA!!!!!!"


"GYAHAHAHAHAA!!!"

__ADS_1


PESTA JAILANGKUNG// TAMAT (?)



__ADS_2