
DWAAAARRRRRR
Langit gelap, sekumpulan awan hitam lansung menyelimuti daratan kota Jakarta. Petir dan kilat sahut menyahut menyambar di kawasan langit, seolah ia tahu, ada yang tidak beres di bawah sana saat ini.
“KYAAAHAHAHAHA...!!”
Begitupun dengan Karin menumpahkan tawa penuh kebencian. Diantara bunyi petir dan sambaran kilat, wajah itu semakin terlihat menakutkan. Ada rencana yang ia simpan di benaknya. Apapun itu Merri harus bersikap waspada. Begitu juga dengan Arinda dan lainnya.
“Apakah lebih parah dari lu, Nda?” bisik Tito. Dia juga takut. Baru semalam dia melihat Arinda ngamuk kesetanan, sekarang giliran Karin, temannya yang lain.
Arinda menoleh. Dia tidak suka dengan omongan Tito, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk memusingkan pendapat cowok ini.
“Apa yang kau lakukan Karin?” tanya Pak Ruslan.
“GYAHAHAHA...!!” gelak tawa Karin menggelegar. “Yang aku inginkan adalah... Karin Ma..Ti..!” karin berlari cepat.
Merri melihat langkah kaki Karin, ia melompati kaca jendela ruang wakil kepala sekolah, yang berada di lantai dua.
“KARIIIInNNN!!” teriak mereka yang ada di dalam ruangan tersebut. Tubuh rampingnya berhasil memecahkan kaca jendela dan tubuh itu siap meluncur dari udara untuk menghantam halaman sekolah.
Sepintas, Merri melihat satu bayangan hitam yang begitu cepat keluar dari pundak Karin dan terbang ke langit yang di sambut kilat dan petir.
HUP!
“Karin! Ja jangan sampai ja tuh!!” tahan pak Ruslan yang berhasil merah salah satu tangan Karin. “Kalian
bantu saya!” teriak pak Ruslan.
Arinda, Tito, dan Fitri segera maju. Fitri memanfaatkan berat badannya membantu pak Ruslan menarik tubuh Karin yang sama sekali tidak bergerak. Sebab di bawah sana, Karin sama sekali tidak sadarkan diri. Tubuhnya sangat lemah, tidak berdaya dan juga sangat pucat.
“Fitri, gua bantu!” ajak Arinda yang juga ikut memapah tubuh Karin. Tito mengarahkan mereka kagar Karin bisa di rebahkan di atas sofa.
“Kenapa dalam keadaan Bu Lira tidak ada, bencana ini terjadi?” tanya Pak Ruslan sedikit kesal.
“Maafkan Bu Lira ga bisa datang, Pak, soalnya Bunda juga kelelahan menjagaku dari semalam.” Ujar Arinda.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya bu Rahma, guru yang selalu protes dan menyudutkan masalah kepada Merri.
“Itu... aku kurang tau, tapi masalah ini berawal dari saya dan sekarang mencelakai Karin, bu.” Jelas Arinda lagi. Dia menunduk.
“Kamu, jangan mengada-ngada, Arinda.” Bentak bu Rahma sedikit kesal. Guru itu kembali menatap Merri kesal. Dia masih menilai Merri sebagai biang keroknya.
Merri hanya diam. Dia biarkan guru tersebut menilai sesukanya. Dia siap untuk jika sekolah mau mengeluarkannya lagi. Mungkin ini sudah takdirnya mendapat sebuah keberkahan dalam bentuk kesialan.
“Merri.” Arinda memegang pundak Merri lembut. Mata sayu itu menatap Arinda.
“Mau bantu aku?” pinta Arinda.
Merri tidak bergeming. Dia baru saja berjanji kepada dirinya untuk tidak terlibat lagi.
“Bantu aku, buat sembuhin Karin seperti yang kamu lakuin ke aku semalam.” Pinta Arinda. Dia melihatkan wajah memohon.
Pak Ruslan menatap Merri. Ia lebih terlihat penasaran. Sedangkan guru wanita itu hanya melotot tidak percaya.
“Melakukan apa?” tanya Pak Ruslan.
“Merri semalam membantu Arinda, Pak.” Jelas Tito. “Saya semalam lihat dan bantu bu Lira sama om eh pak Ajar juga.” Lanjut Tito.
Pak Ruslan berfikir cukup keras. Apa boleh siswa ini melakukan hal-hal di luar akal sehat. Lalu jika pihak yayasan dan bu Lira bertanya, jawaban apa yang akan ia berikan?
“Merri, hayo, lakuin yang seperti semalam... yang pufftttt kekuatan super sampe ada yang hueks lagi.” Lanjut Tito, dia tampaknya ketagihan melihat proses pengusiran setan ala Merri dan ibunya.
“Pak Ruslan!” bu rahma mengingatkan wakil kepala sekolah tersebut.
Merri masih ragu. Dia tidak tau apakah yang ia lakukan akan berhasil. Sebab, semalam ia di bantu oleh sang ibu.
__ADS_1
“Lakukanlah, biar saya bisa mempercayai jika kamu tidak bersalah.” Ucap pak Ruslan akhirnya.
Merri hanya menghembuskan nafasnya pelan. “Aku sudah terlibat, maka harus segera di selesaikan.” Ucap Merri dalam hati.
Ia mendekati Karin yang belum sadarkan diri. Sebenarnya setan itu telah pergi dari tubuh Karin. Merri melihatnya sendiri. Tapi sisa energi negatif itu masih mengikat tubuh Karin dengan kuat. Di alam bawah sadarnya, Karin pasti tengah diikat dan di siksa.
Merri meraih liontin yang selalu menggantung di leher kecilnya. Dia kemudian memejamkan mata. Membiarkan tubuhnya rileks sesaat dan melantunkan beberapa bacaan mantra yang ia pelajari dari ibunya dan juga buku
kuno waktu itu.
“Wahai penguasa langit dan bumi, izinkan saya memohon padamu.” Bisik Merri yang kemudian menarohkan liontin itu tepat di dahi Karin.
Awalnya wajah Karin memperlihat ekpresi sedang menahan sakit. Lalu keringat mulai bercucuran di sekitar dahinya. Begitu juga dengan keringan Merri. Tak lama, mata Karin membuka, begitu juga teriakan penuh
kesakitan yang ia rasakan.
“GYAAA PAAANASSS!!!” teriak Karin yang meronta.
Tito dan Arinda berinisitif untuk menahan tubuh Karin, namun telat. Kedua tangan Karin yang bebas menangkap kepala Merri. Ia sengaja mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Merri yang juga kaget.
“PANAS... BR*NGS*K...!!” teriak Karin nyaring. Semua yang ada disana kaget. Terlebih Merri yang seketika merasakan ada hal lain bergerak di balik bola mata karin yang bergetar karena kepanasan.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
Merri merasakan ada gelombang hebat yang berputar di belakangnya. Pandangannya berkunang, begitu juga tubuhnya yang terhuyung lemah. Badan itu seolah di bawa angin yang mendorongnya jauh. Sepasang daun telinganya juga menangkap suara gaduh yang terus mendengung. Dalam satu momentum, semua
kegaduhan dan pergerakan itu hilang seketika. Begitu juga orang-orang disekitar Merri. Arinda, Fitri, Tito, Bu Rahma, pak Ruslan dan Karin hilang dari pandangannya. Begitu juga dengan semua benda yang ada di ruangan itu.
Merri di hadapkan pada sebuah pintu kamar bercat putih dengan dinding disekitarnya di cat Merah. Seseorang yang mengenakan pakaian rumahan membuka pintu. Merri segera menghindar, sebab si wanita yang
masih terbilang muda itu membawa nampan bersisi dua gelas minuman segar dan cemilan. Didalam ruangan itu, ia mendengar suara gelak tawa.
“Mbak Mikha, missi!” ucapnya dengan gaya bicara yang khas.
Merri memasuki kamar Mikha. Memperhatikan tiap detil kamar yang terlihat cukup luas dan juga rapi. Sesuai dugaan Merri, Karin ada disana. Mereka duduk dilantai kamar tepat didepan kasur dengan sprei motif bunga bewarna merah jambu itu. Disamping Karin ada seorang gadis dengan wajah cantik dan kulit putih. Merri yakin jika dia adalah Mikha. Mereka tertawa cekikikan seolah baru saja membahas hal seru.
“Mba, ini minumnya, saya taroh sini, ya.” Ucap asisten rumah tangga itu.
“Ya, mba!” ucap Mikha. Asisten rumah tangga itu segera keluar.
“Tapi lu yakin mau lakuinnya emang?” tanya Karin, pas yakin, keadaan sekitar sudah kembali aman.
“Ya, gue yakin.” Ucap Mikha. “Ini udah gue lakuin dari semalam tau.” Ucap Mikha. Dia mengambil jangka yang diikat dengan seutas rambut.
“Hahaha cemen!” sembur Karin.
“Enak aja cemen. Ini keren tau. Lagi trend.” Mikha membela.
“Menurut majalah mistis ini, jailangkung di lakuin kalau ada pake media bonekanya.”
“Yang batok kelapa itu? Ga ah serem!” Mikha bergidik.
“Bikin aja versi imut tapi sadis.” Seru Karin.
“maksudnya?” tanya Mikha bingung.
“Kepala boneka tapi tetap mempertahankan bentuk jailangkungnya.” Karin berseru semangat.
“Coba aja, nih ada beberapa boneka. Tinggal pilih.” Ucap Mikha.
“Oke!” Karin menilai beberapa boneka Mikha. Disana ada boneka susan, dia menilai boneka susan itu cocok karena teksturnya yang padat.
“Tapi jangan yang ini, ya.” Ucap Mikha tiba-tiba menunjuk sebuah boneka beruang ukuran sedang.
“Kenapa?” tanya Karin.
__ADS_1
“Dari Tito soalnya, gak enak kalau anaknya ntar tau.” Ucap Mikha.
Walau hanya penonton, Merri dapat melihat raut wajah tidak suka Karin. Dia kaget sekaligus sedih. “Ternyata selama ini karin menyukai Tito.” Pikir Merri.
“Ya udah, ini aja. Kan lu pengen tau apa kak Rangga suka sama elu apa bukan. Jadi ga ada kaitannya sama Tito.” Usul Karin.
“Tapi, Tito udah baik sama gue. Ga enak tau.” Ucap Mikha.
“Ya jangan kasih tau. Justru gua khawatir boneka ini kasih aura ga bagus saat kita main jailangkung.” Jelas Karin asal.
“Tapi..”
“Tapi apa?”
“Karin, Tito pernah nembak gue. Dia pikir gue benaran suka sama dia.” Jelas Mikha tiba-tiba.
“Trus lu terima?!” tanya Karin sedikit mendesak.
“Ya gak lah. Tapi gue ga tau harus nolaknya gimana.” Pikir Mikha.
“Ya udah, sekalian kita tanya pas main jailangkung.” Karin lansung mengambil boneka beruang itu. Ia dengan kesal merobek bagian perut boneka.
“Kok di robek?” tanya Mikha kaget.
“Biar bisa nyimpan benda buat mancing mereka.” Ucap Karin kesal. “Aku tidak suka boneka ini. aku benci TITO!!” pikir Karin dalam hati.
SREEK
“AGH!” tangan Karin di jilati kerter sehingga mengeluarkan darah.
“Karin?!!!” Mikha kaget. Karin menghentikan sobekan itu. Dia melempar boneka yang kena noda darah Mikha kelantai. “Sini, obati dulu luka kamu..!! Mbak Santi... bawain kotak P3K dong.” Teriak Mikha yang kemudian segera di laksanakan ART tersebut.
Tangan Karin segera di obati. Untung lukanya tidak dalam. Karin menyesal, karena termakan emosi dan cemburu dia menyelakai dirinya sendiri. Merri yang memperhatikan itu turut merasakan kesepian terdalam di dalam hati Karin.
“Lu yakin mau main jailangkung?” tanya Karin tiba-tiba.
“Iya.” Mikha mengangguk.
“Alasan sebenarnya buat apa?” tanya Karin. “Kalau buat nolak Tito biar gua bantu omongin. Trus kalau buat nanya perasaan kak Rangga biar gue bantu juga.” Ucap Karin.
Mikha hanya terdiam. “Ada darah darah gue nempel di boneka ini, gue saranin lu pake boneka yang lain. Besok
kalau dapat uang bulanan dari babe gue, gue gantiin boneka lu yang rusak.” Ucap Karin penuh sesal.
“Kenapa? Ga usah.” Ucap Mikha.
“Gue hanya takut, hantunya ngincar gue karena udah keendus darah gue. Kalo menurut film horor sama novel horor yang gue baca, rata-rata mereka menggambarkan hantu seperti Hiu atau srigala. Suka ngendus darah dan mengunci mangsa yang berdarah.” Ucap Karin sedikit cemas.
“Ha ha ha.. itu kan cerita horor, Karin jangan percaya sama gitu doang.” Ucap Mikha.
Kringg...!!!
Telfon berdering di ruang tengah. Asisten rumah tangga Mikha sudah bergerak mengambil ganggang telfon tersebut. Sementara dua remaja itu hening. Kesunyian itu pecah saat ART Mikha kembali kekamar Mikha dengan wajah sedikit cemas.
“Telfon dari keluarga Karin, katanya di suruh balik. Soalnya bapak Karin di rumah sakit.” Ucapnya.
“Babe?! Pasti usus buntu. Gue harus balik sekarang Mikha, sorry ga bisa lama-lama temanin lu. Besok kita main lagi, bye!” ucap Karin yang panik. ia mengambil ranselnya dan lansung pergi.
Mikha yang di tinggalkan hanya diam begitu juga mbak asisten rumah tangga tersebut.Karin segera keluar rumah berlari setengah panik, sedangkan Mikha memegang boneka beruangnya.
Merri tiba-tiba merasa gempa kecil di pijakannya. Ia tau, ini bukanlah sebuah pijakan. Tapi kenangan Karin mengenai hari itu sudah berakhir. Semua yang ada disana bergerak menjauh dari jangkauan dan pandangan Merri. Namun sebelum hilang sepenuhnya, Karin melihat sebuah bayangan hitam berdiri diantara Mikha dan asisten rumah tangganya. Bayang hitam tinggi dengan mata bewarna merah memperhatikan mereka berdua.
“Dia sudah ada disana sebelum permainan itu di lakukan.” Pikir Merri. “Dia tidak di panggil, tapi sengaja menampakkan diri dihadapan Mikha, Arinda, dan kami semua. Rohi benar, dia kiriman. Tapi dari siapa? Atau peliharaan orang di rumah ini?” Pikir Merri dalam hati.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...
__ADS_1