Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
Permata Hitam


__ADS_3

“Anak malang, kau pernah dengar itu dari iblis kecil yang mengekorimu itu. Dia ada benarnya. Kau memang anak malang itu. Ayahmu mati aku bunuh dan ibumu pernah ingin membunuhmu karena kau memiliki takdir yang sama


denganku. Tapi untungnya kau tidak sepintar ibumu apalagi aku. Kau masih polos seperti bocah berusia lima tahun waktu itu.” Mbah Uti terus menceracau. Langkah kaki itu terus mendekati Merri.


Merri berusaha mejauh. Kakinya tertatih-tatih untuk menghindari wanita tua yang kini terlihat menakutkan. Terlebih kaki yang sepanjang hari ini terus berlari sudah semakin lelah dan juga menggigil.


“Jangan pernah kabur lagi Merri. Hadapi kenyataab hidupmu dan temui aku. Hehehe...!” ucap Mbah Uti.


Merri memasuki rumahnya dan begitu juga mbah Uti. Saat ia melihat di jendela rumahnya, Pak Tejo telah memasukan badan ibunya ke dalam mobil sedan bewarna hitam.


“Merri!”


Mata Merri menoleh kearah sumber suara. Mbah Uti yang berdiri di gerbang pintu dari taman itu tersenyum sinis kearahnya.


“Tidak... jangan libatkan aku dan ibu dengan jalan hidupmu!” mohon Merri.


“Tapi hal itu tidak bisa Merri, permintaan telah saya terima dan kalian harus mati.”


“Siapa yang meminta? Siapa?”


“Maerta memintanya Merri. Kau telah terlibat dengan masalahnya dan Maerta tidak menyukaimu dan ibumu.” Jelas mbah Uti.


“Maerta hanya peliharaanmu, kenapa kau harus mematuhinya?” tanya Merri.


“Dia bukan peliharaan. Aku yang menerima tawarannya yang menarik dan kita bekerja sama. Asal kau tau Merri, aku tidak mau mati dengan cepat. Aku adalah seorang dukun melegenda dan kau tau kekuatanku sangat di segani oleh banyak orang. Aku tidak mau ada yang mengambil posisi itu dan Maerta membantuku.”


“Bohong! Dia pasti telah membohongimu!!!” bentak Merri.


“Jangan bicara seperti itu, Merri. Maerta membencinya! Kau harus jaga ucapanmu!”


“TIDAK AKAN. Dia pembunuh! Dia Rakus dan serakah. Aku tidak ingin kau bersamanya!!” bentak Merri.


PRANK


Mbah Uti yang tersulut emosi menjatuhkan kendi ukuran besar yang berdiri di sampingnya. Benda yang terbuat dari tanah liat itu pecah dan menjadi beling-beling dengan sisi yang sangat tajam. Begitu juga dengan beberapa keramik yang menghiasi rumah tersebut. Padahal Mbah Uti sama sekali tidak menyentuh mereka. Hanya saja energi kegelapan yang menguasai jiwa dan raganyalah yang membuat benda tersebut berjatuhan. Dengan kata lain Maerta itulah yang melakukan itu semua. Satu kendi naik ke langit-langit rumah. Merri memperhatikannya.


“GYAAAHAHAHA....!!!” samar-sama Merri mendengar hembusan angin yang sangat besar. Suara itu persis seperti gauman tawa. Bulu kuduknya merinding, terlebih kendi yang mengudara itu siap lepas landas tepat di kepalanya.


“Apakah aku mati begitu saja?” pikir Merri.


“Tidak akan!” Jawab Rohi di kepala Merri. Sosok iblis dengan badan setengah reptil itu muncul di belakang Merri. Tangannya yang kokoh merangkul tubuh kecil Merri. Sedetik sebelum kendi itu melayang tepat di kepalanya, Rohi segera memindahkan Merri di sisi ruangan yang lain.


PRANK


Kendi tersebut menghantam dinding dan pecah dengan sempurna.


“Cih! Permaianan ini tidak seimbang! Dari dulu nenek si*lan ini memang suka bermain curang.” Gumam Rohi.


“Rohi, terimakasih!” ucap Merri.

__ADS_1


“Bukan waktunya berterimakasih. Selagi manusia iblis itu masih tersenyum dan senyumnya lebih licik dari senyumanku, maka kita harus menghentikannya.” Jelas Rohi.


Merri memperhatikan mbah Uti yang tersenyum melihat kehadiran Rohi dan keberhasilan  Merri yang lolos dengan mudah. Dia mengepal tangannya dan menggerakkan tiap-tiap jarinya sehingga terdengar bunyi tulang dari sana.


“Semakin menarik!” gumam mbah Uti.


“Tentu saja!” jawab Merri dengan satu matanya berubah bewarna kuning keemasan.  Tanda ia dan Rohi telah bersatu sama lain.


.


.


Pesta Jailangkung


.


.


Dua lawan dua. Bukanlah perlawanan yang mudah di hadapi Merri dan Rohi. Terlebih lagi yang di hadapinya ada wanita yang sudah tujuh puluh lima tahun lebih. Hampir dari separoh dari usianya, ia telah mendalami berbagai ilmu hitam. Pengalaman dan waktu membuatnya semakin kuat, lagi dan lagi.


Sedangkan Merri yang baru beberapa minggu ini berdamai dengan takdirnya hanyalah sebuah isapan jempol. Walau sudah bersatu dengan Rohi, tetap saja pertarungan ini terlihat berat sebelah. Dengan mudah Mbah Uti membanting tubuh kecil Merri. Tubuh gadis itu beberapa kali menghantam dinding rumah. Bahkan di ujung bibirnya, tanpa ia sadari ia telah meneteskan darah.


“Merri sudahlah, tidak ada gunanya melawanku.” Ucap Mbah Uti.


“Uhuk!” Merri terbatuk. Mata kirinya yang yang menguning terlihat kesal.


“Tidak akan pernah!” jawab Merri.


Merri tidak peduli dan ia segera bangkit. Merri menggenggam beberapa serpihan beling halus yang jatuh berserakan di lantai rumah. Ia kemudian mencoba menghajar mbah Uti sekali lagi. Namun lagi-lagi, mbah Uti yang


sangat hafal gerakan kaku dan cerobohnya bisa menghelak. Serangan Merri kembali di tangkis. Saat kesempatan itu di pakai Merri yang memiliki ide lain. Serpihan beling itu ia lemparkan tepat di wajah mbah Uti.


“GYAAAA!!!” mbah Uti teriak kesakitan. Matanya menjadi perih dan air mata yang keluar juag bewarna merah. “ANAK DURHAKA!!!” bentak Mbah Uti yang mengangkat kedua tangannya.


Ia mengangkat semua benda yang ada di dalam rumah, mulai dari piring, gelas, sendok garfu bahkan pisau yang ada di dapur. Semua benda itu ia layangkan secara bersamaan kearah Merri.


Merri segera berlari di balik sofa rumah dan merundukkan badannya agar tidak kena serangan benda-benda tersebut.


“GYAAA mati KAU ANAKTIDAK TAU DIRI!!!” erang mbah Uti.


PRANK...PRANK...


Benda itu berbunyi cukup keras dan menghujani dinding rumahnya dan kemudian hancur berkeping-keping di lantai rumah tersebut.


“Ada ide lain?” tanya Rohi.


“Hah hah hah..!” Merri mengatur nafasnya yang sesak. “Ada!” jawab Merri.


“Apa?” tanya Rohi.

__ADS_1


“Batu permata hitam yang ia sembunyikan di kantongnya. Kita harus bisa mengambilnya.” Jelas Merri.


“Dari mana kau tau?” tanya Rohi.


“Aku menguping pembicaraan mereka dan semua masalah yang telah di alami  Arinda dan kawan-kawan


ada disana.” Jelas Merri. “Dengan kata lain, akar dari permasalahan ini adalah batu permata hitam itu.”


“Baiklah. Mari kita rampas.” Rohi memisahkan diri dari badan Merri dan ia segera maju untuk menghambat langkah iblis Maerta tersebut.


“Tunggu!!”


“Tidak ada waktu Merri!! GYAHAHAA!!!” tawa Rohi penuh semangat. Dia menghadang bayangan hitam yang mengerikan itu. Ia menariknya masuk dalam dinding rumah dan membawanya ke laingit yang gelap.pertarungan dua iblis itu membawa dampak lain. Langit yang lengang seketika menjadi ribut. Ada angin kencang, awan gelap yang datang dan juga petir yang saling menyambar.


Merri segera bangkit ia kembali menghadapi mbah Uti yang masih mengalami maslaah dengan penglihatannya. Mbah Uti mendengar langkah Kaki Merri dan ia dengan sigap menjegalnya. Merri terjatuh. Gadis itu memegang jubah baju mbah Uti yang penuh manik-manik.


“Tidak akanku lepaskan!” pikir Merri.


“Anak Kurang ajar!”


BUK BUK


Merri ditendang tepat bagian perat.


“GYA!!!”


“TEJO!!!” panggil mbah Uti. Dia meminta bantuan dari asistennya yang setia.


“Tidak akan kubiarkan!!” ucap Merri yang merintih kesakitan. Merri menahan kaki Mbah Uti yang membuatnya kehilangan kesimbangan dan jatuh tersungkur.


“GYA!!! TEJO!!!!”


Pria yang di panggil segera masuk. Merri tidak peduli dia segera mencari permata hitam. Benda itu ia dapati di kantong dalam jubah mewah mbah Uti. Selain itu, Merri juga menarik tasbih liontin mbah Uti.


Tejo yang masuk dengan jubah hitam membuat Merri segera berlari. Ia menaiki anak tangga dan lari menuju kamarnya. Tejo yang tampa suara itu juga mengikutinya. Pria yang selalu tersenyum itu menampakkan sosoknya yang sebenarnya. Di balik jubah yang menutupi seluruh wajah dan tubuhnya, ada seluet mata bewarna merah dan seringai yang lebih menyeramkan dari srigala yang kelaparan.


“GRRRR!!!!”


“ROHI... aku mendapatkannya!!!” teriak Merri. Ia masuk kekamar dan mengunci pintu kamar itu.


CEKLEKCEKLEK!!


Pintu kamar itu lansung di goyangkan dengan cepat. Merri yang menahannya dengan meja belajarnya terpaksa mengurungkan niat. Ia harus memutar otak lebih cepat. Kemana ia harus pergi?


Merri hanya melihat lemari kamarnya dan jendela kamar.


“Jangan berfikir panjang!” pikir Merri yang berlari ke arah jendela kamarnya. Ia lansung membuka pintu jendela dan melihat kebawah. Ada tanah tandus. Bisa jadi kakinya terkilir tapi yang terpenting dia tidak mati.


Pintu kamar Merri terbuka. Manusia berjubah itu berdiri disana. Di belakangnya juga ada mbah Uti dengan kedua matanya yang memerah.

__ADS_1


“TIDAK AKAN PERNAH AKU BIARKAN LAGI!! KEMBALIKAN BARANGKU!!!”  teriak mbah Uti.


Pesta Jailangkung... // masih bersambung...


__ADS_2