
Tinggi dengan wajah lancip menakutkan. Taring gigi kecil yang tersusun rapi menghiasi senyum licik yang hampir menyentuh seluruh pipi hingga ke matanya. Di dalam sana, Merri dapat melihat sebuah lidah bewarna
hitam yang menggulung, setiap lidah itu keluar ukurannya sangat panjang dan hampir bisa menyapu seluruh wajah si pemilik wajah angker itu. Leher bersisik seperti kulit ular itu bak manik-manik saat terpantul cahaya. Warna hijau dan kuning terang bergantian menyilaukan matanya. Selain itu, makhluk itu memiliki surai hitam panjang yang hampir menutupi seluruh badan hingga pinggangnya yang ramping.
Hal unik lainnya, Merri juga memperhatikan manik lain yang terpasang di sepasang telinga makhluk itu. Saat angin menerpa wajah lancip menyeramkan itu, rambut itu juga ikut berayun dengan tenang. Saat itulah Merri menangkap jelas jika manik-manik itu bukan kulit sirip, melainkan anting dan giwang yang menghiasi kupingnya yang sedikit lebar dan juga lancip keatas.
“Kkau mau aappa?” tanya Merri terbata-bata. Di balik kemilau dan kemewahan yang ia kenakan, ia adalah makhluk jahat dan sangat licik.
“Apa yang membuatmu datang keduniaku?” tanya makhluk itu.
“Aaku ttidak kesini, aku di tarik makhluk tadi?” jelas Merri dengan suara gemetar.
“Hmm hehehe, tipu daya Qorin pengecut itu ternyata. Kau cukup bodoh, Merri.” Ucapnya.
“Kau siapa? Apa maumu?”
“Rohi cucu tibbir, semua jin mengenalku dan mengakui kekuatanku. Tidak ada kekuasaan yang melampui kekuasaanku dan para leluhurku. Dan Kau akan menjadi pengikutku.” Jelas makhluk bernama Rohi itu dengan nada angkuh.
Mata Merri membulat, dia tidak ingin terlibat dengan makhluk apapun. “Kenapa harus aku?” tanya Merri. Nada suaranya terdengar tinggi. Terdengar jika dia sangat benci dengan pendapat si Rohi ini.
“Hahaha, kenapa? Karena kau memiliki takdir yang sangat mengagumkan. Dimata kami dan terutama para leluhurku, kau adalah jembatan antara dunia kami dan manusia, dengan kau yang berinteraksi dengan manusia serakah dan aku akan mewujudkan semua impian mereka, kita telah membuat semua manusia bodoh itu tunduk dengan kita. Tidakkah kau tertarik dengan semua itu?”
“Tidak, aku tidak mau!” tolak Merri.
Mendengar hal itu Rohi merasa tersinggung. Dia benci di tolak, terutama dengan inang yang menurutnya sangat sempurna ini. Tangan ramping dari iblis angkuh ini lansung mengayun kearah sisi kanan Merri. Alhasil satu nisan besar tepat di belakang Merri itu hancur.
“Gyaaa!!!” Merri terkejut. Badan kecil gadis itu lansung menunduk. Diantara kepulan kabut tebal itu, Merri merangkak, dia mencoba mencari persembunyian agar Rohi sang iblis tempramen ini tidak dapat menemuinya.
“Kemana kau perginya wahai cucu adam, ciptaan Tuhan terhina karena kalian hanyalah butiran tanah!!!” Rohi memperhatikan sekitar. Melihat kekiri dan kekanan. Mata licik dan tajam itu melihat bayang Merri yang sedang
bersembunyi di balik nisan lainnya. Senyum licik penuh kemenangan terpampang di wajah angker itu.
“Kau tidak akan pernah bisa kabur dariku, wahai Merri cucu adam!!”
Penampakan wajah Rohi yang tiba-tiba membuat Merri merinding, “Gyaaa!!!” teriak ketakutan lansung menyembur dimulutnya. Dengan sikap sigap dan tanpa perasaan, Rohi menyambut teriakan ketakutan Merri dengan menggenggam batang leher Merri.
Jari-jari lentik yang ramping dan pucat itu menarik batang Leher Merri, sehingga gadis itu sesak nafas. “Hhhhkk Uhuk... lepas..kan uhuk!!!” mohon Merri dengan susah payah.
“Apa? Sayangnya aku tidak mendengarmu!” ejek Rohi yang semakin mengangkat Merri.
“Ughhhkk... ku mo hon!” Merri berusaha, tapi sayangnya Rohi sangat menikmati siksaan yang ia berikan kepada Merri.
“Kau harus menurut kepadaku, bersekutulah padaku dan terimalah takdirmu!!” Pinta Rohi.
“Tak dir ap pa??” Merri terbata-bata. Dia tidak tau apa yang di maksud Rohi, apa hubungannya dengan nasib sial yang sudah menimpanya sedari kecil ini.
“Kau adalah inangku!!” Ucap Rohi yang semakin mendekatkan wajahnya kepada wajah kecil Merri.
Melihat dua bola mata yang besar dan bewarna gelap itu membuat Merri terlihat semakin ketakutan. Dia ingin lepas, tapi cengkraman Rohi begitu kuat. Tapi semakin lama menatap dua bola mata iblis l*knat itu, Merri
semakin hanyut dalam ketakutannya. Ia seperti terhipnotis. Seketika beberapa potongan gambar dimasa lalu terpampang dalam benaknya. Ia seperti terlempar dalam kenangan masa lalu yang menyedihkan.
...
...
“Merri anak aneh!”
“Merri anak tak punya bapak!!”
__ADS_1
“Merri anak dukun santet!!”
“Merri bapaknya mati karna jadi tumbal! Hahaha!!!”
***“Merri gila, ngomong sendiri... Merri anak bgo... Merri ga punya teman...!!!”**
Merri kecil hanya diam dan duduk di sudut taman. Dia tidak mau mendekat sekelompok bocah yang
seumurannya yang tengah bermain. Sebab setiap dia mencoba mendekat, anak-anak itu akan menghindar dan kata-kata menyedihkan itu akan kembali di lontarkan.
“Heii kau!!”
Merri kecil menoleh, tidak ada seorang pun. Di sana hanya ada semak-semak belukar yang terbengkalai.
“Merri!!” suara itu muncul lagi. Kali ini sebuah tangan melambai kepadanya. Tangan itu muncul dari
semak-semak. “Main kesini denganku!” ajaknya.
Merri kecil yang terlihat sedih tidak bergeming. Dia hanya memperhatikan tangan itu.
“Mereka hanya manusia bodoh, jangan bermain dengan mereka, main disini denganku!” ajaknya.
Merri bangkit dari tempat ia duduk. Kaki kecil itu melangkah menuju semak-semak.
“Bagus anak cerdas, anak baik!!”
Dalam beberapa langkah lagi akan tiba dalam semak itu. Sebelum tangan pucat itu meraihnya sebuah suara
yang sangat ia kenal memanggilnya.
“Merri!!!”
“IBU?!” Merri kecil itu menoleh kebelakang, wajah ibunya terlihat sangat cemas segera mungkin mendekatinya.
...
...
“IBU?!” Merri yang hampir memejamkan mata karena kekurangan oksigen itu kembali membuka matanya.
“Merri apa kau mendengarku? Apakah kau bisa mendengar ibu? Merri!!!” suara itu muncul mengawang dan bergema di telingan.
“Ibu! uhuk!!! Ibu!!!” Entah kekuatan dari mana, Merri memberontak dan menggeliat di dalam cengkraman Rohi.
“Apa-apaan, kau begitu lucu seperti ulat bulu, anakku?” ledek Rohi.
“Lepaskan aku, kau tidak ada berhak atas diriku!! Lepaskan!!!” erang Merri.
Saat itu juga kalung leontin gadis itu mengeluarkan cahaya yang semakin lama semakin terang. Kedua mata Rohi menjadi silau dan perih akan cahaya tidak biasa itu. Genggamannya lepas, Merri yang akhirnya bisa lepas
terduduk sesaat di tanah tandus.
“Uhuk uhuk!!!” tidak ada waktu, ia harus bisa mengatur nafasnya segera mungkin agar konisi tubuhnya bisa stabil untuk kabur.
Sialnya, Rohi tidak segampang itu. Tubuh besar Rohi yang liat seperti kadal itu mengukung Merri.
“Beraninya kau! Kau tidak akan bisa kabur dari kekuasaanku Merri!!” bengis Rohi.
“Kau... Kau tidak ada hak mengatus hidupku, kau hanya iblis sialan!!!” erang Merri yang berusaha lebih berani dari lawan di depannya.
Rohi iblis tempramen berjiwa preman, lansung naik pitam. Dia berusaha untuk memukul Merri, dengan gesit gadis kecil itu lansung bangkit sebelum satu pukulan menghantamnya.
__ADS_1
BRUARRRR!!!!
Tanah itu bergetar saat pukulan mendarat. Tak gentar Merri berusaha lari secepat mungkin. Rohipun dengan gencar terus mengejar dan melepaskan serangan kepada Merri dengan memukul batu nisan dan ranting kayu
yang menghalangnya.
“Jangan pernah kabur dariku!!!”
“Tidak, kali ini aku harus berani!!” batin Merri. Di dalam jantung yang terus memompa dan berdetak semakin kencang, langkah kaki kecilnya tidak henti melangkah. Namun malang, satu akar pohon menghalang langkahnya
sehingga tubuhnya tersungkur ketanah.
“Hahaha!!!” Rohi tertawa girang, dia mendapat kembali mangsanya. “Kena KAU manusia sialan!!!”
Tubuh Merri kembali ia kurung dengan tangan dan jari-jari panjang dan pucat itu, “Kau tidak akan bisa kabur dariku lagi Merri. Terimalah takdirmu!!!” ucapnya dengan senyuman licik penuh kemenangan itu.
“Tidak!” bentak Merri. “Tidak akan ada satu takdir yang kau terima!! ENYAHLAHHH!!!!” teriak Merri. Sekali lagi, liontin itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Mebuat kedua mata Rohi merasa perih untuk melihatnya.
“Hentikan cahaya sialan ini!!!” Rohi hendak melancarkan serangan dengan mengayun kedua tangannya. Merri yang tepat di bawahnya berusaha melindungi dengan kedua tangannya. Memang suatu hal yang sangat mustahil, dua
lengan kecil melawan sepasang lengan iblis yang di kuasai amarah. Tapi percayalah, Rohi tidak bisa menyentuh Merri. Di balik cahaya yang semakin terang itu satu sosok lainnya muncul. Bentuknya seperti seorang kesatria dengan pakaian jaman dulu. Tidak ada bentuk wajah yang bisa ia lihat, baik Rohi maupun Merri.
“JANGAN KAU GANGGU ANAKKU!!! ENYAHLAH KAU IBLIS SIALAN!!!” suara itu bergema, begitupun bayangan yang penuh cahaya itu yang terus menyerang Rohi.
“Ibu...??”
“GYAAAAAAAA!!!!!” Rohi berteriak kesakitan, dia juga terlepampar cukup jauh.
.
.
.
.
Saat itu Merri bangun, ia melihat sekitarnya. Dia melihat dinding kamar dan dekorasinya. Ia sangat mengenal ruangan itu, yang tidak lain adalah kamarnya sendiri. Namun, pemandangan yang membuatnya sangat lega adalah,
sosok ibunya yang terus menggenggam tangannya yang tertidur disampingnya. Ia usap dahi ibunya penuh keringat itu. Kusuma terlihat sangat lelah.
“Ibu..!” panggil Merri dengan suara pelan dan lembut.
Kusuma membuka kedua matanya, melihat putrinya kembali dalam keadaan selamat. Wanita yang tidak lagi muda itu memamerkan senyum tulusnya.
“Kau tidak apa-apakan?” tanya Kusuma.
Merri lansung memeluk ibunya, ia terisak dan menangis disana. “Makasih ibu, udah selamatin aku..!!” isak Merri.
“Memang itu tugas ibu, nak!!” Kusuma mengusap lembut kepala anaknya. Dia benar-benar kelelahan, sebab sudah dua hari ini, ia terus bertanggang agar Merri bisa kembali dengan selamat. “Yang penting kau tidak apa-apa.” Ucap Kusuma lembut.
.
.
.
.
*** ***Kalian pernah mimpi buruk seperti yang di alami Merri tidak? Aku sih pernah tapi ga berhari-hari seperti Merri. Di dalam mimpi aku sadar kalau rumah yang aku tepati bukan rumahku, melainkan rumah almarhum nenek. Disana ada gadis kecil dengan rambut kepang dua bewarna coklat dan bola matanya juga cantik, coklat terang, senada dengan warna rambutnya. Dia terlihat cantik. dia mengajakku main, tapi aku tidak mau, karna aku bilang "Aku harus bangun dari mimpi." Dia ngambek, Aku usap palanya sambil baca doa. Lalu dia hilang dan aku baru bangun. Malam berikutnya aku malah ketindihan. Heheh Aku ga bisa komentar banyak, bisa jadi faktor kelelahan. Kisah Merri ini terinspirasi dari mimpi itu. So, kamu apa? Cerita aja ... :)***
__ADS_1
***