Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
56. Sampai Bertemu August


__ADS_3

 


 


Warning:  ada mantra yang siapa tau...(?) harap baca di tempat terang. Kalo tempat gelap akan berbahaya. Sebab akan merusak mata. Jika hal itu terjadi seperti pemandangan kabur, mata lelah, kepala pusing dan melihat hal-hal di luar nalar, author tidak bertanggung jawab.


"Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar,"


Merri mulai mengucapkan mantra secara monolog. Arinda, Karin dan Tito berpegangan erat saling duduk melingkar diatas gambar petagon. Mereka memejamkan mata dengan kuat. Seolah mata itu tidak akan mereka bukakan


walau apapun yang terjadi. Pikiran mereka hanya satu, “kembali pulang dan selesaikan semua ini.”Sedangkan Agus duduk di depan pintu kelas yang sudah ia tahan dengan beberapa bangku kelas. Dia memantau keadaan. Dia juga ingin kembali dan cara kembali satu-satunya ada di tangan mereka.


“Gue percaya dengan kalian. Gue percaya dengan kalian.” Ucapnya dalam hati berkali-kali.


"Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar,"


Mantra itu kembali di ucapkan. Kesan mistis lansung menguasai ruangan. Gedung sekolah yang sunyi senyap tiba-tiba memiliki nyawa. Beberapa yang tertidur bangun. Beberapa yang diam lansung bergerak. Beberapa yang tidak peduli lansung merasa tertarik.


Suara yang menarik perhatian mereka menjadi pusat perjalanan mereka yang selama ini hanya diam, hanya duduk dan tertidur. Begitupun bagi makhluk yang mengenakan jubah hitam yang menjaga di luar sekolah. Kepala yang di tutup tudung yang sangat besar hitam itu menoleh kebelakang secara serempak dan menunjuk kearah satu kelas.


Agus mendengar gumamam, aumam, cekikan tawa dan juga langkah kaki para bocah. Namun lebih dari itu ia merasakan suasana seketika dingin dan mencekam. Bulu kuduknya meremang dan dadanya semakin sesak.


"Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar,"


Mantra ketiga di ucapkan. Lampu di ruangan itu seketika padam dan menjadi gelap gulita. Arinda berteriak namun ia sama sekali tidak berani membuka mata.


“Ada yang memegang pundak gue.” Kata Arinda lantang.


“Fokus..fokus...” ingat Tito dengan suara lirih. Arinda mengangguk dan berusaha untuk fokus.


TOK TOK TOK


Pintu kelas di ketuk pelan. Agus berdiri dan mengintip lewat kaca jendela. Benar saja segala jenis penghuni dengan rupa aneh berdiri disana dan jumlah mereka sangatlah banyak. Terlebih menakutkan lagi ada Mikha yang juga berdiri diantara mereka.


“Agus bukakan pintu. Ini gue Mikha.” Ucapnya di luar.


Agus mundur beberapa langkah. Dia menggeleng. Dia tidak percaya bertemu dengan Mikha.


“Bukankah yang kalian cari gue?” tanyanya dengan suara dingin.


Agus menutup mulutnya. Dia tidak akan menjawab pertanyaan Mikha. Dia tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan makhluk halus walau ia sendiri juga di pertanyakan; apakah dirinya adalah manusia ataupun sudah mati.


“Agus... bukakan pintu. Gue ingin bertemu mereka. Karin...!!! Arinda....!!! Tito!!!” panggil Mikha di luar sana.


Tito bergidik. Begitu juga dengan Karin. “Fokus teman-teman... itu bukan Mikha...!!” kali ini Arinda yang berusaha menenangkan teman-temannya.


TOKTOKTOKTOKTOKTOKTOKTOKTOKTOKTOKTOKTOKTOKTOKTOK


CEKLEKCEKLEK CEKLEK CEKLEK CEKLEK CEKLEK CEKLEK CEKLEK CEKLEK CEKLEKCEKLEK


Pintu kayu itu di ketuk tanpa henti dan daun pintu juga terus di mainkan. Kemudian beberapa makhluk lainnya juga memukul jendela kelas dengan sangat kuat. Keempat remaja itu merasa tertekan. Tapi mereka sama sekali tidak berani membuka mata. Sedangkan Agus dengan sekuat tenaga menahan ganggang pintu agar tidak bisa di goyangkan oleh Mikha.

__ADS_1


“Jangan percaya dengan mereka. Mereka penipu. Kau tidak akan di selamatkan oleh mereka sama sekali. Karena mereka tidak pernah menyelamatkanku...!!” Mikha membuat suasana semakin kacau. Dia memprovaksi keadaan. Membuat Agus goyah.


Merri memejamkan mata dan terus mengucapkan mantra tambahan dalam hati. “Ibu... ibu... apa aku bisa menyelamatkan mereka... ibu...!!!” pikir Merri. “Aku harus bagaimana?” liontin merri menyala. Dan mata gadis itu membuka.


“Ya, kenapa aku melupakannya? Semua yang aku miliki dan yang melindungiku tersimpan disini!” pikir Merri dalam hati.


“AGUS KAU HARUS PERCAYA KEPADAKU! Mereka tidak akan pernah menyelamatkanmu. Karena mereka manusia busuk yang hanya memikirkan diri sendiri!!!!!!!”


Pintu terbuka dan para hantu masuk begitu juga dengan Mikha. Agus terpelanting kebelakang. Merri melihat semuanya. “Kalian jangan buka mata kalian sedikitpun. Jangan!!” pinta Merri kepada tiga temannya.


“Merri cepat lakukan!!!” teriak Agus.


“Kepada penguasa kegelapan yang telah menghadiri pesta kecil-kecilan ini. Kupersembahkan lentera malam untuk menyambut setitik cahaya. Tenanglah di alam kalian dan atas izin sang penguasa kegelapan, izinkan kami kembali ke dunia kami tanpa syarat apapun!Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar.”


“Tidak semudah itu gadis pengganggu!!” Mikha mendekati Merri.


“Maaf, aku bukan pengganggu!” ucap Merri yang menarik rambut Mikha. Kepala gadis itu terbentur kelantai. Merri menahannya dengan mengaitkan dengan boneka jailangkung. Kemudian ia melilitkan kepala dan boneka tersebut dengan kalung liontin tersebut.


“Kau lah pengganggu itu. Dari awal kau bukan Mikha dan jangan pernah coba menirunya lagi!” ucap Merri yang membenamkan kepala tersebut ke lantai ubin tersebut. Wajah Mikha seketika terkelupas dan kemudian berangsur memperlihatkan wajah di balik wajah tiruannya selama ini.


“Kepada penguasa kegelapan yang telah menghadiri pesta kecil-kecilan ini. Kupersembahkan lentera malam untuk menyambut setitik cahaya. Tenanglah di alam kalian dan atas izin sang penguasa kegelapan, izinkan kami kembali ke dunia kami tanpa syarat apapun!Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar.”


Ucap Merri dengan lantang. Liontinya menyala dengan sangat terang hingga menyilaukan mata bagi para makhluk yang ada disana termasuk Agus. Sedangkan para pasukan berjubah yang berbaris di luar sana segera mempercapat langkah mereka agar bisa menghentikan silau cahaya tersebut.


“Agus... pergilah sejauh mungkin... pergilah!!!!” pinta Merri.


Agus segera bangkit dan kemudian pergi meninggalkan kelas tersebut. Ia melihat arah kiri dan kanan. Semua pasukan berjubah datang. Agus tidak memiliki pilihan lain. Ia terpaksa memasuki kelasnya kembali.


“GYAAAA!!!!!” hantu yang menyerupai Mikha berteriak. Wajah itu seketika berubah menjadi tua dan keriput. Semakin wajah itu berubah, Merri dan teman-temannya juga semakin sulit untuk di lihat. Tubuh mereka seolah di telan cahaya.


PRANK.... dalam satu kali percobaan kaca tersebut pecah dan ia pun segera melompat dan mendarat diatas tanaman hias sekolah.


“OUCH!!” kakinya terkilir. Tapi Agus harus menahannya sebab ia sadar kalau ia sekarang diincar.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// 


“Teman-teman buka mata kalian!” pinta Merri.


Arinda, Karin dan Tito membuka matanya. Mereka melihat keadaan sekitar dan ini masih kelas yang sama. Bedanya tidak ada garis pentagon di bawah mereka dan juga Agus.


“Kita sudah di mana?” tanya Karin.


“Di sekolah. Disekolah kita!” ucap Merri tegas.


Tito segera bangkit. Begitu juga Arinda. Karin pun juga bergegas. “Kita harus menyelamatkan Agus!” ucap mereka lantang.


“Ya!!” angguk Merri.


Keempat remaja itu segera berlari menuju gerbang sekolah dan keluar dari sekolah dengan tergesa-gesa. Saat melewati pagar utama sekolah, tiba-tiba mereka di sambut dengan pemandangan yang sangat beda. Ibu kepala sekolah yakni Bu Lira Lubis berserta suaminya beserta jajaran petugas keamanan datang dan berkumpul. Selain itu juga ada orang tua Karin, ibu dan ketiga kakak Tito dan juga seorang wanita yang terlihat masih muda.


“Bunda?” Arinda kaget.

__ADS_1


“Ibu mencoba menghubungi kamu tapi tidak bisa. Ibu menghawatirkan kamu, nak!”


“Ya, Arinda tadi ada urusan.” Lira segera memeluk Arinda dengan sanagt kuat. Gadis itu berfikir, apakah benar ini dunia nyata atau mereka semua bukan manusia.


“Mama, Babe!!!”


“Karin... kamu tidak apa-apa?”


“Kenapa kalian bisa kesini?” karin juga bingung.


“Ya kok mama disini?” tanya Tito yang juga menghadapi orang tuanya.


“Ya, teman gembul lu nelfon kerumah!” tunjuk kakaknya Tito kearah Fitri. Dia duduk diatas mobil Tito yang bagian depannya sedikit penyok.


“Dia tertangkap polisi karena membawa mobil ugal-ugalan dan nabrak tiang. Trus polisi nanya walinya, tapi kita ga nyangka yang di telfon sebanyak ini.”


Mereka memahami, jika semua ini adalah ulah Fitri. Walau sudah menganiaya mobil kesayangannya, Tito merasa terimakasih atas inisiatif Fitri.


“Agus, ada yang lihat Agus?” tanya wanita tersebut.


“Agus ada di rumah pak Asep, dia tidak sadarkan diri. Dia diikat dan disekap di bawah kolong kasur.” Jelas Merri kepada wanita tersebut.


“Astaga! Kenapa? Kenapa?” tanya wanita itu panik.


“Makanya ayo kita kesana. Kita harus bawa Agus kerumah sakit!!!” desak Karin.


Setelah kembali di dunia manusia. Waktu berjalan normal dan bahkan terkesan cepat. Malam itu, sunyi malam lansung pecah dengan sirene mobil ambulan. Ada drama histeris dan isak tangis. Pemandangan menakutkan dari jasad pak Asep yang terlihat hangus seperti habis di bakar. Kemudian penemuan raga Agus yang tidak sadarkan diri di bawah kolong kasur. Di tambah lagi dengan pemandangan yang ada di kamar dan juga foto kepala Lira yang


di lecehkan.


“Agus bertahanlah, sedikit lagi. Semoga kita bisa bertemu kembali.”


Malam itu Agus lansung di larikan di rumah sakit. Walau tipis, ia harus segera di tangani secara medis. Benturan di kepala dan luka yang ia alami membuatnya banyak kehabisan darah. Semua orang meyakini jika pak Asep pelakunya. Polisi juga menyimpulkan jika dia mati akibat di sengat aliran listrik atau bunuh diri. Tidak ada yang bisa menjelaskan termasuk keempat remaja ini.


Malam itu semua masalah di sekolah di anggap selesai. Arinda, Tito, Karin dan Fitri bisa kembali kerumah dengan tenang. Berkumpul dengan keluarganya. Bersandar di kasur yang empuk dan nyaman.


Tapi bukan dengan Merri. “Hmm... kau masih tidak percaya denganku?” Rohi bertanya dalam benak Merri.


“Aku harus pulang. Aku harus bertemu ibu.” Jawab Merri dalam hati.


“Kau tidak akan menemuinya, Merri.” Jawab Rohi kalem.


“Maksudnya?”


“Wanita itu menahannya dan ia ingin perang dengan kau dan aku. Kau telah merusak rencananya dan ibumu terlibat. Sebenarnya ini bukan yang pertama tapi yang kedua kalinya.”


“Wanita, siapa?”


“Pemilik acara pesta jailangkung ini, wahai gadis malang.”


“Siapa Rohi?”

__ADS_1


“Kau akan mengenalinya saat berhadapan lansung dengan wanita busuk itu.”


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//  bersambung...


__ADS_2