
_Harap baca jangan sambil nyemil_
“HUUUUEEEEEEK...!!!”
Karin muntah dan mengotori lantai ruangan wakil kepala sekolah. Cairan hitam pekat itu mengotori lantai keramik bewarna putih. Bak air terjun Niagara yang menjatuhkan jutaan ton ikan sarden, aroma yang tak menentu mengganggu penciuman mereka yang ada disana.
“Gue ga tahan... hueks!!” Tito lansung berlari keluar dari ruangan tesebut. Disusul dengan Fitri dan bu Rahma.
Pak Ruslan selaku pemilik ruang hanya terbelalak. Dia tidak percaya akan menerima hari yang cukup berat dan panjang. Ia melirik ke arah Merri. Merasa di perhatikan Merri hanya menunduk.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
Hari nan sibuk yang panjang dan berat. Para siswa di bubarkan lebih cepat dari jadwal sebenarnya. Pihak guru merasa tidak aman jika kegiatan belajar dan mengajar terus di paksakan. Para murid, guru dan staf segera menyandang tas dan meninggalkan pekerjaan mereka. Anak-anak yang mengalami kerasukan juga sudah selamat dan di hantarkan kerumah mereka masing-masing. Guru Agama dan Ustad yang sudah mendengar kabar Karin merasa bersyukur dan kembali mengurus ruang mushala yang berantakan.
Namun tidak bagi Karin, Merri dan Arinda. Ketiga remaja itu masih di ruang wakil kepala sekolah. Tito dan Fitri menunggu di luar. Setelah pak Asep membersihkan kekacauan kecil di lantai, pak Ruslan kembali mempertanyakan apa yang terjadi hari ini.
Ada beberapa hal aneh yang di lihat dari tiga muridnya ini. Pertama Karin dan Arinda hari ini sama-sama terlambat datang kesekolah. Arinda yang mengenakan seragam olahraga di hari tidak ada jadwal pelajaran tersebut. Kemudian hal aneh tapi nyata yang di lakukan Merri di hadapannya.
“Jadi begini saja, kalian bertiga ini punya masalah apa?” tanya Pak Ruslan akhirnya.
Mereka bertiga hanya saling lirik lalu tidak bicara satu katapun. Pak Ruslan menahan kepalanya yang berkedut. Dia melihat ke arah Karin yang tampak paling berantakan.
“Kamu kenapa membentak Merri dan menantangnya?” tanya Pak Ruslan kepada Karin.
Karin menunduk semakin dalam. Dia juga tidak tau kenapa hari ini tingkahnya sangat aneh. Seingatnya pagi ini dia melihat Merri berjalan kekelas bersama Tito, lalu tiba-tiba pas sadar dia sudah ada di ruang wakil kepala sekolah. Bahkan dia juga bingung dengan keadaan kakinya yang tidak mengenakan sepatu. Hanya memakai kaos kaki yang sudah kotor.
“Karin... jawab.” Lanjut Pak Ruslan.
Hening, tidak ada jawaban. Karin hanya menggeleng lemah. Pak Ruslan menahan kepalanya yang semakin berkedut.
“Lalu kamu?” sekarang giliran Arinda.
“Saya ingin sekolah karena bosan di rumah pak.” Jawab Arinda.
“Ada juga murid saya yang bisa bicara.” Gumam Pak Ruslan. “Lalu...”
Kring.... Kring...
Pak Ruslan berhenti. Telfon di dalam ruangannya berdering. Ia segera mengangkat ganggang telfon tersebut.
“Halo?” sapa Pak Ruslan lebih dulu.
“Siang pak Ruslan, ini saya.” Sahut suara di sebrang.
Pak Ruslan membulatkan matanya. Ia kenal betul dengan warna suara ini meski lewat telfon. “Ya, Bu.” Pak Ruslan mendengarkan suara di sebrang kemudian melirik ke arah Arinda, “Ya, anaknya ada di ruangan saya.” Pak Ruslan memberikan ganggang telfon itu kepada Arinda. “Ibu mu.”
Arinda segera mengambil dan menyahut, “Ya Bunda?”
“Kenapa kamu kembali ke sekolah?” tanya suara bu Lira di sebrang sana. Terdengar nada cemas sekaligus takut.
“Arinda ada perlu dengan Merri.”
Mendengar namanya di sebut Merri menatap Arinda lalu menunduk lagi. Karin juga melihat ke arah Merri dengan tatapan yang lemah.
“Maaf Bun, Arinda mau selesaiin dulu salah paham sama Merri dan Karin. Arinda pamit pulang agak telat.” Izin Arinda yang kemudian ia menyerahkan telfon itu kepada Pak Ruslan. “Terimakasih, Pak.” Ucap Arinda.
Pak Ruslan mengangguk dan kemudian meletakkan ganggang telfon itu ke daun telinganya. “Ya Buk... baik... baik... selamat siang.” ia mendengar setiap intruksi bu Lira dengan baik.
__ADS_1
Telfon itu berakhir dan pak Ruslan kembali memegang dahinya yang sepertinya semaki berkedut.
“Kenapa Pak?” tanya Arinda sungkan.
“Kalian disuruh Bu Lira segera pulang.” Ucap Pak Ruslan. Dia melepaskan kaca matanya dan memijit pangkal batang hidungnya. "Saya belum siap jadi kepala sekolah kalau begini?" gumam Pak Ruslan yang terdengar samar-samar oleh ketiga muridnya.
“Baik pak, terimakasih.” Ucap Arinda. “Saya pamit keluar pak!” lanjutnya.
“Mari pak.” Ucap Karin dengan suara pelan.
Merri hanya menunduk kecil dan ia keluar mengikuti Karin dan Arinda. Saat keluar dari ruangan wakil kepala sekolah mereka lansung di sambut Tito dan Fitri.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya Fitri.
“Ga apa-apa, kok. Kita disuruh balik.” Ucap Arinda.
Lalu Fitri hendak menanyai Karin, namun dia masih takut dengan keadaan teman dekatnya. Dia masih di bayangi wajah menyeramkan Karin waktu kerasukan tadi.
Karin melihat kebawah, ia bingung dengan sepasang kakinya yang hanya di balut kaos kaki yang sudah kumal. Dia bingung kemana perginya sepatunya. Kemudian, ia juga bingung kenapa semua orang menatapnya begitu aneh.
“Mer, lu hebat tau.” Puji Tito tulus.
“Ya, Merri berkat lo Karin bisa kembali seperti...”
WRRRRRR....!!!
“Suara apa tuh?” tanya Tito, dia keliatan ketakutan.
“Maaf.” Ucap Merri. “Itu suara...”
WRRRRRR...!!
“Gila, lu lapar lagi? Bukannya lu udah habisin tiga mangkok bakso sama dua gelas jus alpukat, dan sekarang lu masih lapar?” tanya Fitri tidak percaya.
Merri mengangguk pelan.
“Sudahlah, kita cari makan dulu yuk?! Gimana kalo makan di kafe tempat biasanya.” Ajak Arinda.
“Kalo di traktir hayo lah gue anterin.” Jawab Tito.
“Hayok hayok hayok!” seru Fitri.
Merri hanya tersenyum , sedangkan Karin hanya diam dan kembali menunduk. Dia masih memperhatikan kakinya yang tanpa sepatu itu.
“Sudahlah, yuk berangkat!” ajak Tito. Dia menarik tangan Merri dan juga Karin. Karin dan Merri hanya mengikuti langkah Tito. Di belakang mereka Arinda dan Fitri juga berjalan dengan santai.
Padahal mereka baru saja melewat sebuah tragedi yang hampir membahayakan nyawa. Tapi, mereka begitu cepat melupakan suatu kejadian mengerikan itu. Namun bagi beberapa siswa yang mendengar kabar itu dari mulut-kemulut menganggap jika Merri adalah anak baru pembawa sial sedangkan Karin murid yang berbahaya. Karin merasakan tatapan tidak suka itu dari mata mereka. Begitu juga Merri yang sudah menduga akan berakhir sama seperti sekolah lamanya.
"Tidak apa-apa, sabar. Mungkin besok atau lusa sudah pindah dari sekolah ini." pikir Merri maupun Karin dalam hati mereka masing-masing.
Di kelas dua IPA A yang kosong, boneka jailangkung tergelatak di lantai kelas. Seseorang yang mungkin memiliki keberanian segera masuk kekelas tersebut. Ia memungut boneka itu dan memasukkan kedalam ransel. Ia pun segera meninggalkan kelas sebelum Pak Ruslan dan guru agama masuk dan mencek keadaan kelas.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
Sekali lagi, Fitri kehilangan nafsu makannya. Kali ini ia tidak hanya melihat Tito dan Merri berkelakuan seperti banteng ngamuk dimeja makan. Tapi ada empat banteng monster yang sedang menggila saat ini.
Di sebuah kafe yang memberikan makanan cepat saji, Arinda tidak hanya memesan ayam goreng lengkap nasi putih, atau kentang goreng seperti biasanya. Gadis dermawan itu memesan dua ember friedchicken, burger ukuran extra large, satu pizza ukuran jumbo dan juga spageti. Keempat remaja yakni Arinda, Tito, Karin dan Merri makan dengan sangat lahap dan bisa dikatakan rakus. Maklum, energi mereka sudah habis dengan menghadapi tragedi cukup menegangkan hari ini. terlebih Karin yang setelah mengeluarkan berton masalah di perut dan pundaknya, badannya kembali terasa enteng. Arindapun begitu, nafsu makannya kembali normal dan bahkan ia sangat lapar sekali.
__ADS_1
“Kalian masih manusia ga sih?” tanya Fitri memegang paha ayam, sementara keempat temannya sudah menghabiskan hampir separoh hidangan yang ada di meja.
“Nda, lu yakin ada duit, kita makan banyak tau?” tanya Tito. Dia mengabaikan Fitri.
“Tenang, gue bawa duit lebih.” Ucap Arinda pede.
“Uhuk...Uhuk...!!” Merri terbatuk.
“Minum, pesan minum lagi.” Ucap Tito. “Ini aja!” Tito memberikan cola Fitri yang belum disentuh sama sekali.
“Busyet?!” Fitri hanya protes tanpa melawan.
“Makasih!” ucap Merri.
“Lu harus makan banyak!” ucap Tito ke Merri lagi.
“Lu juga, makan yang banyak. Mau gua antri buat pesan ayam lagi ga?” tanya Tito ke Karin.
Karin menggeleng. Wajahnya tersipu di perhatikan Tito seperti ini. “Tito itu terlalu baik, dia baik ke semua orang. Gue aja yang Ge er.” Pikir Karin.
Perut para remaja itu sudah terisi penuh. Kecuali Fitri yang dari dulu konsisten dengan perut bulat imutnya.
“Ini makan paling nikmat yang pernah gue rasakan...” ucap Arinda mengusap perutnya.
“Bagi gue semua makanan yang gratis adalah nikmat yang luar biasa.” Tambah Tito.
“Kalian aja kali.” Ucap Fitri. “Kalian berempat makan seperti ikut kompetisi makan cepat, tau.” Tambahnya.
“Serius?” tanya Arinda.
“Hmm...!!” Karin yang diam akhirnya membuka suara. “Teman-teman maafin gue.” Ucap Karin tiba-tiba.
Mereka terdiam. Suasana yang fun seketika berubah menajdi serius. Arinda menatap Karin tulus, dia biarkan Karin bicara. Tito dan Fitri juga menyimak. Sedangkan Merri lebih memilih hening. Dia bukan bagian dari acara minta maaf ini dan ia tidak akan ikut campur dengan hal itu.
“Gue akhir-akhir sangat egois. Gue memerintah kalian buat main permainan yang kalian tidak suka dan berakhir seperti ini. sepertinya gue pantas mendapat cacian dan umpatan dari kalian. Kalau kalian tidak mau berteman
sama gue juga tidak apa-apa. Setelah tau hari ini sangat kacau, dan kekacauan itu gue yang lakuin, gue jadi malu. Mungkin gue akan pindah sekolah saja buat nebus kesalahan gue.” Ucap Karin.
“Karin, kok gitu sih?” tanya Fitri jadi sedih.
“Ya, lu ga boleh pindah sekolah Cuma gara-gara hari ini.”
“Ya, mungkin bu Lira akan mengeluarkan gue karena membuat kekacauan dan melukai banyak orang disekolah, termasuk kalian. Gue minta maaf.” Karin menundukkan kepalanya. Dia terlihat sangat menyedihkan. Terlihat jelas dia menahan air matanya agar tidak tumpah.
Merri hening sambil memegang kalung liontinnya. Dia tidak menatap siapaun diantara empat temannya. yang dia lihat hanya sisa remah-remah di wadah pizza. Tapi Arinda yang tepat duduk di samping Merri merasa tidak enak hati. Dia cukup merenung panjang. Dia terlihat menimbangkan sesuatu.
“Saatnya aku harus jujur.” Pikir Arinda. Ia menatap Karin dengan tatapan serius. “Karin... gue akan jujur sama lo." Ucap Karin.
"Bukan hanya lo, kelian semua. Gue pikir semua masalah ini terjadi karena ulah gue. Mungkin semua tragedi yang
terjadi di sekolah adalah salah gue.” Ucap Arinda yang kemudian mendapat perhatian serius dari keempat temannya.
“Serius? Demi apa?” tanya Fitri tidak percaya.
Karin juga terkejut. Dia membulatkan matanya. “Lu penyebab semuanya, maksudnya?”
Tito sudah mendengar pengakuan Arinda semalam. Tapi ia tetap merasa kaget. Dia menatap sahabat yang ia kenal sejak kecil itu. Dia siap menyimak setiap detil dari semua cerita Arinda. "Gue kira, kita ini teman yang kayak saudara, teranyat kita masih belum berbagi rahasia." pikir Tito melihat Arinda yang terlihat serius.
__ADS_1
Merri yang diam merenung memejamkan matanya dengan pelan. Dia menunggu pengakuan Arinda. Cerita awal mula terjadinya pesta Jailangkung sesungguhnya.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...