
Arinda sampai di sekolah dengan mengenakan pakaian olahraga sekolah. Guru yang bertugas sedikit bingung melihat kedatangannya.
“Bukannya kamu sakit?” tanya guru tersebut. Lalu dia melihat keluar sekolah, mobil bu Lira juga tidak ada. “Ibumu yang bilang dia izin mau merawat kamu.”
“Sebenarnya yang sakit itu Bunda, Bu Lira. Saya Cuma pilek sedikit.” Jelas Arinda.
“Ah serius?” tanya guru tidak percaya.
“Sebenarnya kita sama-sama di serang flu, hanya saja Bunda agak lebih parah.” Jelas Arinda lagi."UHUK!" Arinda batuk kecil. Kemudian ia memamerkan senyum, dia ingin masalah instrogasi kehadirannya cepat selesai. Ada hal lebih penting yang harus ia selesaikan.
Guru tersebut sepertinya tidak percaya. Dia mengambil telfon sekolah dan Arinda lansung mencegat.
“Jangan ganggu dia dulu. Biarkan dia istirahat. Anda pahamkan maksud saya. Bu!” ucap Arinda tegas.
Guru tersebut hanya diam menatap Arinda. “Barusan gua di bentak?” pikir si guru dalam hati.
Arinda mulai jengah dengan sikap si guru. “Buk, ini penting! aku harus ke kelas, apa yang aneh dari siswa yang mau masuk sekolah? Karena saya anak kepala sekolah jadi anda perhatian dengan saya? Ini tidak adil bagi siswa yang lain!” ingat Arinda.
“Iya ibuk paham, segera masuk sana!! Saya mau nyalain bel istirahat!” ucap si guru yang agak kesal di gurui Arinda.
“Terimakasih, buk!” pamit Arinda. “Kenapa bunda betah mempertahankan guru penjilat kek gitu, sih?” gumamnya dalam hati.
Tanpa memperdulikan si guru yang bertugas. Arinda segera berlari menuju kelasnya. Dia sengaja mengenakan pakaian olahraga, agar kakinya lima kali lipat melangkah lebih cepat dari biasa. Walau kurang handal dalam mata pelajaran hitungan, Arinda ahlinya dalam olahraga lari, basket, voli bahkan bola kaki.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
Karin memegangi boneka beruang yang diikat dengan dua penggaris ukuran tiga puluh senti. Boneka dengan kepala lebih besar dan perut yang kempes, sebab kapas di dalamnya telah di buang . hal itu terlihat dari bekas sobekan yang ada di perut. Namun bagian kedua tangan dan kakinya masih padat oleh kapas. Di bagian bawah boneka itu juga di ikat sebuah spidol bewarna hitam. Melihat kondisi beoneka beruang yang berubah fungis, boneka itu sama sekali tidak terlihat imut lagi.
Merri merinding melihat boneka tersebut. Kesan yang ia dapat sangat berbeda saat di pegang ibunya. Boneka itu sungguh terlihat berbahaya dimatanya.
Karin terbelalak, begitu juga Tito. Mereka berdua mengenal betul boneka tersebut.
“Kok udah jelek? Perasaan itu boneka pas gue beli masih bagus?” pikir Tito. Ya, boneka beruang itu adalah pemberian dari Tito untuk Mikha.
“Karin, udah Karin. Ini ga lucu. Mau lu apa sihhh?” tanya Fitri. Ia yang akhirnya membuka suara.
“Gue mau main Jailangkung sekali lagi.” Jawab Karin. Lagi-lagi mata itu hanya menatap Merri.
“Karin berikan boneka itu kepadaku.” Pinta Merri sopan.
“Hmm!” Karin hanya tersenyum. “Kita harus main, apa kau takut?” tantang Karin.
“Karin, gue ingatin buat taroh boneka itu. Buang jauh-jauh kalau perlu!” perintah Arinda yang datang bersamaan dengan siswa ataupun siswi lainnya.
Kehadiran Arinda dengan seragam olahraga membuat semua orang sedikit bingung. “Kenapa? Bukannya dia sakit?” begitulah pikir mereka.
Lalu sikap Karin yang aneh dengan bonek menyeramkan juga membuat mereka bingung.
“Kenapa dengan Karin?
“Boneka apa itu?”
“Karin dan Arinda mau berantem lagi?”
__ADS_1
“Kenapa Arinda? Kenapa lo takut sama boneka ini? ada pengalaman apa lo sama boneka ini?” tanya Karin sumbang. “Oo ya, Seorang Arinda kan pernah main jailangkung. Kaget sih, anak yang ngaku-ngaku ga percaya sama hal-hal mistis ternyata pernah main jailangkung. Sok skeptis!” ledek Karin. “Gimana mimpinya? Masih di kejar-kejar Mikha?” tanya Karin. Arinda membelalakkan matanya. Dia tidak suka Karin meledeknya seperti itu.
“Karin, udahlah!” ingat Agus. “Udah bel masuk ini, jangan sampe tuh boneka di ambil Asep lagi.”
“Asep ga akan berani buat yang satu ini.” ucap Karin dingin.
Semua siswa yang masuk dan memperhatikan Karin. Dia penasaran dengan boneka yang di pegang Karin. Mereka tidak suka dengan boneka yang menyeramkan itu. Boneka itu lebih mirip simbol penyiksaan hewan di bandingkan sebuah mainan. Tapi Karin tidak peduli.
“Karin, lu ga dengar kalo kelas kita udah di juluki kelas angker?!” ingat Fitri.
“Gue ga peduli.” Balas Karin. Tapi mata itu hanya mengawas Merri seorang.
Tepat pada saat itu, lima anak cowok yang di kenal geng cowok pemalas dan cuek masuk. Dia melihat boneka yang di pamer Karin.
“Kalian mau main lagi?” tanyanya dengan wajah kesal.
“Bukan!!” geleng Tito dan Agus.
“Huft!” dengus salah satu pentolan dari lima bocah yang suka buat onar. “OI KARIN SINI GAK! GUE GA MAU TERLIBAT SAMA MASALAH KALIAN YA!!!” berangnya yang merampas boneka dari tangan Karin.
“Coba saja!” tantang Karin.
“JANGAN!!” teriak Merri.
Sayangnya, belum sampai tangannya meraih si boneka, tubuh tinggi kekar itu terpelanting jauh, hingga menabrak lemari yang ada didepan kelas.
“GYAAA!!!” semua siswi cewek di kelas teriak. Fitri berlari dan bersembunyi di belakang badan Merri.
“Karin apa yang lo lakuin?!” teriak Arinda yang mencoba mendekat. Namun langkah itu lansung terhenti sebab Karin menatapnya dengan tatapan tajam. Seketika sosok berjubah dalam mimpinya datang dan itu membuat Arinda ketakutan.
“Bro!” dua orang temannya mendekati siswa tersebut. Mereka mencoba membantunya bangkit. Namun gelagat si siswa tersebut seidikt aneh.
“BROOO... RIOO.... LU KENAPA?!” panggil mereka sekali lagi. Sebab siswa tersebut menggeliat.
“Desisstt....!!!” siswa tersebut mendesis tidak jelas.
“BRO!! Lu ga apa-apa kan?”
“GYAAAA.... B*c*...t!!!” teriakynya. “GYAAA desissttt!!!” dia kembali mendesis dan kemudian mengejang.
“Karin lu apain Rio!” protes temannya.
Karin hanya mengangkat bahu. Namun dia malah menyunggingkan senyum.
“Cepat lu tanggung jawab!!” erang salah satu temannya yang mengepalkan tangannya. Dia mengambil langkah hendak meninju Karin. Agus yang melihat segera bertindak.
“Bro... tahan serangan lu!!” Agus menahan badan si cowok tersebut.
“Agus, gua ga suka sama caranya! Lepasin gue!”
“Tapi dia cewek bro!”
“Gua ga peduli!”
__ADS_1
“Hahaha!!” Karin tertawa. “Tidak segampang itu\, manusia b*d*h!” ucapnya yang memamerkan boneka
itu ke arah si cowok yang akan menyerangnya.
Bak kekuatan sihir di dalamnya, mata boneka itu lansung berkilauan, mengeluarkan cahaya merah dari dua bola mata gelap itu. Tubuh pria itu lansung lemas dan terkulai jatuh. Agus yang menahannya juga ikutan terjatuh.
Saat jatuh di lantai, siswa itu menggeliat. Kelakukuannya juga sama seperti temannya, Rio. “SSttt!!! GYAAA desssttt!!!” desisnya. Hal itu membuat Agus lansung menghindar menjauh.
“GYAAAA!!!” para siswi yang ketakutan berusaha lari dan keluar dari kelas.
BLAM!!!
Sayangnya pintu kelas tertutup keras dan terkunci sendiri. Padahal tidak ada angin yang mendorong ataupun orang yang menahannya di luar.
“Ga bisa dibuka!” teriak Tito yang mencoba membuka pintu.
“GYAAAA!!!!” beberapa siswi di kelaspun teriak histeris, bahkan ada yang menangis.
“Ha ha ha...!!” Karin tertawa puas. Matanya melotot meluapkan kebahagiaan yang sangat tidak masuk akal ini. di balik raut bahagia itu, air mata juga mengucur dari matanya hingga membasahi kedua pipinya. Wajah Karin tidak hanya menyeramkan namun dia seperti orang gila. Merri melihat semua pergerakan dan juga raut wajah yang kacau itu.
“Dia sudah K.O. gadis itu ingin bebas, Merri.” _gumam Rohi.
“Aku tau. Dia masih makhluk yang semalam. Dia belum menyerah!” gumam Merri membalas omongan Rohi.
“Wow, suatu kehormatan kau mau menanggapiku wahai cucu adam. Jadi apa kita sudah satu paket?”_Rohi malah menggodanya.
“Dia kesini karena kau, Iblis! Dia mencarimu, bukan aku!” gumam Merri kesal kepada Rohi.
“OO... baguslah kalau begitu!”_Rohi merasa bangga.
“Cih!” Merri merasa jengkel dengan sikap Rohi. Tanpa sadari ia memperlihatkannya. Fitri yang ada di belakangnya juga kaget, ternyata Merri bisa kesal juga.
“Karin... udah cukup!!!” teriak Arinda.
“Ga, gue ga akan berhenti sebelum LU!” tekan Karin menunjuk Merri, “Mau mengikuti kemauan gue!” lanjutnya.
“Terima saja wahai cucu Adam, sebelum kondisi semakin parah!!” ingat Rohi lagi.
“Karin sudahlah, jangan bikin gaduh!!” perintah Tito.
“KAU TERLALU BERisiK!!” teriak Karin yang membuat kelas lansung bergetar dan menggema. Seketika Tito terlempar dan menghantam jendela kelas. Kelas itu retak oleh badan Tito.
“TITO....!!!!!” teriak Arinda yang tidak suka dengan tindakan Karin.
Air mata Karin tumpah, namun senyumnya semakin mengambang. “Ha ha ha!!”
“KARIN! Hentikan, kalo gua bilang berhenti, lu harus BER HEN TI!!”
PLAK
Karin bukannya mendengarkan perntah Arinda sebagai ketua kelas. Dia menyerang kepala Arinda dengan buku kamus bahasa Inggris yang sangat tebal.
“AGH!” teriak Arinda kesakitan. Buku itu lansung penyok karena kekuatan Karin yang sangat besar. Kepala Arinda pening, pemandangannya samar-samar.
__ADS_1
“KARIN... KWENWAPWA LU PWU...kul...Ari....daaa!” ia mendengar suara Fitri yang membelanya. Makin lama suara itu makin pelan dan kemudian hening lalu gelap.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung... ~~~~