
*"Kita MUlai!" ucap Mikha.
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesti kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar.” Mantra mulai di ucapkan. Hanya Arinda yang diam.
"Nda, ikutan dong!"
"Gue mau jadi saksi bisu aja." ucap Arinda dingin. Ucapannya lansung di tatap ketus oleh si asisten rumah tangga Mikha. Arinda tau, tapi dia tidak peduli.
"Ayo, kita coba lagi." Ajak Mikha.
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesti kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar.”
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesti kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar.”
Sudah tiga kali mantra di ucapkan. Namun tidak ada perubahan yang terjadi. Arinda hanya tersenyum kecil. Dia senang jika apa yang ia pikirkan ternyata betul.
"Kita coba lagi." Ajak MIkha. Namun percobaan kedua sama saja. Mikha terlihat putus asa. Dia menatap Arinda kesal. "Untuk yang ketiga kamu harus ikut!" perintahnya ke Arinda.
"Huft!" Arinda hanya mengeluh.
"Iya nih, ga bisa diajak kerja sama. Mirip sama maknya." sindir mba Santi.
"Siapa? Gue beda sama dia." ucap Arinda tersulut emosi.
"Kalo gitu ya mbak buktiin toh!" tantang mba Santi.
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesti kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar.” ucap Arinda dengan suara lantang. Matany menatap Santi dan Mikha dengan tatapan kesal.
Melihat Arinda, Mikha dan Santi pun mengikuti ucapan Arinda. Ketiga wanita itu mengucap mantra dengan lantang dan penuh emosi.
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesti kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar.”
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesti kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar.”
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesti kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di antar.”
"Namun tetap tidak ada hasil!" ucap Arinda penuh kemenangan. Ia berdiri dari mencari kontak penyala lampu kamar Mikha. Mikha dan Mba Santi terlihat putus asa. Mereka hanya hening dan membisu.
"Ini nyalain lampunya gimana?" tanya Arinda. Tidak ada jawaban. "Oii santailah, jangan di ambil hati. Walau Lira itu ditaktor pemikiran ilmiahnya bantu gue biar ga percaya hal beginian." ucap Arinda penuh kemenangan. Namun hening. Masih tidak ada tanggapan.
Arinda menoleh kebelakang agar dua orang yang di mabuk jailangkung ini mau menanggapinya. "Mikha... HAH!" Arinda kaget. Saat badannya berbalik menoleh melihat dua gadis itu. Ia melihat ada dua makhluk berjubah hitam yang menutup telinga dan mata Mikha dan Mba Santi. Lalu satu sosok duduk ditengah-tengah mereka. Tepatnya di tempat Arinda duduk. Wajahnya tertutup jubah, Arinda tidak bisa melihat. Namun satu jarinya mengacung dan memberi isyarat kepada Arinda agar diam.
"Ssstt...!!' ucapnya.
"Perampok?!" pikir Arinda. Ia segar memegang dinding kamar Mikha. Mencari sumber stop kontak. Beruntung ia merasakan stop kontak yang di maksud. Ia segara menyala lampu, kamar yang gelap kembali terang. Tiga sosok yang berjubah hitam itu juga hilang. Arinda melihat dengan mata melotot dan nyaris tak berkedip.
"RAMPOK?!" pikir Arinda.
"Nda, lo kenapa?" tanya Mikha yang melihat Arinda kaget.
" ADA RAMPOK!!!" teriak Arinda.
"Hmm ini pasti akibat besar kepala. Jadi halu ga jelas." ledek mba Santi.
"Mba!" panggil Mikha. Ia mengabaikan kepanikan Arinda. Mata gadis itu kini melihat sesuatu di atas kertas ukuran A3 tersebut. "Kita berhasil." teriak Mikha. Dia memamerkan sebuah tulisan yang di tulis dengan spidol yang di ikat di bawah boneka.
"Mikha, ini papa." begitu bunyi tulisa tersebut. Mba Santi histeris bahagia. Mereka berpelukan dan penuh haru.
"Kalian benar-benar sinting." pikir Arinda. Dia segera meninggalkan rumah Mikha dan pergi kemanapun ia suka asal tidak di rumah gadis itu lagi ataupun di rumahnya dahulu.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// .
GUBRAK!!!
Fitri memukul meja makan hingga keempat remaja itu kaget dari lamunan mereka. Cerita Arinda sungguh membius mereka.
__ADS_1
"Makanya lo pergi kerumah gue, padahal itu udah jam sebelas malam tau!!" ingat Fitri.
"Itu hal aneh kedua yang gue pikirin. Setau gue, kita main Jailangkung itu ga lama. Paling cuma sepuluh atau lima belas menit. Tapi pas gue keluar dari rumah Mikha, jam udah nunjukin pukul setengah sebelas malam." ingat Arinda.
"Lo kerumah Mikha jam berapa? trus main jam berapa?" tanya Tito.
"Jam enam sore, kita main jam tujuh malam. Kalo gue ga ngeyel, mungkin setengah tujuh bisa." jelas Arinda.
Merri yang mendengar cerita Arinda menjadi cemas. Di takut akan kemungkinan-kemungkinan lain yang berkutat di benaknya. Sedangkan Karin memegang jantungnya. Dia bersyukur tidak jadi menginap di rumah Mikha malam itu. Tidak ikutan pun, Karin sudah mendapat dampak cukup besar, apalagi ikut bermain?!
"Dari awal lo udah salah. Seharusnya lo pergi kerumah gue aja. Sesama tidak suka dengan hantu, gue adalah orang yang selalu membuka pintu rumah buat lo kapanpun lo mau." ucap Fitri. "Tapi kalo gue boleh tanya, saat malam itu, cowo pake hoodi kegedean yang anterin lo waktu itu namanya siapa? cowok lo ya?" tanya Fitri.
"Cowok?" tanya Arinda. Kali ini ia yang kaget. "Gue sendiri!!!!!" teriak Arinda yang membuat semua pelanggan di kafe makanan cepat saji itu menatap mereka.
"APA?!!!" Fitri dengan badan yang gempal dan suara yang menggelegar juga ikut terkejut. "Jadi yang gue liat siapa?" tanya Fitri.
"Lo lihat wajahnya?" tanya Arinda hati-hati.
"Ga, orang hoodinya warna hitam dan besar. Wajahnya ketutupan." jelas Fitri. Mata Arinda melotot dan mata Fitri juga membulat besar.
"GYAAAA!!!!" mereka berdua teriak histeris. Semua pelanggan mulai risih. Alhasil manager kafe dengan cepat tanggap akan mengusir kelima remaja ini, walau yang teriak hanya dua orang saja.
"Jangan biarkan dua manusia yang tidak suka hantu membahas hal-hal berbau horor." gumam Tito menutup telingan dan menyembunyikan wajahnya. Dia menjadi malu dengan tingkah Arinda dan Fitri yang sangat berisik.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// .
"Kelima remaja itu sekarang sudah kembali dalam mobil Tito. Mereka belum memutuskan untuk kembali ke rumah. Tito mengendarai mobilnya cukup jauh. Entah siapa yang mengusulkan,sekarang mereka sudah berada di pinggir pantai yang berada di kawasan Jakarta Utara.
Dalam perjalanan, Tito hanya hening. Dia memikirkan boneka beruang itu. Awalnya dia lupa dengan perihal boneka tersebut. Warna yang kumal membuatnya tidak mengenali boneka yang di bawa Karin kesekolah tadi pagi. Barulah saat mendapat cerita dari Arinda, ia sadar jika boneka yang tampak familiar itu tenyata memang boneka yang ia berikan waktu itu.
"To!" ingat Fitri.
Hampir saja Tito menabrak pengendara di depan. Dia membanting stir dengan cepat kekikiri dan menghindari motor yang nyalip secara mendadak itu.
"Sorry Fit." ucap Tito tulus.
"Untung tiga anak banteng gue ga bangun." ucap Fitri mengintip tiga temannya tersebut.
"Gua ga sengaja Fit." jelas Tito lagi.
Sesampai di pantai. Tito berjalan di pinggir pantai. Ia biarkan tiga temannya tertidur pulas di dalam mobilnya. Sedangkan pria itu berjalan menyusuri pantai. Perasaan bersalah timbul di benaknya. Ternyata boneka yang ia berikan waktu itu sekarang menjadi media pemanggilan setan. Boneka itu yang membuat Mikha di bawa hantu.
Ia memperlihatkan kesedihannya didepan deburan ombak. Menangis di bawah langit senja bewarna jingga. Dan meratapi nasip di dekat tumpkan batu karang. Ia tidak mungkin memperlihatkan sosok lemah seperti ini kepada keempat temannya. Bukan karena mereka cemas, karena sebagai lelaki dia masih mempertahankan harga dirinya.
"MIKHAAAAAA Kenapa lu senekat itu? Dari pada main setan-setanan kenapa ga curhat ke gua seperti biasanya?" ungkap Tito. Dia marah dan kesal, Tatapan kesal dan putus asa itu ia lempar jauh ke ujung laut sana. Hanya angin kencang dan deburan ombak yang saling sahut menyahut menjawab ungakapannya.
"Gue suka sama Mikha, kenapa dia seperti itu?" pikir Tito lagi.
"TITOOOOOOO!!!!!" sebuah teriakan menghentakkan lamunan pria itu.
Ia mencoba mencari sumber suara. Dan sebuah pamandangan seorang gadis di tengah lautan membuat Tito kaget. "Siapa?"pikir Tito ketakutan.
"TITOOOO tolong gue!!!!" suara itu sangat mirip, sangat familiar dan tak akan di lupakan Tito.
"Mi kha?!" gumamnya. Ia menyipitkan mata agar bisa melihat jelas. Ya, dari jauh ia melihat gadis yang sepertinya mirip Mikha. Tito-pun segera melepaskan sepatunya. Kemudian seragam sekolah yang ia kenakan. Dia hendak mengejar dan menyelam ke lautan.
Namun langkah itu di hentikan. Merri dengan cepat memegang pergelangan tangan Tito. "Jangan!!" ucap Merri tegas.
"Ada yang tenggelam!" tunjuk Tito.
Merri menggeleng, "Tidak ada yang tenggelam." jawab Merri. Tito menoleh kelaut. Ya, disana sepi. Tidak ada siapa-siapa. Tito kembali menoleh kearah Merri dan berganti kelaut.
"Jangan terjebak dengan tipuan ombak." ingat Merri lagi.
__ADS_1
Tito mengangguk cepat. Paham ataupun tidak dengan perkataan Merri, ia hanya bersyukur tidak berenang kesana. Jika ia, mungkin ia sudah di telan bulat-bulat oleh ombak yang semakin sore semakin mengamuk.
"Ya Tipuan ombak." gumam Tito.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// .
Malam semakin larut. Di pinggir pantai ini, mereka menatap langit malam. Jika di dekat tepat tinggal mereka hujan turun dengan deras, maka daerah pantai matahari sangatlah terik. Padahal masih dalam satu kawasan yang sama. Tapi disitulah keberuntungan mereka dapat. Malam itu langit menaburkan berbagai keindahan cahaya. Bintang secara tak beraturan menghiasi langit. Meski begitu, mereka tampak indah dengan ukuran dan jarak mereka. Kelima remaja ini diam dan menikmati sambil menyeruput mie rebus dan es kelapa muda.
"Kakak gue ada disana, ya?" tanya Arinda. "Gue merindukannya."
"Ya, kakak kandung lu, bukan sepupu seperti yang selama ini gue tau." ucap Tito.
"Sorry To, gue kira awalnya dia anak angkat ayah gue. Ternyata kita sedarah, sebapak." jelas Arinda.
"Mungkin di sana ada Kakek gue, dia yang selalu antar jemput gue dari TK sampai SD." Karin juga ikut bicara.
"Itu yang gendut itu, mungkin maknya Toto, kucing gue." seru Tito.
"Gue kangen kucing lo, sumpah." ucap Karin.
"Ya, cuma lo yang berani nyentuh kucing galak gue. Lu mana pernah?" ledek Tito ke Arinda.
"Gue alergi bulu kucing." jelas Arinda.
"Itu disana, yang gendut, Mami gue." ucap Fitri.
"Bukannya Mami lu masih hidup?" tanya Karin dan Arinda.
"Itu Mami yang lahirin gue. Sebelum sama mami gue, Papi pernah nikah sama Mami pertama. Karena sering sakit-sakitan, dia meninggal. Dua tahun kemudian bertemu sama Mami gue dan lahirlah gue."
"Ternyata diantara kita, cuma lu yang ga ada sedih-sedihnya." ujar Tito.
"Dari pada lo, cuma mikirin Maknya Toto, kucing doang."
"Hmm" Tito tersenyum simpul. "Gue mikir Mikha juga tau." ucapnya sedih.
"Sorry To, gue yang usulin boneka lu jadi medianya." ucap Karin. "Soalnya gue kesel, dia katanya incar kakak kelas tapi masih nerima hadiah dari lo." jelas Karin sedih.
"Gue juga tau itu." angguk Arinda. "Liat lo yang suka mati sama dia, makanya gue diam aja." lanjut Arinda.
"Udah, jangan bahas. Lagian orangnya udah ga ada. Mungkin dia disana." tunjuk Fitri.
"Iya, kali aja." ucap Tito. Lalu dia menoleh ke arah Merri yang dari tadi diam sambil menatap langit malam. Arinda, Karin dan Fitri juga menoleh kearah Merri.
"Merri lebih baik dari Mikha, itu pikiran gue sih." ucap Karin. Arinda mengangguk setuju.
Merri menoleh kearah mereka. Dia terlihat canggung dan juga salah tingkah di waktu yang sama.
"Mer. siapa yang lu ihat di sana?" tanya Fitri.
"Hmm..?" Merri merasa ga enak.
"Jawab aja. Kitakan teman." ajak Arinda.
Merri tersenyum simpul. Dia senang mendapat pengakuan teman dari empat remaja ini. Sebelumnya, setelah tau Merri sedikit berbeda ia lansung di cap aneh. Namun sekarang, ia mendapat perlakuan yang adil.
"Ayah, aku mikir tentang ayah. Kita belum pernah bertemu sama sekali. Dia orang baik, itu yang aku tau." jawab Merri. Kemudian Merri teringat akan satu hal. "Maaf, Karin... boneka itu sekarang dimana,ya?" Tanya Merri tiba-tiba.
"HA?!" Tito menpuk jidatnya agak keras. "Ya, boneka itu dimana? Kita harus kubur atau buang atau bakar..."
"Ya, biar itu menjadi urusan ibuku saja." ucap Merri.
"Gue ga ingat ada dimana?" pikir Karin.
"Trus sekarang gimana?" tanya Arinda.
__ADS_1
"Jangan ajak gue kalo kalian cari boneka itu di sekolah lagi. Gue udah benci sama sekolah terutama kelas kita!" ucap Fitri tegas.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...