
Pulang, rumah, kasur dan selimut. Itulah yang ada dibenak Arinda, Karin, Tito, Agus dan mungkin
Merri. Seharusnya pada malam jumat ini mereka tidak berada di sekolah. Seharusnya mereka ada dirumah. Berkumpul dengan keluarga, makan malam bersama orang tua, belajar dan kemudian tidur tepat waktu. Tapi kebenaran yang ada, para remaja ini masih disini. Mereka dengan seragam sekolah yang belum di
ganti, dengan sepatu dan kaus kaki. Wajah yang mulai panas itu berjalan menyusuri lorong sekolah dengan boneka beruang yang terlihat aneh dan menyeramkan.
“Dimana gerbang sekolahnya?”tanya Karin.
“Saya pikir kita sudah di jalan yang benar, ini jalan yang biasa kita lalui tiap hari. Tapi kenapa jadi kayak gini? ” Tito juga ikutan panik.
“Wah, ini yang gue alami sejak tadi. Sampai sekarang gue sama sekali tidak tau kenapa? ” jelas Agus.
Tito, Karin dan Arinda memperhatikan Agus. “Serius loh? Demi apa? ” tanya Karin tidak percaya.
“Ya, ini yang gue alami. Sepanjang hari gue hanya jalan dan kemudian gue sadar kalau gue hanya berputar-putar. Soalnya, gue sadar, akhir dari langkah gue, selalu berhenti disini. ” Agus berhenti didepan pintu kelas.
Arinda, Tito, Karin dan Merri juga berhenti. Mereka sama-sama melihat arah yang di Agus tunjuk. Kepala Agus mengadah keatas. Arinda lansung mengikuti dan ia membulatkan matanya.
“Kelas dua IPA A. Ke kelas ki kita?” Arinda menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang dia baca.
“Bukannya kita sudah melewati tadi. Bahkan kita juga jalan dari arah sana. ” Tito juga ikutan bingung.
“Kita coba lagi, sekali lagi.”Karin memberi usul.
Ini yang kedua kali, Karin. Jelas Agus. “Kita sudah melewatinya dua kali. Gue selalu memperhatikan tiap kelas yang kita lewati dan kita sudah melewati kelas kita sendiri dua kali. ”
"Gak Mungki! Gue mau balik pulang!” rengek Karin
“Bukan lo aja, gue juga. Dari tadi siang gue pengen pulang! ” terang Agus tidak kalah panik.
“Terus kita harus ngapain?” tanya Arinda. Dia menoleh ke Arah Merri yang sejak tadi diam.
Diantara mereka berlima, hanya Merri yang terlihat tenang. Tenang bukan berarti dia dalam keadaan baik-baik saja. Justru Merri diam karena dia mencemaskan banyak hal. Salah satunya Agus. Sedari tadi perhatian gadis itu tidak lepas dari Agus.
“Mer, lo ada ide?” tanya Agus kepada Merri.
Mereka memperhatikan Merri dengan tatapan penuh harapan. Merri hanya menunduk dan diam. Saat ini ia belum menemukan bagaimana keluar dari tempat ini, kecuali jika keempat remaja ini mau nekad. Terlebih lagi, Merri sadar, tidak semua dari mereka bisa kembali.
“Mer, gue mau pulang.Gue takut. ”Rengek Karin.
Yah, gue juga.Angguk Arinda.
“Apa ada jalan lain?” tanya Tito.
__ADS_1
“Apa lo ga mau pulang juga?”tanya Agus.
Merri menghela nafas pelan kemudian mengangguk pelan. Dia mencampak jauh pandangannya. Mengitari apa yang mampu ia lihat dari tempat ia berdiri saat ini. Keadaan disekitar sekolah hening dan gelap. Kemudian ia melihat kedalam jendela kelasnya dan kelas yang ada disebelah kelasnya sendiri. Semuanya terihat gelap.
“Merri, ngomong dong.”Pinta Tito.
“Kalo lo diam, gue jadi takut apa lo sekarang masih Merri atau setan sekolah ini. ” Ucap Karin.
“Ssst ... kalian ... jangan becanda.”Ingat Arinda.
“Gue ga becanda, gue emang ketakutan. Merri hanya diam doang. ” Jelas Karin dengan suara gemetar menahan tangis.
“Tapi ...”
"Ya maaf! akhirnya Merri angkat bicara." Suaranya terdengar agak berat. Sedikit serak dan agak gemetar.
“Mer, lo ga apa-apa?” tanya Arinda menyadari ada yang aneh dengan Merri.
“Ga apa-apa.” Jelas Merri pelan. “Tapi hanya ada satu cara buat kita balik. ” Ucap Merri tiba-tiba. Dia tau resekonya akan sangat tinggi. Tapi hanya ada satu jalan.
“Mari kita main Jailangkung lagi.” Ucap Merri. Keempat remaja itu terlihat kaget. Inilah jalan keluar satu-satunya dan juga penuh resiko yang ada di benak Merri.
"Jailangkung?" Arinda membulatkan matanya. Dia tampak tidak suka dengan ide gila itu.
“Ya! Hiks! ” Merri tersedak. Agus diam memperhatikan Merri. “Kita harus main jailangkung, agar bisa keluar dari sini.” Ucap Merri yang menatap Agus dengan mata berkaca-kaca.
“Ya.Mungkin itu jalan terbaik. ”Angguk Agus pelan.
“Haruskah?”tanya Arinda.
“Apa kita semua akan selamat?”tanya Karin.
“Gue nggak mau mati.”
Merri menahan nafasnya. Dia tidak ingin semua teman-temannya menjadi panik dengan apa yang ia pendam saat ini. Kemudian Merri kembali menatap mata teman-teman satu persatu lalu agak lama kepada Agus.
“Semuanya akan selamat, pasti!” ucap Merri berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.
PESTA .JAILANGKUNG //
__ADS_1
“Apa mereka masih lama?” tanya Fitri. Dia kembali mengecek jam tangan dan sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Fitri sengaja duduk di bangku kemudi. Semua pintu ia kunci begitupun jendela. Gadis berpipi tembam itu tidak mau makhluk apapun masuk. Bahkan ia membiarkan dirinya sedikit kepanasan dari pada hal buruk dan buruk mengganggunya.
“Tito saranin gue buat pergi kalau udah lewat lima belas menit, ini udah satu jam lebih loh. ” Fitri hanya bicara dengan dirinya sendiri. “Gue susul atau pergi? Kalau gue susul, gue ga tau mereka di kelas yang mana, kalau gue pergi, siapa tau mereka udah keluar. Terus gue harus ngapain? ”
“Ssshh .... !!”
Fitri terdiam.Walau sepintas dan tidak jelas.Kedua daun telinganya menangkap sebuah suara.Lansung saja, bulu kuduk gadis itu menjadi dingin dan bergetar.
“Suara apa itu?Hmm ... jangan-jangan?Pikiran fitri menjadi kacau.Dia membayangkan hal-hal menakutkan di benaknya.
“Ssst ... !!”sekali lagi, Fitri mendengar suara desis itu.
“Mami… Papi… Fitri anak baik… Fitri anak baik… jangan ganggu, aku tuh anak baik !!!”Ucap Fitri lagi.“Sial, kenapa saat gini gua lupa sama doa-doa ya.Huaaaa kenapa malah doa sebelum makan yang ada di kepala gueee hu hu hu .. !!!”
“Gue harus ngapain?!Gue harus ngapain ini?Hiks hiks ... lama banget tuh orang !!!”
Dalam keadaan yang sangat panik ini.Di luar mobil, mata mata telah mengintai gadis itu.Mata yang menyala saat gelap.Mata penuh rasa ingin dan yang rilis hasrat rasa ingin taunya.Dengan dua pasang kaki yang menggunakan kuku-kuku yang siap mencakar.Makhluk dengan buntut panjang dan kumis yang panjang ia segera tepat di depan kaca mobil.
BUG!
Lompatan yang tepat akurat itu membuat bunyi yang cukup mengagetkan.Terlebih lagi makhluk kecil berbulu hitam itu menggunakan badannya yang berat tidak apa pun untuk mendarat diatas mobil.Dibandingkan bunyi, bayangan hitam yang datang secara mendadak membuat Fitri teriak hingga mencapai langit ketujuh.
“GYAAAAA OMAMAAAA !!!!”panik dan ketakutan.Dua kombinasi perasaan itu secara spontan mobil dan menancap gas.Mobil seddan hitam itu melaju dengan sangat brutal tanpa arah jelas, sedangkan kemudinya juga tidak bisa berhenti berteriak didalam sana.
“GYAAAAA .... GYAAAAA !!!!”
Sementara makhluk yang berada di atas mobil tersebut hanya diam dan menatap kepergian mobil hitam yang melaju sangat brutal.
"Gyaaaaaaaaa mamaa!!"
"Meong?" pikirnya bingung.
“Gadis tidak berguna.” Gumam Rohi dengan tatapan penuh hinaan. Ia melihat kearah anak kucing berbulu hitam yang ada di bawahnya. “Kalau ada apa-apa kamu yang tanggung jawab. Saya disini hanya berdiri disini dan sama sekali tidak menganggunya. ” Jelas Rohi kepada anak kucing itu.
"Meong." Sahut si anak kucing yang kemudian lebih sibuk menggaruk kupingnya dengan kaki belakangnya.
“Hmmm saya lebih khawatir dengan keadaan gadis saya, dia tidak ada disekolah ini dan saya juga tidak tau kemana dia dan teman-teman-teman. Apa dia baik-baik saja? ” Pikir Rohi Yang Mulai Gusar.
PESTA .JAILANGKUNG // bersambung ....
__ADS_1