
BLAM
BLAM
BLAM
“GYAAAA!!!!”
Arinda menoleh ke dalam pagar sekolah. Suara dentuman dan teriakan seseorang membuatnya terkejut. Begitu juga Karin, Fitri dan Tito. Mereka sama-sama melihatkan wajah bingung sekaligus ketakutan.
“Apa itu? Siapa yang teriak di dalam sekolah malam-malam gini?” tanya Fitri.
“Gue dengar suara laki-laki.” Tambah Karin.
“Merri mana?” tanya Tito.
Arinda menoleh kesekitar. Dia tidak menemukan Merri di dekatnya lagi. Pintu pagar sekolah yang setengah terbuka membuat Arinda berfikir sejenak, “Kapan dia perginya?”
“Kapan dia perginya?” tanya Tito panik, “Apa dia hilang?” tanya Tito panik.
“Ga mungkin dia hilang.” Ucap Karin.
“Menurut gue, dia udah pergi ke kelas mengambil boneka jailangkung Mikha, sendirian.” Jelas Arinda menunjuk pintu pagar yang terbuka. “Apa perlu kita susul?” tanya Arinda sedikit ragu.
“Hmm... ada ide lain?” tanya fitri yang jelas keberatan.
Tito menatap ketiga temannya. Ia telah memantapkan hati dan membulatkan tekad. “Fitri, lu pegang kunci mobil. lu harus duduk di bangku kemudi. Kalo ada apa-apa, misalnya dalam waktu setengah jam kita belum balik, lo boleh pergi dan cari bantuan.” Jelas Tito.
“Kita?” tanya Karin. “Maksudnya kita itu selain lo siapa lagi?”
“Gue dan elu lah!” jawab Arinda.
“Gue? Ta pi kan... gue... tapi tapi...”
“Karin, lu yang pegang terakhir, pasti lu tau dimana? Kan gue sama Arinda pingsan. Jadi ingatan gue terbatas.” Jelas Tito.
“Gue sendiri juga ga tau.”
“Tapi lo harus tanggung jawab.” Lanjut Fitri. Mata Karin menatap tajam Fitri. “Lah, kan emang lu yang bawa boneka dari awal.” Jelas Fitri tidak terima di tatap dengan mata kucing Karin.
“Karin, ayo. Gue tau lo kuat.” Ucap Tito.
Karin mendesah kesal. “Oke, gue ikut!” ucap Karin. Walau berat setidaknya ia sadar jika ia harus bertanggung jawab atas masalah yang telah ia ciptakan ini.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
Di dalam lingkungan sekolah, Merri dan Agus sama-sama di perlihatkan oleh sosok yang sangat misterius sekaligus mengerikan.
Semua pintu kelas terbuka secara mendadak. Seolah ada yang menendangnya dari dari dalam. Kemudian di saat bersamaan, lampu bewarna merah menyala. Merri dan Agus sama-sama bergidik. Belum cukup disitu, di tiap-tiap kelas itu, satu sosok yang mengenakan jubah keluar dari sana. Mereka bergerak seperti serdadu. Berjalan rapi keluar dari kelas dan serempak berhenti di depan pintu kelas. Untuk beberapa detik mereka diam, lalu semua kepalanya menoleh ke arah Merri dan Agus.
“A ap apa itu?” tanya Agus gugup. Kakinya gemetar hebat. Di bersembunyi di balik punggung Merri yang kecil.
Begitu juga Merri. Dia juga merasa takut dan terancam. Tapi ia berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa takut itu. “Ketakutan adalah aroma kesukaan mereka.”
Semua makhluk itu menatap Merri dan Agus. Kemudian semua tangan kanan mereka terangkat dan menunjuk kepada satu arah.
Merri melihat arah yang di maksud. Paham atau tidak, ia mencoba mengikuti arah yang di tunjuk oleh pasukan berjubah hitam itu. Merri menarik Agus agar segera bergerak
secepat mungkin.
“Ki kita kemana?” tanya Agus masih ketakutan.
__ADS_1
“Ikut saja!” bentak Merri.
“Ah ya, baik.” Angguk Agus pasrah. Agus tidak berani bertanya lagi. Terlebih saat ini di setiap kelas yang mereka lewati pasukan berjubah itu masih diam berdiri di depan pintu kelas. Mereka juga masih menunjuk kearah yang sama. Saat ia memberanikan diri untuk melihat sosok di balik jubah itu, Agus seperti melihat suata hal yang sangat aneh.
“Jangan lihat mereka!” ingat Merri.
Agus kembali meluruskan pandangannya. Walau sepintas, ia sudah melihatnya. Sepintas tapi sanagt menakutkan. Sepintas yang mungkin saja membayang di benaknya dan menemaninya setiap mimpi buruk baik dalam keadaan tidur maupun bangun. Sepintas yang mengiring kematian penuh tragedi.
“Mer..!” panggil Agus.
“Sudah di bilang jangan lihat mereka dan jangan ingat apa yang sudah di lihat. Walau ujung kukunya, lupakan!” ingat Merri lagi.
“Merri... gue gue mau pulang!” tiba-tiba Agus terisak. Air mata tumpah membasahi pipinya.
Merri lansung membalikkan badannya. Pemandangan di depannya sungguh terlihat aneh. Seorang pria dengan otot kekar dan badan tinggi menangis seperti anak kecil tak berdaya di depannya. Merri lansung naik pitam.
“MAKANYA GUE BILANG JANGAN LIHAT!”
PLAK!
Merri menampar pipi Agus dengan keras. Tamparan itu membuat Agus terdiam sesaat. Dia merasakan nyeri di pipinya. Walau Merri memiliki jari yang kecil tetapi sekali mengayun, tangannya seperti mampu membunuh lalat dalam sekali tamparan. Agus segera memegang pipinya yang nyeri dan memerah.
“Maaf gue nampar lo, gue mau lo tetap sadar dan berfikiran jernih. Soalnya kita sudah kehabisan waktu.” Jelas Merri.
Agus tidak menjawab. Dia hanya terasa terhina, namun ia menerima tamparan keras itu. Dia merasa malu tapi dia sadar, seharusnya rasa takut dan merengek di depan di depan seorang gadis lebih memalukan lagi.
“Kita harus cari Pak Asep secepat mungkin!” ingat Merri lagi.
Agus berusaha bersikap biasa. Dia ingin terlihat berguna di depan Merri. Dia benar-benar merasa bersalah telah mengeluarkan air mata di depan gadis mungil ini. Secepat mungkin ia segera menghapus air matanya yang sempat jatuh. “Boy no cry!” pikirnya dalam hati. “Pak Asep tinggal di... di belakang sekolah.”
“Oke!” angguk Merri mantap. Merekapun bergegas menuju rumah penjaga sekolah yang di maksud.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
“Terus kita kemana? Kelas?” tanya Karin.
“Gue pikir Merri kesana sih.” Jawab Arinda.
“Ga guys, gue lihat dia disana.” Tunjuk Tito kearah paling ujung bangunan sekolah. “Ada Merri dan satu orang lagi, gue ga tau dia siapa. Masih manusia atau sebangsa setan, gue ga yakin!”
Arinda dan Karin melihat kearah tunjuk Tito. Walau tidak begitu jelas karena pengaruh penerangan
“Kita susul aja buat mastiin.” Ucap Arinda. “Semoga aja bukan salah satu hantu di sekolah ini.”
“Ya, semoga!” sahut Karin.
Karin mengangguk paham. Ketiga remaja itu segera menyusul Merri dengan melintasi lapangan sekolah yang cukup luas, dan juga lapangan basket sekolah yang di kelilingi pagar jaring. Saat hendak mengitari lapangan basket, ekor mata Arinda menangkap satu bayangan yang cukup menggetarkan bulu kuduknya. Ya, di tengah lapangan basket ia melihat bayangan putih. Bayangan yang ia yakini mirip dengan Mikha. Saat Arinda mencoba menolah, bayangan itu mengangkat tangannya dan menunjuk sebuah arah. Arah yang sama yang di tujukan Merri oleh pasukan berjubah itu.
“Arinda... tolong... GYAHAHAHA!!!” Arinda merasakan seluruh tubuhnya kaku karena ketakutan.
“Arinda!!!” teriak Tito. Arinda menoleh kearah Tito dengan wajah yang pucat. Merasa khawatir Tito dan Karin kembali menyusul Arinda.
“Kenapa, ada apa?” tanya Tito dan Karin cemas.
Arinda menunjuk lapangan basket. Kosong, tidak ada siapapun disana. Mikha atau kuntilanak sekolah atau siapapun itu, ia sudah hilang. “Gue tadi lihat.. ada...” Arinda mencoba menjelaskan.
“Nda, fokus!” ingat Tito.
“Iya, lo ga boleh melamun.” Tambah Karin.
Arinda berusaha menguasai dirinya lagi. “Gue harus fokus. Pikiran gue ga boleh kosong.” Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
“Guys, cepat... kita susul Merri, gua ga mau lama-lama di gedung ini!” ajak Karin. Ketiga remaja itu lansung melanjutkan pencarian. Mereka menuju gerbang belakang sekolah tempat Merri dan Agus melewatinya.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
Di posisi radius tiga kilometer dari bangunan sekolah, Merri dan Agus telah berdiri di depan sebuah rumah minimlis dan sederhana. Sebuah rumah yang selalu tampak sepi. Di halaman rumah itu, terdapat beberapa kursi dan meja sekolah yang sudah rusak dan beberapa alat pertukangan. Kemudian ada sapu dan juga beberapa alat yang biasa di guanakan untuk membersihkan halaman sekolah.
“Ini rumah pak Asep?” tanya Merri ke Agus.
“Ya, ini. gue yakin kok. Kita beberapa anak cowok lain suka beli rok*k disini kok.” Jelas Agus.
“Beli?” tanya Merri.
“Ya\, buat kita anak laki\, udah tau kalau pak Asep dagang r*k*k. Gue juga suka beli ke dia. Memang sih dia brengsek dan juga penjilat. Suka cari perhatian ke Bu kepsek dengan laporin murid bermasalah\, tapi disisi lain ya dia bantu kita sedian tempat buat nongkrong.” Jelas Agus lagi.
Merri tampak tidak tertarik mendengar penjelasan Agus. Dia tidak peduli dengan pak Asep dan juga hobi Agus yang suka nongkrong buar merokok diam-diam disini. Dia hanya peduli dengan benda yang di bawa pria tua itu.
Merri berjalan mendekati rumah pak Asep dan lansung menggedor pintu kayu rumah tersebut.
Tok Tok Tok...
“Siapa?” tanya suara tua di dalam rumah.
“Saya pak!” Agus yang menyahut. Merri hanya diam. Wajahnya terlihat serius.
“Pulanglah.. jangan ganggu saya!” usir pak Asep dari dalam rumahnya.
“Hmm...” Agus berfikir sejenak, “Saya mau bayar hutang, Pak!” ucap Agus mencoba memberi alasan masuk akal.
“Besok saja! Saya sedang sibuk malam ini!” usir Pak Asep lagi. Ia sama sekali tidak membukakan pintu untuk dua remaja ini.
Agus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Keras kepala banget.” Gumamnya.
“Bodoh, bukannya dia telah memukul lo. Masa tiba-tiba alasannya bayar hutang.” Ledek Merri dingin. Merinding, ucapan dingin Merri lebih mengerikan dari pada mulut pedas Karin. Agus kembali kikuk dan tidak berguna di hadapan Merri. Dia merasa gagal menjadi laki-laki.
Tok Tok Tok
Merri tidak peduli. Dia masih kembali mengetuk pintu itu.
“Sudah saya bilang pergi!!!” teriak Pak Asep.
Tok Tok Tok Tok Tok Tok
Merri terus mengetuk pintu rumah pak Asep tanpa peduli jika yang punya rumah sangat terganggung.
Pintu itu terbuka. Pak Asep terlihat geram. Dia menatap dua remaja di depannya dengan raut wajah marah.
“Sudah saya bilang pergi sana!!” teriak pak Asep.
“Agus, tahan dia!” perintah Merri.
Agus kaget namun dalam persekian detik dia lansung menjalankan perintah Merri. Satu sisi dia merasa takut sekaligus aneh dengan sikap Merri yang tidak biasanya. Di sisi lain dia menilai jika Merri juga keren. Di balik tubuh yang ia kira lemah itu, ternyata Merri memiliki sisi barbar yang tidak bisa di anggap remah.
Lansung saja, pria bertubuh kekar itu lansung menggunakan otot badannya menahan pria tua. Sementara itu Merri masuk kedalam rumah pak Asep dan mencari boneka yang di maksud.
“SIALAN! Kalian mau apakan saya?!” teriak pak Asep. “Akan saya adukan kepada kepala sekolah, dua siswa berbuat aneh di kediaman saya!!” teriak pak Asep berusaha lepas dari genggaman Agus.
“Sabar pak, ini demi bapak!” ingat Agus.
Merri terus menggeledah isi rumah pak Asep. Dia belum menemukan boneka jailangkung itu. Kemudian matanya tertuju pada salah satu ruangan pintu kamar yang belum ia sentuh. Tanpa pikir panjang Merri lansung mencoba membuka pintu kamar tersebut.
Pak Asep semakin murka. Dia tidak ingin siapapun masuk kedalam kamarnya. “JANGAN!!!” teriak pak Asep yang terus meronta.
__ADS_1
“GYAA!!!” agus teriak. Sebab pria tua itu menggigit tangannya. Pak Agus lepas. Kali ini ia mencoba menghalau Merri. Namun terlambat pintu itu terbuka dan Merri terbelalak dengan apa yang ia lihat di dalam kamar pria tua malang itu.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...