Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
39 Kebohongan Pertama Merri


__ADS_3

 


 


Pukul dua dini hari, Merri dan Kusuma sudah kembali berada di kediaman mereka. Malam kelam yang sunyi sepi, membuat keduanya terdiam selama dalam perjalanan. Hal itu juga berlanjut saat mereka juga berada dirumah. Kusuma bergegas mengambil boneka jailangkung yang dititipkan Pak Randi agar bisa diamankan. Sedangkan Merri duduk merenung di kamarnya.


“Kau tidak pernah di harapkan...!”


“Kau gadis yang hebat tapi sayang di lahirkan oleh wanita seperti dia...!”


“Dia pernah mencoba membunuhmu!”


Kata-kata setan yang keluar dari mulut Arinda terngiang di benaknya. Hatinya meragu. Bukannya dia mau mempercayai semua omong kosong si setan itu, hanya saja semua kebohongan itu cukup mengganggunya.


Dari arah luar pintu kamarnya, Merri mendengar langkah kaki masuk. Ia tau kalau itu ibunya, Kusuma. Merri segera berbaring di atas kasur, menutupi semua badannya dengan selimut.


“Merri?” panggil Kusuma. Melihat anaknya tertidur, Kusuma hanya menutup tirai kamar, mematikan lampu dan menutup pintu kamar. Di raut wajahnya terbaca kalau dia sangat mencemaskan keadaan Merri. Dia juga takut jika Merri termakan omongan setan yang pertama kali ia hadapi.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


Kediaman Karin


Gadis itu kembali merasa tidak enak badan. Di atas ranjang dalam keadaan terlelap, ia merasa ada sesuatu yang kembali naik di atas kasurnya. Karin yang setengah tersadar mencoba melihat siapa yang datang. Dia lebih berharap jika yang mengganggunya adalah tikus got di bandingkan setan itu lagi. Namun sayangnya, badannya sulit di gerakkan. Bahkan jari-jari tangannya sulit ia gerakkan.


“Hiks... jangan lagi! Kumohon!” pikir Karin. Matanya masih terpejam namun ia tau kalau kondisi badannya sedang tidak di dalam mimpi. Badan dan pikirannya sadar jika ia dalam kesadaran penuh.


“Ck ck... Kaaariiiin!!” namanya di panggil pelan dengan suara berbisik.


Karin membuka matanya, disana ia melihat seseorang telah berdiri tepat diatas badannya. Tubuhnya sepenuhnya hitam, tidak jelas jika ia seorang perempuan atau laki-laki. Namun sepasang mata bewarna merah itu menunjukkan jika kehadirannya bertanda buruk.


“Hiks..!!” Karin ingin menangis dan meneriaki kedua orang tuanya. Namun suara itu hanya tertahan di tenggorokan.


“Karin, jangan takut, ini aku Mikha!” bisik makhluk tersebut.


Karin makin ketakutan. Nama Mikha terdengar menyeram di telingannya. Apalagi kehadirannya, dia lebih memilih berada di dalam selokan yang dipenuhi tikus got.


“Karin, mau kah kau ikut denganku?” ajaknya.

__ADS_1


“Mak, babe... Tolong!” batin Karin. “Tolong!” tapi yang terdengar hanya isak tangis yang tertahan di batang tenggorokannya.


“Jangan takut Karin, kitakan teman. Kamu teman terbaik dan lebih baik di bandingkan Arinda.” Bujuk sosok hitam yang mengaku Mikha itu. Posisi berdirinya masih tetap disana dengan mata yang tajam menatapnya. Karin memejamkan matanya, dia tidak mau melihat makhluk itu.


“Pergi!”  batin Karin.


Dua jari panjang yang dingin dan amis menyeka wajah Karin. Rasa jijik sekaligus takut menjalar di sekujur tubuhnya. Air mata keluar karena dia sendiri memang sudah ketakutan dari tadi.


“Kamu tau apa yang Arinda bilang tentang kamu?” bisik makhluk itu, “Arinda bilang, kalau Karin tidak pantas mendapat pria manapun, karena dia sama sekali tidak cantik apalagi keren. Di lihat dari gayanya, dapat di


tebak kalau Karin sangat menyukai Tito, tapi sayangnya Tito sama sekali tidak pernah melihatnnya sebagai wanita.” Ucap makhluk itu.


Hati karin campur aduk, di tengah rasa takut yang terus meneror, hatinya juga terluka. Dia sangat sedih mendengar ucapan makhluk itu, terlebih itu adalah pendapat yang ia dengar dari Arinda.


“Arinda itu bermuka dua! Demi teman baru ia juga mencampakkanmu! Tega sekali dia!” lanjutnya.


“Sudah cukup!” batin Karin. Dia benar-benar tidak mau mendengar apa yang makhluk itu ucap.


“Aku bisa membantumu untuk mewujudkan semuanya, bukankah kau yang memanggilku, Karin? Jadi kita bisa berteman!”


Karin membuka matanya, ia melihat makhluk itu yang ternyata sudah mendekatkan wajahnya kewajah Karin. Satu hal yang Karin lihat, jika makhluk itu sama sekali bukan Mikha.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


Pagi datang menjelang. Merri segera bergegas berangkat ke sekolah. Dia mengenakan sepatu, menuju meja makan untuk meminum segelas susu. Sarapan nasi goreng yang disiapkan Kusuma tidak tersentuh sedikitpun. Tidak ada waktu, sebab hari ini ia sedang buru-buru.


“Mau ibu antar?” tawar Kusuma.


Merri sebenarnya ingin berangkat sendiri. Namun jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Akhirnya ia mengangguk.


Selama di perjalanan tidak ada kata yang ia ucapkan. Dia hanya memperhatikan Kusuma diam-diam lalu melempar pandangannya kearah jam tangan yang ia kenakan.


“Bawa bekal, ya!” ucap Kusuma.


Merri hanya mengangguk. Ia masukkan bekal yang sudah di taroh di atas dasbor. Setelah itu ia tidak bicara apa-apa lagi. Kusuma dapat membaca segudang pertanyaan yang ia tahan di benaknya. Ia biarkan Merri memikirkan semua itu dan menghadapinya dengan bijak jika putrinya menanyai semua hal.


Saat mobil itu sudah tiba di depan halaman sekolah. Merri membuka pintu mobil lalu bergegas. Kusuma hanya menatap anak itu dengan pandangan cemas. Namun tiga langkah kemudian ia melihat Merri membalikkan

__ADS_1


badannya dan membuka pintu mobil. Ternyata ia mengambil botol minum yang lupa ia bawa.


Saat sebelum pintu mobil itu di tutup Merri akhirnya menatap mata ibunya. Dua pasang mata antara ibu dan anak itu saling bertemu. Kusuma menelan ludah kering, kali ini ia merasa gugup bertatapan dengan anaknya. Terlebih lagi tatapan Merri sangat datar tanpa ekspresi.


“Bu, semalam ibu sangat keren, walau bagaimanapun aku bangga sama ibu!” ucap Merri.


“Hah?!” Kusuma melongo, apa yang barusan ia dengar, Merri memujinya.


“Aku sekolah dulu, nanti kita akan diskusi panjang. Ibu persiapkan cemilan yang banyak.” Ucap Merri yang kemudian menyunggingkan senyum, dan dimata Kusuma itu senyuman tercantik yang pernah ia lihat.


“Baik, kalau itu mau kamu!” angguk Kusuma, “Have fun di sekolah!” lanjutnya.


Merri mengangguk sambil menyunggingkan senyumnya. Ia menutup pintu mobil dan mendadahi sang ibu yang sudah putar arah. Saat mobil sedan kuning itu menjauh baru senyum itu memudar. Ia membalikkan badannya dan melihat gerbang sekolah SMA KASSANOVA.


Jujur dalam hati kecilnya ia sangat takut berhadapan dengan orang-orang di sekolah hari ini. Sebenarnnya kakinya agak enggan untuk memijaki ubin pertama sekolah ini. Dia takut semua mata menatapnya dengan pandangan


aneh, seperti sekolahnya terdahulu. Jika ibunya tidak mengantarnya sekolah hari ini, ia akan melipir ketempat lain hari ini, bukan kesekolah.


“Huft! Aku harus ngapain ya?” pikir Merri. “Ini bukan pekara males, bukan masalah Arinda juga, tapi ibu kepala sekolah dan Tito juga tau. Huft!” dada Merri menjadi sesak.


TEEET... TEEET...!!


Bel sekolah berbunyi nyaring. Semua siswa yang masih di luar gerbang berlarian masuk sebelum pagar besi hitam itu di tutup pak Asep. Tapi Merri masih menimbang-nimbang, mau masuk atau bolos.


“Aku bolos hari ini saja, ga apa-apakan?” putus Merri membalikkan badan. Dia melangkah meninggalkan sekolah.


“Merri. Lo mau kemana?” panggil Tito yang juga baru sampai. Dia turun dari mobilnya yang sudah terpakir di parkiran khusus siswa dan segera menghampiri Merri.


“Aaa... itu... anu...!” Merri gelagaban.


“Buruan masuk, hari ini Fisika, gurunya walas kita, si galak itu!” ajak Tito yang menarik ransel Merri.


“Tapi..tapi..!!”


“Ayuu!!” Tito tetap menarik Merri. Akhirnya Merri yang tidak ahli dalam berbohong hanya menurut. Dia mirip seperti anak kucing saat ditarik Tito.


Dari arah kejauhan, Karin yang melihat Tito dan Merri. Tangan Karin mengepal, namun pandangannya hampa dengan wajah sedikit pucat.

__ADS_1


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// BERSAMBUNG...


__ADS_2