Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
57 mBAH uTI kEMBaLi (?)


__ADS_3

Malam yang cukup panjang itu berakhir juga. Arinda dapat memeluk kedua orang tuanya. Karin menemui keluarganya kembali, Tito berkumpul dengan ibu dan ketiga saudarinya. Lebih dari itu, Agus yang di temukan di bawah kolong tempat tidur pak Asep dapat dengan segera di bawa kerumah sakit. Nadinya masih berdenyut walau ia cukup kehilangan banyak darah akibat benturan benda tumpul di kepalanya. Namun setidaknya, hal ini menjadi harapan terakhir bagi para remaja ini agar Agus bisa kembali. Setelah memberi keterangan kepada polisi mengenai kasus mereka malam ini, keempat remaja itu duduk di halaman kantor polisi sambil menunggu orang tua mereka menyelesaikan administrasi.


"Kita kayak pelajar yang ketangkep tawuran." gumam Fitri.


"Ya, lo yang bawa mobil ngamuk-ngamuk ga jelas." balas Tito.


"Demi kalian. Tapi Kenapa kalian bisa tau Agus di sekap sama pak Asep?" tanya Fitri.


"Bukan kita." jawab Tito, "Tapi Merri."


Arinda dan Karin mengangguk lemah. Mereka tampak lelah dan kucel. Tapi tampak jelas semua ini belum selasai sepenuhnya. Mereka belum bisa tidur dengan nyenyak hingga ada kabar baru dari pihak rumah sakit.


"Semoga Agus masih bisa di selamatkan." ucap Karin dengan mimik wajah sedih. Arinda mengusap punggung Karin lembut. Mereka mencoba saling menguatkan satu sama lain.


"Ya, gue juga banyak salah sama Agus. Gue sering jutek sama dia." ucap Fitri. "Mer, lo hebat, lo bisa jadi detektif seperti Sinici Kudo." Fitri terdiam. Manusia yang ingin ia ajak bicara juga tidak disana. "Merri kemana, ada yang tau?"


Arinda, Karin dan Tito melihat sekitar. Gadis pendiam bertubuh kecil itu tidak ada.


"Kemana perginya?" tanya Arinda.


"Mungkin?" Karin mencoba menerka-nerka.


"Bisa jadi!" seru Tito.


"Maksudnya apa?" tanya Fitri tidak paham.Dalam beberapa detik kedepan mata Fitri membulat dan kemudian ia mengangguk paham. "Jangan-jangan?!"


"Ya, sepertinya itu. Dia harus menyerahkan boneka itu secepat mungkin kepada ibunya." jelas Arinda.


**PESTA JAILANGKUNG// **


 


Merri mengerahkan semua tenaga yang ia punya. Kaki bertungkai kurus itu melangkah secepat yang ia mampu. Di tengah sunyi dan sepinya malam ibu kota, ia harus berjuang untuk bisa mengalahkan waktu. Terlebih lagi, boneka yang ia di genggam di tangan kanannya ini terus saja menarik semua makhluk yang ada disekitarnya. Seolah ia adalah magnet.


Rohi juga menyadari hal itu dan ia mencium aroma menarik dari boneka tersebut. Kemudian iblis itu tersenyum.


"Manusia memang bodoh. Mereka makhluk lemah yang berpura-pura kuat. Dengan memberi umpan seperti ini mereka kira bisa mengikat perjanjian segampang itu dengan kegelapan. Sungguh ironi."


Merri tidak peduli dengan perkataan Rohi. Dia tidak mau energi yang tersisa ini di pakai untuk membalas perkataan Iblis yang suka membututinya itu.


CEKLIK... TEEN


"BADAASSSSSHHHH!!!" Rohi lansung mendesis dengan keras. Desisnya lansung menggema di kepala Merri, sehingga gadis itu merasa pening.


Mobil sedan bewarna hitam tiba-tiba berhenti di depannya. Merri menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak cepat. Ia kembali cemas. Namun saat kaca mobil itu diturunkan Merri terdiam sejenak. Ia kembali mengucek matanya beberapa kali.


"Merri!" panggil wanita tua yang duduk di bangku belakang. Dia mengenakan pakaian nyentrik dengan konde besar di kepalanya. Leher dan tangannya di penuhi perhiasan.


"Kenapa kamu pulang sekolah di jam yang sangat larut seperti ini?" tanya wanita itu bingung.

__ADS_1


"Mbah? Apa benar Mbah Uti?" tanya Merri. Ia melihat bagian bangku kemudi. "Bapak?" tanya Merri kepada pria dewasa yang mengenakan topi blankon.


"Ya, siapa lagi? Masuk!" perintah Mbah Uti yang membukakan pintu mobi untuk Merri.


"JANGAN!" perintah Rohi di benak Merri.


Merri memperhatikan wajah neneknya. Dia hanya takut jika wanita yang ada di depannya buka manusia melainkan jin atau setan yang menyamar. Terlebih yang ia pegang adalah boneka yang memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka.


"Kenapa kau tidak masuk? Apa kau mengira mbah mu ini hantu?" Mbah Uti lansung memperlihatkan gelang tasbih dengan liontin sama dengannya. Melihat hal itu Merri akhirnya bernafas lega. Ia memberanikan diri untuk masuk kedalam mobil.


"JANGAN!" perintah Rohi. Tapi Merri mengabaikan permintaan Rohi. "Sialan, aku harus pergi dan menemuimu ketika sudah sampai di rumah. Aku benci wanita ini." ucap Rohi dengan kesal.


Merri membiarkan Rohi pergi. Dia sadar jika Rohi masih ada rasa dendam dengan neneknya. Terlebih saat kejadian ia kalah telak saat melawan dengan neneknya waktu itu. Mobilpun melaju dengan kecepatan normal.


"Kau dari mana? Kenapa jam segini masih keluyuran?" tanya Mbah Uti. Mata Mbah Uti kemudian beralih kepada boneka yang ada di tangan Merri. "Itu apa?" tanyanya tegas.


"Ini boneka jailangkung." jelas Merri.


"Boneka beruang ini boneka jaiangkung?" tanya mbah Uti tidak percaya.


"Iya, mbah. Boneka ini sudah membawa petaka yang cukup banyak mbah. Merri mau memberikannya kepada Ibu lagi." jelas Merri. "Aku telat pulang karena harus mencari boneka ini di sekolah."


Mbah Uti mengambil boneka itu dari tangan Merri. Dia memperhatikan boneka yang sudah kumal dan juga bau. "Kenapa boneka ini bisa menjadi media pemanggil arwah? Terlebih lagi ia bisa menarik makhluk yang sangat kuat?" pikir Mbah Uti.


"Ya, dia sangat kuat Mbah. Sebab, dia sudah membunuh satu siswi di sekolahku. Lalu juga seorang penjaga sekolah juga. Dia membunuhnya dengan cara yang sadis. Aku takut mengingat bentuk wajah yang hangus terbakar itu." jelas Merri.


"Ya, namanya MIkha. Kenapa mbah bisa tau?" tanya Merri penasaran.


"Ya, tau. Mbah tau segalanya."


"Apa ibu yang cerita ke mbah uti?"


Mbah Uti tersenyum simpul. Mari kita temui ibumu terlebih dahulu. Aku menunda perjalananku hanya ingin menenangkan pikiranku. Aku mencemaskan kalian." jelas Mbah Uti lagi.


Merri mengangguk. Sedan hitam itu akhirnya tiba di rumah kediaman Kusuma. "Mbah, kita sudah sampai." ucap Pak Tejo kepada Mbah Uti dengan sopan. Merri membuka pintu mobil, namun mbah Uti menahan Merri.


"Kenapa Mbah?" tanya Merri.


"Biar saya yang pegang boneka ini. Akan sangat berbahaya jika gadis muda sepertimu jika memegang boneka ini terlalu lama."


"Mbah, apa mbah tidak apa-apa?" tanya Merri cemas. "Aku takut merepokan Mbah." ucap Merri sopan.


"Tidak akan, karena aku jauh lebih sakti darimu wahai anak muda." ucap Mbah dengan penuh percaya diri.


"Hmmm ya juga ya. Baik mbah. Aku serahkan kepada mbah tapi walau bagaimanapun Ibu harus tau. Saolnya boneka ini dari salah satu klien ibu."


"Randi Santoso, ya kan?" tanya Mbah Uti dengan senyum percaya diri yang menghiasi wajah tuanya.


"Wah, mbah Uti memang keren." Merri terpesona dengan kehebatan nenek sekaligus panutannya. Mbah Uti hanya membalas dengan senyuman.

__ADS_1


"Temui ibumu segera. Bilang aku tidak jadi berangkat ke Hongkong." ucap Mbah Uti.


"Ya!" Merri mengangguk. Dia segera memasuki rumahnya dan mencari keberadaan sang ibu. Sementara itu Mbah Uti terus memperhatikan boneka jailangkung dengan senyuman penuh maksud.


"Tedjo, Maerka kembali ketangan kita." ucap Mbah Uti yang terlihat senang.


"Ya mbah." Angguk pria tua itu dengan senyum ramah di wajahnya.


"Aku tidak menyangka jika benih itu sangat manjur. Awalnya aku hanya iseng membuatnya. Aku juga tidak pernah menyuruh gadis muda itu menanamkannya kedalam boneka ini. Tapi ternyata anak-anak sekarang memang penuh inisiatif. Dia sendiri yang menyimpan benih berbentuk permata ini kedalam boneka ini. Membiarkan Maerka bermain-main dengan mereka. Tapi sayangnya Maerka memang sangat sulit di hadapi dan juga keras kepala. Sehingga dia membawa gadis itu kedalam sarangnya. Itu di luar kuasaku, tapi bagaimanapun aku tetap menyukai Maerka."


Mbah Uti terus berbicara kepada asistennya yang sangat setia. Tangan tuanya juga sibuk membongkar isi perut boneka. Walau sedikit mengerah usaha, jari-jari tua mbah Uti akhirnya menemukan sebuah benda asing di dalam badan boneka. Tepatnya, di bagian kepala boneka. Mbah Uti mengeluarkannya dan memperlihatkan sebuah batu permata bewarna hitam.


"Maerka-ku tumbuh dengan baik dan sayangnya dia sedikit rakus. Dia butuh banyak pelatihan agar bisa mengendalikan amarahnya. Sebab aku hanya butuh darah wanita perawan sekali setahun saja. Aku tidak butuh darah pria Tua penuh dosa dan kesedihan dan juga bocah laki-laki. Bagaimana ini Tedjo?" tanya Mbah Uti. Tedjo yang di tanyai hanya diam dan memasangkan senyuman ramah di wajahnya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan kepada anak dan cucuku? Haruskan mereka saya ajak kerja sama atau saya bungkam seumur hidup? Seperti nasib minantu kesayanganku waktu itu. Dia teerlanjur tau dengan rahasia kita, sehingga aku terpaksa membuat anakku menjadi janda dan cucuku menjadi anak yatim." Mbah Uti hanya merenung. Kemudian raut wajah itu kembali bersikap acuh tak acuh.


"Bersiap-siaplah, kita akan eksekusi malam ini. Keputusan ada di tanganku." ucap Mbah Uti akhirnya. "Tapi kita harus bergegas, sebelum iblis kecil dan bermulut besar itu mengacau rencanaku lagi. Sebab dia sudah kembali mengganggu cucuku. Hmm... dia cukup setia juga dengan Merri. Awalnya aku meremehkannya, namun lama-lama kenapa kepikiran ya?"


Tedjo kemudian mengambil sebuah kain bewarna hitam yang ia letakkan dengan rapi di sampingnya. Ia mengangkat kain itu dan segera mengenakannya. seluruh badannya tertutupi kain yang terlihat seperti jubah hitam. Kemudian mereka berdua segera memasuki rumah kediaman Kusuma dengan langkah yang sangat santai.


PESTA JAILANGKUNG...


.


.


.


Sementara itu, Merri sibuk mencari keberadaan ibunya. Ia mencoba mencari ibunya di kamar. Namun kasur tempat ibunya biasa tidur masih terlihat rapi.


"Ibu kemana ya?" pikir Merri. Ia kembali menuruni anak tangga, mencari ibunya di ruang koleksi barang antik milik ibunya. Namun tidak ada. Merri kemudian beralri menuju dapur, tetap tidak ada.


"Nggak mungkin dia masih pergi. Mobilnya aja masih ada di luar." pikir Merri. "Ya, ibu pasti di ruang prakteknya. Aku harus kesana." Merri segera berlari menuju halaman belakang. Ia melewati kolam renang kering dan di penuhi sampah daun kering. Menuruni anak tangga yang terbuat dari batu alam dan kemudian berhenti seketika. Sebab didepan sana seseorang yang mengenakan jubah hitam telah masuk masuk dalam ruangan itu.


"SIAPA MEREKA?" pikir Merri dalam hati.


.


.


.


.


Di tempat lain, di alam berbeda, pada lampisan dimensi yang tak sama, Agus terus berlari menyusuri ibu kota yang tak berpenghuni. Wajahnya terlihat lelah, tapi ia tidak mau berhenti begitu saja. Sebab di belakangnya sudah ada beberapa makhluk asing yang terus mengejarnya. Mereka yang mengenakan jubah hitam yang besar. Dengan derap langkah kaki yang juga tidak kalah cepat. Selain itu ada auman yang sangat mengerikan.


"Aku tidak ingin mati... aku tidak ingin mati... Harus harus kemana?" pikir Agus yang mulai lelah. Dia bersembunyi di dalam sebuah bangunan tua yang tak jauh dari gedung sekolah itu. "Merri, Karin, Arinda, Tito... cepatlah!!"


PESTA JAILANGKUNG/ BERSAMBUNG.... 

__ADS_1


__ADS_2