
Setelah keadaan diyakinkan tenang, Ajar dan Lira masuk ke dalam rumah. Tito yang penasaran pun juga mengekori mereka. Sungguh suatu hal yang mengejutkan, saat pemandangan yang mengejutkan. Rumah berantakan, Figura foto yang tidak didinding lagi, melainkan hancur berderai di lantai.Begitupun pelakat penghargaan yang sudah tidak berbentuk lagi. Persis seperti habis diserang badai.
“Arinda..!!” Lira mendekati Arinda yang berbaring lemah. Badan diangkat dan disenderkan di paha sang ibu.
“Arinda?!” Ajar juga terlihat cemas. “Apa yang terjadi?” tanya ajar kearah Merri dan Kusuma yang terlihsat sama saja.
“Tidak apa-apa, siapkan saja kantong muntah.” Ingat Kusuma yang duduk bersandar dengan Merri. Mereka berdua tampak lelah. Kusuma melihat kearah Tito yang masih linglung. Merasa di perhatikan, Tito juga melihat kearah Kusuma. “Kamu carilah sesuatu, ember atau apapun agar kita tidak ikutan muntah!” perintah kusuma.
“Ya Ya, ba baik!” Tito segera melaksanakan perintah. Secepat kilat dia berlari kearah dapur. Mengambil ember. “HUEEEK!!” histeris perutnya saat menangkap aroma busuk di kulkas yang di acak-acak Arinda. Merri mengangkat tubuh ibunya agar bisa duduk di atas sofa. Sedangkan Ajar dan Lira masih tak kuasa melihat kondisi putrinya yang masil lemas.
“Arinda, bangun... apa kamu tidak apa-apa?” tanya Lira di tengah isak tangisnya.
“Hmm.. bun.. uhuk uhuk!!” Arinda tersadar.
Tito juga kembali membawa sebuah baskom dan air mineral. “I ini bu buat a apa?” tanya Tito.
“Berikan ke Arinda cepat!” perintah Kusuma.
“Uhuk uhuk!!” Arinda terduduk. Dia memegangi perutnya yang terasa di aduk-aduk.
“Arinda, kamu kenapa?” panik Ajar dan Lira.
Tito lansung memberikan baskom yang kemudian lansung di tangkap oleh Ajar. Dia paham maksud dari perintah Kusuma. Ia serahkan baskom di hadapan Arinda.
“HUEKKK!!!” Arinda memuntahkan cairan hitam kental.
Tito memincingkan matanya, begitu juga dengan Merri, Ajar dan juga Lira. Memang sebuah muntah yang tidak biasa. Bahkan Arinda sedikit kewalahan membuangnya, sebab ia sendiri merasakan rasa panas luar biasa menjalar di tenggorokannya. Dorongan yang ia upayakan juga membuat kedua matanya perih namun sulit untuk di pejam. Jadilah ia muntah dengan kedua mata terbelalak.
“Keluarkan, bagus. Biarkan mereka pergi dari tubuh kamu.” Ucap Kusuma.
Merri membuka matanya lalu memperhatikan wajah Arinda yang tersiksa karena mengeluarkan cairan kental itu dari mulutnya. Perhatian Merri juga teralih kepada Tito yang terlihat menderita. Sepertinya perutnya ikutan di aduk karena mendengar Arinda. Tito segera berlari kekamar mandi dan mengeluarkan semua penderitaannya disana.
“Tito, sejak kapan dia ada disini?” Pikir Merri.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//
Arinda di berikan secangkir ramuan hasil racikan Kusuma. Minuman aroma rempah itu akhrinya di teguk Arinda hingga habis. Merri yang menemaninya duduk di ruang tengah, sementara Ajar yang di bantu Tito membersihkan kegaduhan.
Arinda memperhatikan sekitar, dia agak bingung, kenapa rumah begitu berantakan, lalu kenapa dia jadi sakit dan sejak kapan Tito dan Merri datang kerumah ini. Lira membersihkan dapur sedangkan Kusuma mencoba mencek luka yang terjad di belakang kepalanya di kamar mandi.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Merri masih khawatir.
“Memangnya apa yang gue lakuin?” tanya Arinda.
“Kamu... kamu kerasukan.” Jelas Merri.
“Kerasukan?” tanya Arinda. Merri hanya mengangguk lemah. Seketika ia kembali mengingat kejadian di di toilet umum saat menemani ayahnya berbelanja. Ia kembali ingat akan laron yang terbang melintas dan sosok Mikha
yang datang secara tiba-tiba. “HAH?!” Arinda kaget, cangkir yang ia pegang sampe jatuh kelantai. “MIKHA?!” teriak Arinda.
__ADS_1
Alhasil semua orang kaget dan kembali keruang tengah. Mereka takut terjadi apa-apa.
“Arinda, tenang. Kamu udah disini kok sama kami!” tenang Merri.
“Memangnya apa yang terjadi?” tanya Ajar.
“Apa kamu tidak apa-apa? Apa kita perlu kedokter!” Lira lansung memeluk Arinda dan memeriksa tangan dan kepalanya, takut terjadi luka.
“Bukan bunda, aku tidak kenapa-kenapa, Tapi aku lihat Mikha seperti di pasung dan disiksa disana.” Jelas Arinda histeris.
“Dimana?” tanya Lira.
“Aku tidak tau dimana? Tapi tempat itu aneh. Seperti sebuah penjara bawah tanah. Mikha dan mbak-mbak yang kerja dirumahnya ada disana. Kaki mereka di rantai tapi mereka disuruh untuk kerja.” Jelas Arinda.
“Nak, kamu pasti mimpi buruk.” Jelas Ajar.
“Tapi mereka juga menarikku dan menyiksaku agar bergabung dengan mereka. Aku tidak mau! Aku lari tapi tetap saja tidak bisa, aku di tangkap dan hampir di pasung, hiks... hikss aku takut... aku takut... aku tidak mau seperti Mikha... aku tau aku salah tapi aku tidak mau berakhir sama dengan mereka...!!” teriak Arinda dalam tangisnya. Ia memeluk ibunya dengan erat. Ajar mengusap kepala anaknya agar bisa tenang.
Tito menatap Arinda penuh rasa kasihan. Walau ada banyak pertanyaan di benaknya, tapi melihat kondisi Arinda yang tidak biasanya membuatnya lebih merasa simpati. Dia merasakan ketakutan yang menjalar di tubuh teman kecilnya itu.
“Kami akan menjagamu, apapun yang terjadi.” Ucap Ajar.
“Memangnya hal apa yang kamu lakukan?” tanya Kusuma.
Arinda terisak, dia enggan menjawab. “Kamu cerita saja apa yang terjadi, sebab saat ini ibu dari teman yang kamu maksud juga mengalami gangguan kejiwaan sehingga ia mengalami keguguran.” Jelas Kusuma.
“Anakku tidak ada kaitan dengan kematian seseorang, dia bukan anak kolot yang percaya dan bermain dengan hal tidak mungkin.” Lanjut Lira.
“Nda, gue juga di gangguin Mikha.” Lanjut Tito. Dia melihat Arinda dan kemudian berganti kearah Merri.
“Tito, kamu sebaiknya diam dan jangan ikut campur. Masalah yang kamu alami itu sebuah kekonyolan. Jangan bikin malu pihak sekolah.” Bentak Lira.
“Ba baik, Buk!” seru Tito ketakutan, “Tapi..!”
“Sudah, hentikan omong kosong ini. Anakku tidak mungkin terlibat hal aneh. Kami keluarga berpendidikan tidak akan menyentuh hal-hal berbau gaib yang tidak masuk akal!!” bentak Lira.
“Bunda hentikan!” teriak Arinda.
“Arinda biar bunda tangani.”
“Aku ikutan main bunda!”
“Main apa?” tanya Ajar.
“Kamu main apa?” tanya Lira juga.
“Aku, Mikha dan mba Santi pembantu Mikha, kita bertiga iseng main Jailangkung di kamar Mikha. Puas!!” teriak Arinda.
Merri dan Kusuma tertunduk, mereka sudah memperkirakannya. Namun ini hal baru bagi Tito. Ia kira Arinda sangat skeptis seperti ibunya. Ia juga sadar Arinda tidak ikut dan terlibat sedikitpun dengan ide Karin waktu itu, tapi kenyataan yang adalah bahwa Arinda lebih dulu terlibat dengan permainan itu dibandingkan mereka semua.
__ADS_1
“Tidak mungkin! Hal omong kosong apa ini?!” histeris Lira.
“Lira, lebih baik kamu diam dulu. Kita biarkan Arinda bicara.” Tenang Ajar.
“Aku tidak percaya anak kita berfikiran norak. Dia melakukan hal bodoh dan bermain permainan tidak berguna.”
“Tapi aku ingin bertemu kak Alisya, itu alasan aku main jailangkung.” Bentak Arinda.
Ajar dan Lira kembali terdiam. Bahkan bibir Lira bergetar hebat menahan semua amarah sekaligus perasaan bingung yang menyesak di dadanya. “Aku Cuma minta maaf sama kak Alisya, selama ini aku tau dia menderita di
kamarnya, tapi aku gak tau jarak apa yang memisah kami berdua. Sampe akhirnya aku lihat dia sudah mati
gantung diri. Aku merasa bersalah hiks hiks.. seharusnya aku ada di samping dia disaat dia ada masalah! makanya kau main agar bisa minta maaf!” jelas Arinda. Suaranya hampir parau menjelaskan keluh kesahnya.
Kusuma menggandeng tangan Merri agar segera berdiri. Ini bukan lagi ranah mereka. Setidaknya ada satu nyawa yang selamat.
“Apapun alasanmu, melakukan ritual jailangkung tetaplah salah. Jailangkung bukanlah permainan melainkan sebuah ritual. Disana kalian melibatkan sosok yang tidak kalian kenali, bukan dari dunia yang sama.” Jelas
Kusuma. “Jika kamu ingin bertemu kakakmu, cukup doakan dia dan mohon kepada sang pencipta agar ia bisa kembali kedunia seharusnya." jelas Kusuma. "Malam makin larut, kami pamit dulu." ucap Kusuma.
"Bu!" Tahan Merri tiba-tiba. Kusuma memperhatikan putrinya. Merri menggenggam tangan Kusuma dengan erat. ia mengumpulkan semua keberanian dengan menatap Arinda, Ajar, Lira dan Tito secara bergantian.
“Alisya disampingku, dia ingin bicara tapi takut.” Jelas Merri. dia sedikit gugup menyampaikannya. Kusuma hanya melihat putrinya yang sekarang berusaha menjadi orang berani.
“Apa?” sahut Ajar dan Arinda. Terlihat kalau mereka sangat merindukannya.
“Selama ini dia masih di rumah ini, dia masih tidur di kamarnya, memperhatikan kalian. Sekarang dia disampingku dan dia sedang menangis. Dia sedih sekaligus takut, seperti yang kalian alami. ” Jawab Merri.
“Aku tidak bermaksud membuatnya sedih!” ucap Arinda.
Merri memejamkan matany, ia biarkan tubuhnya di rasuki Alisya. Seketika raut wajah dan gaya bicara Merri lansung berubah. “Inda, Ayah, Bunda!" sapa Merri yang sekarang di kuasai Alisya.Darah Arinda lansung berdesir hebat. Inda,sudah sangat lama ia tidak disapa seperti itu. panggilan itu memang Alisya yang punya untuknya.
“Alisya? Apa itu benar kau?” tanya Ajar.
“Kakak?” tanya Arinda.
"Kakak yang minta maaf, tidak menjadi kakak yang baik. Kakak tidak menjadi anak yang baik. Tidak percaya dengan ucapan Bunda dan Ayah. Kakak terjebak obat-obatan karena kekerasan kepala kakak yang lebih percaya dengan mereka. Kakak yang minta maaf. Alisya kira, jika Alisya mati keluarga ini akan baik-baik saja. Hiks hiks!!”
“Gak mungkin!” Tito menutup mulutnya sekali lagi. Hal gila apa lagi yang ia lihat kali ini. kenapa hari ini sungguh panjang dan aneh.
“Aku menyampaikan permintaan maaf! Maafkan aku! Terutama untuk bunda. Terimakasih telah menjadi ibu sambungku, membesarkanku, dan maafkan aku tidak bisa menjadi anak yang baik.” Ucap Alisya lagi.
Lira hanya membalikkan badannya. Ia tidak berani melihat Merri sedikitpun. Sebagai orang skeptis, ia tidak mempercayai apa yang sedag Merri lakukan. Namun sebagai seorang ibu, ia menitikkan air mata. Sedikit banyaknya, ia juga merasa bersalah dan gagal menjadi seorang ibu untuk Alisya.
Kesadaran Merri kembali, dia terduduk lemah. Pemandangannya agak berkunang-kunang. Seperti biasa, energinya segera habis jika telah berbagi kesadaran dengan makhluk lain di luar sana. Namun Kusuma tersenyum melihat perubahan perkembangan Merri.
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// Bersambung...
__ADS_1