
“Aku Belum Mati”
Ucapan Mikha dalam mimpinya kembali berputar di dalam
benaknya. Mikha yang di seret paksa dengan orang-orang berkostum aneh. Arinda
mulai memikirkan ssesuatu hal.
“Benarkah itu Mikha?” pikirnya. Arinda menggeleng. “Bodoh
sekali aku mikirin hal ga jelas.”
“Merri kamu udah ketemu buku-bukunya?” tanya Arinda yang
melihat Merri membawa banyak buku paket.
“Segini cukup?” tanya Merri. Tubuh kecilnya benar-benar
hampir ditutupi dengan setumpuk buku.
“Berat ya?” Arinda segera membantunya dengan membawa separo
dari buku yang dia bawa.
Setelah dicek petugas perpustakaan, mereka memutuskan untuk
kembali kekelas. Saat melewati lorong kelas, Merri yang selalu diam membuat
suasana kembali canggung. Arinda mulai melirik Merri. Ia ingat perkataan Tito,
jika gadis ini memiliki kaki yang sangat pucat. Namun Arinda tidak melihat
apa-apa. Merri mengenakan kaos kaki hitam yang panjang hingga betis dan lututnya
tidak terlihat.
“Hmm kenapa, apa ada yang salah?” tanya Merri merasa di
perhatikan.
“Gak kok.” Geleng Arinda, “Gaya lo keren juga.” Pujinya
tulus.
“Makasih.” Pipi Merri memerah. Ia malu di puji seperti itu.
Maklum, ia jarang mendapat perlakuan spesial dari orang lain sebelumnya.
“Lo kenapa pindah?” tanya Arinda tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Merri menjtuhkan kamus bahasa inggris
yang terletak paling atas. “O.. oo maaf.” Seru Marri. Dia berusaha mengambil
buku itu, namun yang terjadi semua buku di tangannya malah semakin jatuh
berantakan di lantai koridor.
“Haha.. Mer, hati-hati dong. Lo sarapan ga sih sebelum
kesekolah, lemes amat?” Arinda tidak bisa menahan tawa melihat kecerobohan
Merri. Wajah Merri tampak lucu karena panik melihat bukunya berserakan.
“He.. hee.. sepertinya ga tuh.” Pikir Merri dengan suaranya
yang kecil karena masih malu dengan Arinda.
“Nih gue bantu!”
“Maaf repotin.”
“Kok minta maaf sih?”
“Ya.. maaf.”
“Tuh minta maaf lagi kan.”
“Ga boleh ya? Maaf..”
“Merri hahaha... lo ngeselin juga ya?”
“He...hee... maaf.”
“Hahaha minta maaf lagi.”
Tawa Arinda memenuhi koridor sekolah yang lengang. Akhirnya
dia bisa tertawa juga hari ini. Dia juga tidak menyangka bisa tertawa karena
sikap Merri. Padahal dulu ia sempat menilainya sebagai anak yang aneh.
.
.
.
.
“Rin.. lo dari mana sih?” tanya Fitri melihat Arinda yang
baru saja duduk dibangkunya. Fitri tampak aneh saja Arinda masuk bersamaan
dengan si anak baru alias Merri.
“Bantuin Merri minjam buku paket di perpus.” Jelas Arinda.
__ADS_1
“Lo tau ga sih kalo dua jam pelajaran pertama itu ibu kepsek
yang masuk?” jelas Fitri dengan wajah cemas.
“Bu Lira? Ngapain dia?” tanya Arinda kaget. Sebagai putri
seorang kepala sekolah, dia sudah cukup terlatih untuk bersikap profesional. Diapun
juga tidak mau diperlakukan istimewa oleh anak-anak lainnya jika dia terlalu
menunjukkan kedekatannya dengan sang ibu disekolah.
“Tenang say, gue
udah bilang ke dia, kalo lo istirahat di ruang kesehatan karena ga enak badan.”
Jelas Karin penuh keyakinan.
“Thaks!” jawab
Arinda.
“Tapi dia nanya Merri juga ga?” tanya Arinda.
Karin memperhatikan Arinda, “Sejak kapan dia perhatian sama
Merri?” pikir Karin. Merri hanya menunduk malu saat di tatap mata judes Karin.
“Ga tuh kayaknya.” jawab Karin.
“Syukur deh.” Ucap Arinda.
“Yang penting itu elunya.” Lanjut Karin.
Arinda mengangguk, “Ya, tau ... makasih ya Karin.” Ucap
Arinda.
“Mending lo pulang sama nyokap aja ntar, biar ga ketauan
boongnya.” Lanjut Karin tiba-tiba.
“Kok gitu, lo kok nyuruh sih?” Fitri protes.
Karin mengedipkan mata kepada Fitri. Merri memperhatikan
kejanggalan itu, tapi ia tidak peduli rahasia apa yang disembunyikan Karin.
Sedangkan Arinda mulai sibuk mencek inbox dan panggilan masuk di ponselnya.
“Ya, saran yang bagus.” Seru Arinda setelah yakin tidak ada
pesan yang masuk dari orang tuanya.
Karin mendengar dengan wajah sumringah..
.
.
.
Sebagian lagi memang sengaja menghitung waktu karena tidak sabar melakasanakan
projek maha dahsyat dan spektakuler. Salah satunya Karin. Sejak pagi hingga
detik-detik menjelang bel pulang sekolah, matanya tidak pernah bosan melihat
jam tangannya.
Makanya saat bel sekolah berbunyi, dia yang paling pertama
antusias mengangkat pantatnya dari bangku kayu itu.
“Mari kita laksanakan!” Dia merangkul Fitri.
“Iiihhh ga mau!!!” seru Fitri kesal.
“Gue pulang duluan ya..!!” ucap Arinda kepada Fitri dan
Karin.
“Ya, hati-hati.” Balas Karin.
Setelah Arinda pergi meninggalkan kelas, Karin mulai
memperhatikan Merri.
“Anak baru.” Sapa Karin. Merri menoleh, “Lo harus ikut ya
acara jailangkung malam ini di sekolah.” Ajak Karin.
“Aku? Ma maaf aku harus pulang.” Jawab Merri.
“Kenapa, ada hal
penting?” Tanya Karin sedikit jutek.
Merri mengangguk pelan. “Apatuh, boleh tau ga?” tanya Karin.
“Ituu... urusan
keluarga, maaf.” Jawab Merri pelan.
“Urusan apa tuh?” tanya Karin merasa kesel karena ajakannya
di tolak.
__ADS_1
“Hmm... dengan ibuku, maaf.” Merri menundukkan kepalanya.
Melihat Merri yang bersikap sopan, membuatnya jadi susah
untuk bersikap jutek lagi. Karin memang terlihat sebagai anak yang nakal,
wajahnya galak dan suka ngomong ceplas ceplos. Tapi sejatinya dia adalah gadis
yang baik. Hanya saja bentukannya dan wataknya yang terkesan garang.
“Gue juga ada urusan keluarga.” Fitri berusaha untuk kabur.
“NO reason, beb.” Jawab
Karin kembali merangkul dan menarik paksa fitri untuk ikut membantu Tito dan
Agus membuat boneka jailangkung.
Tidak rumit membuat boneka tersebut. Mereka hanya
membutuhkan gayung yang terbuat dari batok kelapa. Barang-barang itu cukup
mudah di temukan di pasar tradisional. Untuk tangan si boneka, Agus meminjamkan
salah satu stik drumnya. Lalu mereka ikat dengan tali. Kemudian, di bawah
pegangan bonek tersebut, Agus juga mengikatkan sebuah spidol hitam. Mereka akan
mennggunakan kerta karton bewarna putih.
“Lalu bagaiaman
prosedur lanjutannya?” Tanya Tito.
“Ya, ga mungkin kita megangin nih boneka angker.” Tambah
Fitri yang dari awal sudah cemberut.
“Gampang, kita tetap duduk secara melingkar, tapi yang duduk
didepan ada empat orang. Merekalah yang memegang boneka ini. Yang pasti salah
satunya adalah gue.” Jelas Agus.
“Sok berani banget lu?” Tito meremehin Agus.
“Kenapa? Bilang aja takut.” Balas Agus.
“Ga lah, boneka ini doang.”
“Jadi lo mau maju ga nih?” tantang Agus.
“Maju lah!” seru Tito tidak mau kalah.
“Oke, gue pasti ikut.” Seru Karin.
“Ya iyalah, kan idenya elu.” Seru Tito.
“Gue ga ya.” Fitri menggeleng.
“Udah gapapa kok, tiga orang udah cukup.” Jelas Agus.
“Yes! Thank u Agus”
seru Fitri senang.
“Tetap aja, hantunya kan muncul di belakang.” Tambah Karin.
“IIIhhhh tuh kan, gua ga ikut lah, males males males...!!”
“Ga Fit, kalo datang pun kan juga hatunya Mikha, kita kan
manggilnya Mikha.” Jelas Karin.
“Tetap aja, takut tau.”
“Ya udah, jangan khawatirlah. Hantunya ga bakal liatin diri
juga kok.” Jelas Agus. “Trus mantranya gimana?”
Karin segera mengambil majalahnya. Ia membuka halaman yang
sudah ia tandai dengan pembatas buku.
“Jelangkung jelangsat, disini ada pesta, pesta
kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak di undang, pergi tidak di
antar.” Karin membaca tiap kata dengan hati-hati. Agus, Tito dan Fitri
menyimak.
“Itu aja udah bikin seram.” Gumam Fitri.
“Kita baca ini sampe akhirnya Mikha datang.” Jelas Karin.
“Ok!”
“Mari kita laksanakan!”
“OOOooohhh boleh pipis dulu ga?”
.
.
.
__ADS_1
.