Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
27 Gosip dan Ghost Sip


__ADS_3

Merri hanya mengikuti kemana langkah Arinda. Tangannya tengah di rangkul dengan kuat. Sejujurnya, ia merasa tidak enak kepada Fitri yang di tinggal begitu saja. Dia tidak mau terlibat dengan urusan pertemanan mereka yang sekarang lagi sekarat. Terlebih tatapan Karin yang makin makin tajam membuatnya lama-lama menjadi merinding.


Pas disaat mereka tiba di kantin Arinda melepas rangkulan tangannya. “Maaf ya Mer, gue libatin lo.” Ucap Arinda.


“Ga apa-apa nolak ajakan Fitri?” tanya Merri.


“Gak masalah kok, biasanya kalo sama mereka juga banyak bercandanya juga kok.” Jawab Arinda sekenanya. “Tapi kamu mau ga ajarin aku?” tanya Arinda.


Merri hanya terdiam. Dia ragu mau menerima atau menolak.


“Kalau ga mau juga gak apa-apa.” Lanjut Arinda yang menjadi sensitif.


“Hmm baik, aku mau.” Jawab Merri akhirnya. “Libatkan diri jika mereka meminta bantuan.” Pikir Merri yang mengingat pesan dari Mbahnya. “Kapan?” tanya Merri.


“Sehabis pulang sekolah ini saja, biasanya hari ini ibuku akan pulan telat, begitu juga ayah. Ini hari sibuk mereka. Jadi ga ada yang ganggu.” Ucap Arinda semangat.


Merri mengangguk menyetujui permintaan tersebut. Selepas pulang sekolah ini, ia akan bermain di rumah seorang  teman. Suatu hal yang sudah lama tidak ia lakukan lagi. Sebab mereka takut duluan, takut jika  Merri membawa teman hantu, setidaknya itulah yang ada di pikiran anak-anak di sekolahnya terdahulu. Tapi di rumah Arinda, setelah melihat seringai jahat hantu yang meniru Mikha? Apa Merri benar-benar harus melindungi Arinda atau lebih berhati-hati dengan teman baru ini?


.


.


.


.


Pelajaran disekolah hari itu berakhir. Arinda lansung menarik tangan Merri agar segera meninggalkan kelas secepat mungkin. Merri hanya menuruti saja. Pemandangan itu membuat Karin dan Fitri hanya diam dan melihat.


Mungkin ada seribu satu pertanyaan yang berputar di benaknya. Tapi jauh di dalam hati Karin ada segaris luka yang tergores di di hatinya. Semua kepedihan itu terpancar dari raut wajah dan tatapan penuh kebencian. Karin merasa di campakkan sebagai seorang teman.


“Dia kok berubah gitu sih?” tanya Fitri saat dua gadis itu berlalu begitu saja.


Karin diam seribu bahasa. Dia menyimpan semua perlengkapan sekolahnya kedalam tas. Lalu menarik tas sandang itu dan segera meninggalkan kelas.


“Karin, hari ini kita jadikan ngumpul di rumah?” ingat Fitri.


Karin menoleh ke arah Fitri, wajahnya terlihat kuyu. Fitri melihatnya tidak tega, ia segera menghampiri Karin dan mengusap punggung gadis itu.


“Gue ga kenapa-napa kok!” Karin menepis tangan Fitri dengan lembut. “Gue baik-baik aja.” Jawabnya yang membalas mengusap pundak lebar Fitri. “Lemak lu makin banyak aja?” canda Karin.


“Enak aja!” kesal Fitri menepis kasar tangan Karin. Bukannya marah, Karin malah tertawa terbahak-bahak. Menjahili Fitri adalah kesenangannya.


“Kalian mau ngumpul ya, gue ikut dong.” Seru Agus yang datang menghampiri mereka.


“Lo mau ngapain gabung sama urusan cewek?” tanya Fitri ketus.


“Ada hal menarik yang gue sampein buat kalian.” Lanjut Agus tersenyum penuh makna.


Karin dan Fitri saling pandang. Mereka tidak ada pilihan, akhirnya ia mengajak Agus untuk ikut serta bergabung dalam pertemuan ketiga remaja itu. Sebenarnya ini hanya pertemuan teman yang biasa mereka  lakukan sebagai teman dekat. Biasanya ada Arinda, Tito, Karin Fitri dan sesekali juga ada almarhumah Mikha. Tapi kali ini

__ADS_1


tanpa Arinda dan Mikha sepertinya pertemuan ini agak terasa janggal. Terutama ketika perubahan sikap Arinda yang tiba-tiba menghindari mereka.


“Katanya para gadis, kenapa ada dia?” tanya Agus menunjuk Tito. Mereka sudah berkumpul di rumah Fitri, tepatnya di teras halaman belakang rumah gadis itu. Teras yang cukup luas dan asri untuk bersantai dimana disana juga disuguhkan kolam ikan dan tanaman hijau yang membuat terasa lebih sejuk dan segar.


“Apa maksud lo?” Tito tersinggung dengan tunjuk Agus.


“Dia bagian dari tim inti.” Jelas Fitri tegas, “Jadi lo mau bahas apa?” tanya Fitri lansung ke poin. Dia terlihat serius.


Agus hanya tersenyum getir. Sepertinya Fitri tidak menyukainya sama sekali. Lagian Tito dan Karin juga sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tito mengambil spot khusus yang duduk di bibir kolam sambil membuka majalah misteri. Sedangkan Karin duduk diatas sofa dengan bantal-bantal lucu lainnya. Dia memperhatikan bekas jahitan di tangannya. Sedangkan Fitri ibuk-ibuk pemilik kos yang tengah mengawasi orang baru bernama Agus. Melihat cara tongkrongan seperti ini, membuat Agus di serang rasa canggung. Tapi dia udah berjanji akan menceritakan suatu hal kepada mereka.


“Kalian ga curiga dengan Merri?” tanya Agus.


Semua perhatian itu lansung tertuju ke Agus.


“Merri kenapa?” tanya Fitri penasaran. “Lo naksir sama dia? Kalo benaran, anda salah tempat, Bung!” ujar Fitri.


“Bukan kaseperti itu!!” teriak Agus yang mulai kesal dengan kelakuan si gembul ini.


“Maksud lo?” selidik Fitri.


Agus menarik nafas dalam-dalam. Ia mengatur emosinya agar bisa tenang, “Kalian ga ngerasa kalau Merri si anak baru itu agak aneh?” tanyanya yang membuat Karin dan Tito kembali menoleh dengan tatapan penasaran.


“Dia memang aneh dan bodoh. Tapi ternyata dapat nilai seratus. Arinda tau dan lansung nempel. Arinda kan ga bisa hitungan.” Celetuk Fitri.


“Bukan itu, gua ga peduli sama nilainya. Tapi dalam seminggu terakhir ini Merri suka bertindak agak aneh. Puncak dari keanehan itu baru gua lihat tadi pagi dikelas.” Jelas Agus.


“HAH?!” Tito dan Agus terperanjat kaget. “Manusia bodoh mana yang mau berfikiran seperti itu.” Erang Agus yang akhirnya tersulut emosi.


“Memang apa yang lo lihat bro?” tanya Tito.


“Sewaktu kuis, gue melihat dia terbelalak dan mematung. Sepertinya dia melihat sesuatu di depan kelas. Tapi entah kenapa dia tidak teriak. Saat gue lewat mengumpulkan kuis ke meja Guru matematika itu, gue memperhatikan wajah Merri yang ternyata menatap nanar ke arah Arinda. Dia seperti ketakutan. Wajahnya pucat seperti orang ketakutan dan mau nangis.”


“Serius?” kali ini Karin yang terlihat antusias. “Gue emang curiga dengan anak itu. Dari awal dia memang aneh. Ingat tidak pas dia makan bakso bareng kita. Dia makan seperti kesetanan.” Ingat Karin saat kejadian di kantin seminggu yang lalu. “Dia juga tidak mau turun ke pemakaman Mikha dengan alasan sakit, lalu saat gue ga sekolah karena di skors sama kepsek psikopat itu, Merri juga ga hadir. “


“Dia sakit, pingsan di taman.” Jelas Tito.


“Kalian ingat Saat si Silvia berteriak masalah meja yang kegeser itu. Nah di sana gue lihat dia menundukkan badan dan menutup kepalanya seolah dia melihat apa yang ada di balik badan Silvia.” Lanjut Agus. “Gue curiga dia bisa melihat hantu.” Pikir Agus.


Karin mengangguk paham. “Selama ini gue memang berfikir kalo dia memang aneh sih. Kayak orang pendiam, tapi dia itu diam-diam menghanyutkan gitu. Membuat gue kayak ga boleh anggap remeh dia sekaligus ganggu dia.” Kata Karin.


 “Dia pernah ngomong.” Tito kali ini angkat suara. Hal itu membuat mata tajam karin menoleh penasaran ke arah cowok berkaca mata itu.


“Dengan siapa?” desak Karin.


“Gue udah janji ga akan ngomong.” Tito terdiam.


“GLEK!” Fitri menelan ludah kering. “Kok gue jadi takut dengan pembicaraan kalian ya? Bisa ga ngomongin setan gak di rumah gue gitu?”


“Maksud lo apa, To?” desak Karin.

__ADS_1


“Dia ngomong apa, Sob?” tanya Agus.


“Tapi gue udah janji ga akan buka rahasia dia, gue ga mau di tempelin setan Mikha la gi...” Tito menutup mulutnya.


“Mikha? Ikutin lo?” Karin membelalakkan matanya tidak percaya. “Gue juga sering di teror, tapi gue ga tau setan apa? Semalam dia juga mampir dan gangguin gue. Tapi gue ga tau setan apaan? Apa jangan-jangan dia... Mi kha?”


“Teman-teman... jangan ngomongin orang yang udah mati dong.” Rengek Fitri.


“Serius lo?” tanya Agus. “Dari mana lo tau itu Mikha? Kok gue ga brasa apa-apa ya?” pikir Agus.


Tito yang duduk didekat kolam mengangguk pelan, menjawab pertanyaan dua orang temannya itu. “Gue ga tau kenapa dia ikutin gue. Apa permainan Jailangkung waktu itu berhasil?” tanya Tito. Getir suaranya terdengar


jelas jika Tito juga takut.


“Ga mungkin. Kenapa harus bicarain Mikha di rumah gue sih?” rengek Fitri lagi.


Lagi-lagi ketiga temannya itu mengabaikan permintaan Fitri. Pembicaraan ini bukan tentang cerita horor biasa, tapi berkaitan dengan teror yang mereka alami.


“Kenapa lo tau itu Mikha?” tanya Agus sekali lagi.


“Ya, jawab To?!” desak Karin.


“Itu karena Merri yang ngo...”


BYURRR


Tanpa ada angin, hujan, petir dan badai Tito terseret ke kolam. Badannya jelas seperti di tarik dari belakang.


“TITO...!!!”  ketiga remaja itu teriak histeris. Mereka mencoba meraih Tito agar bisa keluar dari kolam. Pada dasarnya kolam Ikan keluarga Merri tidaklah dalam dan besar, hanya memiliki panjang empat meter dengan lebar dua meter saja. Kedalamannya pun tidak mencapai satu meter. Tapi tetap saja di mata mereka yang barusan terjadi bukanlah lelucon. Terlebih lagi, Tito sangat sulit di tarik keluar. Seolah ada sesuatu yang menahannya di dalam sana.


“Tolong!! Tarik gue..!!” Tito panik.


“Bro, pegang tangan gue!!” perintah Agus.


“Tariikk!!” Karin juga berusaha dengan meraih seragam Tito. Sedangkan Fitri sudah diserang panik duluan, dia tidak tau harus berbuat apa selain meneriaki nama Tito berkali-kali.


“Hitungan ketiga tarik kencang!” perintah Agus. “Satu dua tigaaa...!!”


“GYAAAA!!”


Badan Tito keluar dari kolam dengan selamat. Seluruh seragamnya basah kuyup. Ketiga remaja itu terlihat kelelahan. Namun matanya masih terpaku kekolam ikan itu. Ada satu makhluk aneh yang mengintip di balik bibir


kolam itu. Tidak terlihat jelas, hanya menampakkan dahi dan sepasang mata menakutkan. Namun sensasi ngerinya mampu membuat keempat remaja tersebut merinding ketakutan.


“KRRRRSRAAAAAKKKK!!” sapa makhluk tersebut dengan seringai senyum yang sangat menakutkan. Hingga memamerkan butir-bitir taring yang halus dan tajam.


 BERSAMBUNG...


__ADS_1


__ADS_2