Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
21 Misi Karin dan Rahasia Arinda (3)


__ADS_3

Karin masuk ke kelas, matanya jelas tidak terlihat bagus. Ada lingkaran hitam besar disekitar matanya yang membuat dua matanya terlihat sembab. Tak lama setelah itu, Tito juga baru sampe di sekolah. Dia juga terlihat


sama.Loyo dan kelelahan. Pundaknya juga terasa sangat berat, seolah-olah ada bebang yang tengah dia angkut.


“Karin...!!” panggil Tito.


Karin menoleh ke belakang. Dia melihat Tito, mata gadis itu terbelalak. Seperti ketakutan Karin pergi meninggalkan Tito.


“Karin..!!!” panggil Tito. Tapi yang di panggil semakin mempercepat langkahnya. “Dia kenapa?” pikir Tito.


.


.


.


.


Karin sampai di kelas terlebih dahulu. Disana juga telah datang Fitri, Merri dan juga Arinda pastinya. Suasana seketika canggung, dia masih belum siap menghadapi Arinda.


“Karin!!” senyum Fitri. Karin tau maksud dari senyum teman gembul terbaiknya itu.


“Ntar aja gue ceritain!” jelas Karin setengah berbisik kepada Fitri.


“Kenapa?” tanya Fitri.


“Jangan sekarang, gue lagi ga fit.” Jelas Karin setengah berbisik.


“Lo masih sakit?” tanya Fitri cemas.


Arinda yang menyimak memperhatikan mereka yang duduk di depannya. “Tangan lo udah baikan?” tanya Arinda tiba-tiba yang sontak membuat Karin dan Fitri kaget.


“Lah tumben nanya duluan?!” pikir Karin dan Fitri dalam hati mereka masing-masing.


“Hmm... udah ga apa-apa kok.” Jawab Karin sekenanya. Dia masih di selimuti rasa canggung. Dia masih bingung dengan kejadian tadi malam yang ia alami dan juga apa yang ia lihat pagi ini


“Syukur deh!” jawab Arinda singkat. Arinda juga bersikap sama. Sebenarnya ada sejuta hal yang ingin ia ceritakan kepada Karin dan lainnya. Hanya saja dia tidak mau menghianati prinsip hidupnya yang tidak percaya dengan setan atau sejenisnya. Jika di ceritakan, yang ada Karin ataupun Tito akan besar kepala.


Setelah itu baik Karin maupun Arinda tidak bicara apa-apa. Arinda sibuk dengan novel yang sengaja ia baca sedangkan Karin sibuk memperhatikan Merri yang juga sedang membaca sebuah buku yang terlihat agak tua.


“Buku apa itu?” pikir Karin.


“Oiii To!!!” seru Fitri melihat Tito yang terlihat sangat lelah, padahal ini masih pagi.


Sontak yang lain memperhatikan, begitu juga dengan Karin yang dari awal tidak mau melihat Tito karena takut.


“GYAA!!” teriakan itu keluar dari mulut Merri.Semua mata menoleh kepada Merri. Merasa di perhatikan gadis itu lansung menutup mulutnya. Dia seketika berusaha bersikap normal.


Karin menutup mulutnya. Dia tidak percaya jika yang dia lihat itu bukan sebuah halusinasi, tapi benar, Tito tengah membopong sesuatu yang hitam jelek dan berukuran hampir sama dengan tubuh lelaki berkaca mata itu.


“Kenapa sih?” tanya Tito dengan suara yag sama sekali tidak berenergi. Dia ngosngosan padahal dia tidak lari marathon, tapi rasa lelahnya itu sama.


“Lu kesini pacu lari sama kopaja?” tanya Fitri.


“Lu lu... ba bawa apa?” tanya Arinda yang juga menggigil ketakutan. Telunjuk gadis itu bergetar hebat kearah makhluk yang ada di belakang Tito.


“Apa?” tanya Fitri heran.


“Iya apa?” tanya Tito.


Merri dan Karin menatap Arinda. Karin tidak percaya jika dia bukan satu-satunya yang bisa melihat makhluk itu, tapi kenapa Arinda dan Merri bisa melihatnya. "Mereka berdua tidak terlibat permainan jailangkung, apa efeknya sehebat ini?" pikir karin dalam hati. "Tapi jika begitu kenapa Agus dan yang lain-lain bersikap biasa saja?"


Sebelas dua belas dengan apa yang Karin pikirkan, Merri juga tidak percaya jika Arinda juga bisa melihat makhluk itu. “Sejak kapan? Apakah dia memiliki kemampuan yang sama denganku? Apakah aku tidak sendiri?” pikir Merri


dalam hati.


.


.

__ADS_1


.


.


Jam pelajaran pertama dan kedua berakhir juga. Walau waktu berlalu begitu lama, terutama bagi Arinda, Merri, Karin dan Tito. Di dalam kelas Tito tak kuasa menahan kantuk, dia juga merasa tidak nyaman dengan badannya sendiri.


Sedangkan Karin yang tidak tahan minta izin agar bisa keruang kesehatan. Kepalanya menjadi pusing dengan kehadiran makhluk itu. Namun saat jam pelajaran usai, ia lansung bangkit dari ruang kesehatan dan kemudian


mengajak Arinda untuk bicara. Selain mereka berdua, Fitri juga diajak paksa.


Agar pembicaraan ini berlansung aman, Karin menarik Arinda dan Fitri hingga ke pinggir kolam renang sekolah.


“Karin, lo ada perlu bicara apa? Minta maaf, udah gue maafin kok!” jawab Arinda masih jutek.


Karin sedikit kesal dengan sikap keras kepala cewek didepannya. Tapi dia berusaha menahan emosi, yang terpenting saat ini adalah; “Lo lihat apa yang gue lihatkan?” tanya Karin tiba-tiba.


“Lihat apa?” Fitri yang sejak tadi cemas, dia tidak mau melihat dua temannya bertengkar lagi. “Kalian lihat apa sih?” tanya Fitri sekali lagi.


“Lihat apa maksud lo?” tanya Arinda ketus.


“Sesuatu di belakang punggung Tito, sesuatu yang hitam berbulu dan terlihat kayak monyet atau bocah.” Jelas Karin.


“Lo ngomong apaan sih? Ga jelas amat.” Arinda malah tertawa mencemooh.


“bukannya...?” Karin hanya bisa menatap Arinda dengan wajah penuh tanda tanya.


“Gue ga lihat apa-apa, serius!!” ucap Arinda. Namun di balik senyum kaku itu, Arinda jelas menyembunyikan sesuatu.


“Kalian bahas apa sih guys?” tanya Fitri juga bingung.


.


.


.


.


“Kok gue cape banget?” tanya Tito. “Gue pengen makan ke kantin tapi kok cape banget? Perut gue laper tapi gua ga ada tenaga, kenapa ya?” batin Tito.


“Kkau, ssiapa?” tanya seorang wanita. Tito yang masih merebahkan kepalanya diatas meja mencoba melihat.


“Sial, angkat kepala aja gua gak sanggup!!” batin Tito lagi. Dia berusaha menengadahkan kepalanya dan akhirnya ia bisa melihat siapa yang menghampirinya.


“Merri?” pikir Tito. “Kenapa dia nanya siapa gue, oooyaa mungkin karena kita belum kenalan kali ya?” pikir Tito lagi.


“Hai Merri guee.....!!!”


“SRAAAAAAAAKKKK!!!” Tito mendengar desissan tepat di kupingnya. Bulu kuduk Tito lansung meremang disko. Katakutan seketika menjalar hebat hingga ke otaknya. Tubuh itu lansung kaku seketika, tidak berdaya.


“Apa yang kau lakukan dengan anak ini?” tanya Merri, meski masih terdengar terbata-bata, Merri meyakinkan dirinya untuk lebih kuat dengan apa yang ia hadapi.


“KHU KHU KHU.. Kau bisa melihatku Merri...!!” si makhluk berwajah gelap dan datar itu terkekeh, membuat Tito semakin ketakutan.


“Kenapa kau tau namaku? Demi apapun pergilah dari anak ini, dia tidak tau apa-apa tentang kau, dan dia bukan orang jahat.” Jelas Merri.


“Merri... berbicara dengan makhluk sepertia apa?” pikir Tito. “Kenapa badanku kembali kaku seperti malam itu?”


“Merri, kau lupa? Aku MIKHAAA!!!” jawabnya dengan suara serak dan khas itu.


DEG


Jantung Tito berdetak sangat cepat. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. “Benarkah?!” tanya Tito dalam hati.


“Bukan, kau bukan Mikha, kau hanya setan peniru seperti apa iblis itu katakan. Dan setan peniru hanya makhluk paling hina yang ada di jajaran kaummu.”


“Berani sekali kau menantangku, mau cari mati ha?!” ancam setan itu.


“Kauah yang harusnya mati dan enyahlah dari dunia kami! Kau tidak pantas meniru siapa-siapa disini.”

__ADS_1


“Kau tidak percaya denganku, aku Mikha, dan aku datang untuk menuntut dendam kepada semua siswa disini?! SRAAAAAAKKKKK!!!!”


“Apapun alasanmu, enyahlah!” Merri menempelkan buku yang sejak tadi ia pegang ke makhluk itu.


“GYAAA!! Akan ku balas perbuatanmu nanti!! GYAAA SRAAAKK!!!”


Tito merasa sedikit panas di punggungnya, kemudian rasa panas itu lenyap dan berganti dengan tubuhnya yang seketika kembali fit. Beban di punggungnya hilang seketika. Bak terlahir kembali, Tito mengangkat kepala dengan cepat.


“Kenapa bisa seperti ini? kok gue bisa sesegar ini?” Tito sibuk bertanya kepada dirinya sendiri.


Merri terduduk di bangku yang tak jauh dari bangku Tito. Ia menekan kepalanya yang sedikit pening.


“Kamu... eh lu.. eh.. Merri, barusan itu apa?” tanya Tito. Ini kali pertama dia berbicara dengan anak baru itu berdua saja. Dia agak canggung menyapa Merri seperti apa.


“Itu hanya... hmm... yang penting kamu baik-baik ajakan?” tanya Merri melihat Tito.


Wajah Tito memerah, dia disapa “kamu”, “Tidak apa-apa, ya tapi tapi, kamu eh lu baik-baik ajakan?” tanya Tito.


Merri mengangguk pelan. “Tapi bisa bantu aku satu hal?” tanya Merri.


“Apa?” tanya Tito.


“Rahasiakan yang aku lakuin dari semua orang ya, aku tidak mau orang lain tau apa yang barusan kita alami?” jelas Merri.


“Boleh gue tau hal apa yang barusan kita alami?” tanya Tito.


“Hmm...” Merri agak ragu.


“Gue bukan cowok ember, suwer!” Tito menunjukkan mengacungkan jarinya agar Merri yakin.


Merri menimbang sejenak lalu dia mengangguk, “Kalau kamu beberkan, aku akan memanggil makhluk tadi untuk mengganggumu lagi.” Ucap Merri, walau suara itu pelan, Merri jelas mengancam Tito.


“GLEK!” Tito menelan ludah. Lalu dia mengangguk.


“Aku bisa melihat mereka yang tidak terlihat.” Bisik Merri.


GLEK


“Dan yang barusan itu setan peniru yang menempel di pundakmu, sepertinya dia menyukaimu.”


GLEK


“Kok nyesal ya nanya?” pikir Tito dalam hati.


“Hanya itu yang perlu kamu tau, aku pergi dulu. Aku harus belajar banyak hal.” Ucap Merri, dia mengambil buku tua itu lalu pergi meninggalkan kelas.


Tito di tinggalkan dalam keadaan melongo. Bersamaan dengan keluarnya Merri dari kelas, Karin dan Fitri masuk. Dia melihat Tito yang sedang melongo.


“To.... lo ga kenapa-napa kan?” tanya Fitri.”Kata Karin ada hantu di punggung lo? Makanya jangan kualat lo, suka bilang gue gendut makanya lo di tempelin setan!!!” omel Fitri.


“Ga, udah ga.. hantunya pergi!” jawab Tito datar.


“Kok bisa?” tanya Karin.


“Jadi serius ada hantu. HA?! Gua tadi becanda tau, uduh.. mulut seksiku..” Fitri menampar lembut bibirnya.


“Tadi...!!” Tito menahan ucapannya. Dia sudah berjanji. “Ya, tadi tiba-tiba pergi aja. Mungkin pusing pas hadepin rumus Fisika, hahahaha?!” Tito tertawa garing.


Karin menoleh ke arah pintu keluar, “Oo begitu ya? Bagus deh.” Ucap Karin datar. Mata kucingnya melihat kearah pintu kelas, "sepertinya Merri tau akan suatu hal."



.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2