Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
34 Penuntasan


__ADS_3

Kediaman Fitri pukul 18.00 WIB


“Pokoknya kalian belum ada yang boleh balik sampe orang tua aku  di rumah. Kalau perlu nginap!” minta Fitri yang menahan Karin dan Tito.


“Tapi Agus udah balik, kenapa di biarin aja.” Tito yang memeluk badannya yang basah terlihat kesal.


“Dia udah jelas paling nomor satu kabur, dasar pengecut!!” erang Fitri sekali lagi.


“Oke, tapi kita ga harus di rumah ini kan? Di luar kek?” usul Karin yang juga panik.


“Woi gua basah ini, gimana kalo di lihat orang.” Kali ini Tito yang protes.


“Oke tunggu disini, gue bakal cari baju bapak gue.” Fitri berlari ke arah kama kedua orang tuanya. Tak lama setelah itu ia kembali ketempat persembunyiannya, yaitu kamarnya yang berada disamping kedua orang tuanya. “Ini!” lempar Fitri.


“Ini baju pemilihan lurah? Kok gue pakai ginian?!” protes Tito.


“Gue takut, To, gue ambil semampu tangan gue aja. Udah yang pentingkan muat.”


“Ya, pakai aja. Dari pada kita di rumah ini ada hantunya.” Bujuk Karin.


“Eh bahlul, ini ada gambar bapak berkumis yang ga gue kenal, ada nama kompleknya, bahannya tipis, ukurannya besar banget lagi. Kalo lo mau, silahkan nih pake.” Tito naik pitam. Dia merasa harga dirinya sebagai pria runtuh karena baju.


“Udah jangan brisik! Ssstt!!” Fitri memberi instruksi. “Kalau kalian ribut nanti setan ikan sampe sini.” Ingat Fitri.


“Oi ****, itu bukan setan ikan. Itu hantunya Mikha, gue yakin. Dia sering gangguin gue. Merri juga bilang kalau dia nempelin gue.” Tito terdiam sejenak. “Ups!”


“Ini kedua kalinya lo keceplosan, To. Jadi Merri itu gila atau dia benar-benar bisa lihat Mikha?” desak Karin.


“Gue udah bilang, itu hanya perkiraan gue, bisa jadi dia Cuma cari sensasi. Gue ga percaya.” Tito kembali meyakinkan dua temannya. Dia takut di tarik kedalam lemari lagi oleh sihantu jika dia bocor dan tidak mau tepat janji.


“Tapi gue yakin dia pasti punya indra keenam.” Pikir Karin.


“Udah kalian jangan brisik, jangan omongin Merri dulu. Gue takut ini!” desak Fitri.


Tito dan Karin mematuhi permintaan Fitri. Diam adalah cara teraman. Diam sampai mereka merasa aman. Diam sambil merenung. Tito diam karena takut keceplosan lagi.  Dia rasa hantu itu datang karena ia kebablasan. Sedangkan Karin, ia diam karena memikirkan banyak hal. Dia membandingkan apa yang telah ia alami sejak permainan itu selesai hingga hari ini. Gadis tomboy itu tidak percaya jika yang ia alami sore ini sungguh sangat


mengejutkan. Menurutnya rumah Fitri mungkin saja aman, namun ternyata sama saja. Sedangkan Fitri diam karena menahan lapar.


“Gengs, jangan diam deh, kok kalo diam jadi makin serem ya.” Pinta Fitri tiba-tiba.


“Gue pegen diam aja.” Sahut Tito.


“Gue mau mikir aja.” Sahut Karin juga.


“Ya... kok gitu, gue tiba-tiba lapar.”kata Fitri memegang perutnya.


“Sebenarnya gue juga, tapi gue juga malu keluar pake baju ini. Lagian mau ganti dimana? Nanti kalian ngintip lagi.”gumam Tito.


“Ganti aja, ga usah malu.” Suruh Fitri, “Lo bukan selera gue sama Karin. Jadi aman! Dari awal gue ga lihat lo sebagai cowok kok, yakan Karin?”


“Glek.” Karin tidak bergumam, namun ia menelan air ludah. Pipinya juga tiba-tiba panas.


“Ya gue ganti, jangan intip. Awas kalo intip.” Ancam Tito.


“GA USAH!!!” bentak karin tiba-tiba marah. Dia menarik bajo kaos dari tangan Tito dan melemparnya sembarang tempat.


Baju yang di lempar karin tersangkut dengan paku yang muncul di dinding kamar Fitri. Tapi karena mereka bertiga sudah dalam kondisi ketakutan, terlebih Fitri; meihat kaos yang menggantung di dinding membuanya berteriak histeris.


“GYAAA!!! Hantunya di kamar GUEEE!!” teriak Fitri yang menunjuk baju yang menggantung di dinding kamarnya. Spontan kedua remeja itu menjadi latah dan ikutan teriak tanpa melihat fakta sebenarnya.


“Gue ga mau lagi di teror hantuuu!!” teriak Karin yang terbih dulu bangkit ke arah pintu kamar. Namun saat hendak di buka pintu bercat merah jambu itu tidak bisa di buka. “Gyaaa ****** gilaaa, gue belum pengen matiii!!!”


“Sumpah demi apa?” Tito juga mencoba membuka. Bukan hanya membuka tapi juga mengguncang daun pintu tersebut.”Kyaaaaa!!!” saking kagetnya dia ikutan teriak seperti dua orang temannya.

__ADS_1


“Mami... Papi... Fitri ga mau mati di tangan hantuu!!” rengek Fitri.


“Gue pasti kualat, Merri maafin gue... gue ga akan bocor lagi, gue janji akan pegang rahasia... kenapa gue nangis geblek?” rengek Tito.


“Pasti ada cara lain?” pikir Karin. “Lewat jendela!” serunya dengan wajah cemerlang.


“Jangan! Di samping kamar gue kolam ikan bapak gue. Tempat Tito kecebur!” ingat Fitri.


“Oii anak setan, lu nyuruh kita ngumpet di kamar lu, tapi sebenarnya sangat dekat sama si setan. Kan lu emang benar-benar ya?!” Karin mengumpat Fitri.


“Kan rumah gue itu kecil tapi pasti.Trus mau ngumpet dimana lagi coba?!” Fitri membela diri.


“Udah, kalian jangan berantem!” perintah Tito.


“Siapa yang berantem!” bentak Fitri dan Karin serempak.


DUG DUG


Ketiga pasang mata para remaja ini spontan melihat arah pintu masuk.


“Gue gak salah dengarkan?” tanya Fitri gugup dan cemas.


DUG DUG


Sekali lagi, pintu kamar itu kembali di pukul dari luar. Mereka bertiga hening. Dalam ketegangan dan nyawa separoh melayang, detak jantung yang sudah bekerja dua kali lipat itu lansung berdegup lebih cepat lagi, ketika daun pintu di guncang. Seolah-olah ada yang memainkannya dari luar.


CE_KREK CE_KREK CE_KREK CE_KREK CE_KREK!!!


“GYAAAAA!!!” Tito, Karin dan Fitri teriak kompak. Mereka berpelukan erat satu sama lain.


CEKREK.... (Pintu terbuka)


“AMPUN... AMPUUN GYAAAAA!!!!” teriak mereka yang sama-sama menunduk dan berpelukan erat satu sama lain.


Kepala Tito lansung tegak saat mendengar suara yang ia kenal. Matanya lansung terbelalak melihat ayah dari Fitri berdiri bertolak pinggang. Tanpa ampun tangan kanan ayah Fitri menarik kuping Tito.


“Sini lu, gua ajarin etika dalam bertamu, terutama dalam menghadapi princess gue!”


“Ampun om, ampun...! Bukan seperti itu!” teriak Tito sakit karena di jewer.


“Ini kenapa lo basah? Ngapain aja lo?!” desak ayah Fitri yang badannya sangat tinggi dan sangat besar


dengan kumis tebal menghiasi wajah sangar itu.


“Papi, dengarin Fitri dulu!” bela Fitri.


“Iya Om!” bantu Karin. “Kita ga lakuin hal aneh, percaya om!”


“Papi, kita di kejar setan!” teriak Fitri.


“Iya dan ini setannya, setan lu setan!” tunjuk orang tua Fitri ke batang hidung Tito.


“Bu kan OM... setannya di kolam ikan om!”


“kenapa empang gue pake di salahin?”


“Papi dengarin Fitri dulu deh, kalau ga dengarin Fitri bakalan mogok makan!” ancam Fitri.


Karin dan Tito tercengang mendengar ancaman sereceh itu. Tapi percaya atau tidak, ancaman itu ternyata sangat ampuh. Papi dari Fitri lansung melepas tangannya dari daun telinga Tito.


“Kamu ga boleh mogok makan, nanti sakit.” Ujar pria itu dengan wajah cemas.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//

__ADS_1


Fitri akhirnya membicarakan apa yang telah terjadi dengan mereka sore ini. Walau agak sulit untuk di pahami, orang tua Fitri lansung mengecek keadaan kolam ikan dan sekitar halaman rumahnya. Pria berkumis tebal itu sedikit bingung. Dia tidak menemukan apa-apa. Tapi ia meihat sebuah bekas tangan dengan jari-jari cukup panjang dan aneh di dinding rumahnya.


“Hmm... apa kalian akhir-akhir ini pernah ketempat angker?” tanya Papi Fitri.


“Hmm... ga sih, om.” Jawab Karin dan Tito ragu.


“Menurut papi itu apa? Apa itu hantu?” tanya Fitri.


“Hantu itu ga ada, sayang. Tapi demit boleh jadii.”


“Hii... serem, gimana ini? apa kita mesti pindah rumah?” tanya Fitri.


“Ga sampai seperti itu, sekarang kalian pulanglah. Sudah malam. Terimakasih udah temanin princess kecil om.” Perintahnya kepada Karin dan Tito.


“Makasih teman-teman!” ucap Fitri.


“Sama-sama princess kecil.” Walau sudah sering dengar, tapi bagi Tito panggilan itu masih mengganjal di kupingnya.


“Kamu!” mata papi Fitri menatap tajam ke arah Tito.


“Pulang dulu om, permisi!” sahut Tito yang lansung mengambil sepatu dan tasnya. Ia pun ngacir terbirit-birit.


“Karin balik dulu om, Fitri!” ucap Karin dengan suara lesu.


“Ya, karin hati-hati.” Sahut Fitri.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G


Tito tidak sepenuhnya pergi begitu saja. Ia harus mengantarkan Karin ke rumah terlebih dahulu. Dalam


perjalanan, Tito yang menyetir diam-diam memperhatikan Karin yang sejak tadi melamun.


“Rin, lu jangan kesambet ya!” kata Tito membuat Karin meliriknya dengan kesel.


“Ga lah ****. Gue Cuma mikir apa kita harus lakuin permainan jailangkung sekali lagi ga ya?”


“Buat apa?”


“Buat nyuruh Mikha ga gangguin kita lagi. Jadi kita suruh dia balik. Tapi kita-kita aja, yang lain ga usah.”


“Hmm...!”


“Cuma gue, lu, Agus dan ajak Merri!”


“Kenapa ajak Merri?” tanya Tito.


“Kalau dia pernah selamatin lo dari hantu Mikha, berarti dia bisa selamatin kita semua.”


Tito tidak mengeluarkan pendapat apa-apa. Ia biarkan Karin berargumen sendiri. Dia mencoba fokus untuk


mengendarai mobil di jalanan yang cukup ramai.


Setelah mengantar Karin, Tito lansung balik. Sebelumnya ia sengaja menyetel musik dengan volume yang besar. Suara itu bahkan bisa di dengar bagi orang yang ada di luar. Tito sedikitpun tidak berani melirik di kaca atas dasbor mobilnya. Takut kalau ada yang duduk di belakang sana seperti yang ada di film horor.


Namun saat melintasi depan rumah Arinda yang juga satu arah dan berdekatan dengan rumahnya, Tito melihat sebuah penampakan. Dimana sekelompk burung Laron menghalang pemandangannya. Seketika Tito yang kaget lansung menginjak rem. Mobil yang melaju cukup cepat itu juga nyaris menghantam mobil sedan kuning tua di depannya.


"Hampir saja!" Tito segera mengusir laron-laron. Di saat bersamaan ia melihat Merri yang berada di depannya tengah berbincang dengan kedua orang tua Arinda.


"Merri sama Pak Ajar, Ibu kepsek, ngapain ya?" pikir Tito.


 


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...

__ADS_1


__ADS_2