
Satu Bulan sebelum Meninggalnya MIkha
Randi mengundang seorang tamu dari luar kota. Dia tampak tua, namun tidak dalam penampilannya. Di usia yang renta, wanita itu memiliki selera style yang unik sekaligus nyentrik. Ia juga mengenakan riasan dan perhiasan yang memenuhi batang leher, pergelangan tangan hingga jari-jarinya dengan emas. Senyumnya juga tampak optimis. Sekilas dia terlihat ramah dan juga bersahabat, namun tidak ada yang tau apa yang ia rahasiakan di baik sifat baik dan ramahnya.
Randi, pria yang tamak dan rakus. Hal itu di sebabkan karena ia pernah miskin dan selama tidak memiliki apa-apa itu, tidak ada yang peduli dengannya. Termasuk keluarga, kerabat dan sahabat. Makanya, ketika sukses menyertainya, ia lansung menjaga semua yang telah ia punya. Resto dengan menggunakan jasa Kusuma agar bisa menarik banyak pelanggan. Sejauh ini usahanya baik-baik saja. Namun Randi belum bisa tenang. Oleh sebab itu ia mengundang wanita ini, semua orang memanggilanya Mbah, Uti.
“Kau hanya siapkan ruangan khusus untuk menaroh benda-benda ini.” Jelas Mbah Uti setelah mereka bercakap-cakap cukup lama.
“Baik, Mbah.” Randi mengangguk dengan cepat.
“Jangan ada yang masuk kecuali kau seorang. Siapkan semangkok darah dan juga bangkai ayam hitam setiap bulannya. Ingat, bukan hanya bulu, llidahnya juga harus hitam.”
“Apa ada yang seperti itu?” Randi terlihat ragu.
“Hmm... jika saya bilang itu syaratnya maka pasti ada. Jika tidak di lakukan kesaktiannya akan hilang. Dia akan pergi meninggalkanmu dan membiarkan semua hartamu di rampok atau hilang.” Jelas mbah Uti terlihat enteng. “Banyak kasus rumah besar terbakar, atau tiba-tiba ada rampok yang menguras semua harta dan uangnya bukan? Karena mereka lalai melayani Maerka. Anda harus tau, Maerka sangat sensitif.” Jelas mbah Uti.
Randi terdiam. Dia tampak ragu untuk melanjutkan kerjasama dengan mbah Uti. Syaratnya cukup sulit. Namun demi masa lalu yang pernah pahit, Randi tidak mau menolak. Ayam hitam, mungkin harus ia cari ke desa atau daerah tertentu.
“Kalau anda tidak bersedia, juga tidak apa-apa. Saya tidak mau memaksa. Lagian saya hanya membantu orang-orang yang meminta pertolongan kepada saya.” Jelas Mbah Uti yang lansung berdiri dan bersiap-siap untuk pergi.
“Ya!” sahut Randi cepat. “Saya akan menyanggupi.” Angguk Randi ragu.
“Bagus kalau begitu, ruangan mana yang akan di pakai? Biar segera saya siapkan.”ucap Mbah Uti dengan
senyum cemerlang.
“Baik akan saya bawa anda kesana.”
“O ya, satu hal. Kerjasama kita rahasia. Jangan ada yang tau. Karena nanti bisa merepotkan dan saya tidak mau menjadi orang sibuk di usia yang tua ini.” Ucap Mbah Uti. “Ada banyak hal yang harus saya lakukan.”
“Baik mbah, baik!” angguk Randi.
Sore pun datang menjelang. Langit biru nan cerah berubah menjadi jingga. Mbah Uti siap melakukan ritual di ruang pesugihan yang disiapkan salah satu pasiennya, Randi.
“Cukup segini dulu, besok saya akan kembali lagi. Saya harus pulang.” Ucap mbah Uti.
“Baik, Mbah. Saya akan mengantarkan anda hingga ke gerbang.”
“Tidak perlu repot-repot, saya bisa lakukan sendiri. Yang harus kamu lakukan adalah kunci gandakan ruangan ini, jangan biarkan siapapun masuk.” Ingat Mbah Uti.
__ADS_1
Randi hanya mengangguk. MbahUti meninggalkan ruangan tersebut. Dia melihat seorang remaja perempuan yang baru pulang sekolah.
“Mikha, kamu sudah pulang?” sapa Randi melihat Mikha.
“Apa pedulimu?” tanya Mikha dengan agak ketus.
“Anak itu...” gumam Randi.
Mbah Uti memperhatikan gadis itu hingga ia menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
“Maafkan anak itu, dia memang seperti itu.” Jawab Randi sendikit malu.
“Dia hanya belum ikhlas dengan posisi ayahnya yang tiba-tiba di ganti oeh pria asing yang tidak ia sukai. Itu biasa. Aku juga punya cucu perempuan dan dia juga anak yatim. Jadi gampang di tebak.”
“Tapi kenapa kau tau? Saya tidak pernah cerita...”
“Maerta yang memberi tau.”
“Siapa?”
“Penghuni ruangan itu. Dia yang akan kau layani.” Jelas mbah Uti. Randi hanya melongo, tak disangka ternyata ilmu mbah Uti begitu cepat. Dia sangat terpukau dengan kehebatan wanita tua yang memang meleganda di kalangannya itu. Mbah Uti berpamitan untuk pergi meninggalkan rumah mewah Randi. Ia terus menatap jendela kamar Mikha dengan senyum yang penuh arti.
Tejo hanya mengangguk pelan sambil memamerkan senyum ramah di wajahnya.
.
.
.
Mbah Uti memenuhi janjinya. Dia datang di keesokan harinya. Namun dia lebih cepat dari waktu yang telah di janjikan. Istri pak Randi duduk menemani mbah Uti. Karena tujuan kedatangannya adalah hal yang sangat rahasia, Mbah Uti di ajak mengelilingi rumah mewah Randi. Saat itu juga, Mbah Uti kembali bertemu dengan Mikha. Gadis itu tampak ramah jika bersama ibunya, sangat berbeda dengan apa yang ia lihat kemaren sore.
“Ma, hari ini aku ajak Karin kerumah.” Ucap Mikha.
“Hai tante!!” sapa gadis bernama Karin yang berdiri di samping Mikha. Karin lansung menyalimi tangan ibunya Mikha dan juga mbah Uti. “Oma-nya Mikha, ya?” tanya Karin sok akrab.
“Bukan, enak aja lo.” Ucap Mikha lansung manerik tangan Karin.
“Ow.. maaf oma.” Karin menutup mulutnya. Mikha lansung mengajak Karin kekamar.
__ADS_1
“Aduh anak-anak, maaf ya Mbah. Mereka kadang suka berisik.” Ucap istri Randi sungkan.
“Tidak apa-apa. Mereka sangat lucu.”
“Mari kita minum teh di bawah.”
“Itu ide yang bagus.”
Mbah Uti mengikuti langkah kaki istri Randi. Sesampai di halaman rumah, Mbah Uti menikmati secangkir teh hangatnya seorang diri. Sementara itu istri pak Randi mencoba menelfon sang suami agar segera pulang dan menemui tamunya. Saat itu, bak takdir atau memang sudah ia rencanakan, Mbah Uti kembali bertemu Mikha yang kebetulan seddang mencari pembantunya, Santi.
“Mikha.” Panggil Mbah Uti.
Mikha menoleh dan ia agak bingung ketika yang memanggilnya adalah seorang mbah Uti yang sama sekali tidak ia kenali, selain tamu ayah tirinya yang memang suka bergaul dengan dukun.
“Tidak baik mengabaikan orang tua. Nanti bisa budek.” Ucap Mbah Uti.
Mikha hanya berusaha bersikap sopan dan biasa. Sejujurnya dia tidak mau berurusan dengan tamu ayah tirinya. “Kenapa?” tanya Mikha berusaha sopan.
“Saya melihat kau berjalan dengan seorang pria, usianya mungkin empat puluh lima atau lebih. Tinggi dan agak gemuk. Rambutnya tipis dengan tatapan mata yang dalam. Dia juga punya kumis hitam yang juga tipis. Terlebih lagi ada tahi lalat di puncak hidungnya. Kamu tidak takut jika hantu laki-laki itu mengikutimu?” tanya mbah Uti mulai memanipulasi keadaan.
Mikha membelalakkan matanya. “Dimana dia sekarang?” tanya Mikha mendekati mbah Uti. Dia terlihat antusias.
“Kenapa?” tanya Mbah Uti. “Bukankah dia seorang hantu. Anak perawan tidak baik di buntuti hantu
laki-laki. Nanti bisa menutupi auramu. Mau saya usir saja?”
“Jangan!” tolak Mikha. “Dia papa-ku.” Ucap Mikha.
“Oo maafkan saya.” Ucap Mbah Uti datar.
“Hmm tidak apa-apa.” Mikha menjawab ragu-ragu. Dia sekarang terlihat ragu. Ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan. Tapi sepertinya ia takut untuk mengungkapkannya. Namun hal itulah yang di tunggu Mbah Uti.
“Ada yang kau tanyakan lagi?” tanya Mbah Uti.
“Hmm.. Itu... Apa... permainan jailangkung itu benar-benar membuat saya bertemu dengan papa saya?” tanya Mikha dengan polos.
Mbah Uti tersenyum ramah. Matanya berbinar. “Mau tau rahasia dari permainan pemanggil setan itu?” tanya mbah Uti. Ia memulai sebuah tawaran yang penuh jebakan. Sedangkan Mikha telah masuk dalam jebakannya.
Pesta Jailangkung// Bersambung...
__ADS_1