Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
32 Permainan Setan


__ADS_3

Seumur hidupnya, Merri paling tidak suka mencampuri masalah orang lain. Dia hanya remaja yang pendiam, yang penakut dan setiap hari di landa rasa cemas. Dia tidak suka orang lain mengetahui jika dia memiliki kelebihan, bahkan dia berpura-pura tidak tau saat ada jin ataupun setan yang mendekatinya. Begitulah Merri sangat tertutup dan melindungi dirinya sendiri.


Namun kali ini, dia melakukan hal diluar dari kebiasaannya. Ia seketika menjadi penasaran dengan masalah dari tamu ibunya kali ini. Terlebih sejak ia tau jika tamu itu adalah keluarga dari Mikha. Bahkan untuk melepaskan rasa ingin tau itu, Merri sampe nekat membututi sang ibu ke ruangan prakteknya, ruangan yang paling ia benci.


“Apa aku sudah gila?” pikir Merri. “Tidak Mer, ini demi keselamatan temanmu dan juga anak-anak itu.” Jawab Merri kepada dirinya sendiri.


Ia mengambil jalan pintas yang biasa di pakai ibu atau neneknya untuk menuju ruangan tersebut. Disana ada sebuah gudang penyimpan kayu bakar dan juga barang-barang yang tidak berguna. Di sudut ruangan itu terdapat sebuah pintu, dimana di baliknya ada jalan pintas yang menghubungkan dengan ruangan praktek ibunya. Jaraknya mungkin hanya sekitar lima atau tujuh meter, tapi disana cukup gelap. Tidak ada lampu. Penerangannya hanyalah cahaya rembulan yang masuk dari fentilasi besi yang ada di setiap dinding bagian atas.


“Huft!” Merri menarik nafas dalam-dalam. Ia mengumpulkan keberaniannya dan kemudian menghembuskannya dengan kuat. “Aku harus bisa.” Ucapnya memasuki ruangan tersebut.


Di akhir jalan itu, Merri berhenti di depan pintu kayu yang agak lapuk. Ia mengintip di celah-celah kayu dan melihat sang ibu dan tamu bernama Randi.


“Ini apa?” tanya Kusuma. Ia memperhatikan benda yang di bawa Randi.


“Aku tidak yakin, tapi sepertinya anakku tidak memainkan jailangkung dengan jangka yang di ikat dengan rambut. Melainkan dengan ini.” jelas Randi. Pria itu tampak gusar.


Kusuma membuka kain hitam itu, sebuah boneka beruang yang di ikat dengan dua penggaris ukuran tiga puluh sentimeter. Sepintas, boneka itu seperti di salib, namun ternyata saat di teliti lebih lanjut lagi, Kusuma bisa menerka hal lebih menakutkan. Benda itu sebuah boneka Jailangkung.


Dari jarak yang cukup, Merri juga dapat menduga hal yang sama. "Mungkin ini boneka yang mereka pakai." pikir Merri.


“Dia menggunakan media boneka untuk melakukan ritual itu. Seharusnya permainan ini tidak akan berhasil jika tidak ada umpan.” Jelas Kusuma, “Tapi umpan apa yang di beri putrimu?” tanya Kusuma serius.


Randi hanya tertegun, wajahnya berubah ketakutan, dia juga terlihat bingung sekaligus putus asa, “HIKs..hiks..!” pria tua penampilan parlente itu seketika menangis, dia tidak kuasa menahan rasa takut sekaligus cemas.


Kusuma hanya terdiam. Ia biarkan pria tua itu berurai air mata. Mata dan tangannya sibuk menyelidiki boneka itu. Terlebih saat tangannya meraba ada ruang kosong di perut boneka tersebut. Dia segera membalikkan badan boneka tersebut, dan disana ada bekas robekan. Isinya hanyalah berupa sampah seperti potongan kuku, sehelai tisu dengan sebuah noda yang sudah mengering dan juga bunga melati.


“Ssa ya menemuka bekas darah, kuku dan beberapa helai mahkota melati. Hiks... hiks... sa saya ti tidak tau jika putri saya melakukan hal itu, di dia melakukan sebuah permainan yang mengerikan.” jelas Randi. Dia segera menghapus air matanya. Wajah sendu itu seketika berubah marah.


“Disini kau harus bertanggung jawab Kusuma. Jin yang kau berikan kepadaku ternyata membunuh anakku!!” bengis Randi. Wajahnya merah padam, tak kuasa menahan emosi yang meledak-ledak.


Merri menutup mulutnya, ia tidak percaya jika pria itu membentak ibunya. Terlebih lagi Randi telah menyiapkan sebuah pisto di balik badannya. Sekarang pistol ukuran kecil itu di acungkan kearah Kusuma yang berdiri duduk di depannya.


“Pak Randi, anda salah paham. Pesugihan itu tidak ada kaitannya dengan kematian anak anda. Dia tidak memiliki kemampuan untuk menyerang manusia.” Jelas Kusuma dengan raut wajah yang masih terlihat tenang.

__ADS_1


“DIAM KAU!! ASAL KAU TAU, SAAT INI ISTRI SAYA BARU SAJA MENGALAMI KEGUGURAN. DIA NYARIS GILA KARENA DALAM WAKTU DEKAT TELAH KEHILANGAN DUA ANAKNYA! AKU TAU ITU sALAH MU KUSUMAA!!”


PRANKK...


Satu kendi tua menjadi pelampiasan Randi. Ia memukul kendi tua yang ada di sampingnya. Sekali lagi Kusuma tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. Sedangkan Merri yang mengintip tidak kuasa menahan diri dari rasa marah dan takut yang menyerangnya.


“Bapak Randi, darah ini bukan dari darah hewan. Putri anda telah melakukan hal yang salah. Dia telah memanggil makhluk yang lebih kuat dan kejam.“


“LANTAS APA BEDANYA?!” Randi masih di kuasai amarah. Tangan yang memegang pistol itu masih mengacung kearah Kusuma.


“Jin Pesugihanku tidak memakan darah ini. Dia menyukai aroma darah dari daging sapi dan ayam yang kau jual. Mereka menjilati darah dari hewan ternak itu. Sepeti perjanjian awal. Mereka akan menikmati setiap tetes dari darah, daging dan lemak dari apa yang kau jual, dan kau akan mendapat keuntungan yang berlipat ganda. Sedangkan ini adalah darah manusia, terlebih lagi darah dari seorang gadis yang sedang haid. Disini juga ada kuku dan juga kembang. Kau tau apa artinya ini?”


“SIALAN!! Aku tidak peduli lagi Kusuma, saat ini, bagaimana membuat istri saya kembali normal, dan kembalikan janin dan hidupkan MIKHA!!!”


DEG


Merri tersentak kaget. Badannya seperti di aliri energi panas saat pria itu membentak ibunya dengan suara yang semakin keras. Terlebih saat nama Mikha di singgung,nama itu membuat Merri sangat marah.


“Sialan... pasti itu yang kau pikirkan bukan?” Sebuah suara menggema di kepala Merri. “Ya, dia pria sialan. Pria brengsek.” Geram Merri mengepal tangannya. “Bukankah dia dan anaknya yang mati itu lebih bodoh?”


“Aku tidak bisa melakukan semua itu. Aku bukan Tuhan.” Jawab Kusuma. “Semua yang kau alami di luar tanggung jawabku.” Kusuma meletakkan boneka itu.


“K kau... beraninya mengabaikanku?!” Randi kembali mengacungkan pistol. Ia menarik pelatuk dari senjata api tersebut. “KUSUMA KAU HARUS MENERIMA BALAS DENDAMKU... KARNA KAU HIDUPKU HANCUR...”


DOR!!


Merri yang tidak tahan dengan perkataan Randi lansung menerobos masuk. Ia mendorong Randi dan tembakan itu terlepas ke udara. Kusuma tersentak kaget. Dia tidak percaya jika Merri berani mendorong pria tersebut. Wajah


kaku itu seketika berubah menjadi raut cemas dan sangat khawatir. Ia segera menghampiri putrinya.


“Asal kau tau, putri mu bernama Mikha sudah meneror satu sekolahan. Apa kau sadar satu hal? Kalau dia seutuhnya belum mati?” Merri menautkan wajahnya dan mengangkat kerah baju Randi, “Sekarang Mikha menjadi


mainan mereka di alam lain, dia tidak bisa selamat dan dia selamanya menjadi tahanan dunia kami.” Jelas Merri tersenyum sinis. Kusuma memperhatikan wajah Merri, ia sadar akan satu hal.

__ADS_1


Randi membelalakkan matanya. “K kau si siapa?” tanya Randi menatap bola mata Merri yang memamerkan senyum jahat.


"Pertanyaan bodoh dari manusia bodoh. Kau tidak tau jika putrimu yang bodoh itu mengorbankan dirinya secara suka rela kepada bangsa kami. Manusia sok kuat, sok berani dan dia terjebak sendiri karena ulahnya dan sekarang kau menangisi semuanya? Hahaha... seharusnya kau juga tidak pantas hidup!"umpat Merri yang di kausai amarah. Wajahnya merah padam dan suaranya juga keras.


“Merri!” Kusuma yang sadar ada yang tidak beres dengan putrinya lansung menepuk pundak Merri.  Hal itu membuat Merri sedikit kaget dan menekan kepalanya yang sedikit pening.


“HAH?!” Merri kaget. “Bukankah aku ada di...?” pikirnya kembali. Kusuma semakin paham, yang tadi bukan putrinya.


“Apa yang kau maksud? Kenapa dengan Mikha?” tanya Randi.


Merri memasang wajah bingung. Dia melihat kearah ibunya yang memberi instruksi agar ia tenang. Merri melihat ke arah pintu, tempat ia sembunyi. "Kenapa aku bisa disini?" pikirnya sekali lagi.


“ini sudah jelas.” Kusuma membuka suara, “Mikha putri anda telah di bawa oleh makhluk lain. Dia memang mati tapi secara tidak wajar. Sekarang aku yang ingin bertanya, selain di tempat ini, apakau memesan pesugihan di tempat lain? Apa kau membuat sebuah perjanjian dengan paranormal lain tanpa sepengetahuanku?”


Randi merenung sejenak, “Tidak, tidak pernah.” Jawabnya ragu.


“Jika bukan karena itu, berarti kau punya pesaing. Dan dia bukan hanya membuatmu bangkrut, tapi juga melenyapkan semua keluargamu.” Jelas Kusuma dengan suara dingin dan tegas.


DEG


Randi hanya terdiam. Dia merenung cukup lama, seolah dia memikirkan beberapa nama di benaknya.


Kusuma meraih pistol yang terjatuh di lantai. Ia membongkar dan mengeluarkan sisa peluru yang ada disana. Dengan sikap tenangnya, ia mengembalikan senjata api beserta peluru kepada Randi. “Untuk janin yang di kandungan istrimu saya turut berduka cita.” Ucapnya tulus, “Lalu untuk istrimu, aku akan memberi ramua agar dia bisa tenang. Untuk berjaga-jaga, sematkan jimat ini. pokoknya jangan sampai lepas dari istrimu. Ini bukan jalan keluar tapi setidaknya bisa membantu istrimu dari penglihatan-penglihatan yang terus mengganggunya.”


“Ba baik, ma mafkan sa saya hiks... hiks...!” Randi kembali tertunduk lemas. Air matanya kembali pecah. Tampak jelas ia sangat tertekan. "Sa saya hanya putus asa... sa saya hanya ingin kaya... saya hanya ingin membahagiakan istri dan keuarga kami...hu hu...!!"


“Aku akan mencari tau, apa yang membuat anakmu terlibat dengan permainan ini dan dengan siapa saja dia melakukan permainan ini. Karena ini bukan permainan jailangkung semata, tapi mereka sudah mengundang sesuatu yang jahat masuk.” Jelas Kusuma.


Saat Randi telah pulang. Merri dan Kusuma masih berada di ruangan itu. Mereka sama-sama memperhatikan boneka beruang tersebut.


“Buk, aku tau siapa yang terlibat selain  Mikha.” Merri mengangkat suaranya.


“Siapa?”

__ADS_1


“Dia teman sebangkuku.”


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...


__ADS_2