Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
37 Pertarungan Dua Iblis dan Manusia


__ADS_3

Di halaman rumah, kediaman keluarga Lubis. Ajar dan Lira tidak bisa duduk dengan tenang. Berdiripun, kedua kaki mereka juga tetap gelisah. Terlebih setiap mendengar umpatan dan teriak dari dalam. Lira menggenggam tangannya, ia berdoa semoga di dalam sana tidak terjadi apa-apa. Begitupun dengan Ajar.


“Maaf om, Tante.” Panggil Tito sedikit takut.


Ajar dan Lira hanya melihat sepintas, perhatiannya lebih terfokus kepada sesuatu yang terjadi dalam sana.


“Maafkan kami!” ucap Tito memberanikan diri sekali lagi. Kali ini suaranya agak lantang “Gara-gara kami, Arinda kena imbas.”


Mendengar hal itu, Ajar dan Lira memandangi Tito. Raut wajah cemas itu seketika bingung. Mereka juga kesal dengan sikap Tito yang berbicara tidak jelas di saat situasi seperti ini.


“Arinda seperti ini mu_mungkin karena kami.” Ucap Tito gemetar.


“Maksud kamu apa?” tanya Ajar.


“Apa yang kalian perbuat, kenapa dengan Arinda?” tanya Lira penuh amarah.


“Mungkin ini semua terjadi gara-gara kami bermain Jailangkung di kelas.” Jelas Tito ketakutan. “Kami memanggil arwah Mikha untuk mencari tau kenapa dia meninggal. Tapi permainan belum kami akhiri karena di usir pak Asep. Selain Arinda, kami juga di teror.” Jelas Tito.


“Arinda sama sekali tidak bergabung dengan kalian, tapi kenapa dia bisa terlibat?” tanya bu Lira. “Lagian yang kalian lakukan juga permainan konyol yang tidak berpengaruh sedikitpun!” jelas Lira yang sangat marah.


“Itu yang saya tidak tau! Maafkan saya Om... Tante...!!” tunduk Tito yang benar-benar di landa rasa bersalah.


“Lalu sekarang bagaimana?” desak Lira makin kesal.


“Maafin Tito Tante, Tito ga tau kalau ternyata jadi kayak gini..!” ucap Tito penuh sesal. Tangannya gemetar karena merasa bersalah.


“GYAAAAAAAA!!!!!” suara teriakan di dalam rumah kembali terdengar. Kali suara itu semakin jelas dan melengking lebih tinggi. Lira dan Ajar kembali cemas, khawatir, takut namun juga marah. Sedangkan Tito kembali di rundung rasa bersalah.


“Kita bahas setelah semua ini selesai, sekarang kita berdoa, semoga Arinda tidak kenapa-kenapa!” ujar Ajar dingin.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


“Merri, ke kenapa lu bu-bunuh gua?” Arinda meringis kesakitan.


Merri terkejut mendengar warna dan gaya bicara yang kali ini benar-benar Arinda. Ia segera melepaskan genggaman di lehernya. Arinda lansung jatuh terkulai kebawah. Merri yang separoh tersadar memundurkan badannya beberapa langkah, dia tidak paham kenapa dia bisa sekuat sekaligus setega itu.


“Hiks hiks..!” Arinda tertunduk lesu. Ia menangis dan itu membuat Kusuma memperhatikannya.


“Apa kau telah kembali? Arinda?” tanya Kusuma.


Merri masih terdiam atas perbuatan yang ia buat. Ia biarkan sang ibu mendekati tubuh lelah Arinda. “Nak, kau sudah kembali?” tanya Kusuma membelai rambut Arinda.


Arinda memalingkan wajahnya. Ia menatap Kusuma sambil memamerkan wajahnya yang kembali tersenyum jahat, “Tidak semudah itu aku mengembalikan mainanku, Gyaaahahahaa!!”


Plak!! Plak!!


Kusuma di tampar bolak balik oleh tangan setan Arinda. Hal itu membuat hidung Kusuma mengeluarka darah. Merri yang memperhatikan perlakuan keji kembali tersulut emosi.

__ADS_1


“Jauhi tangan kotor itu dari ibuku...!!” ujar Merri yang berlari kearah Arinda dan mencoba menendang badan gadis tersebut.


Arinda segera melompat dan menghindari serangan Merri. Seringai jahat itu begitu puas melihat amarah yang di tunjukkan oleh Merri. Ia juga bertepuk tangan bahagia melihat kondisi Kusuma yang tidak berdaya di


lantai.


“Gyahaha, kau pantas mendapatkannya! Kau pantas menerimanya! Kau layak merasakannya!” gelak Arinda penuh kemenangan. Arinda mengambil sebilah pisau dan berlari menuju ruang tengah. Ia menghancurkan apapun, merusak semua benda yang ia lihat.


Mata dan penciuman Arinda akhirnya menangkap satuhal yang menarik. Ia melirik anak tangga dan segera menyusul seseorang yang bersembunyi disana. Senyum itu semakin mengembang saat mata itu menangkap sosok hantu lemah yang tampak lezat untuk di jadikan mainannya.


“Ck ck... hai!” sapa Arinda dengan seringai menakutkan. Alisya menatap nanar. Badannya bergemetar hebat, karena ia tau, nasibnya akan sial dan sangat-sangat-sangat sial malam ini.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G//


Kusuma hanya menatap dengan pandangan lemah. Sekuat tenaga ia mencoba tegar dan tetap sadar. Merri mendekati ibunya, sisi wajah kanannya menunjukkan rasa iba dan kasihan, sedangkan sisi kiri dari wajah itu terlihat


dingin bahkan acuh.


“Ibu...!” sapa Merri sedih. “Kau pikir aku akan membantumu jika kau mati disini?!” lanjut Rohi tanpa ekspresi.


“Merri, cepat kejar dia. Aku tidak apa-apa.” Jawab Kusuma berusaha sadar. “Dan kau, takkan kubiarkan kau mengambil anakku.”


“Hahaha... yang terkuat yang akan menang!” sahut Rohi. “Tapi Merri sayang, bukankah setan itu berkata benar? Jika kau sangat malang terlahir sebagai anak dari wanita ini? hmm lebih baik tinggalkan dia dan hidup bersamaku


saja!” bujuk Rohi.


“Hahaha... mulailah dari setan kecil songong di badan gadis tidak berguna itu!” usul Rohi.


Merri yang semakin dendam segera mengejar Arinda. Langkah kaki kecil nan cepat itu sekarang melewati ruang tengah yang berantakan dan tidak beraturan. Matanya dengan teliti memperhatikan setiap sisi dari ruangan yang ada.


“GYAAA!!!”


Merri menangkap suara teriakan lain. Suara itu bersumber di dalam kamar kakaknya Arinda yang bernama Alisya. Kaki Merri lansung berlari menaiki anak tangga dan kemudian mendorong pintu kamar yang kali ini sama sekali tidak terkunci. Mungkin pintu terbuka akibat energi yang di hasilkan Arinda.


Pemandangan pertama dari kamar dengan minim pencahayaan tersebut adalah Arinda dengan sangat kasar mencekik leher Alisya. Wajahnya tampak senang menyiksa hantu penasaran yang sangat malang itu. Namun hal yang lebih mengejutkan adalah; Arinda juga menginjak satu makhluk yang terlihat seperti ulat bewarna merah. Makhluk itu tak bertenaga, dia hanya menangis seperti bayi kecil.


“GYAAHAHAHAAA!! Mattiii!!!” erang Arinda yang melompat dan menginjak makhluk tersebut hingga berderai yang kemudian lenyap laykanyai debu. Tak hanya itu, cekekan di leher Alisya juga ia kencangkan sehingga membuat Alisya sulit untuk melepaskan diri.


“Hentikan!!” Merri melempar liontinnya kearah Arinda. Liontin itu menggulung di pergelangan tangan Arinda. Seketika liontin itu menyentuh kulit Arinda, rasa panas dan perih menjalar di seluruh tubuhnya. Ia menarik tangannya, melepas cengkramannya dan menggeliat kepanasana.


“GYAAA!!!” teriak Arinda. Wajahnya makin geram. Urat biru semakin menampakkan diri di wajah pucat Arinda. Hal itu mengukir kengerian lainnya bagi siapapun yang melihat. Terlebih tatapan yang enuh dendam dan amarah itu lansung berlari dan menerjang tubuh Merri.


“Gyaaaa... mati kau pengganggu!!!” teriak Arinda. Merri terdorong beberapa langkah dan kemudian terjatuh dari anak tangga. Tubuh kecil itu terhempas di setiap bagian anak tangga hingga mendarat di lantai dasar.


“Gyaa!! Shh HAAH!!” erang Merri merasa sakit di sekujur tubuhnya.


Tapi Arinda tidak berheti disitu saja. Dia juga membuat beberapa benda melayang, bahkan beberapa vas bunga dan plakat penghargaan milik keuarga lubis di buat terlempar menghantam tubuh Merri.

__ADS_1


“Gyaa!!!” erang Merri yang di hajar rasa sakit yang bertubi-tubi.


“Gyaaahahaha itu adalah ganjaran pas untukmu, gyahahaha!!!” tawa Arinda puas.


Merri yang penuh luka gores dan hantaman tetap berdiri. Tubuh kecil yang terlihat amburadul itu tetap menegakkan kakinya yang penuh memar. “Hehehe... sudah puas bermain, bocah?” suara berat itu keluardari mulut Merri.


Arinda membelalakkan matanya, “Cih, siapa lagi kau?”


 “Apa kau takut berhadapan dengan Rohi cucu Tibbir yang maha sempurna ini, khekhekhe!! Ck ck!!” gelak mereka.


Arinda melirik mereka dengan tatapan bengis. “Sraaaakkkk!!!” desis Arinda yang berdiri dinding ruangan tersebut.


“Ya, kau tak ubahnya serangga Laron yang bertebangan. Kelam, buruk rupa dan lemah. Sayap rapuh, kaki-kaki yang rapuh dan bahkan rupamu juga sangat menyedihkan. Diciptakan hanya menjadi santapan para amfibi dan bahkan hewan bertaring. Ooo tapi reptil sepertiku tidak akan memakanmu, karena bagi kami kau adalah sampah.” Ujar Rohi dan Merri bersamaan.


 “SRAAAAkkkk!!!” teriak Arinda. Tubuh itu melompat ke arah Merri. Merri terjatuh.


Dengan cekatan, Arinda mencengkram batang leher Merri dengan kuat. Merri yang dibantu kekuatan amarah dari Rohi berusaha melawan. Tangannya berhasil meraih sebuah pelakat yang tergeletak tak jauh badannya. Lansung saja, Merri memukul keras kepala Arinda dan menjambak rambut panjang gadis itu hingga dia tersingkir diatas tubuh kecilnya.


Merri mengambil kesempatan itu untuk menduduki tubuh Arinda. Tangan Kirinya menahan wajah Arinda sementara tangan kanannya sibuk mencari liontinnya. Namun sayang, kalung itu tidak menempel di tubuh Arinda lagi.


“Gyahahaha!!!” Tawa Arinda. Dia senang melihat wajah panik Merri. “GYAAAA!!!!” teriak Arinda kemudian yang memuntahkan jutaan laron ke wajah Merri.


“Gyaa!!” Merri terjatuh kebelakang. Beberapa sayap laron tersebut mengenai bola matanya hingga rasa perih membuatnya kehilangan keseimbangan. Arinda segera berdiri. Lalu mengayunkan kakinya untuk menganiaya


tubuh kecil Merri.


“GYA!” teriak Merri merasa sakit di perutnya.


Kusuma mengumpulkan semua tenaganya. Dia menahan semua rasa sakit. “Sudah cukup semua tragedi ini.” bahkan walau sedikit pening dia harus tetap fokus untuk melenyapkan setan di dalam tubuh Merri. Tertatih-tatih Kusuma segera mengambil liontin miliknya dan juga milik Merri yang tergeletak di  lantai. Ia harus menyelesaikan semua masalah ini selagi setan angkuh sedang lengah.


“Mana mulut besar yang barusan saya dengar? Ohh hanya rintihan.. kasihan sekali... kau harus segera mati...” Arinda terdiam seketika. Merri membulatkan matanya. Mereka berdua merasakan energi aneh yang tidak kalah


kuat.


“Tidak ada Tuhan yang berhak di sembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya. Tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Kepunyaannya apa yang di langit dan dibumi. Tiada yang dapat memberi syafaat disisi Allah tanpa izin-Nya. Ia mengetahui apa-apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa.” Gumam Kusuma yang telah berdiri tepat di belakang Arinda.


“GYAAAAA!!!!!” Arinda bertriak. Dia hendak kembali melompat agar menghindari liontin tersebut, namun sayang, Kusuma lebih dulum menggenggam kepala Arinda. Di balik tangannya sudah ada sebuah liontin yang menganai pucuk kepalanya. “GYAAAAAAAA!!!” Arinda berteriak dengan suara melengking. Membuat angin bertiup kencang, menjatuhkan TV, lukisan dan bingkai foto yang menggantung didinding. Jutaan laron juga berhamburan keluar menuju jendela rumah dikamar Arinda.


Arinda terkulai lemah tidak berdaya. Kulit wajahnya yang memar sudah tidak pucat seperti tadi. Kuku-kukunya juga kembali normal, tidak putih dan kotor lagi. Tapi tubuh itu telah kehabisan tenaga dan mungkin membutuhkan pertolongan medis.


“Merri, nanti kita bertemu lagi, jangan lupa upahku.” Gumam Rohi dalam kepalanya. Mata kiri Merri kembali normal dan saat itu baru ia merasakan nyeri di seluruh tubuhnya.


“Ibu!!!” Merri yang kesakitan menghampiri ibunya yang lemas. Wajah ibunya memar. Darah juga menetes di sudut bibir dan hidungnya. Begitu juga luka di kepalanya yang kurun kering. “Ibu, ibu tidak apa-apa?” tanya Merri memeluk ibunya.


“Ibu baik-baik saja.” Jawab Kusuma berusaha tegar, “Uhuk-uhuk!!” tapi kondisi tubuhnya tidak dapat di dustai.


P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2