Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
Hukuman dan Ancaman serta Malapetaka #1


__ADS_3

“Apa sebaiknya aku tidak kesekolah saja?” pikir Merri. Ia sama


sekali tidak menyentuh roti tawar yang sudah diolesi margarin.


“Belum berangkat, Nak?” tanya Kusuma yang terlihat baru bangun. Dia segera menyeduh kopi hitam dan kemudian duduk bergabung dengan anaknya dimeja makan.


Merri lansung berdiri. “Aku berangkat dulu.” Ucap Merri. Dia masih marah dengan Kusuma perihal kemaren. Dari pada harus dirumah dan bertemu dengan ibunya setiap hari, Merri lebih memilih ke sekolah. Setidaknya dalam


satu hari ada delapan jam ia tidak bertemu dengan ibunya. Jika perlu dia akan memperlambat pulang dengan pergi ke mall atau keperpustakaan umum.


“Ini uang saku tambahan.” Kusuma memberikan sejumlah uang. Jumlahnya cukup besar.


Merri melihat keatas meja. Dia bergidik, sepertinya ibunya memahami apa yang tengah ia pikirkan saat ini.


“Gunakan untuk berbelanja kebutuhan sekolah, atau makan makanan enak di luar sana.” Tambah Kusuma. “Merri, ibu sangat sayang kepadamu.” Ucap Kusuma.


Bukannya luluh dengan ucapan tulus Kusuma. Merri semakin merasa gondok. Ia tidak mau mendengar kata-kata itu dari seorang pembunuh berdarah dingin seperti ibunya.


“Suatu hari nanti kamu akan paham anakku.” Lanjut Kusuma.


Merri tidak peduli, ia juga tidak akan pernah mau memahami hal-hal tidak masuk akal. “Satu hal yang tidak bisa aku terima di dunia ini adalah kelahiranku sendiri.” Ucap Merri yang benar-benar meninggalkan meja makan.


“Hmm...!” Kusuma hanya bisa menarik nafas panjang. “Andai ia tau kebahagian terbesar ibunya ini.” pikir Kusuma. Kemudian ia menatap piring yang berisi roti tawar diatas meja. Kusuma meraih piring tersebut.


Srrrtt...


Piring itu beralih sendiri. Dia menjauhi Kusuma, seolah ada seseorang yang menariknya.


“Jangan ganggu saya, atau kau musnah?” ancam Kusuma.


PletAk...


Kursi yang duduki Merri terjatuh. Sosok hitam lari dengan cepat. Dia ketakutan mendengar ancaman Kusuma.  Terlebih mata Kusuma masih terus mengekorinya hingga ia menghilang menembus tembok ruang makan yang cukup luas itu.


Saat itu Merri kembali masuk. Ia melihat ekspresi ibunya yang terlihat menakutkan. Kusuma melepaskan energi dalamnya dan kemudian tersenyum kearah Merri.


“Ada yang tertinggal, nak?” tanya Kusuma.


Merri menunduk, di dalam benaknya, ia tidak ingin berbicara dengan ibunya, tapi ternyata tidak bisa. “Bisa, bisa ibu usir wanita yang terus menungguku di depan rumah?” ucap Merri. Dia masih marah dengan ibunya, tapi dia tidak bisa jauh dari wanita ini.


Kusuma segera bangkit dan menemui wanita yang di maksud Merri. Mereka menelusuri rumah yang besar, menuju halaman depan rumah yang tidak kalah luas, namun tanaman disana tidak begitu terurus. Di depan pagar


besi yang di cat putih, Kusuma melihat wanita yang dimaksud. Dia yang menunggu Merri dari kemaren.


“Dia hanya cari perhatian karena kau bisa melihatnya.” Ucapk Kusuma.


“Berbahaya ga?” tanya Merri.


“Mau mencoba membuktikannya?” tanya Kusuma.


“Aku ga mau berurusan dengan setan.”


“Dia jin. Dia hanya menyerupai orang yang telah mati.” Jelas Kusuma.


“sama saja, aku tidak suka dia.”

__ADS_1


“Seharusnya dia tidak mengganggu, kecuali ada yang mengundangnya untuk bermain.”


“Maksud ibu?”


“Permainan pemanggilan arwah, seperti yang gadis itu lakukan sebelum dia tak sadarkan diri.”


“Maksud ibu?”


“Mau ibu antar kesekolah?” tawar Kusuma.


.


.


Merri mengangguk. Dia masih kesal dengan ibunya. Tapi urusan gaib dia tidak ada daya, selain minta bantuan kepada ibunya. Tapi mendengar sedikit penjelasan tentu adalah solusi terbaik dari pada terus diam dan


bersikap acuh. Ia duduk disamping ibunya yang mengemudi sedan biru. Dalam perjalanan menuju sekolah, Merri terus mendengar ibunya bercerita.


“Sebelum jatuh sakit, gadis yang kamu tangisi itu telah bermain Jailangkung. Dia membuka gerbang portal namun tidak berhasil menutupnya kembali. Entah makhluk seperti apa yang telah ia panggil. Ibu juga tidak tau,


nak. Setelah kejadian itu Dia tiba-tiba tidak sadarkan diri karena tidak bisa mengikuti permintaan dari makhluk yang telah ia panggil. Bisa jadi permainan itu berakhir dengan permintaan yang berbahaya, seperti jiwanya.” Jelas Kusuma.


Bisa dikatakan Merri belum bisa memahami dan mencerna maksud ibunya. Dimata teman-temannya, siswi bernama Mikha terkenal baik, dan sangat mustahil dia bermain hal seperti itu.


“Permainan itu bukan hanya meneror dirinya, tapi juga orang-orang sekitar rumahnya, seperti kejadian seminggu lalu, salah satu pembantu mereka kesurupan. Ibu juga dengar kalau ibu dari gadis itu juga


mengalami gangguan jiwa, karena dia juga di ganggu. Randy menutur kalau istrinya sering melihat putrinya berjalan melintas rumah mereka saat tengah malam.” Jelas Kusuma.


“Mikha main jailangkung?” Merri merasa heran.


“Ya, ibu yakin karena permaianan itu.” Angguk Kusuma, “Didalam kamarnya tempo lalu, ibu melihat jangka yang sudah diikat dengan seutas rambut panjang.”


“Siapa tau saat dia memainkannya rambutnya masih panjang.” Jelas Kusuma.


“Tapi aku bilang ke ibu, kalau aku melihatnya. Jiwanya ditarik paksa oleh raganya dan dimakan oleh makhluk mengerikan. Aku berfikir dia adalah tumbal dari perjanjian yang ibu buat dengan bapaknya.”


“Ibu tidak pernah bermain dengan nyawa manusia. Ibu hanya minta seekor darah kerbau jantan dan beberapa organnya disimpan untuk Jin yang menunggu di restonya. Makhluk itu tidak kemana-mana selain duduk di resto


miliknya. Kamu ibu sarankan jangan makan di resto itu. Manusia biasa mungkin tidak akan berpengaruh, tapi kamu pasti akan muntah dan diare. Karena kita beda.”


“Karena kita bisa melihatnya, ibu.” Merri melihat ke arah jendela mobil. Dia melihat penjual warung bakso. Masih pagi sudah terlihat ramai. Yang menarik perhatian Merri bukan para pembeli, melainkan seekor **** berekor monyet tengah mengencingi kuah bakso yang tengah di panaskan diatas kompor.


Kusuma melihat kearah Merri. Lalu kembali fokus menyetir. “Kamu sudah percaya dengan ibu?”


Merri terdiam. Dia berfikir sejenak. Selama ini tidak ada yang ia percayai selain ibunya. Untuk itu Merri mengangguk.


“Trimakasih ya, Merri!” senyum Kusuma. Senyum keibuan yang hanya ia pajang didepan anaknya.


.


.


.


.

__ADS_1


Arinda melihat kondisi kelas. Ia kaget melihat semua meja dan bangku tertumpuk di belakang kelas.


“Ulah siapa ini?” pikir Arinda.


Masih dalam keadan kesal, Arinda terpaksa mengerahkan tenaga untuk mengambil bangku-bangku itu ketempat semula. Pagi ini ia masih sendiri, datang lebih awal di hari ini membuatnya sedikit bekerja keras.


Satu meja telah ia susun, dan berada di tempat semula. Kemudian ia mencoba mencari bangku miliknya, bangku yang ia pakai sejak pertama kali duduk di kelas ini. Ia bersumpah tidak akan menggantikannya dengan yang


lain.


“Sialan, siapa orang kurang kerjaan ini?” umpat Arinda lagi.


Akhirnya dia menemukan bangkunya. Disana tertulis namanya dengan sebuah tip x atau sejenis corection pen yang isinya lebih cair.


“Akhirnya!” Tapi Arinda bingung, kenapa bangkunya terletak di tumpukan paling atas?


Tanpa mau fikir panjang lagi, ia harus berhasi mengembalikan bangku itu di tempat semula. Urusan siapa pelakunya, bisa urusan nanti. Arinda menaiki bangku yang terletak di bawah agar bisa mengambil


miliknya. Sayangnya, tinggi badannya belum cukup menggapainya. Kali ini ia mencoba menginjit, menupang semua berat badannya dengan ibu jarinya. Semoga kursus balerina yang pernah ia ikuti sewaktu kecil bisa membantunya.


Tapi tanpa Arinda sadari, sesosok makhluk jahat menginginkan hal lain. Dia ingin melihat seorang anak manusia celaka. Tangan berjari kurus pucat dan berkuku hitam meraih bangku yang di pijaki Arinda. Dia lansung menarik bangku tersebut sehingga membuat Arinda kehilangan keseimbangan.


“Gyaaa!!!” Arinda segera memegangi diri dengan bangku-bangku diatas. “Astaga!!!” Arinda berhasil mempertahankan keseimbangan.


“Hampir saja!”


Arinda menoleh ke bawah. Dia melihat Marri menahan bangkunya. Wajah Merri terlihat khawatir.


“Merri, lo udah sampe?” tanya Arinda.


“Ya!” angguk Merri.


“Yang goyangin bangku gue itu lo?” tanya Arinda, dia sendiri juga ragu menuduh Merri bersikap iseng seperti yang biasa dilakukan Tito atau Karin.


Merri menggeleng. “Aku baru datang!” ucap Merri.“Tapi kenapa kelas kita seperti ini?” tanya Merri melihat sekitar.


“Nah itu dia, gue juga sama kagetnya. Pas datang semua bangku sudah numpuk seperti ini.” jelas Arinda.


“Morning Karin, sorry gue agak telat *** buruan sebelum...!!!” seru Fitri yang lansung menahan


mulutnya, “Arinda dan lainnya, udah datang yaa...?? he he he...!!”


“Biar gue tanyain dulu apa yang telah gue lewatin.” Ucap Arinda kedatangan Fitri yang tumben datang pagi.


“He he he gue kira Karin... hehe Karin mana ya?” tanya Fitri kikuk.



.


.


.


.

__ADS_1


 


 


__ADS_2