Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
8 The Cranberries


__ADS_3

“Lu ga liat hujan deras kemaren. Ga biasanya hujan begitu


lebat tau.” Begitu lah Agus masih masih kekeuh dengan pendapatnya.


Padahal hari ini terlalu pagi untuk mempermasalahkan kematian Mikha. Tapi tampaknya beberapa siswa masih belum terima akan kepergian salah satu temannya.


“Udahlah, namanya juga masih bulan Januari, ya jelas masih


ada sisa musim hujan. Lagian ga ada yang aneh. Hujan deras emang kayak gitu.”


Fitri mengeluarkan pendapat.


Arinda duduk disamping Fitri, dia mencoba untuk mencerna argumen


Agus. “Sungguh tidak masuk akal.” Pikir Arinda.


“Tapi ada yang lebih parah lagi, sebelum kejadian Mikha


meninggal." Tambah Agus. " Setahun yang lalu salah satu pegawai yang bekerja di resto bapaknya


Mikha ada yang sakit-sakitan. Dia di bawa pulang ke rumah keluarganya yang


berada di luar daerah. Dia udah di obati baik dari medis maupun dari obat


kampung, namun tetap ga ada hasil. Tapi saat keluarga si kariawan itu membawa ke


dukun, disana baru lah diketahui jika dia, si kariawan ini tengah di awasi satu


makhluk yang sangat ganas.” Jelas Agus lagi.


Semua siswa memperhatikannya. Mereka merasakan atmosphire


ketakutan yang sama. Fitri menelan ludah, dia memang tidak suka jika bahas hal-hal berbau mistis. Sedangkan Arinda justru mengkerutkan dahinya. Dia tidak percaya sama sekali dengan apa yang di bahas Agus.


Disaat itu Merri datang dan memasuki kelas. Tidak lama


kemudian di susul Tito yang masih terlihat sangat berduka. Semua siswa tidak


memperhatikan mereka. Kecuali Fitri dan Arinda.


“Syukur lo datang To.” Ungakp Arinda.


Merri menarohkan tasnya dan memperhatikan teman-teman di


kelas yang terlihat serius.


“Gue ga habis fikir kenapa Agus mulai ngomong ga masuk akal.


Gua ga suka kalo dia udah bahas hantu dan sebagainya. Lu tau kan, gua ga


percaya dukun atau mistis-mistisan. Pikirannya itu kampungan.” Celetuk Arinda.


Merri hanya menunduk mendengar pendapat Arinda. Dia tidak


tersinggung, hanya saja ia bersikap lebih was-was. Akan lebih gawat orang


seperti Arinda tau bagaimana latar belakang keluarganya.


“Gus!” Tito angkat suara. Sekarang semua perhatian tertuju


ke Tito. “Lu dapat cerita omong kosong itu dari mana?” tanyanya kemudian.


“Mikha sakit, dia di rawat di rumah sakit.” Lanjut Tito.


“Kemaren gua udah bilangkan, kakak gue pernah kerja disana.


Di restoran bapaknya Mikha. Keluarga kariawan itu salah satu teman baik kakak


gue. Orang tuanya datang kerumah gua dan cerita hal itu kekakak gua. Mereka


juga datang ke rumah bapaknya Mikha, meminta pertanggung jawaban. Tapi ga ada hasil. Kariawan itu tetap meninggal dengan keadaan yang ganas.” Jelas Agus.


“Trus menurut lo, keluarga kariawan itu balas dendam gitu,


lalu pelet mereka malah kesasar ke Mikha. Itu maksud lo?” tanya Tito balik.


Agus terdiam, dia berfikir sejenak, “Gua ga tau juga. Bisa


jadi dari mereka, atau...” Agus menarik nafas dalam-dalam, “Atau Mikha


sengaja di tumbalin.” Agus terlihat ragu-ragu mengungkapkannya.


“Udah ah, bisa ada penjelasan ilmiah ga sih? Gua ga percaya


sama cerita lo. Terlalu drama tau gasih?” Arinda meninggikan suaranya.


“Sorry Rin, awalnya gua juga ga percaya. Tapi orang-orang itu


datang kerumah gua. Mereka yang cerita apa yang tengah di alami anaknya selama


sakit-sakitan. Masa ada orang muntah paku?” jelas Agus.


“Iiihh jijik.” Fitri dan siswi lain berseru.


“Apalagi muntah paku. Gua rasa lu kebanyakan nonton film


horor deh.” Tanggap Arinda. Wajahnya gondok menahan emosi.


“Rin, lo jangan egois gitu dong. Walau bagaimanapun mereka


itu ada dan jangan di abaikan.” Agus membalas dengan suara yang lebih tinggi


lagi.


Arinda menahan nafasnya. Dia menahan semua emosinya di dada.


“Terlalu pagi buat marah, Nda.” Fitri mengelus punggung Arinda. “Sabar, cantik!”


bujuk Fitri dengan penuh kelembutan.


“Lo lah yang jangan berfikiran sempit seperti itu!” Bukan


Arinda, namun Tito yang terlihat marah. Ia tidak terima cara Agus membentak


Arinda. Tanpa sadar Tito menunjuk Agus dengan menggunakan jari di tangan


kirinya. Hal itulah yang membuat Agus semakin kesal.


“Ini bukan pikiran sempit. Gua bicara yang sebenarnya. Kenapa


kalian ga ada yang percaya sama gua. Kalian yang otaknya terlalu dangkal,


terlalu sok skeptis. ” Agus sampe meninjuk meja didepannya, sehingga menimbulkan


suara yang heboh.


“Banyak bacot, lu!” Tito melemparkan tas ke Agus. Dia


merenggangkan kancing bajunya. Ia gerah dengan omong kosong Agus. Bak


kesetanan, Tito meraih kerah baju Agus. Pria yang sebenarnya memiki tubuh lebih


tinggi darinya terlihat kaget. Satu tinju melayang tepat di pipi Agus.


“BUK!!!”


“Kenapa lo pukul gue?!” Agus yang tersulut emosi membalas


pukulan Tito.


“Tito...!!!” Arinda meneriaki nama Tito disaat ia menerima


pukulan tepat di pipi kirinya.


“Sudah hentikan, sudah...!!!!” teriak Arinda berusaha melarai

__ADS_1


mereka. Ia berlari di tengah-tengah dua petarung amatir itu.


“Hentikan...!!!”


 Teriakan Arinda tidak


memberikan perubahan apa-apa. Beberapa siswa dan siswi juga mencoba melarai


mereka. Namun keduanya terlanjur Emosi, panas di hati Tito menjadi amunisi dan


kekuatannya untuk melampiaskannya kepada Agus. Sedangkan, Agus yang memang memiliki


tubuh lebih tinggi dan besar lebih menilai jika lawan di depannya hanya seperti


samsak.


“SUDAH HENTIKAAAAAAANNNNN!!!!” teriak Arinda..


Semua siswa terdiam. Agus dan Tito juga berhenti. Suara itu,


baru pertama kali mereka dengar. Selama ini Arinda tidak pernah berteriak seperti itu di kelas.


Semua pandangan mata mengarah kepadanya. Arinda merasa bersalah telah bersikap berlebihan.


“Sorry, gua ada maksud.” Arinda berlari meninggalkan kelas.


Di saat bersamaan Karin yang baru saja datang sempat heran,


kenapa Arinda tidak menyapanya saat berselisih di depan pintu kelas. Tapi gadis


tomboy itu mengabaikannya, ia memiliki hal lebih penting untuk di bicarakan


dengan teman-teman kelasnya. Dengan sebuah majalah yang ia pegang dengan sangat erat. Dimana di halaman pertamanya telah di tulis dengan huruf bercetak tebal


“JAILANGKUNG.”


.


.


.


.


“Ide yang bagus.” Seru Agus mendengar usulan Karin.


“GUA GA SETUJU...!!!” Pekik Fitri.


“Karin, lo jangan melakukan hal bodoh.” Saran Tito.


Berbagai pendapat dari siswa yang ada di kelas dua IPA C


terus beradu. Banyak dari mereka yang tidak setuju. Merri yang dari awal tidak


mau terlibat sudah menghilang dari kelas tanpa di ketahui oleh siswa-siswa


lainnya.


“Guys, ini bukan hal bodoh. Kita hanya mencoba. Siapa tau berhasil?” saran Karin dengan senyum


cemerlangnya.


“Tapi, hanya orang gila yang mau ngomong sama makhluk yang


namanya syaiton!” tegas Fitri. Dia


paling keras mengatakan tidak setuju. “Gue yakin Arinda pasti ga setuju sama


ide ini.” lanjutnya.


“Ini sifatnya sukarela kok. Tapi disarankan kalian semua


harus ikut.” Lanjut Karin.


“Kenapa Gue sama yang lain-lain harus ikut?” tanya Tito.


bahwa ga ada yang bohong dintara kita lagi. Kedua, biar kita bisa bertemu dan mengucapkan kata


perpisahan ke Mikha.” Jelas Karin. “Gue belum sempat minta maaf sama dia.”


Suara karin tertahan karena ia merasa iba. Sejujurnya, dia juga sedih seperti


yang lainnya.


Tito juga terdiam. Samahalnya dengan Mikha, dia juga belum


mengungkapkan isi hatinya yang sebenar-benarnya. Dia belum mengucapkan kata


perpisahan. Tito melihat kelangit-langit kelas. Ia tidak ingin mengeluarkan air


mata kesedihan terutama saat masih di kelas.


“Gue setuju.” Seru Agus. “Gua juga ga yakin ini akan


berhasil, tapi mencoba tidak ada salahnya sih.”


“Itu yang mau coba gue jelasin.” Tambah Karin.


“Mencoba bermain jailangkung???” Fitri dan beberapa siswi


lainnya protes.


“Demi solidaritas.” Lanjut Karin.


“Demi kebenaran ceritanya. Gue siap kalian ejek atau jadi


pesuruh kalian selama setahun, jika apa yang gue omongin ini salah.” Lanjut


Agus.


Semua mata kembali terfokus ke Agus. Tito terlihat kesal


dengan gaya Agus yang mencoba sok cool.


“Ok, gue mau.” Tito menyetujui ide gila Karin.


“Bagus!” Karin tersenyum lebar.


“Hanya sekali ini aja, berikutnya gue ga mau.” Tambah Tito.


“Ya gue janji.” Angguk Karin. “Fit?” dia menunggu salah satu


teman karibnya.


“Gue tanya ke Arinda.”


“Dia ga bakal ikutan. Ini bukan ranah yang akan di sentuh


Arinda, meski dia mati penasaran. Dia pasti tidak akan ikut. Lagian juga, Kalau dia ikut dan


ibu Lira tau, bisa mati dia. Gue ga mau dia dikurung dikamar seminggu sama EMaknya itu karna kita.” Jelas


Karin.


"Serius Bu Lira segila itu?" yang lain celetuk tidak percaya.


“Ya, untuk kali ini, jangan libatin dia.” Lanjut Tito, “gue


kenal betul gimana kalo ibu Kepsek itu marah.”


“Tapi kalian semua ikutkan?” tanya Fitri.


“Iya!”


“Janji!”

__ADS_1


“Janji!”


“Ya udah. Tapi gua ga mau acaranya tengah malam.” Lanjut


Fitri.


“Iya, gua ga bisa pulang malam.” Jelas anak-anak lainnya.


“Nanti masalah transportasi biar gua, Tito dan teman-teman


yang punya kendaraan yang urus.” Lanjut Karin.


“Masalah atributnya biar gua aja.” Agus terlihat bersemangat.


“Ok!” Karin mengangguk. Dia agak bingung, kenapa Agus begitu


antusias. Melihat senyum Agus, bulu kuduk Karin lansung berdiri. “Kenapa dia


seperti psikopat gitu sih?” pikir Karin. “Aduh, kebanyakan nonton film jadi


eror otak gue.” Geleng Karin.


“Oo ya, gue lupa.” Ucap Karin tiba-tiba, “Merri, lo...?” suaranya


terhenti, bangku Merri kosong. Dia mulai garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


“Sejak kapan tuh bocah ilang?” pikirnya.


.


.


.


.


Arinda mulai mengitari rak-rak buku di perpustakaan.  Sebenarnya ia tidak berminat untuk membaca


buku apapun. Dia hanya ingin menghilangkan suntuk dan moodnya yang kacau balau.


Ia biarkan stero tape memutarkan lagu kesukaannya. Saat lagu kesukaannya


perputar, ia terus mengitari satu persatu rak buku dan melihat judul-judul buku


yang ada di sana. Ia tak sadar, sejak tadi punggungnya telah di buntuti oleh


sesuatu. Ia tidak merasakan jika satu aura jahat sedang berdiri dan


membututinya dari belakang punggungnya.


Understand the things I say, don’t tur away from me


Cause I’ve spent half my life out there, you wuldn’t disagree


Do you see me? Do you see me? Do you like me?


Do you like me standing there? Do you notice?


Do you know? Do you see me? Do you see me?


Does anyone care?



“BERISIIKKK!!!!” satu


suara membuat Arinda segera melepaskan earphone. Barusan seseorang dengan wajah kriput membentaknya, wajah itu jelas sekali berada di sebelah kirinya. Berteriak di kupingnya. Ekor matanya jelas melihat ekspresinya yang sangat marah. Namun saat da kembali menoleh, tidak ada siapa-siapa. Suasana perpustakaan pagi itu begitu hening. Hanya ada dua petugas yang sedang duduk di meja mereka masing-masing.


Lantas siapa yang tadi berteriak? Bulu kuduknya seketika  merinding.


BUKKH...!!


Satu buku terjatuh dari rak bertuliskan koleksi sastra. Ia menoleh


kebelakang dan sekitarnya. Sekali lagi tidak ada orang. Semua lengang. Mungkin


karena saat ini masih jam pelajaran. Dan ia baru ingat baru saja bolos kelas


pagi.


Arinda menaroh buku itu di tempat semulanya sambil terus berfikir,  “Mungkin efek kurang tidur atau kelelahan. Atau jangan-jangan aku sedang mengalami stress?” Itulah pendapatnya.


Saat ia menatap satu sisi rak yang kosong, ia melihat


sepasang mata juga tengah menatapnya. Sepasang mata yang tampak pucat dengan


lingkaran hitam di sekitarnya. “Hah!!” hal itu leboh melihat mengejutkan karena


dua bola mata itu di tutupi rambut hitam yang menutupi hampir separoh dari


wajah itu. “Siapa kau?Hantu?!” Arinda berteriak.


“Hah! Astaga!!” si pemilik mata pucat itu juga ikut kaget,


dia membelalakkan matanya dan berseru “Arinda, maaf, aku Merri.” Sahutnya. Ia segera menghampiri Merri. Ternyata gadis itu sedang memilih beberapa buku pelajaran.


“Merri?” pikir Arinda, lalu beberapa detik kemudian dia


berseru, “Merri, lu ikutin gue?” tanya Arinda.


Di balik rak itu Merri menggeleng, “Ga, Aku kesini karena


anak-anak di kelas bahas rencana nanti malam. Aku, aku.. ga mau ikut.” Jelas


Merri.


“Kenapa? Apa lo memiliki satu pemahaman dengan gue?” tanya


Arinda. Merri melihat Arinda bingung. “Lo juga beranggapan kalau hantu itu Bulls**t alias bohong.”


Merri menutup dua mulutnya rapat-rapat. Dia tidak tau harus


menjawab apa.


“Benarkan?” desak Arinda.


Merri menatap bola mata Arinda yang berbinar. Sepintas, ia


iri dengan sepasang mata bulat dan cantik itu. Mata itu sepatutnya juga ia


miliki. Mata cantik yang selalu bersinar, mata dengan bulu mata yang lentik.


Mata yang hanya bisa melihat yang semetinya tanpa harus melihat keberadaan mereka.


Andai saja ia terlahir sebagai Arinda.


“Kalo gitu kita satu pendapat, di dunia ini tidak ada yang


namanya hantu atau setan yang bergentayangan. Benarkan?” tanya Arinda memegang


tangan kurus Merri.


Merri tersipu dengan apa yang ia terima. Sambutan tangan


hangat dan ramah dari Arinda. Dia semakin sulit untuk menyanggah pendapat


Arinda. Terpaksa Merri mengangguk jika :”Ya, tidak ada hantu atau setan, mereka


tidak ada.” Lanjut Merri sedikit gugup, sebab yang ingin ia sangka itu berdiri


tepat di belakang Arinda. Dengan dua bola mata merah dan ada titik biru di


tengahnya itu, ia terus menatap geram ke arah Merri. Seolah ia tidak suka di ~~~~abaikan.


“Seharusnya aku tidak

__ADS_1


terlibat apapun.” Bisik Merri dalam hati.


__ADS_2