Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung
Hukuman dan Ancaman serta Malapetaka #3


__ADS_3

Merri yang mendapat tugas memungut sampah dengan beberapa siswi lainnya. Ia terlihat lelah. Siang ini, bisa dikatakan cuaca cukup panas. Walau masih pukul sembilan pagi, dia sudah merasa gerah dan haus.


“Kenapa mereka main Jailangkung?” pikir Merri. Walau terlihat diam, dalam hati Merri sungguh tidak setuju dengan ide mereka. Akibat perbuatan mereka, dia jadi terlibat dalam sebuah hukuman ini.


“Gyaaaaa....!!” belum lagi ditambah suara siswi yang mengalami kesurupan itu.


Merri memandang jauh ruang kesehatan. Sedari tadi guru bolak balik dari ruangan itu. Ia juga melihat guru pendidikan agama masuk. Tidak lama setelah itu, ia tidak lagi mendengar teriakan si siswi.


“Akhirnya ada juga yang beranggapan jika anak itu bukan epilepsi atau sakaw, tapi kerasukan.” Gumam Merri ia merasa lega.


“Tapi hantu yang masuk kedalam tubuh anak itu beda dengan hantu yang menyerupai Mikha.” Pikir Merri. Dia melihat sekitar gedung sekolah. Bisa dibilang sekolah ini memiliki bentuk gedung Belanda kuno. Bisa jadi ini


bekas rumah sakit, atau di jaman belanda dijadikan tempat untuk eksekusi para penghianat atau pemberontakan.


Marri bisa merasakan, ada aura kesedihan, dendam dan juga amarah disini. “Hufft..!!” ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. “Mungkin dia hanya penunggu lama yang terganggu gara-gara permainan mereka. Semoga mereka tidak berbahaya.” Fikir Merri yang kembali memungut sampah aluminium di lapangan.


Saat sampah itu diraihnya dengan tangan kiri yang memakai sarung tangan, hidung kecil Merri lansung mencium aroma busuk. Segerombolan lalat-lalat hijau menyerangnya. Dengungan lalat juga membuatnya tidak berdaya. Entah ada berapa banyak, mungkin puluhan atau mencapai ratusan, lalat hijau yang berukuran besar itu terus menghujaninya, mengelilinginya dan berdengung di di telinganya.


Merri kesusahan melepaskan diri, “Pergi... jangan ganggu!!!” usir Merri mencoba mengibas tangannya. Dia terjatuh terduduk diatas tanah kering berdebu. Tapi lalat itu semakin mengerubungnya. Ia mencoba mencari benda apapun


yang bisa mengusir pasukan hijau menjijikkan ini. Bersamaan dengan itu, suara dengungan lalat membuatnya merinding.


Lalat-lalat itu bukan hanya berdengung, tapi juga bergumam yang kemudian lambat laun suara itu semakin jelas.


“Hong ilaheng, heh jagad alusan roh gentayangan. Jailangkung jailangsat siro, ning kene ono, siro


angslupo, yen siro teko hyo ndang angslupo.”


“Hong ilaheng, heh jagad alusan roh gentayangan. Jailangkung jailangsat siro, ning kene ono, siro


angslupo, yen siro teko hyo ndang angslupo.”


Merri tidak memahami. Tapi sekilas ditelinganya terdengar seperti bahasa Jawa. Namun dalam beberapa kali,ia mendangar kata jailangkung. Otaknya lansung menyimpulkan hal ini masih ada sangkut pautnya dengan jailangkung. Apa ini masih ada kaitannya dengan setan yang ada dikelas dan permainan anak-anak tidak berguna itu? Sungguh Merri sangat kesal.


“Hong ilaheng, heh jagad alusan roh gentayangan. Jailangkung jailangsat siro, ning kene ono, siro angslupo, yen siro teko hyo ndang angslupo.” Tiba-tiba tatapan Merri kosong dan bibirnya mengikuti tiap kata yang diucapkan. Tanpa ia sadari ia larut dalam mantra yang ia dengar sendiri.


“Hong ilaheng, heh jagad alusan roh gentayangan. Jailangkung jailangsat siro, ning kene ono, siro angslupo, yen siro teko hyo ndang angslupo.”


Pada sahutan kedua, diantara lalat-lalat yang terus menyerangnya, satu makhluk berleher panjang, begaun putih, berwajah seram dengan bibir tersenyum mencapai matanya datang membelah lautan pasukan serangga itu.


“Rohi cucu Tibbir!!!!” lalat itu berdengung dengan jelas. Kemudian mereka bubar.


Kali ini Merri berhadapan dengannya. Rohi Cucu dari Tibbir. Mata Merri terbelalak dan kakinya tidak mampu bergerak karena sudah takut gemetaran.

__ADS_1


“Ck ck ck ck ck!!!” suara itu keluar dari mulut makhluk itu, suaranya persis seperti suara cicak.


“Kkau...kkau mau apa??” lidah Merri kilu, dia benar-benar ketakutan. Wajah makhluk itu terlihat dengan jelas. dia berleher panjang dengan sisik ular yag memenuhi sekitar lehernya. wajahnya yang aneh, matanya tajam seperti kucing hutan, tapi bentuk lengkungan bibir dan hidungnya menyerupai anjing. dalam senyum yang pahit itu, makhluk yang menamai dirinya sebagai Rohi memamerkan deretan gigi halus diantara bibir tipis bewarna gelap.


“ck ck.. trima takdirmu ck ck !!” ucapnya dengan suara setengah berbisik. Jari kurusa dan panjang dirinya memegangi surai hitam kecoklatan Merri. Gadis itu sungguh bergetar hebat. Bukan saja karena bentuk wajahnya yang menakutkan, tapi juga aura kegelapan yang mengitarinya membuat Merri sungguh tidak berdaya.


“Takdir a a apa?” tanya Merri.


“Takdiiiirrrrr Takdiiirrrr ck ck... trima takdir mu ck ck... trima takdir mu ck ck... trima takdir mu ck ck...!!!” suara itu kali ini betul berisik di kupingnya. Sedangkan mahkluk itu terus memamerkan senyum mengerikannya dan melototkan matanyanya yang semakin terlihat seperti dua buah bola golf yang mau terlempar dari wajah tirus yang pucat itu.


Merri benar-benar katakutan. “Trima takdirmu sebelum terlambat!!!” bentak si hantu yang kemudian menghilang. Merri yang lepas dari rasa ketakutannya juga terduduk lesu. Ia kehilangan energi atas apa yang ia alami dan ia lihat. Hari ini dia akan tertididur cukup lama.


Saat pandangannya mulai memudar, ia melihat didepan toilet perempuan Karin dan Arinda tengah di seret oleh pihak guru. Diantara rombongan siswa yang penasaran di belakang ia juga melihat Mikha dengan seragam lusuhnya.


“Itu si anak baru kan?” tunjuk Tito yang melihat kearahnya. Dia juga ada di barisan segerombolan siswa itu.


“Bantu oiii seperti maauuuu pinnsan....!!!” suara itu menggema di telinga Merri. Semua pandangannya yang kabur lambat laut memudar dan semua terlihat gelap.


.


.


.


.


Dihadapannya sudah ada Karin, Fitri dan Arinda. Seperti yang di pertanyakan bu Lira, tangan kiri Karin yang sudah diobati pihak kesehatan sekolah, tergores cukup panjang. Mulai ibu jari hingga hampir menyentuh nadinya di pergelangan tangan. Untung tidak terjadi pendarahan besar, luka itu bisa diobati dengan memanggil dokter dari pusat kesehatan terdekat.


Tapi bukan Lira namanya, jika masalah seserius ini tidak segera ia selesaikan. Mata Lira menyipit ke arah Arinda, dia kesal anaknya terlibat hal-hal seperti ini.  Meski ada satu siswa yang terluka, asalkan siswa itu masih sadar, ia akan segera mengusutnya hingga tuntas.


Asal kalian tau, Lira sendiri yang turun tangan, meninggalkan singgah sananya di ruangannya dan turun lansung di ruangan kesehatan sekolah. Sidang itu dimulai walau ada dua siswa lainnya yang juga tidak sadarkan diri, siswi yang mengalami kesurupan tadi pagi dan Merri yang tertidur pulas akibat paranormal experience yang ia alami.


“Saya yang lakuin sendiri, buk!” jawab Karin dengan suara kecil.


“Kamu mau bunuh diri?” tanya Lira kesal.


“Saya tidak mau melukai orang lain, makanya saya melukai tangan saya sendiri.” Jelas karin. Terdengar sungguh tidak masuk akal.


“Kamu lagi hafal naskah drama?” tentu Lira tidak percaya.


“Saya lihat Mikha di cermin kamar mandi. Dia menyuruh saya untuk menyerang... Arinda, bu. Saya takut makanya cermin itu saya hancurkan tapi ternyata tangan saya berdarah.” Jelas Karin dengan sejujur-jujurnya.


 “Kamu tidak salah makan obat kan? Kamu tidak mengigaukan? Atau kamu makai narkoba?” Bu Lira tentu

__ADS_1


menudingnya dengan hal-hal yang menurutnya lebih masuk akal.


Jangankan ibu kepala sekolahnya, Arinda juga menyeringit dahi tidak percaya, begitu juga dengan Fitri yang lebih memasang wajah cemas.


“Saya tidak makai narkoba, sumpah buk!” Ucap Karin lantang, dia terlihat ketakutan.


“Ya buk, Karin ga makai kok buk!” Fitri juga angkat suara. Arinda memilih diam, dia tidak mau terlibat. Karin kecewa dengan sikap diam Arinda.


“Lalu ide bermain boneka ini, ide siapa?” tanya Bu Lira, kali ini ia memamerkan atribut permainan jailangkung mereka semalam.


Baik Fitri ataupun Karin hanya tertunduk. Tidak ada jawaban, hening. “Gara-gara kalian, dua orang teman kalian menjadi korban. Mereka menjadi ketakutan dan berhalusinasi jika sekolah ini ada hantunya.” Jelas bu


Lira dengan nada tinggi. “Asal kalian tau, dua hal yang paling saya benci dari kasus kalian adalah, kebohongan dan juga pikiran kalian yang kolot karena bermain permainan yang tidak ada gunanya.”


“Jika seperti ini, melihat satu teman kalian ketakutan dan satu pingsan, apa kalian akan bertanggung jawab?” bentak Lira.


Mereka bertiga kompak menggeleng. Namun dalam hati Karin, dia jelas melihat Mikha. Dengan wajah pucat, Mikha meminta untuk membalas dendamnya kepada Arinda. Di benak Karin, dia tidak peduli ceramah bu Lira, tapi


dia lebih tertarik dengan dosa apa yang telah di lakukan Arinda sehingga Mikha menjadi dendam dengannya?


“Jadi karena masalah ini, Karunia Karin Putri, kamu saya skor tiga hari. Selain untuk menyembuhkan luka di tanganmu, kamu juga harus renungkan semua perbuatanmu selama di rumah. Saya akan segera berikan surat


perintah agar orang tuamu paham dengan apa yang saya putuskan. Jika kedua orang tua mau datang, sungguh dengan senang hati saya akan menerimanya dan menjelaskan semua masalah yang telah kamu perbuat.”jelas Bu Lira dengan tegas, lugas, padat dan menohok.


Karin hanya diam. Dia tidak bisa bergeming. Disatu sisi dia merasa terintimidasi, jika bukan otaknya yang masih waras mungkin kepala Arinda sudah hancur oleh tinjunya atau dengan sapu pel yang dia pegang. Dia justru memecahkan cermin itu karena tidak mau di hasut oleh Hantu Mikha. Disisi lain, dia merasa


bersalah. Ide bermain Jailangkung adalah idenya. Dia harus menerima resiko itu. Tapi dengan bertemu Mikha di cermin toilet membuat Karin berfikir, keisengan semalam ternyata berhasil.


Kali ini Karin mulai ragu, apa ia akan melanjutkannya dan bertanya banyak dengan Mikha, atau berhenti. Sebab satu temannya kesurupan, dan satu lagi pingsan. Ya, Merri pingsan. Karin yang telah duduk dikelas


memperhatian bangku Merri sekaligus Mikha.


“Kenapa Merri pingsan? Dia sama sekali tidak ikut serta dalam acara semalam? Apa dia memang lemah? Atau dia terhubung dengan permainan itu karena duduk di bangku Mikha?” tanya Karin dalam hati.


.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2