
Fitri sedikit bergidik, antara percaya atau tidak. Wajah Tito cukup meyakininya sedangkan tidak pada wajah Merri.
“Anak selemah ini bisa melihat hantu?” pikir Fitri.
Hal paling mengejutkan lagi, Fitri tidak percaya kalau sebulan yang lalu, ternyata Arinda dan Mikha pernah main jailangkung, tepatnya saat Mikha masih hidup dan sehat-sehat saja.
“Lu, ga ngarangkan?” tanya Fitri menatap Merri dan Tito secara bergantian.
“Buat apa gue boong, orang gue lihat dan dengar sendiri.” Jelas Tito antusias.
“Siapa tau lu salah dengar.” Seru Fitri.
“Tanya aja sama Merri ga percaya, orang Merri sama ibunya yang usir hantu di tubuh Arinda.”
Fitri kembali menilai Merri, “Dia bisa usir hantu?” pikir Fitri dalam hati lagi. “Tunggu, kalau dia bisa usir hantu yang merasuki Arinda, jadi dia bisa usir hantu ikan di rumah gue dong.” Fitri mendapat ide cemerlang.
“Lah... kenapa senyam senyum?” tanya Tito.
“Mer, lu bisa usir hantu?” tanya Fitri lagi.
“Ga juga, tapi..”
“Usir hantu di rumah gue, bisa ga?” tanya Fitri.
“Hantu rumah lo?” tanya Tito.
“Yang narik lo kekolam itu loh, Toto!” ingat Fitri. Tito membulatkan matanya. Karena antusias dengan masalah Arinda Tito lupa dengan tragedi yang menimpanya.
“Ya!” seru Tito.
“Itu murni kecelakaan.” Seru Merri dengan wajah datar.
“Hah?!” Fitri dan Tito sama kagetnya. “Kok lu bilang kecelakaan, kan lu belum lihat TKP-nya?” Fitri terlihat kesal.
“Gua yakin ada yang narik gua!” seru Tito. Dia tidak peraya Merri menyepelekan masalah yang ia hadapi.
“Itu sering terjadi. Saat kita ketakutan, kita akan membayangkan suatu hal yang mengerikan, lalu mata kita secara tidak lansung mengalami ilusi penglihatan yang sebenarnya sudah di rancang sama otak kita lebih dulu.” jelas Merri lagi.
“Kok lo jadi ilmiah gitu sih?! Bukannya kalo anak yang punya indra ke enam itu pikirannya harus misterius?” tanya Fitri.
“Itu udah ada dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dasar mengenai indra penglihatan. Aku kutip dari sana.” Jelas Merri. “Tapi maaf kalau penjelasanku tidak membuat kalian senang.” Lanjut Merri merasa bersalah.
__ADS_1
“Dia aneh banget, pintar sih... tapi kok anehnya ngeselin ya?” pikir Fitri lagi.
“Boleh aku tau, apa kalian melihat makhluk yang menarik Tito ke kolam?” tanya Merri.
“Ikan seperti duyung dengan wajah jelek!” seru Fitri.
“Hitam dan gak jelas gimana wajahnya, yang jelas dia memiliki mata warna merah.” Jelas Tito.
“Gue yakin, gue lihat seperti duyung tapi versi jelek sama serem.” Jelas Fitri.
“Emang lu lihat dia pake buntut ikan?” tanya Tito. “Orang gue lihat tuh makhluk itam dan yang nongol Cuma jidatnya doang.” Tegas Tito.
Merri menopang dagunya. Dia berfikir sejenak. “Mungkin itu hanya makluk yang iseng aja atau jin yang lagi usilin mereka.” Pikir Merri.
"Ha ha ha manusia bodoh!" ucap Rohi yang ternyata sudah menguping pembicaraan mereka dari tadi. Merri hanya mendengus kesal. Dia tidak suka kalau Rohi bersarang di benaknya seperti sekarang.
"Berterimakasihlah, kalau ada manusia lebih bodoh darimu!" ejek Rohi yang terus berbisik dibenak Merri. Merri tidak mengindahkan Rohi.
Mata merri menatap meja tempat ia duduk dan juga meja Arinda. “Arinda terlibat itu hal masuk akal. Mereka teman sebangku.” Pikir Merri. Lalu dia menatap bangku yang di duduki Tito, yang tidak lain adalah milik Karin. “Apa anak ini juga terlibat? Tapi Arinda tidak menyinggung nama Karin sedikitpun.”
“MERRI, Jadi hantu itu duyung atau bukan?” tanya Fitri ke Merri. Merri tersentak kaget di beri pertanyaan yang mengejutkan sekaligus ga begitu penting.
“Mungkin dia menyerupai ikan, tapi dia bukan duyung.” Jawab Merri tidak yakin.
“Lu juga? Gue tidur sama nyokap, untungnya bokap belum pulang melaut. Jadi bisa tidur di atas kasur, hahaha!” seru Tito sedikit malu.
“Kalian ga kenapa-kenapa dong. Sejujurnya, kalian bukan manusia yang bisa membuat para hantu tertarik. Jadi kalian berdua aman kok.” Jelas Merri.
“Merri, serius?” tanya Fitri. “Serius hantu ga suka sama gue?” tanyanya sedikit sedih. “Pantas gue jomblo, jangankan orang, hantu aja ga suka sama gue.” Ucap Fitri.
“Oi fokus, ndut!” seru Tito.
Merri tertawa kecil melihat tingkah Fitri yang lucu. Sudah lama ia tidak tertawa seperti ini. Tak lama setelah itu, semilir angin lembut itu terbang dan menyapu bulu kuduknya. Merri terdiam. Ia menoleh sekitar kelas yang masih sepi.
“Perasaan ini lagi.” Pikir Merri.
“Hai!” Agus masuk kekelas. Ia menyapa Tito dan Fitri lalu tersenyum kearah Merri. Merri tidak memperdulikan sapaan Agus. Firasat buruk ini membuatnya menjadi lebih waspada.
“Merri... aku juga merasakan kehadirannya.” Bisik Rohi yang bersarang di benaknya.
“Lu kenapa telat? Habis dari mana?” tanya Tito.
__ADS_1
“Kemaren kabur dari rumah gue, sekarang datang telat. Mencurigakan?!” sembur Fitri.
“Oo kemaren, gue harus buru balik. Rumah gue jauh tau. Kalo telat sih, soalnya anterin ibu negara dulu noh!” tunjuk Agus kearah pintu kelas dimana Karin menyusul masuk kekelas.
Merri menegang. Badannya merasakan getaran aneh. Ada tiupan angin yang membuatnya menggigil sekaligus sesak. Sepertinya sumber itu berasal dari karin yang juga menatapnya dengan wajah Muram.
“CK CK...BADASSSSSSTT!!!” Rohi mendesis di benak Merri. “Dia berani juga!”
Karin yang berwajah muram lansung menatap Merri dengan tatapan tajam. Itu membuat Merri kaget sekaligus was-was. Dia merasa terancam dengan kehadiran Karin.
“Dia menyadari kehadiran Rohi cucu Tibbir.” Bisik Rohi.
“Karin, lu kemana aja?” tanya Fitri khawatir.
Karin mendekati mejanya, ia melempar tasnya diatas meja dengana gak kasar. Lalu gadis itu membuka resleting ranselnya. Lalu menarik sebuah benda dari dalam ransel hitam tersebut.
Saat bersamaan wajah-wajah penasaran itu seketika kaget, terutama Merri. Sebab di tangan Karin sudah ada sebuah boneka Jailangkung dengan boneka beruang kecil. Boneka yang diserahkan oleh Pak Randi agar di amankan oleh ibunya.
“Kenapa boneka itu ada di tangannya?” pikir Merri.
“Karena gadis b*d*h ini dimanfaatkan, Merri.” Seru Rohi yang terdenngar kesal. “Seharusnya dia kubunuh saja semalam.”
“Ini apa? Kenapa boneka beruang ini di salip?” tanya Tito. Lalu mata cowok itu seketika membulat saat memperhatikan ujung bawah boneka tersebut. “Bukan salib... ini lebih mirip boneka...”
“Karin ini apa?” tanya Agus. "Dari tadi gue tanyain lu diam mulu."
“Iya, kasihan bonekanya di gituin.” Tambah Fitri yang sama sekali tidak suka dengan apa yang ia lihat.
“Kita ulang permainan Jailangkung dengan media ini.” ucap Karin datar tapi matanya masih menjurus ke arah Merri. Seolah-olah dia hanya mengajak sekaligus menantang Merri.
TEEETTTTTT...
Bel tanda istirahat berbunyi. Semua siswa kembali kekelas. Saat memasuki kelas mata mereka tertarik dan menuju ke arah Karin dan boneka yang ia pegang.
“Ini boneka jailangkung, kah?” tanya Agus agak berhati-hati.
Karin hanya mengembangkan senyum senang. Hal itu membuat Fitri, Tito dan Agus ketakutan. Siswa yang baru datang juga tersentak kaget. Mereka sudah muak dan trauma dengan hal-hal berbau mistis.
“Karin, jangan!” ingat Merri sambil menggeleng kepala pelan.
“Tapi aku ingin menyelesaikannya!” pinta Karin yang membelalakkan matanya tanpa berkedip.
__ADS_1
P.E.S.T.A. .J.A.I.L.A.N.G.K.U.N.G// bersambung...